Saturday, April 9, 2016

MANABUR CINTA KE ENAM

>

  MANABUR CINTA KE ENAM 


Setelah setahun menjadi janda dan berpisah dari Khairul , Nurjannah tetap aktif berbisnis  Di TV swasta , hampir tiap hari ada ajakan untuk membuka usaha travel. Dan bagi mereka yang beminat akan diberikan pendidikan sampai bisa. Tidak perlu mengurus izin usaha, karena izin usaha menggunakan izin dari mereka.  Dan selalu ditekankan dalam acara yang sebenarnya iklan itu, bahwa membuka usaha travel itu mudah. Semudah membuka HP anda.  Akhirnya Nurjannah  ikut kursus usaha travel dimaksud  dan setelah kursus dia praktikkan semua materi yang diperoleh pada kursus tersebut. Dia mulai menjual pulsa, kemudian menjual tiket pesawat, tiket kereta api dan sebagainya. Kebetulan rumah Nurjannah di daerah Pasar Minggu habis masa kontraknya. Karena lokasi rumah itu cukup strategis, maka di depan rumah itu dipasangnya spanduk perusahaan travel nya. Disitu tertera, Nama perusahaan travelnya dengan pemberian jasa   jasa : Traveling, Ticketing, Penjulan pulsa telepon dan Pulsa listrik dan sebagainya,. Nurjannah pun mempelajari seluk beluk pengelolaan pariwisata dan segala aspek yang berkaitan dengan usaha travelling . Berdasarkan pengalaman Nurjanna selama ini yang juga senang jalan jalan, maka gambaran pengelolaan wisata  secara umum cukup dikuasai oleh Nurjannah.
Perlahan lahan Usaha Travell Nurjannah mulai meningkat. Dia sudah berani mengirim wisatawan ke luar negeri, terutama ke Negara Negara Asean seperti Thailand, Vietnam dan Malaysia. Di tiga Negara itu perusaaan Travel milik Nurjannah sudah punya hubungan reciprocal dengan perusaaann Travel lokal yang cukup berpengalaman. Nurjannah juga sering diberi kerjaan mengelola wisatawan yang berkunjung ke Indonesia, ke Jakarta, Bandung dan bahkan Bali. Nurjannah punya guide untuk  daerah daerah destinasi wisata di beberapa kota dan objek wisata di Indonesia.     
            
Pada suatu hari datang berkunjung seorang wanita muda ke kantor travel Nurjannah. Perempuan itu ingin menyenangkan bapaknya, konon  seorang mantan pengacara. Bapaknya ingin jalan jalan sembari naik kapal cruise , tapi belum tau trayek yang menarik sehingga beliau belum menetapkann tujuan atau trayek kapal cruise yang akan dipilihnya. Disamping itu  diantara keluarganya tidak ada yang bisa mendampingi dan menemani beliau. Si bapak sudah berusia 71 tahun dan baru baru ini terkena stroke, tapi karena cepat ditangani beliau tertolong dan sembuh. Jadi  perempuan itu perlu advis, kemana jalan jalan yang baik, kapalnya  kapal apa dan bagaimana caranya ikut berlayar dengan cruise itu.
Nurjannah , sebenarnyan tidak banyak tahu tentang berlayar dengan Cruise itu, tapi dasar Nurjannah tidak akan melewatkan kesempatan kalau ada peluang duit masuk, maka walau  hanya berbekal pengetahuan iklan kapal cruise , Nurjannah menyatakan siap membantu .
“Tinggal disesuaikan dengan keinginan si bapak, kemana beliau itu akan berlayar,   dan kami yang arrange perjalanan , tiket dan sebagainya”.
Berkata Nurjannah kepada perempuan muda itu yang ternyata nama panggilannya ibu Butet. Bagi perempuan muda itu penjelasan Nurjannah cukup dapat dia mengerti.
Setelah dirumah, Butet menguraikan kepada bapaknya hal hal yang disampaikan Nurjannah kepadanya. Ternyata banyak hal yang dipertanyakan oleh bapaknya  tentang berbagai aspek yang tidak bisa dijelaskan oleh Butet anak perempuannya itu. Anaknya itu disuruh bapaknya agar mengundang dan menjemput ibu Nurjannah itu  untuk datang ke rumahnya menjelaskan.
Butet, kemudian menelepon Nurjannah menyampai kan maksudnya ingin mengundang Nurjannah ke rumahnya. Bapaknya ingin mendapat penjelasan dari tangan pertama agar dia memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang kemungkinan baginya untuk berwisata berlayar dengan kapal cruise. Dalam hatinya Nurjannah berkata: “Angkuh juga ini orang kok saya diminta datang menjelaskan, padahal dia yang butuh informasi”.  Namun karena ibu Butet itu bicara amat sopan dan minta tolong kepadanya, akhirnya Nurjannah setuju datang ke rumah ibu Butet  untuk menjelaskan hal hal yang ingin diketahui  bapaknya itu.
Sesuai dengan waktu yang disepakati, Nurjannahpun dijemput oleh ibu Butet.
Saat  sebuah mobil Mecedes Benz seri S 320 berwarna hitam berhenti, Nurjannah agak kagok juga, kok ada mobil mewah berhenti didepan kantor Travelnya ?. Setelah pintu mobil terbuka, ternyata yang turun adalah ibu Butet yang berjanji menjemputnya itu. Setelah bertegur sapa sebentar, Ibu Butet itu pun mempersilahkan Nurjannah naik ke mobilnya. Nurjannah belum pernah naik mobil mewah sekelas Merci 320 S itu. Terasa nyaman di mobil itu, membuat Nurjannah mengira ngira , pastilah ibu Butet ini sebenar benarnya orang kaya , karena dia tahu harga mobil yang dinaikinya itu hampir Rp. I M.
         
Saat memasuki pekarangan rumah ibu Butet , Nurjannah semakinn tercengang. Rumah itu dipagar tinggi dan pintu pagarnya dua lapis. Di pojok gerbangnya ada CCTV yang bergerak 180 derajat yang memantau lingkungan dipintu masuk rumah itu. Ada  sekuriti yang bertugas di pintu masuk itu.
Dalam hatinya Nurjannah bertanya tanya siapa yang punya rumah yang begitu besar ini, yang dijaga begitu ketat ?.
Setelah sampai di depan rumah dua lantai yang canopynya amat lebar itu, Nurjannah pun turun bersama sama dengan ibu Butet. Ibu Butetpun masuk ke dalam dan membawa Nurjannah ke ruang tengah.  Di ruangan itu terdapat sofa yang ukurannya besar besar . Semua kursi sofa itu amat empuk ketika diduduki. Dan diujung , di suatu sofa yang paling besar duduklah seorang tua, yang rambutnya sudah setengah putih . Dia sepertinya agak mengantuk, sehingga dia sedikit kaget saat ibu Butet memanggilnya.

“ Papa , ibu Nurjannah sudah disini”.
Sambil mengucek matanya, si papa itupun memandang Nurjannah . “Ooh silahkan duduk. “
Nurjannahpun mengambil tempat duduk disamping Ibu Butet. Tapi baru saja Nurjannah duduk si papa malah menyuruh Nurjannah agar pindah dan duduk di sofa dekat nya. Setelah Nurjannah duduk orang tua berambut setengah putih itupun langsung bicara:


“ Namaku  Marlon. Usia ku 71 tahun. Baru baru ini aku terkena stroke, tapi cepat ditolong, sehingga aku  bisa pulih kembali. Tapi dokter yang menangani  memberi nasihat, agar aku menjaga kesehatan dengan baik, tidak boleh lagi stress. Orang stress gampang terkena stroke, kalau aku kena stroke lagi, bisa fatal. Lalu untuk menjaga agar aku tidak stress, disarankan anak anak ku agar kalau ada yang aku inginkan mereka akan memenuhi keinginanku itu bagaimanapun caranya. Dalam rangka itulah aku meminta bantuan ibu Nuja…..,siapa namanya bu ?...

“Nurjannah pak”.  Ya ibu Nurjannah . Aku kepingin berlayar naik kapal Cruise . Aku  ingin sekali melihat tempat tempat dan negeri negri yang dilalui kapal cruise itu . Lalu setelah sampai di pelabuhan terakhir, pulangnya naik pesawat terbang. Aku  sebenarnya tidak suka naik pesawat terbang. Tapi kalau pulangnya juga naik kapal, aku rasa terlalu lama dan mungkin aku bosan. Bosan itu juga membuat stress Bagaimana menurut Ibu Nurjannah ? “

Nurjannah terdiam. Dia dimintai pendapat tentang sesuatu yang dia tidak menguasai, bukan hanya tidak menguasai masalah traveling dengan kapal Cruise itu, dia bahkan buta soal itu. Namun dijawab nya juga pertanyaan pak Marlon itu berdasarkan iklan yang pernah dia baca tentang fasilitas di kapal Cruise dan dikembangkannya   dengan logikanya.
“ Naik cruise itu memang menyenangkan pak. Kapal Cruise iti seperti Hotel juga. Klas kapalnya juga bermacam macam, dari yang sedang sampai yang besar sekali. Fasslitasnya juga berbeda beda  dari bintang tiga sampai bintang enam   Di kapal cruise itu fasilitasnya dan juga hiburannya serba lengkap. Bagi orang yang masih muda akan amat menyenangkan, tapi bagi mereka yang punya handikep, mungkin kurang nyaman. Karena kapal itu punya deck yang bertingkat tingkat, dan antara lantai  tertentu dengan lantai  lainnya banyak yang mengggunakan tangga. Disinilah handikepnya bagi mereka yang secara fisik lemah. Di tiap lantai itu ada bar tempat santai, ngobrol sambil minum minum, tentunya minuman beralkohol, yang bagi mereka yang sudah pernah kena stroke, pantang itu. Selalu ada entertainment, music, cabaret,  sulap, acara dansa , casino dan sebagainya.. Bagi yang ingin berolah raga ada Gym , pada kapal yang besar ada lapangan tennis , ada kolam renang juga dan setiap hari ada acara berbeda, sehingga kalau kita ikut aktif menikmati acara acara tersebut, sama sekali tidak ada kata bosan berada di kapal itu
Tapi mereka yang tidak mampu  mengikuti irama dan nuansa pesta di kapal itu karena keterbatasan fisik, maka biasanya mereka akan mengeram di kamarnya sepanjang perjalanan. Kalau terjadi yang demikian, tidak ada enaknya naik kapal cruise itu”

Si Tua Marlon pun terdiam mendengar uraian Nurjanna . Lama dia diam. Anaknya Butet juga diam, gak berani berkomentar. Walau Marlon memahami apa yang dikhawatirkan Nujannah, namun sepertinya dia tetap ingin mencobanya.
“ Bagi aku, yang  penting itu berlayarnya. Soal nanti akan di kamar saja sepanjang perjalanan, itu urusan nantilah. Aku tidak akan menyesal, karena aku sudah diingatkan tentang situasinya. Yang penting, kalau pun hanya dikamar, selalu harus ada yang menemani dan tentu juga yang melayani. Yang melayani aku haruslah orang yang penyabar. yang juga menjadi juru bicara ku, yang bisa berbahasa Inggris  yang bisa menerjamahkan keinginan keinginanku kepada pihak lain yang melayani di kapal itu.
Dan yang menemani aku itu gak boleh pula yang terlalu muda, harus yang umurnya tidak terlalu jauh bedanya dengan aku. Supaya ngomongnya nyambung. Kalau lain yang aku maksud lain pula yang ditanggapinya, bisa stress aku. Bu Nurjannah bisa tidak menerima tugas itu".

“Menemani bapak dan sekamar dengan bapak, itu tidak mungkin pak. Saya seorang muslimah, tentu tidak boleh sekamar dengan yang bukan muhrimnya”.
“Saya tahu itu. Saya juga seorang muslim, Tapi cobalah dicari jalan agar yang tidak mungkin itu menjadi mungkin”
Nurjannah tersenyum mendangar permintaan Marlon yang terakhir itu. “Barangkali dia ingin menjadikan aku istri kontraknya”. Pikiran Nurjannah melayang ke cara cara beberapa orang oknum dari Arab yang melakukan praktek kawin kontrak di daerah Puncak, Jawa Barat,  Setelah habis masa kontraknya, si suami Arab itu pulang ke negerinya tanpa beban dengan meninggalkan istri kontrak nya itu dan bahkan juga anaknya , kalau ada.   Berkata Nurjannah dalam hatinya.
“Mungkin sabaiknya bapak menggunakan jasa perawat saja pak”.
“Ah … kalau perawat , rata rata usianya kan masih terlalu muda. Nanti kita ngomongnya gak nyambung. Nanti aku makan ati, dan stress pula dan kena stroke lagi, dan matilah aku…..

Jadi bu Nurjannah, begitulah kira kira rencanaku. Tolonglah ibu follow up dengan anakku  Butet. Apa yang ibu perlukan atau kompensasi apa yang ibu inginkan atau fee atau honor , berapa dengan syarat apa dan lain lain nya silahkan di bicarakan dengan  Butet”.
“ Aku akan ke kamar, sudah waktunya aku istirahat. Selamat siang Bu Nurjannah “.
“Selamat siang pak “, menjawab Nurjannah.
Dua perempuan yang masih duduk di ruang tengah itu saling pandang satu sama lain. Agak bingung juga menanggapi permintaan Marlon yang sudah meninggalkan mereka untuk berunding mencari jalan keluar untuk memenuhi keinginan Marlon tua itu.  
“Bagaimana menurut Ibu Nurjannah”. Berkata Butet memecah keheningan diantara mereka.
“ Mungkin diatasi dengan mencari seorang perawat kesehatan yang sudah pensiun.” Berkata Nurjannah. “Kalau  perawat dia kan terikat code etik perawat. Mungkin dengan code etik itu masalah sekamar dengan bukan muhrim , tidak menjadi soal, karena dia petugas kesehatan yang merawat kesehatan bapak”.

“ Bu Nurjannah, saya tahu tentang bapak saya itu. Dia inginnya lebih dari sekedar merawat kesehatannya. Dia ingin perempuan itu tidur bersamanya. Saya tahu kemampuan seksual bapak itu sudah tidak ada sama sekali, tapi  dia senang bermesraan, senang dicium perempuan, dia pasti ingin menunjukkan kasih sayangnya kepada ibu ,  berpelukan, dia ingin dipijat   dan sebagainnya.  Dia minta kesediaan Bu Nur itu setelah bertemu dengan Bu Nur dan kalau dia sudah ngomong begitu biasanya dia tidak mau yang lain. Yang diinginkannya hanya ibu Nurjannah saja” .
Nurjannah termenung mendengar uraian ibu Butet itu. “Wah repot ini. Bagaimana menolaknya ya. Mungkin kalau saya minta kompesasi yang tinggi dia akan mundur dan membatalkan niatnya, berkata Nurjannah dalam hati. Sementara Nurjannah masih termenung, Butet melanjutkan bicaranya.
“ Bantulah bapak saya itu ibu. Kami pasti akan membantu ibu pula. Tentunya dengan yang bisa kami penuhi”

Nurjannah balik bertanya: “Kira kira paket perjalanan berapa hari ya, yang cocok dengan bapak ?. Ada paket untuk seminggu, sepuluh hari, dua minggu, tiga minggu dan bahkan ada yang sebulan. Semua dengan rute yang berbeda beda.”
“Mungkin berlayar selama dua minggu cukuplah bagi bapak”. berkata Butet.
“Dua minggu atau lima belas hari, biasanya”. kata Nurjannah.
“Saya akan menghitung biayanya”. 
Kembali Nurjannah berkata:   
“Biasanya tarip Cruise itu bervariasi menurut klas kamarnya. Yang terbaik itu adalah kamar suite taripnya sekitar US$. 500 s/d 700 perperson perday. Itu tergantung pula jenis kapalnya. Kita ambil saja maksimum  US$.700. Dikali untuk dua orang , berarti US$ 1.400 per orang per hari. Dikali 15 hari , jumlahnya US.21.000,-  Uang saku kalau saya yang mendampingi seribu dollar perhari , Jadi US$.15.000,- Total menjadi US$, 36.000,=
Belanja dikapal per orang sekitar US 300 per orang perhari atau US.600 per hari untuk dua orang , sama dengan US.9.000, selama 15 hari. Total yang diperlukan untuk berlayar saja US$. 45.000,- dikali dengan kurs yang berlaku hari ini sekitar Rp. 10.500 per US $ berarti dalam Rupiah berjumlah Rp.378 juta. Belum lagi ongkos pesawat ke Singapura dan biaya hotel selama menunggu sekitar US.2.000.  untuk menunggu berangkatnya kapal. Katakan dua hari dan saat pulang juga 2 hari , maka waktu terpakai 4 hari. Uang saku saya  4 hari atau US.4.000 Lalu ongkos pulang dari destinasi Cruise itu kembali ke Jakarta dengan pesawat terbang. Taroklah sekitar 3000 US Dollar, seluruhnya ongkos dan uang saku  pendamping berjumlah US.7.000, total keseluruhan menjadi  sekitar US$.52.000,- atau Rp.546 juta. Sambil bicara itu Nutjannah, mencatat semua angka itu di secarik kertas, dan setelah selesai bicara dia juga selesai menuliskannya dan langsung menyerahkan perhitungan itu kepada ibu Butet.
Nurjannah memperhatikan ibu Butet yang sedang meneliti angka angka itu. Keningnya ibu Butet Nampak sedikit berkerut. Diapun mengambil HP nya dan menghubungi seseorang. Setelah HP nya menyambung, diapun berdiri menjauh dari Nurjannah. Tenyata dia berbicara dengan kakak laki lakinya, kakak sulungnya yang bernama Partomuan. Partomuan prinsipnya setuju , namum dia minta supaya Butet bicara juga sama si Pardamean, barangkali dia ada pemikiran lain. Butet pun  menelepon kakaknya yang nomor dua  yang bernama Pardamean itu. Pardamean nampaknya menyerahkan semuanya kepada adiknya Butet. Nanti mereka patungan membiayai perjalanan orang tua mereka itu.
Setelah pembicaraan telepon itu, Butet pun  tersenyum  dan berkata kepada Nurjannah:  
“OK bu Nurjannah. Perhitungannya cukup wajar”.
Butet tersenyum karena diperhitungan itu ada biaya pendamping US$.1.000,- perhari. Itu berarti Ibu Nurjannah mau mendampingi bapaknya berlayar dengan kapal Cruise itu. Walaupun jumlah itu dirasakan keterlaluan oleh Butet, masa biaya pendampingan saja sampai Rp. 10 juat perhari, namun Butet oke saja, yang penting kehendak papanya itu bisa terlaksana.  Itung itung  untuk  memenuhi permintaan terakhir papanya itu. Next time tidak  boleh lagi minta macam macam.
Sebenarnya Nurjannah berharap dalam hatinya, ibu Butet itu akan membatalkan rencana berlayar itu karena biayanya terlalu mahal. Nurjannah memang telah me mark up perhitungan itu dan bahkan uang saku pendamping yang dimintanya sebesar US .1000,- per hari  untuk 19 hari sama denganUS$19,000, kalau dirupiahkan hamper berjumlkah 200 juta. hanya untuk 19 hari.  Mungkin gaji atau honorarium tertinggi yang diperoleh oleh seorang pendamping wisata. Perangkap yang dibuat Nurjannah agar rencana Marlon jalan jalan naik Cruise itu batal karena biayanya yang tidak masuk akal , ternyata diterima bulat bulat oleh ibu Butet anaknya Marlon tua yang ingin berlayar itu. Nurjannah sama sakali tidak menyangka kalau perhitungan yang sudah di mark up itu disetujui. Sekarang Nurjannah harus mencarii akal, untuk membatalkan rencana itu.

“Bu Butet. Ada syarat lain yang harus dipenuhi. Karena saya bukan muhrim, saya tetap tidak bisa sekamar dengan bapak. Karena itu kamar saya dengan kamar bapak harus terpisah. Berarti kita  harus membayar  biaya dua   kamar ”.
‘Wah , tidak bisa itu bu Nur. Ibu harus sekamar dengan bapak. Kalau terjadi apa apa dengan bapak , siapa yang tahu, kalau ibu pisah kamar pula ?. Kalau handikepnya ‘bukan muhrim’ ya ibu jadi muhrim bapak ajalah. Nikah sajalah . Kalau nanti setelah selesai berlayar ibu ingin cerai, pastilah bapak tidak keberatan bercerai dengan ibu”
Nurjannah tidak bisa mengelak lagi. Tapi dalam hatinya dia bersyukur juga kalau dinikahi oleh Marlon. Sebagai istri Marlon yang dianggap Nurjannah itu sebagai laki laki tua super kaya,  pasti nanti dia akan ketetesan juga warisan dari Marlon seandainya Marlon yang sudah sakit sakitann itu   “dipanggil” oleh Yang Maha Kuasa. Begitulah jalan pikiran Nurjannah yang semakin tua semakin terkontamisasi oleh virus “matre”.

Setelah beristirahat dan tertidur sekitar satu jam, Marlon bangun dan setelah mencuci muka, dia keluar ke ruang tengah rumahnya . Dia Nampak senang karena Nurjannah masih ada disana sedang berbicara dengan anaknya Butet. Diapun mendekati mereka dan kembali duduk di kursinya.
Setelah bapaknya duduk, Butet pun bicara :
“ Papa, rencana papa berlayar naik cruise nampaknya akan terlaksana. Ibu Nurjannah bersedia mendampingi papa. Tapi ada syaratnya. Ibu Nujannah tidak bisa sekamar dengan laki laki bukan muhrimnya. Hal ini hanya bisa diselesaikan kalau papa dan ibu Nurjannah menjadi muhrim. “
Bapaknya langsung memotong. “Saya setuju saja. Memang saya maunya seperti itu. Supaya kami yang sudah  tua ini tidak menambah dosa pula gara gara berlayar itu”
Nurjannah tidak bicara, dia hanya tersenyum saja mendengar jawaban spontan dari Marlon.
Seminggu kemudian, dilakukanlah nikah siri di rumah Marlon. Yang hadir hanya penghulu, saksi dari pihak perempuan dan saksi dari pihak laki laki. Mereka tiada lain adalah Melda anaknya Nurjannah dan Butet anaknya Marlon. “Surat nikah” yang dibuat diatas kertas kwarto itu, tentu saja hanya sampai pada mereka saja, tidak ada catatannya di Kantor Departemen Agama kecamatan. Namun mereka menganggap itu sudah memenuhi syariah dan sah menurut agama Islam.
          
Nurjannah , setelah menikah  tinggal di rumah Marlon. Apa yang pernah dikatakan Butet tempo hari, bahwa bapaknya itu sudah tidak punya kemampuan seksual lagi ternyata tidak bohong. Sehingga Nurjannah tidak ada kewajiban badaniah terhadap suaminya itu, kecuali hanya sekedar meng usap usapnya saja dimalam hari  supaya suaminya itu tertidur.
       
 Sementara itu Nurjannah tetap mempersiapkan segala sesuatu berkaitan dengan rencana pelayaran mereka., antara lain , booking Cruise yang menuju pacific dengan destinasi terakhir  di Manila. Cruise itu berangkat dari Singapura dan berhenti di Sembilan pelabuhan antara lain Ho Chi Min City (Saigon) , Yangoon, Hongkong, dan Manila. Hotel selama menunggu cruise berangkat pun sudah dipesan di Singapura. Begitu juga setelah mendarat di Manila, mereka akan beristirahat disana sekitar dua hari, baru kemudian kembali ke Jakarta via Singapura dengan Singapore Airline . Semua penerbangan yang mereka tumpangi adalah bisnis class , begitu juga hotel tempat mneginap selalu menggunakan kamar suite di Five Star Hotel. Hal  itu dilakukan Nurjannah sekaligus untuk memperlihatkan kepada anak tirinya Butet, bahwa  realisasi  biaya yang dikeluarkannya tidak jauh beda dengan perhitungannya yang lalu
Biaya tiket pesawat, hotel telah diselesaikan oleh Nurjannah, begitu juga biaya kapal cruise itu  sehingga saat akan berangkat dia menerima uang dollar Amerika sesuai perhitungannya dulu ,  sebesar 52.000, dalam bentuk Bank Notes (uang kertas US Dollar). Nurjannah nampak berbinar binar menerima uang dollar Amerika yang semuanya baru dan gress itu dari Butet. Untuk itu Nurjannah harus menanda tangani “Bukti” penerimaan dalam bentuk pernyataan diatas meterai, yang langsung ditanda tangani Nurjannah tanpa membaca dengan teliti ayat ayat yang terdapat dalam tanda terima atau “Receipt” tersebut

Tiga hari sebelum kapal Cruise yang akan mereka tumpangi bertolak , Nurjannah bersama suami barunya Marlon berangkat ke Singapura dan menginap di HyATT Hotel yang berlokasi di Orchad Road. Mereka menempati salah satu Suite Room di hotel itu . Pagi , sebelum sarapan pagi, dalam suasana udara pagi yang sejuk, Nurjannah mengajak suaminya jalan pagi. Marlonn tampak bersemanagt , berjalan sambil dipegang lengannya oleh Nurjannah. Nurjannah bukan ingin menunjukkan kemesraan pada suaminya itu, melainkan khawataitr suaminya yang agak renta itu  terjatuh.  Walau jalan mereka pelan , namun terasa  bahwa jalan jalan mereka itu  adalah olah raga yang bermanfaat bagi kesehatan mereka. Disamping itu Nurjannah juga selalu mengontrol konsumsi obat oleh suaminya. Dengan adanya Nurjannah disamping Marlon , marlon merasa bertambah gairah hidupnya. Hanya dua malam mereka menginap di Hyatt Hotel itu dan pada hari ke tiga, mereka pun berangkat menuju Marina Bay, dimana kapal Cruise tang akan membawa mereka pesiar berlabuh. 

Mereka memperoleh kamar  suite yang cukup luas, ada ruang tamu nya, dan lengkap dengan peralatan TV serta alat komunukasi lainnya . Tersedia computer, WiFi, TV dan telepon serta safety box untuk menyimpan barang barang berharga. . Namanya Kamar Suite , merupakan kamar   terbaik di kapal itu. Marlon Nampak amat senang berlayar. Dia belum pernah naik kapal sebelumnya, dan merasa keinginannya terpenuhi karena ada Nurjannah yang  mau menemaninya berlayar dan bahkan “terpaksa” harus menikah dengan dia agar bisa tinggal sekamar dengan dia di kapal itu.  Dari beranda kamar itu Marlon bisa melihat suasana saat kapal itu meninggalkan Marina Bay di Singapura menuju laut lepas.  Setelah kapal berlayar sekitar dua jam ke laut lepas, 

Marlon mengajak istrinya melihat lihat situasi kapal diluar kamar. Dia terpesona dengan situasi kapal itu. Semua orang tampak gembira dan sibuk mencari hiburan sesuai seleranya. Marlon pun mampir di casino, Dia perhatikan permainan di casino itu namun hanya dua permainan yang dia paham. Pertama Black Jack, yaitu permainan menggunakan kartu bridge yang dibagi oleh Bandar. Permainan itu sudah dikenalnya sejak kecil, dikampungnya permainan itu disebut main 21.
Lalu diperhatikannya juga permainan dadu   yang mengunakan mesin dalam mengocok dadu dadu kecil dan hasil nya  direkam dan ditayangkan di papan elektronik yang sekaligus sebagai data  statistiknya. Marlon merasa kalau dua permainann itu dia memahaminya. Setelah berkeliling dan kembali ke kamar mereka. Marlon minta uang belanja hariannya yang dihitung Nurjaannah sebesar 4.500 dollar itu diberikan kepadanya sebanyak 4.000 dollar. Walaupun uang itu diberikan Nurjannah sesuai permintaan Marlon, tapi Marlon diingatkan Nurjannah supaya jangan membawa uang banyak banyak ke meja judi. Karena itu uang 4.000 dollar itu hanya 300 dollar yang dikantonginya yang dijadikan modal untuk bermain Black Jack.  Sisanya disimpannya di kopernya.  Uang  300 dollar itu, dua lembar  ditukarnya dengan uang pecahan US$ 10. Dia mulai menaruh pasangannya  20 dollar. Dia kembali ke kamar membawa kemenangan dan memperlihatkan kemenangannya itu kepada Nurjannah.   Nurjannah, amat senang dengan kemenangan itu.
Dalam beberapa kali bermain  sepertinya Marlon Mujur terus , beberapa kali dia menang dan hari itu total kemenangnnya mencapai lebih 500 dollar. Marlon menjadi percaya diri dalam bermain Black Jack tersebut.
          
Saat kapal cruise berhenti di Pelabuhan Ho chi Min City, hampir semua penumpang turun dan dengan menggunakan bus mereka berwisata menuju Chuci Tunnel. Chuci Tunnel itu adalah terowongan bawah tanah yang panjangnya konon mencapai ratusan km yang dipakai tentara Vietcong melawan dan mengalahkan  Amerika Serikat dalam perang Vietnam yang lalu. Nurjannah ikut ke terowongan itu bersama Marlon. Namun mereka hanya sebentar saja disana dan cepat balik ke parkiran dan beristirahat di restoran disekitar tempat parkir bus mereka. Marlon tampak lelah kalau berjalan terlalu jauh. Sore mereka balik ke kapal dan melanjutkan perjalanan  ke arah Timur.
       
Setelah di tengah Samudera, kapal pun akan semakin tenang jalannya. Dan situasi di kapalpun tetap ramai dengan berbagai permainan dan hiburan. Sementara Marlon hanya terpaku bermain Black Jack di Casino. Bosan bermain black Jack diapun pindah ke meja dadu dan mengadu untung pula di meja itu.
          
Dalam soal  makan , Nurjannah sangat berperan menyeleksi makanan yang boleh dimakan oleh Marlon. Marlon dijaga Nurjannah dari makanan berlemak, makanan mengandung asam urat tinggi, dan mengurangi garam dan tidak boleh sama sekali minum minuman beralkohol. Kesehatan Marlon cukup terjaga berkat ada Nurjannah disampingnya,.
Marlon nampak semakin bergairah dan nampak sehat dan dia merasa mampu berlama lama diluar pada malam hari. Biasanya pada jam delapan malam Marlon sudah istirahat masuk kamar. Namun banyak acara yang dinilainya bagus, sehingga kadang dia mengikuti acara acara di kapal itu bahkan sampai jam 11, 00 malam  Dan sering pula karena Nurjannah letih, dia masuk kamar duluan dibandingkan suaminya yang sering masih bersemangat main black jack di casino kapal cruise itu. Namun semakin malam nampaknya keberuntungan makin jauh dari Marlon, dan semakin malam para penjudi di kapal itu semakin tinggi pula taruhannya dan Marlon terbawa situasi sehingga ikut ikut pula memasang taruhan besar. Pada hari ke empat di kapal itu dia kalah lebih dari 5.000,- Dollar
       
Besoknya, pada hari ke lima  kapal berhenti di suatu pelabuhan di Kamboja dan penumpangpun turun dan berwisata dengan bus ke destinasi wisata di daerah itu. Penumpang cruise itu diberi kesempatan selama lebih kurang sembilan sampai 10 jam untuk berwisata. Ada yang diorganisisir (berbayar) ada yang hanya jalan jalan dekat dekat kota saja (tanpa bayar), Nurjannah dan Marlon memilih cara ke dua. Kalau lelah mereka berhenti di Restoran sambil menikmati makanan setempat yang masih sesuai dengan diet nya Marlon

Setelah berlayar lagi, Marlon kembali pula duduk di casino , di meja Black Jack kesukaannya. Siang dia main kecil kecilan saja. Dan setelah agak lelah dia berhenti, masuk ke kamar dan istirahat dan biasanya tertidur, kadang sampai tiga jam, Malam kembali dia main Balck Jack. Karena sudah terbiasa sendirian dan karena Nurjannah sering ngantuk menyaksikan permainan yang baginya membosankan itu, maka Marlon amat sering ditinggal sendiri oleh Nurjannah saat dia main black jack itu. Emosi Marlon kadang tidak terkendali. Dia berpikir, tidak akan selalu kalah. Karena itu jika dia memasang 1000 dolar lalu kalah, dia akan melipat gandakan pasangannya menjadi 2000 dolar. Kalau kalah lagi, pasangan berikutnya akan ditingkatkannya menjadi 4000 dolar. Tapi kadang dia tidak konsisten, setelah tiga kali kalah berturut turut, dia berhenti melipat gandakan taruhanya. Dia mulai lagi dengan 1000 dolar, dan kalau pun menang belum akan menutup kekalahan sebelumnya. Dan ternyata sejak mulai main, dia hanya tiga kali menang. Itupun tidak banyak, hanya 500 dollar, 1200 dollar dan 4000 dollar.

Dihitung hitung kekalahannya sudah mencapai 45.000 dollar. Dari mana duitnya ?. Ternyata uang itu adalah uang Nurjannah dan uang sakunya sendiri yang 4.500 dollar itu. Nurjannah menyimpan uang yang diterimanya dari Butet di safety box yang ada di kamar kapal cruise  itu. Saat menyetel kunci kombinasi safety box itu, tanpa disadari Nurjannah,  diintip oleh Marlon. Dan dicatatnya. Saat dia kekurangan uang, dia dengan leluasa membuka safety box itu saat Nurjannah tidur dan uang didalamnya secara berangsung angsur diambilnya untuk modal baginya dalam bermain black jack. Nurjannah sejak menyimpan uang di safety box itu, tidak pernah pula membuka buka safety box itu, karena uang untuk keperluan hari hari sudah disisihkannya dan disimpannya di kopernya.

Satu hari menjelang sampai di Manila, Nurjannah baru membuka safety box yang berisi uang sebanyak 42.000 dollar itu. Dia kaget luar biasa setelah uang yang tinggal di safety box itu hanya tersisa 1000 dollar saja. 
Setelah menghitung uang yang ada di safety box iru, dia memandang kepada suaminya yang saat itu juga menyaksikan saat Nurjannah membuka safety box tersebut.
Dengan muka muram Marlon langsung mengaku,
“Aku yang ambil”
Nurjannah lemas mendengar pengakuan suaminya itu.
“Tidak usah khawatir, nanti sesampai di rumah aku ganti.”

“Abang tidak pegang uang , sama apa akan abang ganti?”. Berkata Nurjannah sambil sesengutan. 

“Anakku lah yang ganti.Uang ada.Tidak usah sedih“.
Tapi Nurjannah tetap saja sedih dan airmatanya terus menetes. Ada rasa penyesalan padanya , betapa lelahnya mendampingi suaminya ini dan dia mau karena dia akan memperoleh uang cukup banyak dari pekerjaan menemani Marlon, yang dinikahinya secara siri untuk keperluan itu.

Karena Nurjannah terus saja menangis, Marlon pun berkata. Beri aku selembar kertas dan ball point. Aku kasi kau surat wasiat agar kau juga dapat warisan jika aku nanti mati.
Nurjannah tidak percaya pada pendengarannya. Tapi dia tidak ada alasan untuk tidak percaya kepada suaminya itu. Dia pun mencari selembar kertas yang ada dimeja di kamar itu dan sekalian mengambil ball point yang ada di meja itu.
Ini , tulis disini ajalah berkata Nurannah sambil menunjukkan kertas yang tersedia di meja kamar itu.

Diatas kertas surat berlogo kapal cruise itu, Marlon pun menulis  tanggal di pojok kanan  atas ,kemudian diapun menulis wasiatnya.

“Kepada anak anak ku.
1.   Aku sudah memakai uang Nurjannah hampir sejumlah 41.000,- dollar. Tolong anak    anak ku mengganti kembali uang Nurjannah itu.
2.    Kalau aku sudah tiada, tolong Nurjannah Istriku diberikan sebagian harta kita sebagai   ucapan terima kasihku kepadanya yang telah mendampingi ku berlayar. Berilah dia   sebuah rumah dan sebuah mobil
3.  Demikian permintaan ku.  Semoga kalian dapat melaksanakannya dengan sebaik    baiknya
       Dari papa kalian

         Marlon  S

    Surat itu ditanda tangani Marlon dan diberikannya kepada Nurja Nurjannah rasa terobat kecewanya dan kemudian memeluk suaminya itu sambil mengucapkan terima kasih. Kemudian memasukkan “Surat wasiat”  itu kedalam tas nya.
          
Begitulah,  kapal Cruise itu berlayar dengan mampir di berbagai pelabuhan dan  para penumpangnya turun dan berwisata ke objek objek wisata di tempat itu. Pada hari ke 15 kapal cruise   mengakhiri pelayarannya di  pelabuhan  terakhir  di  Manila  Philipina.  


Marlon dan Nurjannah bersama penumpang lainnya turun dari cruise itu dengan membawa kenangan masing masing. Marlon bahkan membawa kenangan cukup pahit karena kalah berjudi sebanyak 45.000 dollar Amerika.
Mereka melanjutkan perjalanan menggunakan taxi menuju hotel yang telah mereka pesan. Di Manila mereka hanya sight seeing saja dan pernah mengikuti city tour setengah hari dan kemudian sisa waktu digunakan untuk istirahat memulihkan tenaga. Pada hari ke tiga mereka berangkat ke Jakarta via Singapura menggunakan SQ dan duduk di klas bisnis.      
         
Sesampai di Jakarta, mereka dijemput oleh Butet. Baik yang menjemput maupun yang dijemput Nampak gembira, Butet senang melihat Marlon yang Nampak sehat, tapi sebenarnya Marlon amat letih, cuma tidak diperlihatkannya kepada anaknya.
         
Malam harinya Marlon nampak gelisah. Dia sulit tidur. Kepalanya terasa sakit. Nurjannah menggosok lehernya dengan minyak angin  dan mengusapkan minyak angin itu sedikit di kepalanya. Marlon merasa lebih nyaman.
Marlon baru tertidur sekitar jam  11.00 malam.  Sekitar jam tiga pagi  Nurtjannah terbangun karena disodok sodok oleh siku kiri Marlon. Setelah Nurjannah terbangun, dilihatnya Marlon berusaha bicara dengan dia, tapi dia tidak mengerti apa yang dimaksud Marlon. Dilihatnya Marlon mulutnya miring. Nurjannahpun terkesiap. Dia cemas luar biasa. Nurjann ah tahu kalau itu pertanda suaminya stroke lagi. Dengan bergegas diketuknya kamar Butet, Setelah Butet bangun diapun berkata :”Bapak stroke lagi”. Butetpun berlari ke kamar bapaknya dan , diangkatnya tangan kanan bapaknya itu, dan tangan itu terkulai tak berdaya. Butet pun segera memanggil ambulans dan Marlon pun dilarikan ke rumah sakit. Dalam perjalanan, Marlon terdengar mendengkur keras dan lama lama suaranya hilang. Petugas yang merangkap perawat di ambulana itu meraba denyut nadi di lengan Marlon, namun dia  merasakan denyut itu sudah tidak ada. Dada Marlon pun di periksanya dengan steteskopnya dan petugas itupun  menggelengkan kepalanya. Sambil melihat kepada Butet dan Nurjannah diapun mengatakan bahwa bapak sudah tidak ada . Nurjannah pecah yangisnya, Butet pun terisak.
Namun mereka tetap melanjutkan perjalanan ke rumah sakit , dan disana diperoleh surat kematian Marlon, dan setelah itu dengan ambulann yang sama mereka pulang kembali ke rumah mereka.
Besoknya Janazah Marlom dimakamkan , dengan dihadiri keluarga dan kerabat mereka. Suami Butet tidak hadir karena dia masih sedang menuntut ilmu di Negeri Belanda. Dia sedang mengambil gelar Doktor dalam bidang Hukum Internasional.
          
Setelah pemakaman Marlon, Saudara dan kakak kakak dan ipar Butet menginap di rumah itu. Tidak ada acara tahlilan. Mereka hanya berkumpul dan bercengkrama saja tiap malamnya. Pada hari  ke tiga meninggalnya Marlon, saat keluarga itu sedang lengkap berkumpul  di ruang tengah rumah itu, Nurjannah pun ikut  nimbrung disana. Setelah ada kesempatan baginya berbicara dia pun menceritakan soal almahrum suaminya yang mengambil uang dari safety box tanpa sepengetahuannya dan uang itu ludes di meja judi. Kemudian Marlon berjanji akan menggantinya. Nurjannahpun memberikan surat wasiat yang diterimanya dari Marlon kepada Butet. Butet tersenyum saja membaca surat itu. Surat itu diteruskannya kepada kakaknya Partomuan, dan berikutnya diteruskan pula kepada yang lain dan semua akhirnya membaca surat wasiat Marlon itu. Dan semua tersenyum membaca surat itu.
        
Nurjanah merasa heran, kok keluarga Marlon pada tersenyum membaca surat wasiat itu ?.Butet segera maklum kalau Nurjannah butuh pen jelasan kenapa mereka tersenyum. Dia pun menjelaskan :

“Ibu Nurjannah. Papa itu, pak Marlon itu bukan papa kandung kami. Saya dengan saudara saudara saya ini bermarga Siregar. Pak Marlon itu bermarga Sihombing.  Beliau itu adalah  pembantu papa saya saat papa saya masih hidup. Papa saya adalah pengacara yang terbilang pengacara sukses dan punya nama. Papa dan ibu saya itu dua duanya pengacara. Saat papa meninggal, kantor pengacara papa itu tetap jalan dan malahan kliennya semakin banyak karena yang pegang adalah Umak saya, ibu saya. Umaklah yang rezekinya bagus yang membangun rumah ini. Umaklah yang menyekolahklan kami sehingga kami tiga orang anaknya ini semua menjadi Sarjana Hukum dan semuanya juga mengikuti profesi orang tua kami sebagai pengacara. Umaklah yang mewariskan rumah ini kepada kami bertiga, sehingga rumah ini adalah rumah kami bertiga bersaudara.

Sementara itu, saat kami masih mahasiawa, ibu kami menikah dengan  pembantu papa kami , maka pak Marlon pun tinggal bersama kami , sebagai keluarga kami. Tapi dia itu tidak punya apa apa, karena dia tetap hanya membantu bantu umak saja di kantor, mengurus hal hal tetek bengek soal pegawai, kendaraan, dan fasilitas fasilitas lainnya. Umak sadar bahwa , kalau umak sudah tak ada kemungkinan suami umak yang disayanginya, pak Marlon itu, akan diruruh meninggalkan rumah ini, karena itu umak  berpesan kepada kami bertiga, supaya berbaik baik kepada suaminya itu. Jangan sampai suaminya itu diusir dari rumah ini. Untuk itulah kami berbaik baik kepada pak Marlon, mengabulkan keinginannya  yang sudah sejak umak kami meninggal ingin sekali naik kapal Cruise . Akhirnya kami sadar bahwa bapak itu sering sekali minta berlayar naik cruise  , maka kamipun sepakat membolehkan beliau berlayar tetapi dengan syarat ada yang mendampingi.

Dan saat menyerahkan uang sebanyak 52.000 dollar itu , ibu Nurjannahkan sudah tanda tangan . Disitu kan ada pernyataan ;
1.   Jumlah uang sebanyak 52.000 dollar itu mencakup seluruh pengeluaran sejak berangkat sampai kembali dan semuanya all in termasuk biaya tiket perawat, hotel, biaya tiket kapal cruise , biaya makan minum, biaya pendampingan selama perjalanan dan lain lain.
2.     Disitu dijelaskan bahwa penerima tidak akan meminta tambahan uang lagi  ,  dengan alasan apapun yang berkaitan dengan perjalanan yang akan dilakukan sampai kembali.
3.     Penerima tidak akan menuntut apapun berkaitan dengan status sebagai istri yang dinikahi secara siri oleh papa kami Marlon. Istri yang dinikahi secara Siri tidak punya hak apapun
       Begitu ibu, dan ibu sudah tanda tangan itu saat ibu menerima uang dari saya sebelum berangkat ke Singapura.

Penjelasan Butet itu amat jelas,  Nurjannah bahkan lemas dan serasa mau pingsan mendengar ucapan Butet yang sangat tegas mengungkapkannya.
Nurjannah terhenyak dan terdiam setelah mendengar uraian Butet itu.
Setelah Butet, ikut bicara kakak Butet tertua, Partomuan :
“ Pak Marlon itu tidak punya harta apapun ibu . Kami tertawa saja membaca surat wasiatnya itu. Apa yang mau diwariskannya ?. Rupanya beliau masih sempat membodohi ibu. Bapak itu kadang agak nakal juga . Dan bukan Ibu saja korbannya, dulu juga sudah ada perempuan lain yang dijanjikannya warisan. Untung kami tahu, dan perempuan itu kami kasi tau sehingga tidak jadi menikah dengan bapak Marlon itu.
Kami tahan dia tinggal disini semata mata karena menghormati umak kami yang menjadikan kami seperti sekarang ini. Untuk jasa umak itulah kami mau berkorban membiayai pak Marlon bekeliling naik kapal Cruise sesuai keinginannya. “
     
Butet pun mengembalikan “surat wasiat” itu kepada Nurjannah. Semula Nurjannah ingin merobek saja surat itu, tapi ada baiknya juga dismpan sebagai kenangan yang menyakitkan hati dan menjadi pelajaran baginya.
        
Nujannahpun tidak berbicara lagi. Dari raut wajah anak anak tiri marlon itu dia melihat , tidak ada respek dari mereka kepadanya. Dia tahu istri siri itu identik dengan “perempuan murahan” seperti kawin kontrakm yang dilakukan bebeRapa oknum orang Arab yang menikah dengan perempuan lokal di  daerah puncak, yang dibayar selama waktu tertentu untuk maksud tertentu saja. Sadar akan posisinya, Nurjannah pun pamit kepada Butet bersaudara itu dan masuk kamar membereskan barang barangnya. Nurjannah kembali ke ruang tengah rumah itu dengan menenteng kopernya. Nurjannah berpamitan kepada mereka, namun dia enggan menyalami keluarga itu, dia langsung menuju pintu dan berniat akan memanggil taksi. Namun  Butet menghampirinya dan mencegahnya.
“Ibu diantar saja pakai mobil kita”.
Dia pun mengongtak supir untuk mengantar Nurjannah kerumahnya.
Nurjannah pun diantar dengan mobil Toyota Avanza yang biasa dipakai untuk antar jemput anak anak Butet ke sekolahnya.
                              --------------



No comments:

Post a Comment