MENABUR CINTA KETIGA
Tiga hari setelah keputusan pengadilan agama itu, terpikir oleh
Nurjannah bahwa dia sama sekali belum berterima kasih kepada Suryawan yang
membantunya memproses Gugatan cerai terhadap suaminya . Karena itu lah dia
ingin mengajak Suryaman makan siang. Sarjana Hukum yang kurus tinggi berkaca
mata itu dipandang Nurjannah cukup berjasa
dalam membantu perceraiannya dari suaminya. Suryawan amat senang ketika
Nurjannah mengajaknya makan siang . dan langsung menyambut nya dengan antusias.
“Makan siang
dimana kita Bu Nur” , demikian Suryawan
mengungkapkan kesenangannya.
“ Dimas
Suryawan mau nya makan dimana ?” Nurjannah
balik bertanya. Nurjannah memanggil Dimas kepada Suryawan yang orang Cirebon
itu karena Suryawan lebih muda sekitar 4 tahun
darinya.
“Kalau
ditanya ke saya, saya usul di Hyatt Prapatan , Tugu Tani saja Bu Nur, disana
banyak pilihan, ada shabu shabu ,
ada juga masakan Jepang lainnya
dan ada buffet juga dimana kita bisa makan sepuasnya”.
“Boleh deh.
Kita berangkat sebelum jam 12.00 aja ya, supaya nanti bisa balik sesuai waktu
jam kerja.”
“Baik Bu
Nur, lalu kesananya pakai mobil saya atau mobil bu Nur ?. Saya sarankan pakai
mobil saya saja karena parkir nya di depan, lebih mudah keluarnya”
“Iya deh
pakai mobil dikmas aja, jam 11.30 kita
ketemu di parkiran “
“Baik bu
Nur” , menjawab si dimas Suryawan.
Tepat jam
11.30 mobil Toyota Avanza milik Suryawan terlihat keluar dari parkiran Bank
asing tersebut dengan Nurjannah tampak
duduk disamping Suryawan.
Hanya
sekitar 20 menit dari Jalan Merdeka Barat, dimana Bank mereka
berlokasi, Toyota Avanza warna hitam itupun terlihat memasuki pekarangan Hyatt
dan kemudian diparkirkan oleh Valet yang melayani parkir di hotel itu.
Merekapun
menuju gedung annex hotel yang menjadi
areal kuliner dari berbagai masakan asia yang terkenal . Tampak mereka memasuki
restoran Shabu Shabu, karena Suryawan tampaknya memfavoritkan makanan Jepang
itu. Ada 40 menit mereka makan disana sambil ngobrol.
Sambil
ngobrol itu Suryawan Nampak menikmati kehadiran Nurjannah yang cantik itu,
sambil sekali sekali tersenyum kepadanya. Dalam suatu kesempatan Suryawan
memancing Nurjannah dan memberikan semacam teka teki kepada Nurjannah.
“Bu Nur
pernah gak mendengar kalau , makan siang tidak ada yang gratis”
Nurjannah
sedikit kaget dengan pertanyaan Suryawan itu. Dia tahu itu adalah kata kiasan bahwa
suatu bantuan atau pertolongan tidak ada yang gratis. Selalu ada kompensasinya.
Apa maksud sebenarnya dari pertanyaan Suryawan ini. Apakah dia ingin balas jasa
atas bantuan hukum yang diberikannya kepada Nurjanah dalam membantu proses
perceraian Nurjannah dari suaminya ?. Tapi Nurjannah pura pura gak tau akan
istilah itu.
“Mengerti
dong. Kan seperti saat ini,kalau makan siang tentu harus bayar. Kita kan bukan fakir miskin sehingga dikasi makan
siang gratis” menjawab Nurjannah berlagak bodoh.
“Itu ungkapan
Bu Nur, bahwa pertolongan seseorang
harus dibalas juga dengan pertolongan pula saat dibutuhkan oleh orang yang
menolong itu. Istilah itu berlaku bagi Negara, dalam Politik, Perusahaan ,
keluarga dan bahkan dalam hubungan pribadi. . Sebenarnya lebih tepat dipakai
istilah tolong menolong. Orang lebih banyak memakai istilah itu sebagai
ungkapan tidak langsung, tapi dipahami maksudnya“. berkata
Suryawan sambil tersenyum kepada Nurjannah.
Suryawan
melanjutkan bicaranya : “Saya terus terang iri sama si bung Daniel , suami Ibu itu. Sudah digugat cerai
masih dibolehkan tidur dengan Bu Nur, padahal Bu Nur benci banget sama dia. Saya yakin kalau bu Nur kan
tidak benci sama saya”.
Nurjannah
menahan nafas mendengar celoteh Suryawan itu, tapi dia menangkap maksud
Suryawan itu. Sepertinya dia ingin mendapat pula apa yang dilakukan suaminya
kepadanya pada malam menjelang sidang terakhir gugatan cerainya di Pengadilan
Agama Jakarta Selatan itu. Yang kemudian diungkapkan Daniel di depan mahkamah
pengadilan agama tersebut.
Lama
Nurjannah diam , dia tidak bicara , dia hanya memandang Suryawann , namun
dengan sedikit tersenyum padanya. Senyum itu ditangkap Suryawan sebagai isyarat
agar Suryawan meneruskan bicaranya dengan
lebih jelas, Suryawan pun melanjutkan :
“Dari dulu
saya kepingin bu. Bu Nur amat cantik dan kadang saya suka melamun kalau
memandang Bu Nur, kapan saya bisa bersama
dengan bu Nur ditempat yang nyaman bagi kita berdua.”
“Jadi dimas
menagih jasa dan pertolongannya kepada saya ?. “
“Bukan bu.
Saya hanya ingin minta tolong sama Bu Nur. Saya kepingin sekali bu Nur”
Nurjannah sudah sekitar delapan tahun tidak pernah menikmati hubungan yang
memuaskan dari suaminya. Setahun menjadi janda setelah bercerai dari Ramadan dan
selama tujuh tahun bersuamikan Daniel, selama itulah dia hidup tanpa hubungan
yang memuaskan. Nurjannah menjadi tergoda dengan ajakan berliku yang ditembakkan
Suryawan kepadanya. Nurjannah memandang tak berkedip kepada Suryawan yang
langsing, tinggi, cukup tampan dan wajahnya menyenangkan , kendati memakai kaca mata minus tiga.
“Dimas
maunya kapan”.
Jantung
Suryawan berdegup keras, permintaannya mendapat tanggapan positif dari
Nurjannah.
“Sekarang
aja Bu Nur. Mumpung kita berada di hotel bagus ini”.
“Oke lah.
Uruslah kamarnya” Berkata Nurjannah.
"Baik bu Nur.
Saya urus sekarang". Suryawan pun bangkit dari duduknya dan menuju Reception Hotel
Hyatt itu . Membayar harga kamar dan menanda tangani slip kartu kredit pembayaran
kamar , menerima Receipt pembayaran
harga kamar dan kemudian memasukkan bukti pembayaran kamar hotel itu ke kantong celananya.
Setelah menerima kunci kamar hotel itu, diapun balik menjemput Nurjannah
yang masih menunggu di restoran shabu shabu tempat mereka makan. Bill restoran telah diselesaikan oleh Nurjannah.
Mereka meninggalkan restoran Jepang itu dan berjalan menuju lift , melewati Reception yang
dijaga dua orang karyawati hotel yang berseragam. Karyawati itu memberi hormat
kepada Nurjannah sambil mengucapkan selamat siang yang hanya di jawab dengan
anggukan oleh Nurjannah, Nurjannah berjalan dengan canggung disamping Suryawan.
Baru sekali ini dia berjalan berdampingan dengan laki laki yang bukan suaminya
menuju kamar hotel. Dalam pikirannya pastilah Recepsionist hotel itu tahu kalau
mereka bukan suami istri dan walaupun mereka tersenyum kepada Nurjannah , namun
dalam hatinya pasti mereka menganggap aku ini perempuan murahan. Begitu
Nurjannah mengira ngira sendiri jalan pikiran orang kepadanya.
Merekapun naik ke lantai 4 dan mencari
nomor kamar sesuai yang tertera di kunci itu, membukanya lalu masuk dan
mengunci kamar itu dari dalam.
Nurjannah merasakan bahwa Suryawan
yang lebih muda empat tahun darinya , cukup memenuhi hasratnya dan dia merasa
terpuaskan oleh Suryawan. Walau yang meminta adalah Suryawan, namun
Nurjannahlah yang lebih aktif memperturutkan gejolak asmaranya yang
sudah amat lama terkungkung.
--------------------
Istri Suryawan adalah ibu rumah
tangga murni. Dia tidak bekerja dan sehari hari hanya mengurus keperluan
suaminya dan dua orang anak laki lakinya yang masih duduk di kelas satu dan
kelas dua SMP.
Suatu hari
saat akan mencuci pakaian suaminya, dia memeriksa kantong kantong celana yang
akan dicuci itu dan didapatinya ada Receipt
pembayaran kamar hotel untuk satu hari seharga Rp.350.000,- Jumlah itu
cukup bernilai kalau dikaitkan dengan gaji suaminya waktu itu. Trisnawati, sang
istri tentu saja bertanya tanya dalam hati kok suaminya menyewa kamar hotel ? .
Untuk apa ?. Suaminya kalau malam selalu tidur bersamanya , tidak pernah
menginap di tempat lain. Apa dia “bobo” siang di hotel bersama seseorang ? Dia
tahu kalau suaminya beberapa waktu lalu
memberikan bantuan hukum terhadap rekan sekantornya yang minta cerai dari
suaminya. Tris, demikian dia biasa
dipanggil tidak mau berspekulasi. Karena itu Receipt Hotel Hyatt itu
disimpannya. Tapi nalurinya sebagai istri nampaknya cukup tajam juga.
Kebetulan Tris punya teman
sealumni sesama SMA Negeri di Kramat
Raya Jakarta bernama Yati yang diketahui Tris adiknya Yati juga bekerja di Bank tempat Nurjannah
bekerja. Yati dengan Tris bukan hanya se alumni, melainkan sekelas dan teman akrab saat
di SMA di Jalan Kramat Raya itu. Dilalah adik si Yati itu adalah sekretaris
dari Suryawan , Kepala Legal Department di Bank dimana Nurjannah dan Suryawan
bekerja.
Melalui adik
si Yati yang sekretaris Suryaman itu Tris
mengetahui bahwa Suryawan , suaminya, beberapa kali pergi bersama Nurjannah, dalam
rangka membantu Nurjannah menggugat cerai suaminya dan terakhir mereka makan siang bersama dan
baru kembali ke kantor sekitar jam empat sore dengan pura pura mengomel bahwa
dia kena macet.
-------------------------------------------
Sekitar dua minggu setelah
Nurjannah dan Suryaman makan siang bersama itu, Suryaman menelepon Nurjannah ,
“ Bu Nur,
makan siang bareng lagi yuk. Ditempat yang dulu aja Bu. Shabu Shabu aja bu.
Lebih sehat, banyak sayur dan ada daging dan sea foodnya juga”
Nurjannah
agak bimbang apakah akan menerima ajakan Suryawan itu atau menolaknya ?.Dia
khawatir Suryawan akan “ minta tolong” lagi kepada Nurjannah karena dia
kepingin .
“Tunggu
dulu deh dimas, kerjaan saya lagi numpuk
nih“, dan telepon itu segera ditutupnya.
Namun sampai
sore Nurjannah tidak menghubungi
Suryawan, dan Suryawan juga tidak mau mengulangi tawarannya, karena dia
mengerti bahwa Nurjannah sedang tidak ada mood.
Murjannah
sebenarnya ingin mendidik Suryawan yang lebih muda itu, bahwa dia bukan
perempuan yang sewaktu waktu bisa diajak. Nurjannah ingin dalam hubungan dengan
Suryawan dialah yang menentukan kapan
dia mau maka dia yang akan mengajak, bukan sebaliknya.
Dua hari
setelah ajakan Suryawan yang tidak bersambut itu, Nurjannahpun menelepon
Suryawan.
“ Dimas,
sekarang kerjaan saya sudah agak lonngar. Kalau mau makan siang bareng lagi saya
ada waktu”.
“Oke bu Nur.
Kita ketemu jam 11.30 di parkiran ya bu”. Dan tepat jam 11.30 mereka sudah
meluncur menuju Hotel Hyatt. Sesampai disana , setelah mobilnya diserahkan
kepada Valet, merekapun kembali memasuki restoran shabu shabu disitu.
Kejadian dua
minggu lalu itu terulang lagi tanpa basa basi,
Setelah
makan, Suryawan pun berkata pada Nurjannah.
“Sudah boleh
saya ambil konci kamar bu ?”
“Kita bobo
siang lagi ya. Iyalah , pergilah”
Dengan tersenyum
ceria, Suryawanpun meninggal kan Nurjannah
menuju recepsionist hotel itu . Memesan kamar, membayarnya dengan kartu
kredit, dan memasukkan Receipt dan slip
kartu kredit itu ke kantong celananya.
Kali ini Nurjannah dan Suryawan tidak
berlama lama di kamar hotel berbitang lima itu. Jam 15.00 mereka sudah sampai
di kantornya lagi dan langsung bekerja.
Trisnawati, istri Suryawan sudah
mendapat informasi lagi dari adik temannya Yati, bahwa Suryawan pergi makan
siang lagi dengan Nurjannah.
Setelah
Suryawan pulang ke rumah, dia pun mengganti pakaiannya dan menggantungkan
celana panjangnya di gantungan di balik pintu masuk kamarnya. Saat Suryawan
berada diluar kamar, istrinya Tris merogoh celana suaminya yang tergantung di
balik pintu itu, dan dia menemukan apa yang dia cari, yaitu receipt pembayaran
kamar Hotel Hyatt, sama persis dengan receipt hotel yang ditemukannya di celana
suaminya itu dua minggu lalu. Darah Tris mengelegak. Air matanya menitik menahan geram hatinya. Tidak pelak lagi dia
yakin suaminya berselingkuh dengan orang yang ditolongnya, yaitu Nurjannah yang
menggugat cerai suaminya. Tris menenangkan hatinya , baru setelah dia berhasil
meredam emosinya dia mendatangi suaminya yang sedang menonton TV sendirian.
Dia duduk
disamping suaminya itu, seolah tidak ada apa apa. Lama dia duduk itu tanpa
berkata sepatah katapun. Baru setelah acara TV itu jeda karena diselingi iklan,
Tris mulai ngomong.
“ Mas…. dimata
Mas saya ini masih cantik gak sih”.
Suryawan menengok
kepada istrinya. Dia heran, kok istrinya bertanya hal yang tidak biasa ?
Seperti pertanyaan orang yang sedang pacaran ?
Suryawan
tersenyum. Tris pun tersenyum.
“Kok
pertanyaan mu itu lucu ya ?. Tentu kamu cantik, kalau gak cantik tentu tidak
akan jadi istriku.”
“Tapi
sepertinya selingkuhan mas , jauh lebih cantik dari
saya. Iya kan mas ?. Karena kalau dia
tidak lebih cantik dari saya pastilah mas tidak akan berselingkuh dengan dia”
Suryawan terperangah
mendengar ucapan istrinya itu. Dari mana istrinya tahu kalau dia berselingkuh?.
“Ah kamu
meng ada ada saja. Gak baik itu , menuduh yang bukan bukan kepada suami”.
“Saya gak
menuduh mas. Saya hanya ingin bertanya saja. Ingin tahu aja kenapa mas berbuat
begitu. Mas gak puas sama saya ya. Mungkin saya kurang hot di ranjang ya mas.
Atau si Nurjannah itu sangat pandai memuaskan mas. Lebih cantik, pantatnya
lebih besar, begitupun dadanya.Dia lebih bahenol. Apa itu yang menjadi
penyebabnya mas ?”
Suryawan
seperti terdesak, dari mana istrinya mengetahui semua itu ?. Diapun dengan setengah marah menyanggah.
“Kamu
dihasut orang kali ya. Kok pandainya kamu meng ada ada. Gak ada itu. Saya bukan
orang yang suka begitu.”
“ Kalau mas
tidak berselingkuh dengan Nurjannah, ngapain mas masuk kamar berdua dengan dia
di Hotel Hyatt. ?”
Suryawan
seperti disambar petir mendengat kata kata Tisnawarti yang terakhir ini.
Bagaimana kok istrinya mengetahui secara detil apa yang dilakukannya bersama
Nurjannah ?
“Kamu jangan
menuduh nuduh sembarangan. Nampaknya kamu ingin mencari gara gara dengan saya.
Apa maksudmu menuduh seperti itu”
“ Saya tidak
menuduh mas. Saya marah sama ibu Nurjannah . Tadi saya telepon dia. Saya sudah
sampaikan kepada selingkuan Mas itu. Kalau saya ini ibu rumah tangga, Saya
istri Suryawan yang sudah membela ibu bercerai dari suami ibu. Saya senang
suami saya berhasil membantu proses perceraian ibu. Tapi setelah bercerai kok
ibu mau merebut suami saya ?. Ibu sudah
dua kali melakukan hubungan seksual dengan suami saya. Pertama tanggal 5 dan yang kedua tadi siang. Kedua duanya ibu lakukan di hotel Hyatt.
Bu Nurjannah
, saya dengan Suryawan sudah punya anak dua bu. Mudah mudah an ibu bisa
merasakan setidaknya membayangkannya bagaimana perasaan ibu kalau ibu juga punya dua anak dan suami yang
ibu cintai berselingkuh dengan perempuan lain yang lebih cantik dari ibu ? .
Ibu Nurjannah itu mengakui perbuatannaya. Dia minta maaf pada saya dan
menasihati saya supaya jangan minta cerai dari suamimu Suryawan, Dia berjanji
tidak akan mau diajak lagi oleh Mas , baik makan siang maupun bobo siang”
Suryawan pun
terdiam. Uraian istrinya Trisnawati begitu jelas, begitu lengkap dan akurat.
Bagaimana istrinya yang orang rumahan itu tahu semuanya ?.
Istrinya
melanjutkan. “Kadang terpikir oleh saya untuk mengadukan masalah ini ke
Manajemen bank tempat mas bekerja, Karena ini masalah moral, yang berpengaruh
pada citra bank, mungkin mas dan Nurjannah bisa kena sanksi dan diberhentikan
dari kantor itu. Saya tidak mau itu terjadi, Karena, itu sama saja menyengsarakan anak anak saya
yang masih memerlukan pembiayaan bagi pendidikan mereka”
Trisnawati
mengeluarkan kertas putih dari lipatan kain yang dipakainya dan menyerahkannya
kepada Suryaman sambil berujar,
“ Nih
kwitansi hotel Hyatt, simpanlah baik baik”. Diapun berlalu, membiarkan Suryawan
terbingung bingung Ternyata itu adalah receipt pembayaran biaya kamar di Hotel
Hyatt yang karena kelalaian Suryawan ditemukan oleh istrinya.
Lama
Suryawan termenung sendirian di sofa ruang tamunya. Tak pernah disangkanya istrinya yang dianggapnya perempuan rumahan,
hanya ibu rumah tangga biasa yang hanya
pandai mencucui pakaian, memasak, membersihkan rumah , jarang membaca dan hanya
senang menonton sinetron itu ternyata sangat pintar . Berhasil mengungkapkan
perbuatan perselingkuhannya dengan Nurjanah secara gamblang, tidak terbantahkan
dan disampaikan dengan tenang tanpa emosi. Bahkan istrinya tidak minta cerai
atau marah marah kepadanya. Diakuinya
oleh Suryawan, dia beruntung mendapat istri yang bijak. Kecantikan istrinya yang tidak dipoles poles
itu tidak banyak beda dari Nurjannah yang sangat didambakannya itu.
Setelah
termenung lebih kurang selama setengah jam.
Suryawan pun masuk ke kamar. Dilihatnya istrinya sedang duduk ditempat tidur
sambl menghapus air matanya. Suryawan mendatanginya pelan pelan dan menarik
tangan istrinya itu agar berdiri dan sambil menangis terisak isak dipeluknya istrinya itu .
“Maafkan
saya ya Tris. Saya salah . Saya khilaf. Saya mencintai kamu Tris . Saya tidak
akan melakukannya lagi. “. Trisnawati pun memeluk suaminya. Merebahkan
kepalanya ke dada sumainya itu dan ikut terisak bersama suaminya.
“ Saya
menyelidiki kelakuan Mas demi anak anak kita. Saya tidak ingin anak anak
menjadi korban perceraian kita karena mas berselingkuh ”.
Semenjak kejadian itu hubungan perselingkuhan
Suryawan dengan Nurjannahpun berakhir
------------------------
Sekembali dari makan siang bersama
Suryawan, Nurjannah disibukkan dengan pekerjaan rutinnya. Sekitar jam empat
sore, teleponnya bordering. Telepon itupun diangkatnya.
“Hallo…”
berkata Nurjannah
“Selamat
sore bu Nurjannah. Saya Trisnawati . Saya istrinya Suryawan. Saya ingin menyampaikan ucapan
selamat kepada ibu karena gugatan cerai ibu terhadap suami ibu dikabulkan
pengadilan. Itu semua kan berkat bantuan suami saya. Saya ikut bersyukur atas
kemenangan ibu.”
Nurjannah
mau menjawab dan mengucapkan terima kasih atas ucapan selamat dari Trisnawati
itu. Namun belum sempat kata kata itu
terucap, ibu Trisnawati itu sudah merocos lagi.
“Tapi bu
Nurjannah, saya mohon ibu tidak perlu memberikan kompensasi atau hadiah kepada
suami saya. Saya tahu kalau suami saya ibu servise. Ibu biarkan diri ibu
disebadani oleh suami saya itu . Sudah dua kali ibu memberikan layanan seksual
kepada suami saya . Yang pertama pada tanggal lima , dua minggu lalu dan yang
kedua pada siang hari ini. Dua duanya
ibu lakukan di Hotel Hyatt. Saya mohon ibu berhenti melakukan hal itu. Saya
mohon Ibu jangan merebut suami saya. Kasihan anak anak saya bu. Masih banyak
laki laki lain yang pasti suka sama ibu, karena ibu cantik dan kaya pula. Ibu
orang terpandang, mohon ya Bu”.
Semula
Nurjannah mau menutup saja telepon itu, tapi Trisnawati bicara terus dan ucapannya kata demi kata bagaikan wahyu kebenaran di kuping Nurjannah
dan apa yang dikemukakan ibu Trisnawati itu adalah kenyataan yang membuat
Nurjannah semakin ingin mendengar kelanjutan ucapannya.
Trisnawati terus merocos melanjutkan bicaranya.
“Saya dengan
Suryaman sudah punya anak dua bu. Kasihan anak anak saya kalau kehilangan salah
satu orang tuanya. Pastilah keluarga saya akan berantakan dan penyebabnya hanya
karena suami saya berselingkuh dengan ibu”.
Nurjanah
menyadari bahwa apa yang dikemukakan istri Suryawan itu benar. Dia sudah pernah merasakan hal itu ketika menceraikan
suaminya Ramadan yang berselingkuh dan mengawini perempuan lain. Keluarganya,
terutama anak anaknya terpukul karena
ibu bapaknya bercerai itu. Nurjanah mengerti kekawatiran istri Suryaman dan tidak
perlu menutup nutupi lagi perselingkuhannya dengan Suryawan. Harus diakuai dan
minta maaf kepada perempuan yang bicara tanpa emosi itu.
“Baiklah bu
Trisnawati. Saya minta maaf atas kekhilafan saya . Saya tidak menyangka akan
begitu buruk akibatnya bagi keluarga ibu. Sekali lagi saya mohon maaf. Saya
tidak akan berhubungan lagi dengan suami ibu Suryawan. Saya mengaku bersalah
dan mohon ibu dapat memafkan saya. Nurjannah bicara dengan nada merendah,
dengan hati nuraninya berlandaskan kesadaran atas kesalahan yang diperbuatnya.
“Bu
Trisnawati, saya mohon ibu jangan sampai bercerai dengan suami ibu. Demi anak
anak ibu. Semoga ibu dapat pula memafkan suami ibu dan keluarga ibu tetap utuh
ya bu”
“Terima
kasih bu Nurjanah atas nasihat ibu. Mudah mudah an suami saya juga sadar
seperti ibu. Terima kasih Bu Nurjannah”
Trisnawati
menutup teleponnya tanpa memberi kesempatan kepada Nurjannah untuk bicara lagi. Trisnawati cukup puas atas pembicaraannya dengan selingkuhan suaminya
itu.
Setelah pembicaraan telepon itu Nurjannah terhenyak di tempat duduknya. Baru
sekali ini dalam hidupnya dia di komplain oleh perempuan karena Nurjannah
berselingkuh dengan suaminya. Hati nuraninya merasa bersalah, karena dorongan
seksual yang dialaminya dan untuk mendapatkan kenikmatan sesaat dia telah mengambil sesuatu yang bukan haknya
yang menyebabkan seorang perempuan yang menjadi “pemilik” laki laki itu protes
kepadanya. Dalam hatinya dia berjanji tidak lagi akan melakukan perbuatan yang
tidak bermoral itu. Semalaman Nutjannah hampir
tidak bisa tidur. Pikirannya terganggu dengan ucapan Trisnawati yang berbicara dengan sopan
itu, terngiang ngiang di terlinganya.
“Saya mohon
ibu jangan merebut suami saya. Kasihan anak anak saya bu”.
Kata kata
ibu Trisnawati itu amat menyentuh nurani dan rasa kemanusian Nurjannah.

No comments:
Post a Comment