>MANABUR CINTA KE ENAM
Setelah setahun
menjadi janda dan berpisah dari Khairul , Nurjannah tetap aktif berbisnis Di TV swasta
, hampir tiap hari ada ajakan untuk membuka usaha travel. Dan bagi mereka yang
beminat akan diberikan pendidikan sampai bisa. Tidak perlu mengurus izin usaha,
karena izin usaha menggunakan izin dari mereka. Dan selalu ditekankan dalam acara yang
sebenarnya iklan itu, bahwa membuka usaha travel itu mudah. Semudah membuka HP
anda. Akhirnya Nurjannah ikut kursus usaha travel dimaksud dan setelah kursus dia praktikkan semua materi
yang diperoleh pada kursus tersebut. Dia mulai menjual pulsa, kemudian menjual
tiket pesawat, tiket kereta api dan sebagainya. Kebetulan rumah Nurjannah di
daerah Pasar Minggu habis masa kontraknya. Karena lokasi rumah itu cukup
strategis, maka di depan rumah itu dipasangnya spanduk perusahaan travel nya.
Disitu tertera, Nama perusahaan travelnya dengan pemberian jasa jasa : Traveling, Ticketing, Penjulan pulsa
telepon dan Pulsa listrik dan sebagainya,. Nurjannah pun mempelajari seluk
beluk pengelolaan pariwisata dan segala aspek yang berkaitan dengan usaha
travelling . Berdasarkan pengalaman Nurjanna selama ini yang juga senang jalan
jalan, maka gambaran pengelolaan wisata
secara umum cukup dikuasai oleh Nurjannah.
Perlahan
lahan Usaha Travell Nurjannah mulai meningkat. Dia sudah berani mengirim
wisatawan ke luar negeri, terutama ke Negara Negara Asean seperti Thailand,
Vietnam dan Malaysia. Di tiga Negara itu perusaaan Travel milik Nurjannah sudah
punya hubungan reciprocal dengan perusaaann Travel lokal yang cukup
berpengalaman. Nurjannah juga sering diberi kerjaan mengelola wisatawan yang
berkunjung ke Indonesia, ke Jakarta, Bandung dan bahkan Bali. Nurjannah punya
guide untuk daerah daerah destinasi
wisata di beberapa kota dan objek wisata di Indonesia.
Pada suatu hari datang berkunjung seorang
wanita muda ke kantor travel Nurjannah. Perempuan itu ingin menyenangkan
bapaknya, konon seorang mantan pengacara. Bapaknya ingin jalan jalan sembari naik
kapal cruise , tapi belum tau trayek yang menarik sehingga beliau belum
menetapkann tujuan atau trayek kapal cruise yang akan dipilihnya. Disamping itu
diantara keluarganya tidak ada yang bisa
mendampingi dan menemani beliau. Si bapak sudah berusia 71 tahun dan baru baru
ini terkena stroke, tapi karena cepat ditangani beliau tertolong dan sembuh.
Jadi perempuan itu perlu advis, kemana
jalan jalan yang baik, kapalnya kapal
apa dan bagaimana caranya ikut berlayar dengan cruise itu.
Nurjannah ,
sebenarnyan tidak banyak tahu tentang berlayar dengan Cruise itu, tapi dasar
Nurjannah tidak akan melewatkan kesempatan kalau ada peluang duit masuk, maka
walau hanya berbekal pengetahuan iklan
kapal cruise , Nurjannah menyatakan siap membantu .
“Tinggal
disesuaikan dengan keinginan si bapak, kemana beliau itu akan berlayar, dan kami
yang arrange perjalanan , tiket dan sebagainya”.
Berkata
Nurjannah kepada perempuan muda itu yang ternyata nama panggilannya ibu Butet.
Bagi perempuan muda itu penjelasan Nurjannah cukup dapat dia mengerti.
Setelah
dirumah, Butet menguraikan kepada bapaknya hal hal yang disampaikan Nurjannah
kepadanya. Ternyata banyak hal yang dipertanyakan oleh bapaknya tentang berbagai aspek yang tidak bisa
dijelaskan oleh Butet anak perempuannya itu. Anaknya itu disuruh bapaknya agar
mengundang dan menjemput ibu Nurjannah itu
untuk datang ke rumahnya menjelaskan.
Butet, kemudian
menelepon Nurjannah menyampai kan maksudnya ingin mengundang Nurjannah ke rumahnya.
Bapaknya ingin mendapat penjelasan dari tangan pertama agar dia memperoleh
gambaran yang lebih jelas tentang kemungkinan baginya untuk berwisata berlayar
dengan kapal cruise. Dalam hatinya Nurjannah berkata: “Angkuh juga ini orang
kok saya diminta datang menjelaskan, padahal dia yang butuh informasi”. Namun karena ibu Butet itu bicara amat sopan
dan minta tolong kepadanya, akhirnya Nurjannah setuju datang ke rumah ibu Butet
untuk menjelaskan hal hal yang ingin
diketahui bapaknya itu.
Sesuai
dengan waktu yang disepakati, Nurjannahpun dijemput oleh ibu Butet.
Saat sebuah mobil Mecedes Benz seri S 320 berwarna
hitam berhenti, Nurjannah agak kagok juga, kok ada mobil mewah berhenti didepan
kantor Travelnya ?. Setelah pintu mobil terbuka, ternyata yang turun adalah ibu
Butet yang berjanji menjemputnya itu. Setelah bertegur sapa sebentar, Ibu Butet
itu pun mempersilahkan Nurjannah naik ke mobilnya. Nurjannah belum pernah naik
mobil mewah sekelas Merci 320 S itu. Terasa nyaman di mobil itu, membuat
Nurjannah mengira ngira , pastilah ibu Butet ini sebenar benarnya orang kaya ,
karena dia tahu harga mobil yang dinaikinya itu hampir Rp. I M.
Saat memasuki pekarangan rumah ibu
Butet , Nurjannah semakinn tercengang. Rumah itu dipagar tinggi dan pintu
pagarnya dua lapis. Di pojok gerbangnya ada CCTV yang bergerak 180 derajat yang
memantau lingkungan dipintu masuk rumah itu. Ada sekuriti yang bertugas di pintu masuk itu.
Dalam
hatinya Nurjannah bertanya tanya siapa yang punya rumah yang begitu besar ini,
yang dijaga begitu ketat ?.
Setelah
sampai di depan rumah dua lantai yang canopynya amat lebar itu, Nurjannah pun
turun bersama sama dengan ibu Butet. Ibu Butetpun masuk ke dalam dan membawa
Nurjannah ke ruang tengah. Di ruangan
itu terdapat sofa yang ukurannya besar besar . Semua kursi sofa itu amat empuk
ketika diduduki. Dan diujung , di suatu sofa yang paling besar duduklah seorang
tua, yang rambutnya sudah setengah putih . Dia sepertinya agak mengantuk,
sehingga dia sedikit kaget saat ibu Butet memanggilnya.
“ Papa , ibu
Nurjannah sudah disini”.
Sambil mengucek
matanya, si papa itupun memandang Nurjannah . “Ooh silahkan duduk. “
Nurjannahpun
mengambil tempat duduk disamping Ibu Butet. Tapi baru saja Nurjannah duduk si
papa malah menyuruh Nurjannah agar pindah dan duduk di sofa dekat nya. Setelah
Nurjannah duduk orang tua berambut setengah putih itupun langsung bicara:
“
Namaku Marlon. Usia ku 71 tahun. Baru
baru ini aku terkena stroke, tapi cepat ditolong, sehingga aku bisa pulih kembali. Tapi dokter yang menangani
memberi nasihat, agar aku menjaga kesehatan
dengan baik, tidak boleh lagi stress. Orang stress gampang terkena stroke,
kalau aku kena stroke lagi, bisa fatal. Lalu untuk menjaga agar aku tidak
stress, disarankan anak anak ku agar kalau ada yang aku inginkan mereka akan
memenuhi keinginanku itu bagaimanapun caranya. Dalam rangka itulah aku meminta
bantuan ibu Nuja…..,siapa namanya bu ?...
“Nurjannah pak”. Ya ibu Nurjannah . Aku
kepingin berlayar naik kapal Cruise . Aku ingin sekali melihat tempat tempat dan negeri
negri yang dilalui kapal cruise itu . Lalu setelah sampai di pelabuhan
terakhir, pulangnya naik pesawat terbang. Aku sebenarnya tidak suka naik pesawat terbang.
Tapi kalau pulangnya juga naik kapal, aku rasa terlalu lama dan mungkin aku
bosan. Bosan itu juga membuat stress Bagaimana menurut Ibu Nurjannah ? “
Nurjannah
terdiam. Dia dimintai pendapat tentang sesuatu yang dia tidak menguasai, bukan
hanya tidak menguasai masalah traveling dengan kapal Cruise itu, dia bahkan
buta soal itu. Namun dijawab nya juga pertanyaan pak Marlon itu berdasarkan
iklan yang pernah dia baca tentang fasilitas di kapal Cruise dan
dikembangkannya dengan logikanya.
“ Naik
cruise itu memang menyenangkan pak. Kapal Cruise iti seperti Hotel juga. Klas
kapalnya juga bermacam macam, dari yang sedang sampai yang besar sekali.
Fasslitasnya juga berbeda beda dari
bintang tiga sampai bintang enam Di kapal cruise itu fasilitasnya dan juga
hiburannya serba lengkap. Bagi orang yang masih muda akan amat menyenangkan,
tapi bagi mereka yang punya handikep, mungkin kurang nyaman. Karena kapal itu
punya deck yang bertingkat tingkat, dan antara lantai tertentu dengan lantai lainnya banyak yang mengggunakan tangga.
Disinilah handikepnya bagi mereka yang secara fisik lemah. Di tiap lantai itu ada
bar tempat santai, ngobrol sambil minum minum, tentunya minuman beralkohol,
yang bagi mereka yang sudah pernah kena stroke, pantang itu. Selalu ada
entertainment, music, cabaret, sulap,
acara dansa , casino dan sebagainya.. Bagi yang ingin berolah raga ada Gym , pada
kapal yang besar ada lapangan tennis , ada kolam renang juga dan setiap hari
ada acara berbeda, sehingga kalau kita ikut aktif menikmati acara acara
tersebut, sama sekali tidak ada kata bosan berada di kapal itu
Tapi mereka
yang tidak mampu mengikuti irama dan nuansa
pesta di kapal itu karena keterbatasan fisik, maka biasanya mereka akan mengeram
di kamarnya sepanjang perjalanan. Kalau terjadi yang demikian, tidak ada
enaknya naik kapal cruise itu”
Si Tua
Marlon pun terdiam mendengar uraian Nurjanna . Lama dia diam. Anaknya Butet
juga diam, gak berani berkomentar. Walau Marlon memahami apa yang dikhawatirkan
Nujannah, namun sepertinya dia tetap ingin mencobanya.
“ Bagi aku,
yang penting itu berlayarnya. Soal nanti
akan di kamar saja sepanjang perjalanan, itu urusan nantilah. Aku tidak akan
menyesal, karena aku sudah diingatkan tentang situasinya. Yang penting, kalau
pun hanya dikamar, selalu harus ada yang menemani dan tentu juga yang melayani.
Yang melayani aku haruslah orang yang penyabar. yang juga menjadi juru bicara
ku, yang bisa berbahasa Inggris yang
bisa menerjamahkan keinginan keinginanku kepada pihak lain yang melayani di
kapal itu.
Dan yang
menemani aku itu gak boleh pula yang terlalu muda, harus yang umurnya tidak
terlalu jauh bedanya dengan aku. Supaya ngomongnya nyambung. Kalau lain yang
aku maksud lain pula yang ditanggapinya, bisa stress aku. Bu Nurjannah bisa
tidak menerima tugas itu".
“Menemani
bapak dan sekamar dengan bapak, itu tidak mungkin pak. Saya seorang muslimah,
tentu tidak boleh sekamar dengan yang bukan muhrimnya”.
“Saya tahu
itu. Saya juga seorang muslim, Tapi cobalah dicari jalan agar yang tidak
mungkin itu menjadi mungkin”
Nurjannah
tersenyum mendangar permintaan Marlon yang terakhir itu. “Barangkali dia ingin
menjadikan aku istri kontraknya”. Pikiran Nurjannah melayang ke cara cara
beberapa orang oknum dari Arab yang melakukan praktek kawin kontrak di daerah
Puncak, Jawa Barat, Setelah habis masa
kontraknya, si suami Arab itu pulang ke negerinya tanpa beban dengan
meninggalkan istri kontrak nya itu dan bahkan juga anaknya , kalau ada. Berkata Nurjannah dalam hatinya.
“Mungkin
sabaiknya bapak menggunakan jasa perawat saja pak”.
“Ah … kalau
perawat , rata rata usianya kan masih terlalu muda. Nanti kita ngomongnya gak
nyambung. Nanti aku makan ati, dan stress pula dan kena stroke lagi, dan
matilah aku…..
Jadi bu
Nurjannah, begitulah kira kira rencanaku. Tolonglah ibu follow up dengan anakku
Butet. Apa yang ibu perlukan atau kompensasi
apa yang ibu inginkan atau fee atau honor , berapa dengan syarat apa dan lain lain
nya silahkan di bicarakan dengan Butet”.
“ Aku akan
ke kamar, sudah waktunya aku istirahat. Selamat siang Bu Nurjannah “.
“Selamat
siang pak “, menjawab Nurjannah.
Dua
perempuan yang masih duduk di ruang tengah itu saling pandang satu sama lain.
Agak bingung juga menanggapi permintaan Marlon yang sudah meninggalkan mereka
untuk berunding mencari jalan keluar untuk memenuhi keinginan Marlon tua itu.
“Bagaimana
menurut Ibu Nurjannah”. Berkata Butet memecah keheningan diantara mereka.
“ Mungkin
diatasi dengan mencari seorang perawat kesehatan yang sudah pensiun.” Berkata
Nurjannah. “Kalau perawat dia kan
terikat code etik perawat. Mungkin dengan code etik itu masalah sekamar dengan
bukan muhrim , tidak menjadi soal, karena dia petugas kesehatan yang merawat
kesehatan bapak”.
“ Bu
Nurjannah, saya tahu tentang bapak saya itu. Dia inginnya lebih dari sekedar
merawat kesehatannya. Dia ingin perempuan itu tidur bersamanya. Saya tahu
kemampuan seksual bapak itu sudah tidak ada sama sekali, tapi dia senang bermesraan, senang dicium perempuan,
dia pasti ingin menunjukkan kasih sayangnya kepada ibu , berpelukan, dia ingin dipijat dan sebagainnya. Dia minta kesediaan Bu Nur itu setelah
bertemu dengan Bu Nur dan kalau dia sudah ngomong begitu biasanya dia tidak mau
yang lain. Yang diinginkannya hanya ibu Nurjannah saja” .
Nurjannah
termenung mendengar uraian ibu Butet itu. “Wah repot ini. Bagaimana menolaknya
ya. Mungkin kalau saya minta kompesasi yang tinggi dia akan mundur dan
membatalkan niatnya, berkata Nurjannah dalam hati. Sementara Nurjannah masih
termenung, Butet melanjutkan bicaranya.
“ Bantulah
bapak saya itu ibu. Kami pasti akan membantu ibu pula. Tentunya dengan yang
bisa kami penuhi”
Nurjannah
balik bertanya: “Kira kira paket perjalanan berapa hari ya, yang cocok dengan
bapak ?. Ada paket untuk seminggu, sepuluh hari, dua minggu, tiga minggu dan
bahkan ada yang sebulan. Semua dengan rute yang berbeda beda.”
“Mungkin
berlayar selama dua minggu cukuplah bagi bapak”. berkata Butet.
“Dua minggu
atau lima belas hari, biasanya”. kata Nurjannah.
“Saya akan
menghitung biayanya”.
Kembali Nurjannah berkata:
“Biasanya
tarip Cruise itu bervariasi menurut klas kamarnya. Yang terbaik itu adalah
kamar suite taripnya sekitar US$. 500 s/d 700 perperson perday. Itu tergantung
pula jenis kapalnya. Kita ambil saja maksimum
US$.700. Dikali untuk dua orang , berarti US$ 1.400 per orang per hari.
Dikali 15 hari , jumlahnya US.21.000,-
Uang saku kalau saya yang mendampingi seribu dollar perhari , Jadi
US$.15.000,- Total menjadi US$, 36.000,=
Belanja
dikapal per orang sekitar US 300 per orang perhari atau US.600 per hari untuk
dua orang , sama dengan US.9.000, selama 15 hari. Total yang diperlukan untuk
berlayar saja US$. 45.000,- dikali dengan kurs yang berlaku hari ini sekitar
Rp. 10.500 per US $ berarti dalam Rupiah berjumlah Rp.378 juta. Belum lagi
ongkos pesawat ke Singapura dan biaya hotel selama menunggu sekitar US.2.000. untuk menunggu berangkatnya kapal. Katakan dua
hari dan saat pulang juga 2 hari , maka waktu terpakai 4 hari. Uang saku saya 4 hari atau US.4.000 Lalu ongkos pulang dari
destinasi Cruise itu kembali ke Jakarta dengan pesawat terbang. Taroklah sekitar
3000 US Dollar, seluruhnya ongkos dan uang saku pendamping berjumlah US.7.000, total keseluruhan
menjadi sekitar US$.52.000,- atau Rp.546
juta. Sambil bicara itu Nutjannah, mencatat semua angka itu di secarik kertas,
dan setelah selesai bicara dia juga selesai menuliskannya dan langsung
menyerahkan perhitungan itu kepada ibu Butet.
Nurjannah
memperhatikan ibu Butet yang sedang meneliti angka angka itu. Keningnya ibu
Butet Nampak sedikit berkerut. Diapun mengambil HP nya dan menghubungi
seseorang. Setelah HP nya menyambung, diapun berdiri menjauh dari Nurjannah. Tenyata
dia berbicara dengan kakak laki lakinya, kakak sulungnya yang bernama
Partomuan. Partomuan prinsipnya setuju , namum dia minta supaya Butet bicara
juga sama si Pardamean, barangkali dia ada pemikiran lain. Butet pun menelepon kakaknya yang nomor dua yang bernama Pardamean itu. Pardamean
nampaknya menyerahkan semuanya kepada adiknya Butet. Nanti mereka patungan
membiayai perjalanan orang tua mereka itu.
Setelah
pembicaraan telepon itu, Butet pun
tersenyum dan berkata kepada
Nurjannah:
“OK bu Nurjannah.
Perhitungannya cukup wajar”.
Butet
tersenyum karena diperhitungan itu ada biaya pendamping US$.1.000,- perhari.
Itu berarti Ibu Nurjannah mau mendampingi bapaknya berlayar dengan kapal Cruise
itu. Walaupun jumlah itu dirasakan keterlaluan oleh Butet, masa biaya
pendampingan saja sampai Rp. 10 juat perhari, namun Butet oke saja, yang
penting kehendak papanya itu bisa terlaksana.
Itung itung untuk memenuhi permintaan terakhir papanya itu.
Next time tidak boleh lagi minta macam
macam.
Sebenarnya Nurjannah
berharap dalam hatinya, ibu Butet itu akan membatalkan rencana berlayar itu
karena biayanya terlalu mahal. Nurjannah memang telah me mark up perhitungan
itu dan bahkan uang saku pendamping yang dimintanya sebesar US .1000,- per hari untuk 19 hari sama denganUS$19,000, kalau
dirupiahkan hamper berjumlkah 200 juta. hanya untuk 19 hari. Mungkin gaji atau honorarium tertinggi yang
diperoleh oleh seorang pendamping wisata. Perangkap yang dibuat Nurjannah agar
rencana Marlon jalan jalan naik Cruise itu batal karena biayanya yang tidak masuk
akal , ternyata diterima bulat bulat oleh ibu Butet anaknya Marlon tua yang
ingin berlayar itu. Nurjannah sama sakali tidak menyangka kalau perhitungan
yang sudah di mark up itu disetujui. Sekarang Nurjannah harus mencarii akal,
untuk membatalkan rencana itu.
“Bu Butet.
Ada syarat lain yang harus dipenuhi. Karena saya bukan muhrim, saya tetap tidak
bisa sekamar dengan bapak. Karena itu kamar saya dengan kamar bapak harus
terpisah. Berarti kita harus membayar biaya dua
kamar ”.
‘Wah , tidak
bisa itu bu Nur. Ibu harus sekamar dengan bapak. Kalau terjadi apa apa dengan
bapak , siapa yang tahu, kalau ibu pisah kamar pula ?. Kalau handikepnya ‘bukan
muhrim’ ya ibu jadi muhrim bapak ajalah. Nikah sajalah . Kalau nanti setelah
selesai berlayar ibu ingin cerai, pastilah bapak tidak keberatan bercerai
dengan ibu”
Nurjannah
tidak bisa mengelak lagi. Tapi dalam hatinya dia bersyukur juga kalau dinikahi
oleh Marlon. Sebagai istri Marlon yang dianggap Nurjannah itu sebagai laki laki
tua super kaya, pasti nanti dia akan
ketetesan juga warisan dari Marlon seandainya Marlon yang sudah sakit sakitann
itu “dipanggil” oleh Yang Maha Kuasa.
Begitulah jalan pikiran Nurjannah yang semakin tua semakin terkontamisasi oleh
virus “matre”.
Setelah beristirahat dan tertidur sekitar satu
jam, Marlon bangun dan setelah mencuci muka, dia keluar ke ruang tengah
rumahnya . Dia Nampak senang karena Nurjannah masih ada disana sedang berbicara
dengan anaknya Butet. Diapun mendekati mereka dan kembali duduk di kursinya.
Setelah
bapaknya duduk, Butet pun bicara :
“ Papa,
rencana papa berlayar naik cruise nampaknya akan terlaksana. Ibu Nurjannah
bersedia mendampingi papa. Tapi ada syaratnya. Ibu Nujannah tidak bisa sekamar
dengan laki laki bukan muhrimnya. Hal ini hanya bisa diselesaikan kalau papa
dan ibu Nurjannah menjadi muhrim. “
Bapaknya
langsung memotong. “Saya setuju saja. Memang saya maunya seperti itu. Supaya
kami yang sudah tua ini tidak menambah
dosa pula gara gara berlayar itu”
Nurjannah
tidak bicara, dia hanya tersenyum saja mendengar jawaban spontan dari Marlon.
Seminggu kemudian, dilakukanlah nikah
siri di rumah Marlon. Yang hadir hanya penghulu, saksi dari pihak perempuan dan
saksi dari pihak laki laki. Mereka tiada lain adalah Melda anaknya Nurjannah
dan Butet anaknya Marlon. “Surat nikah” yang dibuat diatas kertas kwarto itu,
tentu saja hanya sampai pada mereka saja, tidak ada catatannya di Kantor
Departemen Agama kecamatan. Namun mereka menganggap itu sudah memenuhi syariah
dan sah menurut agama Islam.
Nurjannah , setelah menikah tinggal di rumah Marlon. Apa yang pernah
dikatakan Butet tempo hari, bahwa bapaknya itu sudah tidak punya kemampuan
seksual lagi ternyata tidak bohong. Sehingga Nurjannah tidak ada kewajiban
badaniah terhadap suaminya itu, kecuali hanya sekedar meng usap usapnya saja
dimalam hari supaya suaminya itu
tertidur.
Sementara itu Nurjannah tetap
mempersiapkan segala sesuatu berkaitan dengan rencana pelayaran mereka., antara
lain , booking Cruise yang menuju pacific dengan destinasi terakhir di Manila. Cruise itu berangkat dari Singapura
dan berhenti di Sembilan pelabuhan antara lain Ho Chi Min City (Saigon) ,
Yangoon, Hongkong, dan Manila. Hotel selama menunggu cruise berangkat pun sudah
dipesan di Singapura. Begitu juga setelah mendarat di Manila, mereka akan
beristirahat disana sekitar dua hari, baru kemudian kembali ke Jakarta via
Singapura dengan Singapore Airline . Semua penerbangan yang mereka tumpangi
adalah bisnis class , begitu juga hotel tempat mneginap selalu menggunakan kamar
suite di Five Star Hotel. Hal itu dilakukan
Nurjannah sekaligus untuk memperlihatkan kepada anak tirinya Butet, bahwa realisasi
biaya yang dikeluarkannya tidak jauh beda dengan perhitungannya yang lalu
Biaya tiket
pesawat, hotel telah diselesaikan oleh Nurjannah, begitu juga biaya kapal
cruise itu sehingga saat akan berangkat
dia menerima uang dollar Amerika sesuai perhitungannya dulu , sebesar 52.000, dalam bentuk Bank Notes (uang
kertas US Dollar). Nurjannah nampak berbinar binar menerima uang dollar Amerika
yang semuanya baru dan gress itu dari Butet. Untuk itu Nurjannah harus menanda
tangani “Bukti” penerimaan dalam bentuk pernyataan diatas meterai, yang
langsung ditanda tangani Nurjannah tanpa membaca dengan teliti ayat ayat yang
terdapat dalam tanda terima atau “Receipt” tersebut
Tiga hari sebelum kapal Cruise yang
akan mereka tumpangi bertolak , Nurjannah bersama suami barunya Marlon
berangkat ke Singapura dan menginap di HyATT Hotel yang berlokasi di Orchad
Road. Mereka menempati salah satu Suite Room di hotel itu . Pagi , sebelum
sarapan pagi, dalam suasana udara pagi yang sejuk, Nurjannah mengajak suaminya
jalan pagi. Marlonn tampak bersemanagt , berjalan sambil dipegang lengannya
oleh Nurjannah. Nurjannah bukan ingin menunjukkan kemesraan pada suaminya itu,
melainkan khawataitr suaminya yang agak renta itu terjatuh.
Walau jalan mereka pelan , namun terasa
bahwa jalan jalan mereka itu
adalah olah raga yang bermanfaat bagi kesehatan mereka. Disamping itu
Nurjannah juga selalu mengontrol konsumsi obat oleh suaminya. Dengan adanya Nurjannah
disamping Marlon , marlon merasa bertambah gairah hidupnya. Hanya dua malam
mereka menginap di Hyatt Hotel itu dan pada hari ke tiga, mereka pun berangkat
menuju Marina Bay, dimana kapal Cruise tang akan membawa mereka pesiar berlabuh.
Mereka memperoleh kamar suite yang cukup
luas, ada ruang tamu nya, dan lengkap dengan peralatan TV serta alat komunukasi
lainnya . Tersedia computer, WiFi, TV dan telepon serta safety box untuk
menyimpan barang barang berharga. . Namanya Kamar Suite , merupakan kamar terbaik di kapal itu. Marlon Nampak amat
senang berlayar. Dia belum pernah naik kapal sebelumnya, dan merasa
keinginannya terpenuhi karena ada Nurjannah yang mau menemaninya berlayar dan bahkan “terpaksa”
harus menikah dengan dia agar bisa tinggal sekamar dengan dia di kapal itu. Dari beranda kamar itu Marlon bisa melihat
suasana saat kapal itu meninggalkan Marina Bay di Singapura menuju laut lepas. Setelah kapal berlayar sekitar dua jam ke laut
lepas,
Marlon mengajak istrinya melihat lihat situasi kapal diluar kamar. Dia
terpesona dengan situasi kapal itu. Semua orang tampak gembira dan sibuk
mencari hiburan sesuai seleranya. Marlon pun mampir di casino, Dia perhatikan
permainan di casino itu namun hanya dua permainan yang dia paham. Pertama Black
Jack, yaitu permainan menggunakan kartu bridge yang dibagi oleh Bandar. Permainan
itu sudah dikenalnya sejak kecil, dikampungnya permainan itu disebut main 21.
Lalu
diperhatikannya juga permainan dadu
yang mengunakan mesin dalam mengocok dadu dadu kecil dan hasil nya direkam dan ditayangkan di papan elektronik
yang sekaligus sebagai data statistiknya.
Marlon merasa kalau dua permainann itu dia memahaminya. Setelah berkeliling dan
kembali ke kamar mereka. Marlon minta uang belanja hariannya yang dihitung Nurjaannah
sebesar 4.500 dollar itu diberikan kepadanya sebanyak 4.000 dollar. Walaupun
uang itu diberikan Nurjannah sesuai permintaan Marlon, tapi Marlon diingatkan
Nurjannah supaya jangan membawa uang banyak banyak ke meja judi. Karena itu
uang 4.000 dollar itu hanya 300 dollar yang dikantonginya yang dijadikan modal
untuk bermain Black Jack. Sisanya
disimpannya di kopernya. Uang 300 dollar itu, dua lembar ditukarnya dengan uang pecahan US$ 10. Dia
mulai menaruh pasangannya 20 dollar. Dia
kembali ke kamar membawa kemenangan dan memperlihatkan kemenangannya itu kepada
Nurjannah. Nurjannah, amat senang dengan kemenangan itu.
Dalam
beberapa kali bermain sepertinya Marlon
Mujur terus , beberapa kali dia menang dan hari itu total kemenangnnya mencapai
lebih 500 dollar. Marlon menjadi percaya diri dalam bermain Black Jack
tersebut.
Saat kapal cruise berhenti di
Pelabuhan Ho chi Min City, hampir semua penumpang turun dan dengan menggunakan
bus mereka berwisata menuju Chuci Tunnel. Chuci Tunnel itu adalah terowongan
bawah tanah yang panjangnya konon mencapai ratusan km yang dipakai tentara
Vietcong melawan dan mengalahkan Amerika
Serikat dalam perang Vietnam yang lalu. Nurjannah ikut ke terowongan itu
bersama Marlon. Namun mereka hanya sebentar saja disana dan cepat balik ke
parkiran dan beristirahat di restoran disekitar tempat parkir bus mereka.
Marlon tampak lelah kalau berjalan terlalu jauh. Sore mereka balik ke kapal dan
melanjutkan perjalanan ke arah Timur.
Setelah di tengah Samudera, kapal pun
akan semakin tenang jalannya. Dan situasi di kapalpun tetap ramai dengan
berbagai permainan dan hiburan. Sementara Marlon hanya terpaku bermain Black
Jack di Casino. Bosan bermain black Jack diapun pindah ke meja dadu dan mengadu
untung pula di meja itu.
Dalam soal makan , Nurjannah sangat
berperan menyeleksi makanan yang boleh dimakan oleh Marlon. Marlon dijaga
Nurjannah dari makanan berlemak, makanan mengandung asam urat tinggi, dan
mengurangi garam dan tidak boleh sama sekali minum minuman beralkohol.
Kesehatan Marlon cukup terjaga berkat ada Nurjannah disampingnya,.
Marlon nampak
semakin bergairah dan nampak sehat dan dia merasa mampu berlama lama diluar
pada malam hari. Biasanya pada jam delapan malam Marlon sudah istirahat masuk
kamar. Namun banyak acara yang dinilainya bagus, sehingga kadang dia mengikuti
acara acara di kapal itu bahkan sampai jam 11, 00 malam Dan sering pula karena Nurjannah letih, dia
masuk kamar duluan dibandingkan suaminya yang sering masih bersemangat main
black jack di casino kapal cruise itu. Namun semakin malam nampaknya
keberuntungan makin jauh dari Marlon, dan semakin malam para penjudi di kapal itu
semakin tinggi pula taruhannya dan Marlon terbawa situasi sehingga ikut ikut pula
memasang taruhan besar. Pada hari ke empat di kapal itu dia kalah lebih dari
5.000,- Dollar
Besoknya,
pada hari ke lima kapal berhenti di suatu
pelabuhan di Kamboja dan penumpangpun turun dan berwisata dengan bus ke
destinasi wisata di daerah itu. Penumpang cruise itu diberi kesempatan selama
lebih kurang sembilan sampai 10 jam untuk berwisata. Ada yang diorganisisir
(berbayar) ada yang hanya jalan jalan dekat dekat kota saja (tanpa bayar),
Nurjannah dan Marlon memilih cara ke dua. Kalau lelah mereka berhenti di
Restoran sambil menikmati makanan setempat yang masih sesuai dengan diet nya
Marlon
Setelah
berlayar lagi, Marlon kembali pula duduk di casino , di meja Black Jack
kesukaannya. Siang dia main kecil kecilan saja. Dan setelah agak lelah dia
berhenti, masuk ke kamar dan istirahat dan biasanya tertidur, kadang sampai
tiga jam, Malam kembali dia main Balck Jack. Karena sudah terbiasa sendirian
dan karena Nurjannah sering ngantuk menyaksikan permainan yang baginya
membosankan itu, maka Marlon amat sering ditinggal sendiri oleh Nurjannah saat
dia main black jack itu. Emosi Marlon kadang tidak terkendali. Dia berpikir,
tidak akan selalu kalah. Karena itu jika dia memasang 1000 dolar lalu kalah, dia
akan melipat gandakan pasangannya menjadi 2000 dolar. Kalau kalah lagi,
pasangan berikutnya akan ditingkatkannya menjadi 4000 dolar. Tapi kadang dia
tidak konsisten, setelah tiga kali kalah berturut turut, dia berhenti melipat
gandakan taruhanya. Dia mulai lagi dengan 1000 dolar, dan kalau pun menang
belum akan menutup kekalahan sebelumnya. Dan ternyata sejak mulai main, dia
hanya tiga kali menang. Itupun tidak banyak, hanya 500 dollar, 1200 dollar dan
4000 dollar.
Dihitung hitung kekalahannya sudah mencapai 45.000 dollar. Dari
mana duitnya ?. Ternyata uang itu adalah uang Nurjannah dan uang sakunya sendiri
yang 4.500 dollar itu. Nurjannah menyimpan uang yang diterimanya dari Butet di
safety box yang ada di kamar kapal cruise itu. Saat menyetel kunci kombinasi safety box
itu, tanpa disadari Nurjannah, diintip
oleh Marlon. Dan dicatatnya. Saat dia kekurangan uang, dia dengan leluasa
membuka safety box itu saat Nurjannah tidur dan uang didalamnya secara
berangsung angsur diambilnya untuk modal baginya dalam bermain black jack.
Nurjannah sejak menyimpan uang di safety box itu, tidak pernah pula membuka
buka safety box itu, karena uang untuk keperluan hari hari sudah disisihkannya
dan disimpannya di kopernya.
Satu hari
menjelang sampai di Manila, Nurjannah baru membuka safety box yang berisi uang
sebanyak 42.000 dollar itu. Dia kaget luar biasa setelah uang yang tinggal di
safety box itu hanya tersisa 1000 dollar saja.
Setelah
menghitung uang yang ada di safety box iru, dia memandang kepada suaminya yang
saat itu juga menyaksikan saat Nurjannah membuka safety box tersebut.
Dengan muka
muram Marlon langsung mengaku,
“Aku yang
ambil”
Nurjannah
lemas mendengar pengakuan suaminya itu.
“Tidak usah
khawatir, nanti sesampai di rumah aku ganti.”
“Abang tidak
pegang uang , sama apa akan abang ganti?”. Berkata Nurjannah sambil sesengutan.
“Anakku lah yang ganti.Uang ada.Tidak usah sedih“.
Tapi
Nurjannah tetap saja sedih dan airmatanya terus menetes. Ada rasa penyesalan
padanya , betapa lelahnya mendampingi suaminya ini dan dia mau karena dia akan
memperoleh uang cukup banyak dari pekerjaan menemani Marlon, yang dinikahinya
secara siri untuk keperluan itu.
Karena Nurjannah
terus saja menangis, Marlon pun berkata. Beri aku selembar kertas dan ball
point. Aku kasi kau surat wasiat agar kau juga dapat warisan jika aku nanti
mati.
Nurjannah
tidak percaya pada pendengarannya. Tapi dia tidak ada alasan untuk tidak
percaya kepada suaminya itu. Dia pun mencari selembar kertas yang ada dimeja di
kamar itu dan sekalian mengambil ball point yang ada di meja itu.
Ini , tulis
disini ajalah berkata Nurannah sambil menunjukkan kertas yang tersedia di meja
kamar itu.
Diatas
kertas surat berlogo kapal cruise itu, Marlon pun menulis tanggal di pojok kanan atas ,kemudian diapun menulis wasiatnya.
“Kepada anak
anak ku.
1. Aku
sudah memakai uang Nurjannah hampir sejumlah 41.000,- dollar. Tolong anak anak
ku mengganti kembali uang Nurjannah itu.
2. Kalau
aku sudah tiada, tolong Nurjannah Istriku diberikan sebagian harta kita sebagai ucapan terima kasihku kepadanya yang telah mendampingi ku berlayar. Berilah dia sebuah rumah dan sebuah mobil
3. Demikian
permintaan ku. Semoga kalian dapat melaksanakannya
dengan sebaik baiknya
Dari papa kalian
Marlon S
Surat itu ditanda tangani Marlon dan diberikannya kepada
Nurja Nurjannah rasa terobat kecewanya dan kemudian memeluk
suaminya itu sambil mengucapkan terima kasih. Kemudian memasukkan “Surat
wasiat” itu kedalam tas nya.
Begitulah, kapal Cruise itu berlayar dengan mampir di
berbagai pelabuhan dan para penumpangnya
turun dan berwisata ke objek objek wisata di tempat itu. Pada hari ke 15 kapal
cruise mengakhiri pelayarannya di pelabuhan
terakhir di Manila Philipina.
Marlon dan
Nurjannah bersama penumpang lainnya turun dari cruise itu dengan membawa kenangan
masing masing. Marlon bahkan membawa kenangan cukup pahit karena kalah berjudi sebanyak
45.000 dollar Amerika.
Mereka
melanjutkan perjalanan menggunakan taxi menuju hotel yang telah mereka pesan.
Di Manila mereka hanya sight seeing saja dan pernah mengikuti city tour
setengah hari dan kemudian sisa waktu digunakan untuk istirahat memulihkan
tenaga. Pada hari ke tiga mereka berangkat ke Jakarta via Singapura menggunakan
SQ dan duduk di klas bisnis.
Sesampai di Jakarta, mereka dijemput
oleh Butet. Baik yang menjemput maupun yang dijemput Nampak gembira, Butet
senang melihat Marlon yang Nampak sehat, tapi sebenarnya Marlon amat letih, cuma
tidak diperlihatkannya kepada anaknya.
Malam harinya Marlon nampak gelisah.
Dia sulit tidur. Kepalanya terasa sakit. Nurjannah menggosok lehernya dengan
minyak angin dan mengusapkan minyak
angin itu sedikit di kepalanya. Marlon merasa lebih nyaman.
Marlon baru
tertidur sekitar jam 11.00 malam. Sekitar jam tiga pagi Nurtjannah terbangun karena disodok sodok
oleh siku kiri Marlon. Setelah Nurjannah terbangun, dilihatnya Marlon berusaha
bicara dengan dia, tapi dia tidak mengerti apa yang dimaksud Marlon. Dilihatnya
Marlon mulutnya miring. Nurjannahpun terkesiap. Dia cemas luar biasa. Nurjann
ah tahu kalau itu pertanda suaminya stroke lagi. Dengan bergegas diketuknya
kamar Butet, Setelah Butet bangun diapun berkata :”Bapak stroke lagi”. Butetpun
berlari ke kamar bapaknya dan , diangkatnya tangan kanan bapaknya itu, dan
tangan itu terkulai tak berdaya. Butet pun segera memanggil ambulans dan Marlon
pun dilarikan ke rumah sakit. Dalam perjalanan, Marlon terdengar mendengkur
keras dan lama lama suaranya hilang. Petugas yang merangkap perawat di ambulana
itu meraba denyut nadi di lengan Marlon, namun dia merasakan denyut itu sudah tidak ada. Dada
Marlon pun di periksanya dengan steteskopnya dan petugas itupun menggelengkan kepalanya. Sambil melihat
kepada Butet dan Nurjannah diapun mengatakan bahwa bapak sudah tidak ada .
Nurjannah pecah yangisnya, Butet pun terisak.
Namun mereka
tetap melanjutkan perjalanan ke rumah sakit , dan disana diperoleh surat
kematian Marlon, dan setelah itu dengan ambulann yang sama mereka pulang
kembali ke rumah mereka.
Besoknya
Janazah Marlom dimakamkan , dengan dihadiri keluarga dan kerabat mereka. Suami
Butet tidak hadir karena dia masih sedang menuntut ilmu di Negeri Belanda. Dia
sedang mengambil gelar Doktor dalam bidang Hukum Internasional.
Setelah pemakaman Marlon, Saudara dan kakak
kakak dan ipar Butet menginap di rumah itu. Tidak ada acara tahlilan. Mereka
hanya berkumpul dan bercengkrama saja tiap malamnya. Pada hari ke tiga
meninggalnya Marlon, saat keluarga itu sedang lengkap berkumpul di ruang tengah rumah itu, Nurjannah pun
ikut nimbrung disana. Setelah ada
kesempatan baginya berbicara dia pun menceritakan soal almahrum suaminya yang
mengambil uang dari safety box tanpa sepengetahuannya dan uang itu ludes di
meja judi. Kemudian Marlon berjanji akan menggantinya. Nurjannahpun memberikan surat
wasiat yang diterimanya dari Marlon kepada Butet. Butet tersenyum saja membaca
surat itu. Surat itu diteruskannya kepada kakaknya Partomuan, dan berikutnya
diteruskan pula kepada yang lain dan semua akhirnya membaca surat wasiat Marlon
itu. Dan semua tersenyum membaca surat itu.
Nurjanah merasa heran, kok keluarga
Marlon pada tersenyum membaca surat wasiat itu ?.Butet segera
maklum kalau Nurjannah butuh pen jelasan kenapa mereka tersenyum. Dia pun
menjelaskan :
“Ibu
Nurjannah. Papa itu, pak Marlon itu bukan papa kandung kami. Saya dengan
saudara saudara saya ini bermarga Siregar. Pak Marlon itu bermarga
Sihombing. Beliau itu adalah pembantu papa saya saat papa saya masih
hidup. Papa saya adalah pengacara yang terbilang pengacara sukses dan punya
nama. Papa dan ibu saya itu dua duanya pengacara. Saat papa meninggal, kantor
pengacara papa itu tetap jalan dan malahan kliennya semakin banyak karena yang
pegang adalah Umak saya, ibu saya. Umaklah yang rezekinya bagus yang membangun
rumah ini. Umaklah yang menyekolahklan kami sehingga kami tiga orang anaknya
ini semua menjadi Sarjana Hukum dan semuanya juga mengikuti profesi orang tua
kami sebagai pengacara. Umaklah yang mewariskan rumah ini kepada kami bertiga,
sehingga rumah ini adalah rumah kami bertiga bersaudara.
Sementara
itu, saat kami masih mahasiawa, ibu kami menikah dengan pembantu papa kami , maka pak Marlon pun
tinggal bersama kami , sebagai keluarga kami. Tapi dia itu tidak punya apa apa,
karena dia tetap hanya membantu bantu umak saja di kantor, mengurus hal hal
tetek bengek soal pegawai, kendaraan, dan fasilitas fasilitas lainnya. Umak
sadar bahwa , kalau umak sudah tak ada kemungkinan suami umak yang disayanginya,
pak Marlon itu, akan diruruh meninggalkan rumah ini, karena itu umak berpesan kepada kami bertiga, supaya berbaik
baik kepada suaminya itu. Jangan sampai suaminya itu diusir dari rumah ini.
Untuk itulah kami berbaik baik kepada pak Marlon, mengabulkan keinginannya yang sudah sejak umak kami meninggal ingin
sekali naik kapal Cruise . Akhirnya kami sadar bahwa bapak itu sering sekali minta
berlayar naik cruise , maka kamipun
sepakat membolehkan beliau berlayar tetapi dengan syarat ada yang mendampingi.
Dan saat
menyerahkan uang sebanyak 52.000 dollar itu , ibu Nurjannahkan sudah tanda
tangan . Disitu kan ada pernyataan ;
1. Jumlah
uang sebanyak 52.000 dollar itu mencakup seluruh pengeluaran sejak berangkat
sampai kembali dan semuanya all in termasuk biaya tiket perawat, hotel, biaya
tiket kapal cruise , biaya makan minum, biaya pendampingan selama perjalanan
dan lain lain.
2.
Disitu
dijelaskan bahwa penerima tidak akan meminta tambahan uang lagi ,
dengan alasan apapun yang berkaitan dengan perjalanan yang akan
dilakukan sampai kembali.
3.
Penerima
tidak akan menuntut apapun berkaitan dengan status sebagai istri yang dinikahi
secara siri oleh papa kami Marlon. Istri yang dinikahi secara Siri tidak punya
hak apapun
Begitu ibu, dan ibu sudah tanda tangan itu saat ibu menerima uang
dari saya sebelum berangkat ke Singapura.
Penjelasan Butet itu amat jelas, Nurjannah bahkan lemas dan serasa mau pingsan
mendengar ucapan Butet yang sangat tegas mengungkapkannya.
Nurjannah terhenyak dan terdiam setelah mendengar uraian
Butet itu.
Setelah Butet, ikut bicara kakak Butet tertua, Partomuan :
“ Pak Marlon itu tidak punya harta apapun ibu . Kami tertawa
saja membaca surat wasiatnya itu. Apa yang mau diwariskannya ?. Rupanya beliau
masih sempat membodohi ibu. Bapak itu kadang agak nakal juga . Dan bukan Ibu
saja korbannya, dulu juga sudah ada perempuan lain yang dijanjikannya warisan.
Untung kami tahu, dan perempuan itu kami kasi tau sehingga tidak jadi menikah
dengan bapak Marlon itu.
Kami tahan dia tinggal disini semata mata karena menghormati
umak kami yang menjadikan kami seperti sekarang ini. Untuk jasa umak itulah
kami mau berkorban membiayai pak Marlon bekeliling naik kapal Cruise sesuai
keinginannya. “
Butet pun mengembalikan “surat wasiat” itu kepada Nurjannah. Semula Nurjannah ingin merobek saja surat itu, tapi ada baiknya juga dismpan sebagai kenangan yang menyakitkan hati dan menjadi pelajaran baginya.
Nujannahpun
tidak berbicara lagi. Dari raut wajah anak anak tiri marlon itu dia melihat ,
tidak ada respek dari mereka kepadanya. Dia tahu istri siri itu identik dengan
“perempuan murahan” seperti kawin kontrakm yang dilakukan bebeRapa oknum orang
Arab yang menikah dengan perempuan lokal di
daerah puncak, yang dibayar selama waktu tertentu untuk maksud tertentu
saja. Sadar akan posisinya, Nurjannah pun pamit kepada Butet bersaudara itu dan
masuk kamar membereskan barang barangnya. Nurjannah kembali ke ruang tengah
rumah itu dengan menenteng kopernya. Nurjannah berpamitan kepada mereka, namun
dia enggan menyalami keluarga itu, dia langsung menuju pintu dan berniat akan
memanggil taksi. Namun Butet
menghampirinya dan mencegahnya.
“Ibu diantar saja pakai mobil kita”.
Dia pun mengongtak supir untuk mengantar Nurjannah
kerumahnya.
Nurjannah pun diantar dengan mobil Toyota Avanza yang biasa
dipakai untuk antar jemput anak anak Butet ke sekolahnya.
--------------

No comments:
Post a Comment