Saturday, April 9, 2016

MENABUR CINTA KETIGA

 MENABUR CINTA KETIGA     

                                            Image  :  Tris  & Suryawan

Tiga hari setelah keputusan pengadilan agama itu, terpikir oleh Nurjannah bahwa dia sama sekali belum berterima kasih kepada Suryawan yang membantunya memproses Gugatan cerai terhadap suaminya . Karena itu lah dia ingin mengajak Suryaman makan siang. Sarjana Hukum yang kurus tinggi berkaca mata itu dipandang  Nurjannah cukup berjasa dalam membantu perceraiannya dari suaminya. Suryawan amat senang ketika Nurjannah mengajaknya makan siang . dan langsung menyambut nya dengan antusias.
“Makan siang dimana  kita Bu Nur” , demikian Suryawan mengungkapkan kesenangannya.
“ Dimas Suryawan mau nya makan dimana ?”  Nurjannah balik bertanya. Nurjannah memanggil Dimas kepada Suryawan yang orang Cirebon itu karena Suryawan lebih muda sekitar 4 tahun  darinya.
“Kalau ditanya ke saya, saya usul di Hyatt Prapatan , Tugu Tani saja Bu Nur, disana banyak pilihan, ada shabu shabu ,  ada  juga masakan Jepang lainnya dan ada buffet juga dimana kita bisa makan sepuasnya”.
“Boleh deh. Kita berangkat sebelum jam 12.00 aja ya, supaya nanti bisa balik sesuai waktu jam kerja.”
“Baik Bu Nur, lalu kesananya pakai mobil saya atau mobil bu Nur ?. Saya sarankan pakai mobil saya saja karena parkir nya di depan, lebih mudah keluarnya”
“Iya deh pakai mobil dikmas aja, jam 11.30  kita ketemu di parkiran “
“Baik bu Nur” , menjawab si dimas Suryawan.

Tepat jam 11.30 mobil Toyota Avanza milik Suryawan terlihat keluar dari parkiran Bank asing tersebut  dengan Nurjannah tampak duduk disamping Suryawan.
Hanya sekitar 20  menit  dari Jalan Merdeka Barat, dimana Bank mereka berlokasi, Toyota Avanza warna hitam itupun terlihat memasuki pekarangan Hyatt dan kemudian diparkirkan oleh Valet yang melayani parkir di hotel itu.
Merekapun menuju gedung annex hotel  yang menjadi areal kuliner dari berbagai masakan asia yang terkenal . Tampak mereka memasuki restoran Shabu Shabu, karena Suryawan tampaknya memfavoritkan makanan Jepang itu. Ada 40 menit mereka makan disana sambil ngobrol.

Sambil ngobrol itu Suryawan Nampak menikmati kehadiran Nurjannah yang cantik itu, sambil sekali sekali tersenyum kepadanya. Dalam suatu kesempatan Suryawan memancing Nurjannah dan memberikan semacam teka teki kepada Nurjannah.
“Bu Nur pernah gak mendengar kalau , makan siang tidak ada yang gratis”
Nurjannah sedikit kaget dengan pertanyaan Suryawan itu. Dia tahu itu adalah kata kiasan bahwa suatu bantuan atau pertolongan tidak ada yang gratis. Selalu ada kompensasinya. Apa maksud sebenarnya dari pertanyaan Suryawan ini. Apakah dia ingin balas jasa atas bantuan hukum yang diberikannya kepada Nurjanah dalam membantu proses perceraian Nurjannah dari suaminya ?. Tapi Nurjannah pura pura gak tau akan istilah itu.
“Mengerti dong. Kan seperti saat ini,kalau makan siang tentu harus bayar. Kita  kan bukan fakir miskin sehingga dikasi makan siang gratis” menjawab Nurjannah berlagak bodoh.
“Itu ungkapan Bu Nur,  bahwa pertolongan seseorang harus dibalas juga dengan pertolongan pula saat dibutuhkan oleh orang yang menolong itu. Istilah itu berlaku bagi Negara, dalam Politik, Perusahaan , keluarga dan bahkan dalam hubungan pribadi. . Sebenarnya lebih tepat dipakai istilah tolong menolong. Orang lebih banyak memakai istilah itu sebagai ungkapan tidak langsung, tapi dipahami maksudnya“.  berkata  Suryawan sambil tersenyum kepada Nurjannah. 
Suryawan melanjutkan bicaranya : “Saya terus terang iri sama si bung  Daniel , suami Ibu itu. Sudah digugat cerai masih dibolehkan tidur dengan Bu Nur, padahal Bu Nur benci  banget sama dia. Saya yakin kalau bu Nur kan tidak benci sama saya”.
Nurjannah menahan nafas mendengar celoteh Suryawan itu, tapi dia menangkap maksud Suryawan itu. Sepertinya dia ingin mendapat pula apa yang dilakukan suaminya kepadanya pada malam menjelang sidang terakhir gugatan cerainya di Pengadilan Agama Jakarta Selatan itu. Yang kemudian diungkapkan Daniel di depan mahkamah pengadilan agama tersebut. 
Lama Nurjannah diam , dia tidak bicara , dia hanya memandang Suryawann , namun dengan sedikit tersenyum padanya. Senyum itu ditangkap Suryawan sebagai isyarat agar Suryawan meneruskan bicaranya dengan  lebih jelas, Suryawan pun melanjutkan :
“Dari dulu saya kepingin bu. Bu Nur amat cantik dan kadang saya suka melamun kalau memandang Bu Nur, kapan saya bisa  bersama dengan bu Nur ditempat yang nyaman bagi kita berdua.”
“Jadi dimas menagih jasa dan pertolongannya kepada saya ?. “
“Bukan bu. Saya hanya ingin minta tolong sama Bu Nur. Saya kepingin sekali bu Nur”

Nurjannah  sudah sekitar delapan  tahun tidak pernah menikmati hubungan yang memuaskan dari suaminya. Setahun menjadi janda setelah bercerai dari Ramadan dan selama tujuh tahun bersuamikan Daniel, selama itulah dia hidup tanpa hubungan yang memuaskan. Nurjannah menjadi tergoda dengan ajakan berliku yang ditembakkan Suryawan kepadanya. Nurjannah memandang tak berkedip kepada Suryawan yang langsing, tinggi, cukup tampan dan wajahnya menyenangkan ,  kendati memakai kaca mata minus tiga.

“Dimas maunya kapan”.
Jantung Suryawan berdegup keras, permintaannya mendapat tanggapan positif dari Nurjannah.
“Sekarang aja Bu Nur. Mumpung kita berada di hotel bagus ini”.
“Oke lah. Uruslah kamarnya” Berkata Nurjannah.
"Baik bu Nur. Saya urus sekarang". Suryawan pun bangkit dari duduknya dan menuju Reception Hotel Hyatt itu . Membayar harga kamar dan menanda tangani slip kartu kredit pembayaran kamar , menerima  Receipt pembayaran harga kamar dan kemudian memasukkan bukti pembayaran kamar hotel itu ke kantong  celananya.  Setelah menerima kunci kamar hotel itu, diapun balik menjemput Nurjannah yang masih menunggu di restoran shabu shabu tempat mereka makan.  Bill restoran telah diselesaikan oleh Nurjannah. Mereka meninggalkan restoran Jepang itu dan  berjalan menuju lift , melewati Reception yang dijaga dua orang karyawati hotel yang berseragam. Karyawati itu memberi hormat kepada Nurjannah sambil mengucapkan selamat siang yang hanya di jawab dengan anggukan oleh Nurjannah, Nurjannah berjalan dengan canggung disamping Suryawan. Baru sekali ini dia berjalan berdampingan dengan laki laki yang bukan suaminya menuju kamar hotel. Dalam pikirannya pastilah Recepsionist hotel itu tahu kalau mereka bukan suami istri dan walaupun mereka tersenyum kepada Nurjannah , namun dalam hatinya pasti mereka menganggap aku ini perempuan murahan. Begitu Nurjannah mengira ngira sendiri jalan pikiran orang kepadanya.

Merekapun naik ke lantai 4 dan mencari nomor kamar sesuai yang tertera di kunci itu, membukanya lalu masuk dan mengunci kamar itu dari dalam.
Nurjannah merasakan bahwa Suryawan yang lebih muda empat tahun darinya , cukup memenuhi hasratnya dan dia merasa terpuaskan oleh Suryawan. Walau yang meminta adalah Suryawan, namun Nurjannahlah yang lebih aktif memperturutkan gejolak asmaranya   yang sudah amat  lama terkungkung.

                                                          --------------------                                                        
Istri Suryawan adalah ibu rumah tangga murni. Dia tidak bekerja dan sehari hari hanya mengurus keperluan suaminya dan dua orang anak laki lakinya yang masih duduk di kelas satu dan kelas dua SMP.
Suatu hari saat akan mencuci pakaian suaminya, dia memeriksa kantong kantong celana yang akan dicuci itu dan didapatinya ada Receipt  pembayaran kamar hotel untuk satu hari seharga Rp.350.000,- Jumlah itu cukup bernilai kalau dikaitkan dengan gaji suaminya waktu itu. Trisnawati, sang istri tentu saja bertanya tanya dalam hati kok suaminya menyewa kamar hotel ? . Untuk apa ?. Suaminya kalau malam selalu tidur bersamanya , tidak pernah menginap di tempat lain. Apa dia “bobo” siang di hotel bersama seseorang ? Dia tahu kalau suaminya beberapa waktu  lalu memberikan bantuan hukum terhadap rekan sekantornya yang minta cerai dari suaminya.  Tris, demikian dia biasa dipanggil tidak mau berspekulasi. Karena itu Receipt Hotel Hyatt itu disimpannya. Tapi nalurinya sebagai istri nampaknya cukup tajam juga.

Kebetulan Tris punya teman sealumni  sesama SMA Negeri di Kramat Raya Jakarta bernama Yati yang  diketahui Tris adiknya Yati juga bekerja di Bank tempat Nurjannah bekerja. Yati dengan Tris bukan hanya se alumni, melainkan sekelas dan teman akrab saat di SMA di Jalan Kramat Raya itu. Dilalah adik si Yati itu adalah sekretaris dari Suryawan , Kepala Legal Department di Bank dimana Nurjannah dan Suryawan bekerja.
Melalui adik si Yati yang sekretaris Suryaman itu  Tris mengetahui bahwa Suryawan , suaminya,   beberapa kali pergi bersama Nurjannah, dalam rangka membantu Nurjannah menggugat cerai suaminya  dan terakhir mereka makan siang bersama dan baru kembali ke kantor sekitar jam empat sore dengan pura pura mengomel bahwa dia kena macet.
                                                               -------------------------------------------            
           
Sekitar dua minggu setelah Nurjannah dan Suryaman makan siang bersama itu, Suryaman menelepon Nurjannah ,
“ Bu Nur, makan siang bareng lagi yuk. Ditempat yang dulu aja Bu. Shabu Shabu aja bu. Lebih sehat, banyak sayur dan ada daging dan sea foodnya juga”
Nurjannah agak bimbang apakah akan menerima ajakan Suryawan itu atau menolaknya ?.Dia khawatir Suryawan akan “ minta tolong” lagi kepada Nurjannah karena dia kepingin .
“Tunggu dulu deh dimas, kerjaan  saya lagi numpuk nih“, dan telepon itu segera ditutupnya.
Namun sampai sore Nurjannah tidak menghubungi  Suryawan, dan Suryawan juga tidak mau mengulangi tawarannya, karena dia mengerti bahwa Nurjannah sedang tidak ada mood.
Murjannah sebenarnya ingin mendidik Suryawan yang lebih muda itu, bahwa dia bukan perempuan yang sewaktu waktu bisa diajak. Nurjannah ingin dalam hubungan dengan Suryawan dialah yang menentukan  kapan dia mau maka dia yang akan mengajak, bukan sebaliknya.

Dua hari setelah ajakan Suryawan yang tidak bersambut itu, Nurjannahpun menelepon Suryawan.
“ Dimas, sekarang kerjaan saya sudah agak lonngar. Kalau mau makan siang bareng lagi saya ada waktu”.
“Oke bu Nur. Kita ketemu jam 11.30 di parkiran ya bu”. Dan tepat jam 11.30 mereka sudah meluncur menuju Hotel Hyatt. Sesampai disana , setelah mobilnya diserahkan kepada Valet, merekapun kembali memasuki restoran shabu shabu disitu.
Kejadian dua minggu lalu itu terulang lagi tanpa basa basi,
Setelah makan, Suryawan pun berkata pada Nurjannah.
“Sudah boleh saya ambil konci kamar bu ?”
“Kita bobo siang lagi ya. Iyalah , pergilah”
Dengan tersenyum ceria, Suryawanpun meninggal kan Nurjannah  menuju recepsionist hotel itu . Memesan kamar, membayarnya dengan kartu kredit, dan memasukkan  Receipt dan slip kartu kredit itu ke kantong celananya.
Kali ini Nurjannah dan Suryawan tidak berlama lama di kamar hotel berbitang lima itu. Jam 15.00 mereka sudah sampai di kantornya lagi dan langsung bekerja.

Trisnawati, istri Suryawan sudah mendapat informasi lagi dari adik temannya Yati, bahwa Suryawan pergi makan siang lagi dengan Nurjannah.
Setelah Suryawan pulang ke rumah, dia pun mengganti pakaiannya dan menggantungkan celana panjangnya di gantungan di balik pintu masuk kamarnya. Saat Suryawan berada diluar kamar, istrinya Tris merogoh celana suaminya yang tergantung di balik pintu itu, dan dia menemukan apa yang dia cari, yaitu receipt pembayaran kamar Hotel Hyatt, sama persis dengan receipt hotel yang ditemukannya di celana suaminya itu dua minggu lalu. Darah Tris mengelegak. Air matanya menitik  menahan geram hatinya. Tidak pelak lagi dia yakin suaminya berselingkuh dengan orang yang ditolongnya, yaitu Nurjannah yang menggugat cerai suaminya. Tris menenangkan hatinya , baru setelah dia berhasil meredam emosinya dia mendatangi suaminya yang sedang menonton TV sendirian.

Dia duduk disamping suaminya itu, seolah tidak ada apa apa. Lama dia duduk itu tanpa berkata sepatah katapun. Baru setelah acara TV itu jeda karena diselingi iklan, Tris mulai ngomong.
“ Mas…. dimata Mas saya ini masih cantik gak sih”.
Suryawan menengok kepada istrinya. Dia heran, kok istrinya bertanya hal yang tidak biasa ? Seperti pertanyaan orang yang sedang pacaran ?
Suryawan tersenyum. Tris pun tersenyum.
“Kok pertanyaan mu itu lucu ya ?. Tentu kamu cantik, kalau gak cantik tentu tidak akan jadi istriku.”
“Tapi sepertinya  selingkuhan mas , jauh lebih cantik dari saya. Iya kan mas  ?. Karena kalau dia tidak lebih cantik dari saya pastilah mas tidak akan berselingkuh dengan dia”
Suryawan terperangah mendengar ucapan istrinya itu. Dari mana istrinya tahu kalau dia berselingkuh?.
“Ah kamu meng ada ada saja. Gak baik itu , menuduh yang bukan bukan kepada suami”.
“Saya gak menuduh mas. Saya hanya ingin bertanya saja. Ingin tahu aja kenapa mas berbuat begitu. Mas gak puas sama saya ya. Mungkin saya kurang hot di ranjang ya mas. Atau si Nurjannah itu sangat pandai memuaskan mas. Lebih cantik, pantatnya lebih besar, begitupun dadanya.Dia lebih bahenol. Apa itu yang menjadi penyebabnya mas ?”
Suryawan seperti terdesak, dari mana istrinya mengetahui semua itu ?.  Diapun dengan setengah marah menyanggah.
“Kamu dihasut orang kali ya. Kok pandainya kamu meng ada ada. Gak ada itu. Saya bukan orang yang suka begitu.”
“ Kalau mas tidak berselingkuh dengan Nurjannah, ngapain mas masuk kamar berdua dengan dia di Hotel Hyatt. ?”
Suryawan seperti disambar petir mendengat kata kata Tisnawarti yang terakhir ini. Bagaimana kok istrinya mengetahui secara detil apa yang dilakukannya bersama Nurjannah ?
“Kamu jangan menuduh nuduh sembarangan. Nampaknya kamu ingin mencari gara gara dengan saya. Apa maksudmu menuduh seperti itu”
“ Saya tidak menuduh mas. Saya marah sama ibu Nurjannah . Tadi saya telepon dia. Saya sudah sampaikan kepada selingkuan Mas itu. Kalau saya ini ibu rumah tangga, Saya istri Suryawan yang sudah membela ibu bercerai dari suami ibu. Saya senang suami saya berhasil membantu proses perceraian ibu. Tapi setelah bercerai kok ibu mau merebut suami saya ?.  Ibu sudah dua kali melakukan hubungan seksual dengan suami saya. Pertama tanggal  5 dan yang kedua tadi siang.   Kedua duanya ibu lakukan di hotel Hyatt.
Bu Nurjannah , saya dengan Suryawan sudah punya anak dua bu. Mudah mudah an ibu bisa merasakan setidaknya membayangkannya bagaimana perasaan ibu  kalau ibu juga punya dua anak dan suami yang ibu cintai berselingkuh dengan perempuan lain yang lebih cantik dari ibu ? . Ibu Nurjannah itu mengakui perbuatannaya. Dia minta maaf pada saya dan menasihati saya supaya jangan minta cerai dari suamimu Suryawan, Dia berjanji tidak akan mau diajak lagi oleh Mas , baik makan siang maupun bobo siang”
Suryawan pun terdiam. Uraian istrinya Trisnawati begitu jelas, begitu lengkap dan akurat. Bagaimana istrinya yang orang rumahan itu tahu semuanya ?.
Istrinya melanjutkan. “Kadang terpikir oleh saya untuk mengadukan masalah ini ke Manajemen bank tempat mas bekerja, Karena ini masalah moral, yang berpengaruh pada citra bank, mungkin mas dan Nurjannah bisa kena sanksi dan diberhentikan dari kantor itu. Saya tidak mau itu terjadi, Karena,  itu sama saja menyengsarakan anak anak saya yang masih memerlukan pembiayaan bagi pendidikan mereka”

Trisnawati mengeluarkan kertas putih dari lipatan kain yang dipakainya dan menyerahkannya kepada Suryaman sambil berujar,
“ Nih kwitansi hotel Hyatt, simpanlah baik baik”. Diapun berlalu, membiarkan Suryawan terbingung bingung Ternyata itu adalah receipt pembayaran biaya kamar di Hotel Hyatt yang karena kelalaian Suryawan  ditemukan oleh istrinya.

Lama Suryawan termenung sendirian di sofa ruang tamunya.  Tak pernah disangkanya  istrinya yang dianggapnya perempuan rumahan, hanya ibu rumah tangga biasa  yang hanya pandai mencucui pakaian, memasak, membersihkan rumah , jarang membaca dan hanya senang menonton sinetron itu ternyata sangat pintar . Berhasil mengungkapkan perbuatan perselingkuhannya dengan Nurjanah secara gamblang, tidak terbantahkan dan disampaikan dengan tenang tanpa emosi. Bahkan istrinya tidak minta cerai atau marah marah kepadanya. Diakuinya  oleh Suryawan, dia beruntung mendapat istri yang bijak.  Kecantikan istrinya yang tidak dipoles poles itu tidak banyak beda dari Nurjannah yang sangat didambakannya itu.

Setelah termenung lebih kurang  selama setengah jam. Suryawan pun masuk ke kamar. Dilihatnya istrinya sedang duduk ditempat tidur sambl menghapus air matanya. Suryawan mendatanginya pelan pelan dan menarik tangan istrinya itu agar berdiri dan sambil menangis terisak isak  dipeluknya istrinya itu .
“Maafkan saya ya Tris. Saya salah . Saya khilaf. Saya mencintai kamu Tris . Saya tidak akan melakukannya lagi. “. Trisnawati pun memeluk suaminya. Merebahkan kepalanya ke dada sumainya itu dan ikut terisak bersama suaminya.
“ Saya menyelidiki kelakuan Mas demi anak anak kita. Saya tidak ingin anak anak menjadi korban perceraian kita karena mas berselingkuh ”.
 Semenjak kejadian itu hubungan perselingkuhan Suryawan dengan Nurjannahpun berakhir
                             ------------------------
           
Sekembali dari makan siang bersama Suryawan, Nurjannah disibukkan dengan pekerjaan rutinnya. Sekitar jam empat sore, teleponnya bordering. Telepon itupun diangkatnya.
“Hallo…” berkata Nurjannah
“Selamat sore bu Nurjannah. Saya Trisnawati . Saya istrinya  Suryawan. Saya ingin menyampaikan ucapan selamat kepada ibu karena gugatan cerai ibu terhadap suami ibu dikabulkan pengadilan. Itu semua kan berkat bantuan suami saya. Saya ikut bersyukur atas kemenangan ibu.”
Nurjannah mau menjawab dan mengucapkan terima kasih atas ucapan selamat dari Trisnawati itu.  Namun belum sempat kata kata itu terucap, ibu Trisnawati itu sudah merocos lagi.
“Tapi bu Nurjannah, saya mohon ibu tidak perlu memberikan kompensasi atau hadiah kepada suami saya. Saya tahu kalau suami saya ibu servise. Ibu biarkan diri ibu disebadani oleh suami saya itu . Sudah dua kali ibu memberikan layanan seksual kepada suami saya . Yang pertama pada tanggal lima , dua minggu lalu dan yang kedua pada siang hari ini.  Dua duanya ibu lakukan di Hotel Hyatt. Saya mohon ibu berhenti melakukan hal itu. Saya mohon Ibu jangan merebut suami saya. Kasihan anak anak saya bu. Masih banyak laki laki lain yang pasti suka sama ibu, karena ibu cantik dan kaya pula. Ibu orang terpandang, mohon ya Bu”.

Semula Nurjannah mau menutup saja telepon itu, tapi Trisnawati  bicara terus dan ucapannya kata demi kata bagaikan wahyu kebenaran di kuping Nurjannah dan apa yang dikemukakan ibu Trisnawati itu adalah kenyataan yang membuat Nurjannah semakin ingin mendengar kelanjutan ucapannya.
Trisnawati terus merocos melanjutkan bicaranya.
“Saya dengan Suryaman sudah punya anak dua bu. Kasihan anak anak saya kalau kehilangan salah satu orang tuanya. Pastilah keluarga saya akan berantakan dan penyebabnya hanya karena suami saya berselingkuh dengan ibu”.


Nurjanah menyadari bahwa apa yang dikemukakan istri Suryawan itu benar. Dia  sudah pernah merasakan hal itu ketika menceraikan suaminya Ramadan yang berselingkuh dan mengawini perempuan lain. Keluarganya, terutama anak anaknya  terpukul karena ibu bapaknya bercerai itu. Nurjanah mengerti kekawatiran istri Suryaman dan tidak perlu menutup nutupi lagi perselingkuhannya dengan Suryawan. Harus diakuai dan minta maaf kepada perempuan yang bicara tanpa emosi itu.


“Baiklah bu Trisnawati. Saya minta maaf atas kekhilafan saya . Saya tidak menyangka akan begitu buruk akibatnya bagi keluarga ibu. Sekali lagi saya mohon maaf. Saya tidak akan berhubungan lagi dengan suami ibu Suryawan. Saya mengaku bersalah dan mohon ibu dapat memafkan saya. Nurjannah bicara dengan nada merendah, dengan hati nuraninya berlandaskan kesadaran atas kesalahan yang diperbuatnya.
“Bu Trisnawati, saya mohon ibu jangan sampai bercerai dengan suami ibu. Demi anak anak ibu. Semoga ibu dapat pula memafkan suami ibu dan keluarga ibu tetap utuh ya bu”
“Terima kasih bu Nurjanah atas nasihat ibu. Mudah mudah an suami saya juga sadar seperti ibu. Terima kasih Bu Nurjannah”
Trisnawati menutup teleponnya tanpa memberi kesempatan kepada Nurjannah untuk bicara lagi.  Trisnawati cukup puas atas  pembicaraannya dengan selingkuhan suaminya itu.

          Setelah pembicaraan telepon itu  Nurjannah terhenyak di tempat duduknya. Baru sekali ini dalam hidupnya dia di komplain oleh perempuan karena Nurjannah berselingkuh dengan suaminya. Hati nuraninya merasa bersalah, karena dorongan seksual yang dialaminya dan untuk mendapatkan kenikmatan sesaat  dia telah mengambil sesuatu yang bukan haknya yang menyebabkan seorang perempuan yang menjadi “pemilik” laki laki itu protes kepadanya. Dalam hatinya dia berjanji tidak lagi akan melakukan perbuatan yang tidak bermoral itu.  Semalaman Nutjannah hampir tidak bisa tidur. Pikirannya terganggu dengan  ucapan Trisnawati yang berbicara dengan sopan itu,  terngiang ngiang di terlinganya.
“Saya mohon ibu jangan merebut suami saya. Kasihan anak anak saya bu”.
Kata kata ibu Trisnawati itu amat menyentuh nurani dan rasa kemanusian Nurjannah. 

No comments:

Post a Comment