Saturday, April 9, 2016

MENABUR CINTA KE DUA


MENABUR CINTA KE DUA




Kira kira setahun  sejak Nurjannah cerai dari Ramadan, dia berkenal;an dengan seorang perempuan yang menjadi nasabahnya . Perempuan itu adalah wanita Manado yang kemudian dikenalnya sebagai ibu Yola  Supit. Ibu Supit dengan suaminya bernama Daniel, masing masing punya deposito di bank dimana Nurjannah bekerja. Daniel itu lelaki tampan berkulit agak gelap namun tampak jantan dan sedikit kekar karena dia bekas petinju amatir. Daniel yang macho itu hanya sebentar mengeluti olah raga tinju . Saat menjadi mahasiswa dia berhenti menjadi petinju dan memilih melanjutkan kuliahnya di fakultas teknik Universitas Tri Sakti di Grogol Jakarta. Dia seorang ahli lstrik bergelar insinyur, Istrinya yang dipanggil Ibu Supit itu lumayan cantik dan ramah. Nurjannah dan ibu Supit itu sering ngobrol, dan hubungan mereka tidak hanya  terbatas sebagai pejabat bank dengan nasabahnya, melainkan berkembang sebagai hubungan pertemanan sesama perempuan.
             
Suatu hari ibu Supit datang ke bank mencairkan depositonya dan setelah urusan pencairan deposito itu selesai, ibu supit itupun bertamu ke Nurjannah yang kebetulan sedang istirahat sehabis makan siang di kamar kerjanya. Kedatangan ibu supit , kawannya itu tentu menyenangkan hatinya. Mereka ngobrol ngalor ngidul dan pada suatu moment ibu Supit kemudian becerita kepada Nurjannah tentang statusnya yang baru berubah dari Nyonya Daniel dan sekarang sudah menjadi seorang janda,
“ Bu Nur, sekarang kita senasib lho.”
“Senasib bagaimana maksud Bu Supit ? “
“Sekarang kita sama sama janda lho bu”’ Nurjannah kaget: 
“ Kok begitu ? Kenapa Bu”.
“Suami saya itu jahat lho Bu, nampaknya aja suka tersenyum manis dan baik, Tapi dia orangnya temperamental. Kalau lagi marah suka main tangan, Saya gak tahan Bu, akhirnya saya gugat cerai dan sekarang kami sudah pisah. Kami pisah baik baik. Saya ceritakan semua permasalahannya kepada pendeta saya. Kami dua duanya dinasehati. Dia juga keras dan kurang suka menerima nasihat pendeta. Lalu saya ditantang oleh dia untuk bercerai saja, Ya saya sambut dengan senang hati.”
Nurjannah terperangah mendengar cerita ibu Supit itu. Dia ingat mantan suaminya Ramadan yang tidak pernah sedikit pun menyakitinya secara fisik. Hanya batinnya tersiksa karena suaminya itu doyan kawin, bahkan biaya kawinnya tanpa disadari Nurjannah adalah dengan menggunakan uang yang dimintanya dari Nurjannah. Manakah yang lebih menyakitkan ? Bertanya Nurjannah dalam hati.
Saat Nurjannah harus bekerja kembali karena jam istirahat sudah habis, kedua janda  yang bersahabat itupun berpisah.

Dua minggu setelah itu, Daniel mantan suami Ibu Supit itupun datang ke bank, juga untuk mencairkan depositonya yang sudah jatuh tempo. Tapi Daniel tidak membawa uang pencairan itu sepeserpun, semuanya disetorkannya kembali ke rekening giro  atas nama dirinya. Dia pun minta izin kepada petugas di depan kamar kerja Nurjannnah yang adalah sekretaris Nurjannah untuk menemui Nurjannah si manager bank itu.
Sebenarnya Nujannah enggan menemui laki laki berkulit agak gelap  yang  mantan suami ibu Supit teman baiknya itu. Namun karena Daniel itu juga adalah nasabah, maka Nurjannahpun tetap membuka pintunya dan mempersilahkan Daniel mengambil tempat duduk di sofa ruang kerja Nurjannah . Daniel itu orangnya modist, nampak parlente dan selalu rapi pakaiannya bak artis pemain film. Rambutnya sedikit ikal dan kalau tersenyum sering sambil memperlihatkan barisan giginya yang putih rapi dan teratur. Yang istimewa dari laki laki Ambon ini adalah senyumnya. Kalau dia sudah tersenyum pada perempuan muda, pastilah perempuan itu terpesona pada senyumnya itu. Istilah Mario Teguh, perempuan itu akan “menggelepak gelepak”  karena terpikat pada laki laki  itu. Nurjannah pun merasakan seolah ada magis pada senyum lelaki itu.
Mengobrol dengan Daniel amat menyenangkan, dia pandai bercerita, pandai membuat lelucon sehingga suasana mengobrol dengan laki laki  itu tetap segar dan tidak membosankan.

Pada kesempatan ngobrol dengan Nurjannah, Daniel pun berkisah tentang perceraianya dengan istrinya Supit.  Mereka disamping  sebagai suami istri, juga sebagai partner usaha. Daniel sering mengerjakan pekerjaan jaringan listrik untuk kompleks komlpeks perkantoran dan perumahan yang dikembangkan perusahaan Real Estate. Sering untuk pengerjaan jaringan itu, peralatan listriknya harua di talangi lebih dulu dan nanti ditagih kepada Developernya setelah proyek itu jadi. Dan tentu saja harga pembelian nya lebih rendah dari harga yang ditagih Daniel kepada pengembang. Dan untuk itu Daniel memerlukan modal.  Selama ini modal pembelian peralatan peralatan listrik seperti Travo, dengan berbagai kapasitas itu yang nilai nya ratusan juta Rupiah , dilakukan secara patungan dengan istrinya yang dipanggil Ibu Supit itu. Dengan bubarnya kongsi atau partnership dengan istrinya,  Daniel ingin menjajaki barang kali Nurjannah berminat berkongsi dengan dia menggantikan posisi Ny. Supit yang tidak lagi menjadi partnernya.

Nurjannah mengetahui kalau Ibu Supit dan si tuan Daniel ini masing masing  mempunyai deposito yang cukup besar di bank Nurjannah itu. Setidaknya hal itu memberi keyakinan pada Nurjannah bahwa proyek jaringan kelistrikan yang mereka kerjakan cukup menguntungkan bagi mereka berdua. Mereka sering membuka deposito dalam jumlah besar atas nama mereka masing masing dan itu adalah indikator keberhasilan usaha yang di jalankan Daniel.  Deposito mereka  hampir selalu dalam jumlah besar , ratusan juta Rupiah. Dan deposito itu selalu   atas nama masing masing,  Dari kenyataan itu Nurjannah mendapat gambaran bahwa pembagian keuntungannya pastilah adil dan kongsi dalam pembiayaan proyek yang dikerjakan Daniel itu tentulah menguntungkan.
Nurjannah mulai tertarik , belum kepada kegantengan laki laki yang bernama Daniel itu melainkan kepada usahanya yang memberi peluang kerja sama pembiayaan kepada Nurjannah. Namun Nurjannah tidak begitu saja dengan mudah melepas uangnya.
Daniel menawarkan kepada Nurjannah untuk jalan njalan bersamanya ke proyek proyek yang dikerjakannya. Nurjannah belum menjawab ajakan tersebut , dia masih pikir pikir.
Dalam mengobrol itu ,pada suatu saat ,  Nurjannah bertanya kepada Daniel:
“ Kenapa bung Daniel tidak mengambil kredit bank saja untuk membiayai kebutuhan kebutuhan pembelian peralatan itu ?”
Daniel pun tangkas memberikan alasannya:
“ Mengambil kredit itu kan perlu jaminan Bu Nur. Disitulah kekurangan saya. Saya tidak punya jaminan. Keuntungan keuntungan yang diperoleh harus tetap disimpan dalam bentuk kas, karena se waktu waktu ada proyek, saya langsung bisa kerja . Kalau untuk itu harus minta kredit dulu , habis waktu mengurusnya dan tanpa jaminan, Bank termasuk bank ibu ini mana mau kasi kredit ke saya ?. “
Nurjannahpun manggut manggut membenarkan jawaban Daniel.
Karena sudah cukup lama mengobrol dengan laki laki yang menyenangkan itu, Nurjannahpun mengakhiri obrolan mereka.
“Baiklah bung Daniel, lain kali kita ngobrol lagi ya”
“Jadi bagaimana Bu Nur , dengan undangan saya untuk melihat proyek proyek yang saya kerjakan itu, kapan Ibu ada waktu mengunjunginya “.
“Wah tidak mungkin dalam jam kerja bung Daniel. Karena bung kan tidak mengajukannya sebagai kredit kepada bank”
“Iya lah.Tentu ini pribadi.Kapan ibu Nur ada waktu?”
“Nantilah saya pikir pikir dulu. Kerjaan di kantor ini  sibuk Bung  Daniel. Saya hampir tidak punya waktu untuk hal hal yang bersifat pribadi”
“Kalau kerja terus tanpa mengenal waktu, nanti cepat tua lho Bu Nur. Sekali sekali Ibu perlu santailah. Ke proyek saya itu kan bisa di hari libur. Nanti saya bisa jemput ibu di rumah atau bisa diatur ibu ingin dijemput dimana…”
“Nantilah bung Daniel ….Nanti saya pertimbangkan ya. “
“Oke lah Bu Nur…, nanti kita kontak lagi ya Bu. Ibu tidak keberatan toh,  kalau kapan kapan kita juga ngobrol lagi melalui telepon ?
“ Iya … boleh”
Pembicaraan itupun berakhir dan Daniel pun  pamitan dan keluar sembari tersenyum , Senyum manis khas Nyong Ambon itu  yang bikin jantung  Nurjannah berdegup.
           
Pembicaraan itu amat berkesan bagi kedua belah pihak. Keduanya merasakan ada unsur lain yang membuat masing masing terbuai oleh lawan bicaranya. Nurjannah yang sudah satu setengan tahun menjadi janda itu sering terkesima menyaksikan mimik Daniel kalau sedang berbicara dan sesekali melepaskan senyunmnya yang menawan hati itu. Begirtupun Daniel, kalau berbicara selalu melihat mata dan bibir Nurjannah yang berlipstik merah kecoklatan yang dimata Daniel amat serasi dengan make upnya yang tipis yang  nampak amat cantik dan mempesona.
           
Saat menjelang tidur, Nurjannah seperti sulit memenjamkan matanya. Di pikirannya masih terbayang senyum si bung Daniel yang indah itu.
“Ah …. Tidak mungkin saya jatuh cinta pula pada si Ambon itu”, Nurjannah bergumam dalam hatinya. “Dia itu kristen. Saya muslimah, mana mungkin bisa dipertemukan . Jangan sampai terjadi deh…. Pasti ruwet kalau berumah tangga dengan dia . Pula ibu Supit sudah kasi tau kalau dia itu jahat, temperamental dan suka main tangan“.   Nurjannah menemukan kembali akal sehatnya. Dalam hatinya dia menegaskan : “gak mungkinlah saya akan  jatuh hati pada orang seperti itu”.
              
Orang yang saling tertarik memang sering membayang kan lawan jenisnya itu malam hari menjelang tidur. Begitupun Daniel. Nurjannah dimatanya adalah perempuan sempurna. berwibawa, dan soal kecantikan dimata Daniel dia layak ikut kontes Putri Indonesia. Begitulah kecaitikan Nurjannah dimata Daniel, jauh diatas mantan istrinya Supit.
             
Baru berkisar lima hari setelah pembicaraan Nurjannah  dengan si bung Daniel, kembali suara Nyong Ambon itu masuk ke telepon Nurjannah di kantornya. 
Setelah diangkatnya, Nurjannahpun berucap :
“Hallo….”
“Selamat pagi bu Nur.Ini Daniel. Apa kabar buNur ?“.
“Kabar baik bung. Bung Daniel bagaimana kabarnya“
“Juga baik bu Nur. Begini bu Nur. Besok kan hari Sabtu, bu Nur kan libur. Saya ingin beritahukan , di kafe teman saya di Kuningan, ada live music dengan penyanyi penyanyi yang saya kenal sejak dari kampung saya dulu di Maluku. Mereka sekarang sudah lumayan tenar . Mereka bisa membawakan berbagai lagu baik pop, jazz maupun Blues yang romantis.  Bu Nur pasti senang deh mendengarkan musik dan lagu lagu mereka. Saya ingin ajak Bu Nur menyaksikan show mereka itu . Mereka mulainya jam 7 sampai kira kira jam 10 malam dengan beberapa kali istirahat. Di café itu makanannya bermacam macam, banyak menu menu khas yang pasti ibu suka. Saya sudah pesan tempat untuk dua orang bagi kita, itu tempat VIP.Bagaimana bu Nur ?”.
Daniel berbicara merocos terus dan tidak memberi kesematan bagi Nurjannah untuk menyela.
Nurjannah seperti di fait a compli , tempat sudah dipesan. Besok libur. Yang main music teman teman sekampungnya , setidaknya pemusiknya  dikenal  oleh Daniel. Nurjannah merasa serba salah. Dia ingin menolak, tapi seperti tak kuasa, akhirnya dengan berat hati Nurjannah pun menjawab.
Saya ada acara keluarga dengan anak anak saya besok. Sebenarnya saya ingin cepat pulang. Tapi karena bung Daniel sudah pesan tempat, ya sudahlah. Saya hanya bisa sebentar saja disana.  Jadi saya gak bisa sampai malam. Paling saya hanya bisa satu jam  saja disana, setelah itu saya harus pulang  untuk istirahat, agar besok bisa beraktivitas bersama anak anak saya. Bung Daniel kok gak ngomong dulu sebelumnya ?  ”
“ Iya, maaf bu Nur. Saya tahunya juga mendadak. Takut gak kebagian tempat saya segera pesan . Saya spekulasi aja bu, siapa tau bu Nur bersedia ikut menyaksikan live nusic kawan kawan saya itu tentu Alhamdulillah, saya bersyukur . Paling sial kan bu Nur gak bersedia, dan saya tetap akan datang sendiri karena yang show itu teman teman saya bu Nur.”
Nurjannah terdiam mendengar pernyataan Daniel itu. Tampaknya dia  mengatakan sejujurnya, dan Nurjannah dapat menerima alasan itu. Dan ada ucapan “Alhamdulillah”  pula dari mulutnya,yang membuat Nurjannah menjadi berpikir, orang ini kristen atau islam ?.
“Bung Daniel. Kok bisa ngomong Alhamdulillah segala. Ngerti gak artinya ?”
“Ya ngerti dong bu Nur. Saya dulu kan Muslim. Ketika kawin dengan Supit saya harus nikah di gereja. Apa boleh buat bu Nur. Waktu itu kan sedang jatuh cinta berat, saya ikuti saja kemauan kekasih saya ber fam Supit itu.”
“Ooh begitu, jadi sekarang bung Daniel agamanya apa. “
“Sejak pisah dengan Supit saya sudah tidak ke gereja lagi. Terus terang saat ini agama saya mengambang bu Nur. Bagi saya agama itu kan pegangan agar kita selalu ingat kepada pencipta kita. Ada Tuhan yang mengatur perjalanan hidup kita, agar kita tidak tersesat dan berbuat yang menyimpang dari norma norma yang patut, Begitu kan Bu Nur”
Nurjannah terlahir sebagai seorang muslimah , sejak dari kakek , nenek  bahkan buyut dan buyut dari buyutnya. Sebagai orang Minang seharusnya Nurjannah memahami Islam itu seperti apa. Sayang kerena pindah ke Jakarta dan orang tuanya sibuk dan kurang perhatian pula terhadap pendidikan agama bagi anak anaknya, maka penguasan agama pada Nurjannah hanya pada kulitnya saja. Dia tidak bisa menanggapi  hal hal yang disampaikan Daniel kepadanya  dalam soal agama itu. Akhirnya Nurjannah mengalihkan pembicaraan kembali ke pokok  masalah, nonton live music di café di kuningan.
 “ Baiklah bung. Tapi bagaimana kesananya ?. “
“Bagaimana kalau bu Nur saya jemput sehabis kantor. Kira kira jam setenga tujuh?”
“Boleh juga begitu,tapi mobil  saya bagaimana ya?.“
“Mobil bu  Nur diantar sopir aja ke rumah  dan nanti   saya yang antar bu Nur pulang”
 Nurjannah jadi berpikir. Bagaimana nanti tanggapan anak anaknya, kok ibunya pergi ngelayap , mobilnya diantar pulang oleh supir tanpa ibunya? . Bisa bisa anak anaknya berpikir yang bukan bukan terhadap dirinya. Akhirnya Nurjannah mengambil keputusan. Dia ikut mobil Daniel dan sopirnya mengiringi dari belakang ke kafe di kuningan itu. Si sopir memarkirkan mobil dan setelah itu konci diserahkan kepadanya dan si sopir langsung pulang. Nanti Nujannah pulang sendiri setelah menonton live music di café tersebut.  Daniel pun setuju dan berjanji akan muncul di kantor Nurjannah pada jam 18.30.
        
Mendekati jam 18.30 Daniel pun mengetok pintu ruang kerja Nurjannah. Nurjannagh pun datang membuka pintu dan dia langsung berhadapan begitu dekat dengan Daniel yang sudah tersenyum lebih dahulu kepadanya.
“Berangkat sekarang ?“, tanya Nurjannah yang tampaknya sudah siap  .
“Iya. Ok “ menjawab Daniel sambil melangkah kembali keluar.
Nurjannahpun mengikuti Daniel, menaiki mobil Daniel sementara mobil Nurjannah dibawa sopirnya  dan mereka sama sama menuju sebuah café di Kuningan.  Setelah mobil di parkir, si sopir  menyerahkan konci mobil kepada Nurjannah dan diapun berjalan kaki menuju halte bus setelah menerima tip dari Nurjannah.
      
Saat mereka masuk ke Café itu, nampak para musisi  yang akan melaksanakan shownya mulai mempersiapkan diri. Daniel pun  menyambangi mereka, saling sapa , berpelukan dan ada pula yang toss sambil mngadu telapak tangan dengan kawan kawannya itu. Tampak kalau Daniel cukup akrab dengan para musisi itu.
      
Tidak terlalu lama setelah itu Daniel pun meminta Menu kepada waiter disana . Dia ingin segera memesan makanan , karena Nurjannah tidak bisa lama lama disana. Daniel membiarkan Nurjannah memilih menu  dan Daniel memesan sama dengan pesanan Nurjannah. Setelah makanan itu datang merekapun langsung menikmati hidangan itu sambil mendengarkan lagu lagu yang dibawakan oleh para penyanyi dan musisi dari Maluku itu.
       
Sudah tujuh  lagu yang dimainkan dan diantara lagu lagu itu ada yang dinyanyikan penyanyi  wanita bernama Sally yang suaranya terasa enak di dengar.  Kemudian pembawa acara kembali menjalankan tugasnya:
Tadi sudah kita dengar beberapa lagu  yang dibawakan grup nyanyi kesayangan kita. Tiba saatnya kita panggil seorang kawan lama yang sudah begitu lama tidak berjumpa. Dia sudah menjadi orang Jakarta. Tapi beta  yakin dia masih ingat lagu lagu daerah dari kampungnya. Mari kita sambut penampilan dari…….. Daniel  Hatu”.
Daniel tersenyum pada Nurjannah, dia melangkah ke podium dan mengambil mikropon dari pembawa acara.
“Saya akan membawakan sebuah lagu. Lagu ini adalah lagu cinta. Lagunya dalam bahasa Ambon tapi akan mudah dimengerti oleh bukan Ambon. Lagu ini harus dinyanyikan berdua. Saya mau panggil partner saya ibu Nurjannah.”
Nurjannah kaget mendengar  Daniel menyebut namanya. Daniel hanya bercanda. cepat dia sambung bicaranya.  “Tapi karena bu Nurjannah pasti belum tau lagu ini, saya mohon Bu Nur diwakili oleh adik kita, seorang penyanyi dari Ambon…..  Sally”. 
Setelah Sally maju, Daniel membisikkan sesuatu kepada Sally. Dan kemudian berujar kepada penonton: “Lagu yang akan kami bawakan adalah  “Dua hati , satu cinta”.
         
Baik Daniel maupun Sally membawakan lagu itu  dengan penuh perasaan,  serius, dengan mimik yang bersunggugh sungguh  sebagaimana layaknya sepasang kekasih yang saling mengungkapkan rasa. Liriknya saling  berjawab jawaban dengan nada yang pas dan serasi satu sama lainnya. Lagu itu begitu syahdu, sehingga Nurjannah yang mendengar Daniel menyanyi seperti itu ikut hanyut dalam haru dan matanyapun ikut ber kaca kaca.  Sesekali Daniel sambil bernyanyi itu melihat dan menatap kepada Nurjannah,  kadang dengan sedikit senyum. Nurjannah pun seolah tak berkedip menyaksikan Daniel menyanyi itu. Dia ikut mnghayati lagu itu kendati sebagian kata katanya dia tidak terlalu mengerti.  Luar biasa. Setelah selesai hadirin bertepuk meriah dan tampak kalau penonton acara itu amat terpuaskan oleh dua penyanyi itu.Syair lagu itu amat menyentuh, terlebih bagi mereka yang sedang jatuh cinta. Nurjannah sempat minta syairnya kepada Daniel dan Daniel dengan senang hati menuliskannya untuk Nurjannah. Inilah  sebagian lirik lagu itu.

Ini yang skarang beta rasa
Hidup bahagia bersama ale nyong e
Cinta deng kasih sayang
Ale kasi slama ini..
Tamba rasa memiliki selamanya

                 Di hati beta seng ada laeng
                  Cinta suci ini par ale nona e..
                  Samua tulus dar hati
                  Akan selalu abadi..
                  Dalam suka duka
                 Katong ada sama sama


Masih panjang liryk lagu ini, Semua kata yang tidak dimengerti oleh Nurjannah dijelaskan oleh Daniel. Mereka membicarakan lagu ini sembari berbisik, dengan wajah yang sangat dekat satu sama lainnya. Dalam hatinya Daniel sangat ingin mencium Nurjannah yang malam itu nampak semakin cantik dengan parfum mewahnya yang menenebarkan wangi semerbak membuat Daniel semakin mendambakan janda ini.  
Sekitar jam 20,30 , Nurjannah berbisik kepada Daniel mengatakan sudah waktunya dia pulang. Dia khawatir kalau terlalu malam nanti anak anaknya cemas, karena dia gak kasi kabar pada anak anaknya. Daniel memaklumi niat Nurjannah, Ini baru kencan pertama Daniel tentu saja tidak mau terkesan sebagai orang yang suka memaksakan kemauannya dan kurang toleran kepada Nurjannah. . Mereka bangkit sama sama dan dengan sedikit tersenyum melambaikan tangannya kepada kawan kawannya yang menyaksikan kepergian dia dan Nurjannah. Sambil berjalan itu,  Daniel memegang tangan Nurjannah dan Nurjannahpun membiarkan dia dibimbing oleh Daniel melalui jalan keluar dari café itu. Sesampai di parkiran, Nurjannah memencet konci kontak mobilnya dan mobil itu mengeluarkan bunyi siulan sebagai peranda pintunya  sudah bisa dibuka. Nurjannahpun membuka pintu mobilnya. Sambil tersenyum Nurjannah melirik kepada Daniel dan berucap : “Terima kasih ya bung Daniel. Saya sudah diajak menikmati lagu lagu yang indah. Terutama lagu “ Dua hati satu cinta”  yang bung Daniel nyanyikan itu. Luar biasa menurut saya. Bung hebat kalau menyanyi ya”. Daniel hanya tersenyum mendengar pujian dari Nurjannah.
“Terima kasih bu Nur. Kapan kapan kita jalan bareng lagi ya Bu Nur”’
“Iyalah, kapan kapan” Menjawab Nurjanah sambil tersenyum dan menutup pintu mobilnya, menghidupkannya  dan kemudian berlalu dari hadapan Daniel yang amat gembiRa berhasil menunjukkan kebolehannya kepada Nurjannah.
          
Malam menjelang tidur Nurjannah mencoba mengingat lagi kencannya dengan Daniel malam itu yang bagi Nurjanah amat berkesan. Ternyata laki laki itu pandai menyanyi, suaranya bagus. Dia banyak kawan  pertanda pandai bergaul. Dan ternyata dia tau sopan santun terhadap wanita, dia membimbing tangan Nurjannah. Itu sikap pertanda peduli atas keselamatan nya. Nurjannah amat nyaman berada didekatnya dan , sayang suasananya terlalu terbuka sehingga, saat berdekatan itu seharusnya Daniel menciumnya. Nurjannah sudah lama mendambakan ciuman laki laki ganteng seperti Daniel Hatu itu.Sudah lama dia merindukan pelukan laki laki yang menyenangkan  , yang mampu  menghangatkan raganya dan memberi semangat hidup baginya. Hidupnya sudah cukup lama terasa hambar dan monoton. Malam ini dia merasakan lagi kenikmatan berdekatan dengan laki laki, walau hanya sebentar dan hanya sebatas berdekatan sambil berbisik saja.

Ada rasa rindu pada diri Nurjannah terhadap Daniel. Tapi dia tidak mau menghubungi laki laki itu. Dia khawatir bertepuk sebelah tangan, dia tidak akan bersikap agresif , karena sikap demikian bisa ditafsirkan sebagai sikap perempuan murahan. Tapi Nurjannah beruntung.  Pada malam minggu, kira kira 13 hari sejak kancan yang lalu, ternyata Daniel menghubunginya. Mengajak Nurjannah untuk menghadiri resepsi pernikahan anak seorang tetua dari Maluku. Nurjannah berpikir, pastilah resepsi itu hanya acara makan minum, memberi ucapan selamat, mendengarkan petuah dan nasihat perkawinan dan setelah itu….bubar atau kembali ke rumah masing masing.
Nujannah betul. Inti acaranya memang seperti itu , tapi ternyata ada plus nya. Yaitu acara dansa yang dimulai oleh kedua pengantin.
Danielpun membimbing tangan Nurjannah dan mengajaknya ketengah ruangan dimana dansa itu berlangsung dan merekapun saling merapatkan diri dan berdansa mengikuti lagu berirama slow  yang dimainkan grup band disitu. Ini kesempatan bagi Daniel untuk menekan punggung Nurjannah agar Nurjannah merapatkan dirinya , sehingga dada Nurjannah yang nampak montok sedikit menyembul itu bagaikan menempel ke dada Daniel sambil terus melangkah mengikuti irama lagu. Pipi merekapun sering bersentuhan dan Nurjannah sepertinya mengikuti saja keinginan Daniel karena dia juga merasakan kenikmatan atas pelukan Daniel terhadapnya itu.
            
Daniel pandai membaca gelagat. Dia yakin bahwa janda ini pasti bisa digaetnya. Tinggal meyakinkan saja kepadanya bahwa Daniel mencintainya  dan berhasrat untuk menikahinya.
Tapi keinginannya itu tidak disampaikannya kepada Nurjannah. Dia tahu waktunya belum tepat, Karena dia baru saja berpisah dengan istrinya Supit yang juga teman Nurjannah, masa secepat itu, baru berapa bulan  sudah kawin lagi dan dengan kawan baik mantan istrinya pula.  Daniel bisa menahan gejolak hatinya dan berniat mencari waktu yang tepat untuk mengungkapkan niat baiknya itu.
      
Hubungan Daniel dan Nurjannah tetap berjalan baik. Sekarang Nurjannah sudah mau menelepon Daniel , jika Daniel lama tidak meneleponnya.   Enam bulan setelah Daniel berpisah dengan istrinya, kebetulah dia kembali memasukkan deposito di bank Nurjannah. Dan sehabis itu dia mampir ke kamar Nurjannah yang sedang tidak terlalu sibuk. Mereka ngobrol ngalor ngidul, dan suatu saat Daniel  lama memperhatikan Nurjannah yang ngobrol sambil bekerja itu. Nurjannah ketika melihat kepada Daniel, bertatapan dengan mata si lelaki itu yang sedang menatapnya. Nurjannah nampak salah tingkah dan agak tersipu dipandang tajam oleh Daniel.
“Nur. Kamu cantik sekali Nur. Terus terang saya belum pernah jumpa dan dekat dengan perempuan secantik kamu. Saya minta diberi kesempatan selalu berada dekat kamu. Boleh tidak Nur”
Nurjannah, sedikit tersipu dengan pujian Daniel itu, tapi dia tidak berani menebak maksud ucapannya. Karena itu Nurjannah ingin Daniel bicara lebih tegas.
“Selalu dekat bagaimana maksud bung ?. “
“Saya cinta sama kamu Nur. Saya ingin kamu nejadi istri saya”.
Nurjannah langsung berdegup jantungnya, seakan tidak percaya atas pendengarannya. Pucuk dicinta ulam tiba .begitu tanggapan hati nuraninya. Jadi ternyata dia tidak bertepuk sebelah tangan. Laki laki ganteng dengan senyum manis ini ternyata benar menyukainya, bahkan dari mulutnya sudah terucap kata cinta yang ditujukannya kepada Nujannah.
“Bung Daniel sungguh sungguh ingin menjadi pasangan hidup saya ?.”
“Lha iya dong. Kalau orang jatuh cinta kan memang harus menjadi pasangan satu sama lain. Harus menjadi suami istri. Itu sudah hukum yang baku Nur” . Nurjannah diam saja karena dia memang mengharapkan jawaban demikian dari Daniel. Tapi ada hal yang perlu di klarifikasi kepada Daniel, yaitu soal agama nya.
“Tapi mungkin tidak segampang itu bung Daniel, karena kita kan beda agama”. Nurjannah ingin memancing reaksi Daniel terhadaop masalah itu.
Daniel langsung menukas: “ Tidak ada masalah  Nur, saya akan kembali pada agama saya semula agar kita bisa menikah secara islam”.
Hati Nurjannah plong mendengar penegasan dari Daniel Hatu itu.
 “BagaImana Nur  ? “. 
Daniel masih penasaran karena Nurjannah masih belum memberikan penegasan. Nurjannah, walaupun dia sudah ingin segera menjadi istri Daniel, namun dia masih ingat cerita Bu Supit tentang bekas suaminya itu.
“Saya mau menjadi istri Bung, tapi saya tidak mau bung berlaku kasar pada saya. Saya tidak mau disamakan dengan Bu Supit yang sering dipukul oleh bung Daniel. Saya tidak mau itu terjadi. Lebih baik saya tetap jadi janda daripada menerima perlakuan seperti itu. Nurjannah melihat reaksi Daniel yang seperti  tak percaya terhadap pendengarannya. Kok Nurjannah tahu tentang tabiatnya yang memang cepat tangan  jika sedang marah. Namun karena Nurjanah sudah mengetahui hal itu, mau tidak mau dia harus mengakuinya dan berjanji tidak akan  melakukannya terhadap Nurjannah.
“Nur…. Itu masa lalu Nur. Saya akui itu pernah terjadi. Itu reaksi spontan , kemarahan sesaat  dan itu terjadi ada sebabnya. Tanpa sebab hal seperti itu tak akan pernah terjadi. Tapi sudahlah, saya tidak ingin membahas hal itu dengan kamu Nur. Saya yakin hal seperti itu tidak akan pernah terjadi pada kamu Nur. Setiap orang kan punya pembawaan masing masing. Pembawaan kamu kan beda dengan pembawaan Supit yang sering ngeyel dan bikin kesal. Saya yakin hal seperti itu tidak akan terjadi pada kamu“.
“Baiklah. Kalau bung berjanji seperti itu, saya bersedia menerima bung Daniel sebagai suami saya. Bung juga harus ingat bahwa saya janda dengan dua orang anak gadis yang sedang beranjak dewasa. Bung secara instan akan menjadi bapak dari anak anak saya itu. Jangan sampai nanti Bung hanya menginginkan ibunya saja, dan  merasa tidak peduli terhadap anak anak itu”.
Daniel agak jengah juga, kok calon istri ini banyak sekali pesannya yang bagi Daniel seolah sebagai peringatan baginya.
“Saya tidak punya anak Nur, tentu mereka otomatis menjadi anak saya, karena ibunya adalah istri saya. Saya akan jadi bapak yang sebenarnya bagi anak anak kamu, percayalah “.
“Baiklah bung. Kalau bung memang sudah bertekad seperti itu. Kapan Bung akan datamg menemui orang tua saya untuk melamar saya “.
Daniel mulai tersenyum mendapatkan pertanyaan yang sudah diduganya itu.   
“Terserah kamu Nur, bicaralah sama orang tua kamu dan anak anak kamu, dan tetapkan waktunya, saya akan datang dengan keluarga saya melamar kamu.”
         
Dua minggu setelah pembicaraan Nurjannah dengan nyong Ambon itu, Daniel dengan diiringi beberapa anggota keluarga dan kerabatnya  datang melamar Nurjannah kepada orang tuanya . Acara lamaran itu berlangsung lancar dan diputuskan bahwa pernikahan mereka akan dilangsungkan sebulan kemudian.
Sesuai dengan waktu yang sudah disepakati acara ijab Kabul kedua insan itu berlangsung secara sederhana di rumah Nurjannah dengan disaksikan keluarga dekat dari kedua belah pihak.

Hanya berkisar satu setengah tahun sejak perceraiannya dengan Ramadan, suami pertamanya, sekarang Nurjannah sudah mempunyai suami baru pula. Dalam hati dia seolah berkata, bukan Ramadan saja yang bisa mendapatkan istri muda. Dia  ternyata juga bisa mendapatkan suami yang usianya lebih muda darinya, walau usia Daniel hanya  setahun lebih muda dari Nurjannah. Dan Nurjannah merasa, suami barunya ini  tidak kalah tampan dan ganteng dibandingkan Ramadan. 
        
Dalam kenyataannya, Daniel tidak semantab Ramaddan dalam memberi nafkah batin kepada sang istri. Di malam pertama mereka, Daniel gagal memberi nafkah batin itu. Mungkin karena terlalu  bernafsu lepada Nurjannah, belum apa apa Daniel telah selesai. Wajah Daniel Nampak sangat kecewa, namun Nurjannah memahaminya sebagai hal biasa. Dia menganggap Daniel sudah lama tidak melakukannya, sehingga “ tanki ”nya terlalu penuh dan isinya gampang tumpah.  


Namun dalam hubungan berikutnya, pada besok malamnya, hal itu terjadi lagi, Daniel ED lagi dan rasa kecewa kembali bergayut diwajahnya,
Nurjannah yang berharap akan mendapatkan kepuasan dalam hubungan badan dengan suaminya itu jadi bertanya tanya dalam hati. Orang ganteng , nampak begitu jantan dan macho, kok belum apa apa sudah keok ?,  Tapi Nurjannah  tidak mau bertanya, apalagi berkomentar kepada suaminya tentang hal itu . Dia menganggap si suami mungkin terlalu tergesa gesa dan kurang tenang  sehingga dia ED lagi. Nurjannah hanya tersenyum saja, senyum yang bagi suaminya sangat menyakitkan sehingga setelah itu si suami menjadi uring uringan.  
Baru dua kali suaminya gagal itu, Nurjannah belum mau memberi saran agar suaminya itu berkonsultasi kepada dokter ahli tentang kelemahannya itu.  
        
Supit , mantan istri Daniel sudah lama menekan perasaannya atas kelemahan Daniel. Kadang tanpa sengaja dia meyinggung perasaan Daniel yang sangat sensitif kalau bicara soal kekurangannya itu. Kalau Daniel sudah tersinggung, dalam masalah itu, maka kesalahan kecil saja oleh ibu Supit dapat berujung pada kekasaran dan bahkan pemukulan. Sayangnya ibu Supit tidak pernah cerita kepada Nurjannah tentang kemampuan ranjang suaminya itu. Andaikata Nurjannah mengetahui hal tersebut, Nurjannah pastilah tidak akan mau menjadi istri  Nyong Ambon itu.
Sebenarnya ED (Eyakulasii Dini) itu bisa disembuhkan dengan terapi tertentu. Terjadinya karena berbagai sebab dan sebabnya itulah yang dilhilangkan. Nurjannah agak penasaran dan merasa dirugikan oleh ED itu,karenanya dia buka Google untuk mengetahui apa penyebabnya. Ternyata ada 10 hal yang bisa menjadi penyebab ED itu.  Di catat oleh Nurjannah. Diantara sebab sebab itu ada yang bisa diperbaiki dan ada yang dari “sono” nya sehingga hanya bisa dirubah oleh yang punya diri saja. Nurjannah memfokuskan pada beberapa penyebab yang diluar bawaan . Aspek itulah Nurjannah bisa membantu, walau tidak mudah.  

Kehidupan Nurjannah dengan suaminya berjalan normal normal saja, kecuali dalam soal nafkah batin, Nurjannah memang merasa tidak memperoleh nafkah batin yang sewajarnya dari suaminya. Dan tentang masalah ED itu Nurjannah sama sekali tidak berani berkomentar atau memberi saran kepada Daniel, karena Daniel tidak suka kalau Nurjannah meng utik utik masalah itu.Kerja sama dalam membiayai proyek berlangsung seperti hubungan yang dilakukan Daniel dengan mantan istrinya Supit. Dan beberapa kali Nurjannah selalu memperoleh keuntungan dari partisipasi modal yang diberikannya kepada Daniel.  jelas kalau untungnya jauh lebih besar dari bunga deposito bank.
Namun  Nurtjannah harus jeli memonitor pembayaran proyek yang dikerjakan Daniel. Karena Daniel itu banyak kawan dan amat suka mentraktir kawan kawannya jika duitnya sedang banyak. Dan kalau sudah seperti itu kewajiban untuk mengembalikan modal Nurjannah atau menyetor keuntungan kepada istrinya itu suka terlupa. Sering pula Daniel kesal kalau Nurjannah agak rewel dalam meminta kembali modalnya atau meminta bagian keuntungan yang menjadi haknya.

Suatu saat, Nurjannah bertanya tentang bagian keuntungan untuknya, karena dia tahu bahwa proyek sudah selesai dan Daniel sudah dibayar. Ternyata uang bagian Nurjannah itu dipinjamkan Daniel kepada temannya , termasuk uang Daniel sendiri. Temannya  saat itu sedang kepepet karena harus membayar hutangnya yang sudah ditagih  oleh krediturnya.
Nurjannah berkali kali menanyakan bagian keuntungannya itu, dan Nampak Nurjannah agak sedikit menekan dirasakan Daniel, tapi karena uang itu  belum diterimanya dari temannya yang meminjam, dia sabar saja mendengar celotehan istrinya itu. Besoknya  Daniel pulang sore setelah kawannya membayar hutangnya. Dalam saku celana Daniel sudah ada uang dalam amplop yang akan diserahkanya kepada Nurjannah. Ketika Nurjannah pulang dari kantor, begitu ketemu suaminya, dia langsung mengomel soal bagian keuntungan nya yang belum dibayar oleh suaminya itu. Suaminya naik pitam dan mengambil amplop uang itu dari kantongnya dan amplop uang itu dikepretkan Daniel kemuka istrinya. Istrinya mengelak, namun ujung amplop itu tetap mengenai pipi kanan Nurjannah dan meninggalkan bekas yang memerah di pipinya.


Itulah kekerasan terhadap Nujannah yang pertama dilakukan oleh Daniel. Nurjannah agak kaget dengan kejadian itu dan langsung teringat cerita ibu Supit kepadanya. Tapi Nurjannah telat merespon. Setelah amplop uang itu dikepretkannya, dengan nada bersungut sungut Daniel langsung keluar kamar dan menghilang dengan mobil mersinya di keremangan senja pada saat itu. Dia baru pulang setelah tengah malam.  Nurjannah  tidak protes atas perbuatan suaminya itu,  dia tidak menyangka akan di kasari oleh suaminya.Hanya terpaut satu jam setelah kejadian itu, anaknya Nurma datang bertamu kerumah ibunya.  dan melihat bekas memerah di pipi ibunya itu.. Tentu saja si anak bertanya kenapa pipi ibunya merah seperti itu. Nurjannah sulit menjelaskannya dengan berbohong karena itu dia menceritakan kepada Nurma kejadian itu  apa adanya.
                                         ----------
Lebih dari dua tahun sejak Nurjannah bercerai dari Ramadan, tak pernah ada komunikasi antara keduanya. Tiba tiba saja Ramadan menelepon Nurjannah ke kantornya. Semula Nurjannah enggan berbicara dengan laki laki yang telah menyakiti hatinya itu, tapi dia ingat bahwa laki laki yang bernama Ramadan yang terakhir sangat dibencinya itu adalah bapak dari anak anaknya, karena itu telepon Ramadan itu dijawabnya  juga. 
“Apa kabar Nur …” begitu sapa Ramadan kepada Nurjannah.
“Kabar baik , ada keperluan apa kamu menelepon saya “ menjawab Nurjannah dengan sedikit ketus.
“Saya hanya ingin meyakinkan diri saya saja bahwa kamu baik baik saja”
“Saya memang baik baik saja. Ada apa ? Kok kamu seperti  peduli pada  saya ?.”
“Tetap pedulilah, kamu kan ibu dari anak anak saya. Saya dapat kabar, kamu disakiti oleh suami kamu. Kabarnya kamu ditempeleng suamimu. Saya tidak senang mendengarnya.  Enam  belas tahun kita bersama saya tidak sekalipun  menyakiti kamu. Ini belum setahun kamu sudah kena tempeleng oleh suamimu”
Nurjannah agak kaget juga mendengar ucapan mantan suaminya itu. Dari mana dia tahu bahwa suaminya menempeleng dia ?. Padahal kenyataannya tidak seperti itu. Suaminya hanya mengepret dia tapi tidak terlalu keras, Namun ada bekas sedikit memerah di pipinya yang terlihat oleh anaknya saat mengunjungi ibunya. Karena anaknya bertanya Nurjannah terpaksa menceritakan kejadiannya. Kejadiannya  hanya sekejap saja. Itu pun hanya terjadi di kamar ibunya .
Kebetulan Ramadan saat menelepon anaknya Nurma, menanyakan keadaan anak anaknya sambil ngobrol sama anaknya itu.  tanpa sengaja Nurma keceplosan omong tentang kejadian Daniel yang mengepretkan amplop ke muka ibunya sehingga membekas merah dipipin.

Semula Nurjannah sedikit heran  kok mantan suaminya tahu tentang hal kecil yang terjadi antara dia dengan suaminya Daniel ?. Pastilah anaknya Nurma  yang cerita kepada bapaknya.


“Itu urusan rumah tangga saya, kamu tidak perlu turut campur“, berkata Nurjannah kepada Ramadan yang menunggu reaksi dari Nurjannah.
“Disitulah salahnya kamu. KDRT dalam rumah tangga itu sama dengan kejahatan dan dapat dihukum. Kalau kamu bersedia saya mau membantu untuk memproses suamimu agar ditangani secara hukum.
Ramadan dengan tutur bahasanya yang lembut  melanjutkan bicaranya sebelum Nurjannah menanggapi ucapannya.
“Nur saya sudah berpikir matang matang, saya ingin membina kembali rumah tangga kita. Saya akan menceraikan istri saya Ranisa. Dia tidak sesuai dengan saya, dia terlalu muda sebagai istri saya. Saya mohon kamu mau mempertimbangkan untuk menceraikan suami kamu dan kita rujuk lagi menjadi satu keluarga. Saya janji tidak akan jadi beban kamu, saya sekarang banyak proyek, tidak akan mengganggu kamu dalam segi keuangan. Saya ingin bersama lagi dengan kamu dan anak anak kita Mumpung kamu ada alasan minta cerai dari suami kamu yang main kasar, main pukul terhadap kamu. Itu alasan kuat untuk mengajukan gugatan cerai”
Ramadan bicara panjang lebar seolah memberi nasihat kepada sesorang yang tidak tahu hukum. 
           
Nurjannah tidak menanggapi tawaran Ramadan itu. Dia sudah tak percaya lagi kepada mantan suaminya itu. Tidak percaya kepada janji janjinya karena pasti nanti akan dilanggarnya sendiri.
Nurjannah kemudian berucap kepada Ramadan :
“Ramadan , kamu itu bagi saya masa lalu. Percuma kamu berjanji macam macam, saya tidak akan percaya dan pintu hati saya sudah lama tertutup untuk kamu“. Tanpa menunggu jawaban dari Ramadan lagi, Nurjannahpun  menutup telepon itu.                        
Di luar kehidupan dalam rumah tangganya , Daniel ternyata cukup disegani dalam komunitas warga Maluku. Dia dianggap tokoh dan mempunyai hubungan yang luas. Dia mudah mendapatkan proyek proyek kelistrikan. Selain itu terdapat suatu grup yang menjadikan dia sebagai penasihat jika mereka menemui masalah. Grup ini lebih banyak mengandalkan otot dalam usaha mereka. Mereka sering jadi beking orang tertentu dalam mengamankan asset pihak tertentu atau jasa keamanan non formal yang cukup disegani karena banyak hal mereka selesaikan melalui cara cara yang dimulai dengan persuasive , kalau tidak mempan dengan cara intimidasai dan kalau masih ngeyel diselesaikan secara fisik . Penyelesaian dengan cara  terakhir itu sering menghadapkan mereka dengan pihak berwajib . Pergaulan Daniel yang luas sering dapat menyelesaikan atau membebaskan kawan kawannya yang ditangkap polisi karena  terlibat kekerasan. Berkat jasa dan kepiawaian Daniel , juga berkat dia ada uang yang cukup dia bisa membantu  menyelesaikan masalah di kelompok nya itu.  Akhirnya Daniel dikenal secara informal sebagai petinggi dari organisasi yang juga bersifat informal itu. Sayangnya organisasi kawan kawanya Daniel itu sering bikin ribut , penyelesian secara fisik lebih mengemuka ketimbang persuasive maupun intimidasi, sehingga kalau sudah berurusan dengan aparat keamanan, maka Daniel menjadi lebih sibuk dan sering proyeknya menjadi terlambat karena kurangnya waktu Daniel dalam mengawasi proyeknya. Sering pula kalau anak buahnya lalai , si anak buah ditempeleng atau dipukul oleh Daniel. Akibatnya beberapa tenaga andalannya berhenti bekerja dari perusahaan Daniel dan dia keteter sendiri yang berakibat dia di denda dan kadang di default karena pengerjaan proyeknya terlambat. Keuntungan proyek tentu saja menjadi lebih kecil dan bahkan ada proyeknya yang  merugi.

Kerugian tentu berakibat kepada hubungannya dengan partner usahanya, yaitu Nurjannah , istrinya sendiri. Disinilah sering timbul friksi . Nurjannah selalu mengomel kalau uangnya tidak kembali. Dia cerewet dalam menagih haknya kepada Daniel, dan kalau itu terjadi saat Daniel sedang kesal , maka tangannya pun melayang. Nurjannah paling sering kena kepret oleh Daniel, Kepretan bekas petinju yang menimpa muka, pipi, bahkan terkena pada bibir Nurjannah tentulah bibir itu bengkak atau berdarah karena terluka. Sebaliknya sikap Nurjannah bukannya melawan, melainkan menyembunyikan deritanya itu terhadap anak anaknya dan juga terhadap kawan kawanya di kantornya. Dia sering mencari alasan kalau ditanya kenapa pipinya bengkak ?. Dia mencari cerita agar orang orang tidak mengetahui kalau dia terkena kepretan atau dipukul suamin 
Nurjannah anak seorang pamen Polisi , Bapaknya meninggal dunia  setelah  pernikahannya dengan Daniel  berjalan sekitar 4 tahun.  Nurjannah tidak pernah cerita kepada orang tuanya yang tinggalnya cukup berjauhan dengan dia, tentang perlakuan Daniel kepadanya apabila Nyong Ambon itu temperamennya sedang naik. Dia malu karena dia tidak ingin keadaan dalam rumah tangganya diketahui orang lain.
             
Sementara itu anaknya Nurma sudah bekerja pada suatu perusahaan Konsultan dan hanya sekitar 6 bulan bekerja di perusahaan konsultan itu, diapun dilamar oleh seorang ekspat menjadi istrinya. Setelah menikah, Nurma pun pindah ke rumah sendiri yang dibelikan suaminya bagi mereka. Nurma cukup bahagia dalam kehidupan rumah tangganya, sampai suatu saat perusahaan konsultan itu bubar karena klien mereka semakin sedikit sehingga pemasukan lebih kecil dari biaya rutin dan perusahaan konsultan itupun  tutup. Nurma tetap dapat bekerja pada perusahaan lain, dan sementara suami tidak bekerja Nurma lah yang membiayai hidup suaminya sambil menunggu sang suami mendapatkan pekerjaan lagi. Namun apa yang diharapkan oleh suami Nurma , tidak kunjung terwujud, sehingga si suami berniat pulang atau kembali ke negaranya. Dia menginginkan rumah mereka di jual dan mereka pindah ke Negara asal suaminya. Nurma yang sedang meniti karier pada suatu perusahaan distributor , tentu saja agak keberatan kalau pindah ke negeri asal suaminya itu. Banyak persoalan yang akan dihadapinya di sana, apakah dia bisa bekerja  disana?. Bagaimana dengan anak anaknya yang sama sekali tidak mengerti bahasa yang dipakai di kampung halaman bapaknya itu. Namun setelah ditimbang baik buruknya, akhirnya Nurma bersedia pindah dan selama enam bulan  Nurma menganggur. Suaminya bahkan lebih lama lagi menganggurnya. Sampai 7 bulan. Setelah itu keluarga dengan dua anak satu laki laki dan satu perempuan itu hidup tenang dan sejahtera di negeri suaminya  itu.
     
Melda yang juga sudah menjadi gadis remaja, bertemu pula dengan seorang pemuda, bwrnama Sujono  asal Jawa yang halus budi bahasanya, dan cukup lama berpacaran dengan pemuda itu. Si Pemuda   mempunyai usaha sendiri yang dibangunnya bersama teman temannya. Hanya 9 bulan mereka berpacaran , akhirnya Meldapun dilamar dan mereka menikah dan juga punya  dua  anak  perempuan. Kehidupan Melda cukup bahagia dalam tumah tangganya dan mereka tinggal terpisah dari Nurjannah.
         
Setelah anak anaknya pada menikah, Nurjannah tinggal  hanya berdua dengan suaminya. Dia pagi pagi sudah pergi bekerja dan biasanya pulang sudah agak malam. Suaminya biasanya baru bangun sekitar jam sembilan , mandi dan menyantap sarapan pagi yang disediakan pembantu rumah tangga mereka, kemudian keluar mengontrol proyeknya. 
          
Suaminya,  sering pula pulang lebih malam. Pergaulan suaminya yang suka minum minum bersama kawan kawannya itu tidak bisa dihalangi oleh Nurjannah. Suaminya sudah tidak seperti dulu lagi. Sering pulang dalam keadaan mabuk dan, Nurjannah tidak berdaya sama sekali terhadap suaminya itu. Tidak bisa dilarang. Pernah Nurjannah berkomentar tentang kebiasaan mabuknya itu dan tak diduga, tangan si suami pun melayang menempelengnya, sambil berucap : “jangan kau ajari aku soal kebiasan minum ku. Hanya itu kenikmatan yang tersisa pada ku”. 
Nurjannah hanya merintih terkena tempeleng suaminya yang masih setengah mabuk itu. Tapi dia pun sadar bahwa dalam hal ini mungkin suaminya benar. Si suami sudah lama tidak menggaulinya, sebab nya tiada lain ED nya tak kunjung sembuh. Akhirnya Nurjannah jarang sekali “making love” bersama suaminya itu. Dan kalau itu dilakukan suaminya, Nurjannah pasrah saja karena si suami selalu selesai duluan dan Nurjannah sama sekali tidak memperoleh kenikmatan apapun dari hubungan badan dengan suaminya itu.
       
          Hampir tujuh tahun Nurjannah mengarungi bahtera rumah tangganya dengan suaminya yang dulu senyumnya amat manis itu. Kadang Nurjannah termenung , memikirkan nasibnya. Apa  yang diperolehnya dari pernikanahannya yang semula sangat didambakannya itu ? Kebahagiann ?. Jauh dari tu. Sama sekali rumah tangganmya dirasakannya tidak pernah tersentuh kebahagiaan yang didambakan  nya. Kepretan suaminya terhadapnya, tempelengan, bahkan jab suaminya yang  bekas petinju amatir itu sering menyiksanya. Tapi kenapa dia tahan selama itu menjadi istri Daniel yang dipanggilnya bung itu. Rasa malu terlalu mengungkunginya. Dia tidak mau terkesan sebagai perempuan buruk laku sehingga tidak ada suami yang tahan lama lama berumah tangga dengan dia. Dia malu kalau bercerai apalagi kalau dia diceraikan.
      
Kerja sama membiayai proyek kelistrikan dengan suaminya itu juga gagal. Sekitar 60 % tabungannya habis, dipakai untuk memodali usaha Daniel dengan harapan akan memperoleh pembagian keuntungan, namun yang terjadi,  keuntungan  tidak dapat tapi pokok atau tabungannya yang di pinjamkannya itu malah tidak kembali. Dan kalau Nurjannah menagih uangnya, jangankan uang yang diberi melainkan kepretan dan omelan yang diperolehnya.. Nurjannah merasa bertambah miskin semenjak menikah dengan si Bung Daniel itu. Akhirnya logikanya jalan juga. Pasalnya dia  tidak tahan lagi menerima sikap kasar dan main tangan dari suaminya

Pada suatu hari Nurjannah  datang menemui Kepala Bagian Hukum di Bank tempat dia bekerja. Dia curahkan semua kepedihan yang dialaminya kepada Suryawan yang Sarjana Hukum yang menjabat sebagai Kepala Lgal Department di bank kantornya.Nurjannah minta advis kepada Suryawan  tentang bagaimana sebaiknya menyelesaikan penderitaan  yang cukup lama ditanggungnya dan didiamkannya.
Rekan kerja Nurjannah itu amat terharu mendengar uraian Nurjannah. Dia ingat kalau Nurjannah pernah datang bekerja dengan bibir jontor, atau pipinya sedikit sembab. Rupanya itu adalah karena di kepret dan di tempeleng oleh suaminya. Dengan serta merta rekannya yang Sarjana Hukum itu , menyarankan agar menggugat cerai suaminya itu ke Pengadilan agama. Dia berjanji akan membantu membuatkan gugatan ke pengadilan agama, dan dia bersedia menjadi pengacara Nurjannah tanpa dibayar. Nurjannah seperti mendapat semangat baru setelah mendengar nasihat rekan kerjanya yang ahli hukum itu. Selama ini dia khawatir kalau menggugat cerai di pengadilan dia kalah pintar ngomongnya dari suaminya itu, dan ada rasa takut kalau gugatannya ditolak. Pernah didengarnya bahwa KDRT itu harus dibuktikan dengan visum dari dokter atau rumah sakit. Salahnya Nurjannah dia tidak pernah berpikir akan minta cerai sehingga dia tidak punya visum sebagai bukti bahwa suaminya telah melakukan KDRT terhadapnya. Rekan Kerja Nurjannah, yakin dengan uraian dan kronologi peristiwa peristiwa yang disampaiknan Nurjannah itu dia bisa menggugat cerai suaminya. Karena alasannya tidak hanya KDRT tetapi juga ada masalah kebohongan bahkan penipuan  dalam meminjam duit atau penggelapan modal yang dipercayakan Nurjannah kepada suaminya itu, karena uang  dari Nurjannah itu banyak yang  tidak pernah dikembalikan kepad nya.

Hanya dalam tempo seminggau setelah Nurjannah curhat kepada rekannya itu, naskah gugatan cerai Nurjannah sudah rampung disusun oleh rekan kerjanya itu. Nurjannah sesuju dengan naskah gugatan cerai itu, dan Nurjannah pun menanda tangani surat gugatan itu dan menyampaikannya langsung ke Pengadilan Agama di Jakarta Selatan.
Kebetulan saat Nurjannah menyampaikan gugatan cerai itu , suaminya sedang bepergian ke Semarang dalam rangka mengajukan tender untuk suatu jaringan listrik di Semarang. Ada sekitar tiga miunggu dia berada di kota itu.



Sekembalinya dia ke Jakarta, dia disodorkan Surat panggilan dari Pengadilan Agama Jakarta Selatan untuk bersidang menghadapi gugatan cerai istrinya. Daniel terpana membaca surat itu , seakan tak percaya kalau Nurjannah menggugat cerai dirinya. Lama dia termenung. Harga dirinya sedikit tersinggung. Dia selama ini merasa sebagai seorang suami yang hebat. Tidak mungkin ada yang ingin mencampakkannya. Banyak perempuan yang tertarik padanya. Dia merasa direndahkan dengan adanya gugatan cerai itu. Tapi dalam keadaan seperti itu malahan dia tidak emosi dan tidak marah. Dalam pikirannya, dia bahkan ingin menunjukkan kepada Nurjannah bahwa dia tidak takut bercerai darinya. Baginya amat mudah mendapatkan serang wanita sekelas Nurjannah. Dia tetap merasa sebagai pemuda yang ganteng, walau usianya saat itu sudah empat puluh enam tahun.
Dengan mata tak berkedip di tatapnya Nurjannah yang baru saja memberikan surat panggilan Pengadilan Agama itu kepadanya, sambil berucap.
“ Kamu serius mau cerai dengan saya Nur”.
“Iya. Saya sudah tidak tahan lagi menjadi istri kamu”. Nurjannah mulai memanggil suaminya dengan “kamu” yang selama ini selalu memanggil suaminya itu dengan “bung””.
“Baiklah kalau begitu mau kamu. Besok juga saya bisa cari perempuan yang lebih cantik dan lebih baik dari kamu”.
Nurjannah hanya diam saja., tidak berkomentar atas celotehan suaminya itu.  Suaminya diam, tidak bicara lagi. Dia hanya memandang kepada Nurjannah sambil mengeleng gelengkan kepalanya seolah  tidak percaya bahwa istrinya itu mengguat cerai kepadanya. Tapi dia tidak Nampak emosi .
Nurjannah juga diam saja. Jantungnya deg deg an , dia gak tahu apa yang akan dilakukan suaminya yang temeperamental itu kepadanya. Apakah dia akan mengamuk dan memukulinya ?. Nurjannah sudah pasrah dan akan menghadapi saja apa yang akan terjadi  terhadap dirinya. Dia mampak siap  dan tidak memperlihatkan ketakutannya menghadapi suaminya itu.
Diluat dugaan Nurjannah , suaminya malahan berkata.
“Oke lah Nur, kita ketemu di pengadilan.”
Daniel berdiri dan  masuk ke kamar. Mengambil koper dan mengisi koper itu dengan pakainnya yang dipindahkan dari lemari khusus yang berisi segala macam pakaian dan barang barang miliknya.
Nurjannah tetap di ruang tamu rumah itu. Dia tidak ikut masuk ke kamar dan menunggu saja apa yang akan dilakukan suaminya itu. Dia merasa jeri juga masuk ke kamar, khawatir suaminya itu gelap mata dan melampiaskan kemarahannya atas gugatan cerai Nurjannah  padanya.

Ada satu jam Daniel di kamar itu. Tidak lama kemudian dia keluar dengan menenteng sebuah koper besar dan sebuah travelling bag yang tadi dibawanya masuk . Traveling bag itu berisi pakaian dan perlengkapannya guna keperluan bepergian dari dan ke Semarang.  Daniel membawa koper dan travelling bag itu  langsung ke mobilnya. Dimasukkannya koper dan travelling bag nya itu ke mobil Mecedes S 230 miliknya itu. Tanpa menoleh lagi kepada Nurjannah, dia masuk kemobilnya dan  dihidupkannya mesin merci nya itu dan dijalankannya mobil  perlahan lahan  dan setelah keluar pagar, di gasnya mobil itu seolah dia sudah berada di jalan toll.
Nurjannah menarik napas lega. Dia bersyukur bahwa suaminya itu ternyata tidak naik emosinya dan tidak memukulnya pula atas gugatan cerai itu.  Padahal dia takut setengah mati kalau itu terjadiPada tanggal yang sudah ditetapkan Nurjannahpun hadir di Pengadilan Agama Jakarta Selatan bersama pengacaranya yang adalah rekan sekantor nya yang sarjana hukum itu. Daniel hadir sendirian, tanpa pendamping dan terlihat amat rapi memakai kemeja krem dan Dasi warna coklat muda dengan celana panjang berwarna coklat tua. Tampak kalau Daniel sedang menunjukkan kegantengannya . Dia sering tersenyum, bahkan kepada pengacara Nurjannah.  Mereka bersidang di Ruang Sidang No. 3.
Ada tiga  orang hakim dan seorang panitera di ruang itu. Hakim memulai sidang dengan menanyakan identitas mereka yang hadir di sidang itu, dimulaI dari Nurjannah, Pengacaranya dan kemudian Daniel. Setelah minta penjelasan tentang identitas mereka, Hakim Ketua membacakan pokok tuntutan Gugatan Nurjannah  dan memastikan bahwa Nurjannah paham akan arti gugatannya itu dan paham pula akan konsekwensi apabila gugatan itu dikabulkan, Kemudian Hakim Ketua bertanya kepada Daniel apakah mengerti maksud gugatam cerai yang dilakukan istrinya tersebut.Daniel pun  menjawab , mengerti. Apakah menyetujui atau menerima gugatan cerai dari penggugat ?. Daniel menjawab “Tidak menerima”.
Hakim ketua bertanya:  “Kenapa tergugat tidak menerima?”. Dijawab oleh Daniel sambil tersenyum :” Saya tidak setuju bercerai dengan dia yang mulia, karena saya masih mencintainya”. Daniel pun melirik kepada Nurjannah. Kemudian, melanjutkan bicaranya. “Menurut rasa hati saya istri saya Nurjannah juga masih cinta kepada saya”.
Hakim ketua melihat kepada Nurjannah , dan langsung bertanya : “Bagaimana itu  penggugat ? Betul apa yang dikatakan tergugat?”
“Tidak betul yang mulia, saya sama sekali tidak mencintainya lagi. Saya sudah cukup menderita yang mulia. Saya sudah tidak tahan lagi hidup bersama dia. Mohon yang mulia tidak mengubris permintaannya.  Dia laki laki kejam yang gampang marah  dan cepat tangan. Kalau dia sedang emosi, kesalahan saya sedikit saja dipersoalkan dan kalau saya jawab tangannya langsung memukul saya”.
Daniel tersenyum mendengar jawaban Nurjannah dan langsung menukas : “Kalau saya seperti itu mana mungkin dia tahan menjadi istri saya sampai tujuh  tahun Yang Mulia.  Kami saling mencntai Yang Mulia, mungkin akhir akhir ini istri saya tertarik pada laki laki lain , sehingga mencari alasan yang di buat buat “
Nurjannah amat geram mendengar tuduhan suaminya itu. Tapi dia tidak berdaya membantahnya. Nurjannah terbawa emosi dan hanya bisa menitikkan air mata karena kesal.
Pengacara Nurjannah ikut memberikan argumentasi yang menguatkan gugatan Nurjannah. Daniel dengan pintar memanfaatkan lamanya hubungan perkawinan mereka yang mencapai tujuh  tahun itu sebagai kerangka acuan bahwa selama ini hubungan mereka baik baik saja.


Sidang hari pertama itu diakhiri karena kedua belah pihak tetap pada pendiriannya, dan Sidang dilanjutkan sepuluh hari sejak hari itu.
Pada sidang ke dua, sepuluh hari setelah sidang pertama, Nurjannah membawa anak anaknya sebagai saksi di persidangan. Anak anaknya menjadi saksi atas kebenaran alasan Nurjannah bahwa suaminya sering kasar dan memukulnya. Dalam kesaksian anak anaknya mengungkapkan bahwa ibunya sering terlihat sembab pipinya, atau bibirnya terluka dan mereka yakin bahwa itu adalah perbuatan dari bapak tirinya yang benama Daniel itu. Sidang hari kedua ditunda lagi dilanjutkan seminggu berikutnya pada hari yang sama.

Pada hari Minggu sore, Nurjannah sedang sendirian di rumah. Pembantunya sedang keluar bersama temannya sesama pembantu.Tiba tiba sebuah mobil Mercedes meluncur ke pekarangannya. Nurjannah terkesiap, karena dia amat mengenal mobil itu sebagai mobil suaminya Daniel. Daniel turun dari mobilnya setelah memarkir mobil itu Dia tersenyum kepada Nurjannah dan mengulurkan tangannya bersalaman dengan Nurjannah. Nurjannah sebenarnya enggan bersalaman dengan laki laki yang sudah dibencinya itu. Tapi disalaminya juga suami yang akan diceraikannya tersebut. Daniel tampak ramah sekali kepada Nurjannah.
“Apa kabar Nur. Nampaknya kamu sehat dan semakin cantik aja ya“. Berkata Daniel sambil melepaskan senyum manisnya. Senyum yang dulu amat memikat bagi Nurjannah, tapi kini tidak lagi.
Dia tidak menjawab  dia tersenyum sedikit dan kemudian diam. Sementara itu Daniel juga diam. Masih Nampak kaku hubungan keduanya, walaupun mereka belum bercerai secara resmi.
“Nur……. Saya masih sayang sama kamu Nur. Saya masih cinta kamu. Tapi saya akan penuhi permintaan cerai kamu. Tidak usah kawatir soal cerai itu. Pasti kamu dapat.
Tapi Nur,  …. Saya ingin kita berpisah baik baik , Berpisah dengan kenangan manis. Saya sekarang bukan Daniel yang dulu lagi. Bukan lelaki yang cepat selesai karena eyakulasi dini. Saya sudah normal Nur. Itulah yang ingin saya buktikan kepada kamu. Mungkin bisa jadi kenangan manis bagi kamu sebelum kita benar benar berpisah. “
Nurjannah, menjadi pucat mendengar Daniel bicara begitu. Nurjannah mengerti , Daniel akan membuktikan kepadanya kejantanannya yang selama ini tidak pernah terbukti. Nurjannah diam saja belum memberikan persetujuan atas keinginan suaminya itu.   Daniel kembali bicara.
“Hanya sekali saja Nur. Untuk membuktikan cinta dan sayang saya kepada kamu Nur. Sehabis hari ini kita kan tidak akan bertemu lagi.” Nurjannah masih diam tidak bicara sepatah katapunDaniel, limabelas  menit sebelum sampai kerumah Nurjannah, ternyata telah menelan sebutir Viagra, pil biru yang ampuh itu. Pil biru itu nampaknya sudah bereaksi. Tanpa menunggu jawaban Nurjannah, Daniel berdiri dan memegang tangan Nurjannah. Nurjannah kemudian berdiri dan bagai kerbau yang dicocok hidungnya, Nurjannah ikut saja berjalan bersama Daniel masuk kekamarnya, kamar yang dulu memang kamar mereka berdua. Danielpun mengunci pintu kamar itu.  Gairah yang sejak tadi ditahannya dengan serta merta dilepaskannya . Nurjannahpun tampak sedikit bergairah. Memang Viagra itu  menolong sehingga Daniel ereksi dengan mantab, Tapi tidak berpengaruh pada penyakit ED yang diidap Daniel. Nurjannah merasakan Daniel jauh lebih baik dari selama ini, walau masih tetap cepat selesainya.
Tidak lama setelah mereka ML (making love)  dikamar Nurjannah. Daniel pun berpamitan. Dia cium Nurjannah dipipinya dan dengan senyumnya yang khas dia berucap kepada Nurjannah.
“Baiklah Sayang, besok kita berjumpa lagi di Pengadilan.” Daniel tanpa menunggu jawaban Nurjannah pun pergi dan memghilang dengan mobilnya.


Nurjannah kembali duduk  terperangah dengan kejadian itu. Kejadian itu cepat sekali. Hanya sekitar 12 menit sejak kedatangannya dan mungkin hanya sekitar satu setengah menit mereka berada di kamar. 
“Kalaulah dia sebaik itu terus, tentu aku tidak akan menggugat cerai dia”, berguman Nurjannah dalam hatinya.

Besoknya setelah peristiwa itu, Nurjannah berjumpa lagi dengan Daniel di ruang sidang Pengadilan Agama yang sedang menggelar perkara gugatan cerai Nurjannah terhadap suaminya. Sebagaimana sebelumnya, hadir pada sidang itu  Nurjannah bersama pengacaranya dan Daniel suami Nurjannah sebagai tergugat. Setelah Hakim Ketua membguka sidang dan memeriksa catatan  perkembangan sidang sebelumnya, sang Hakim Ketua langsung bertanya kepada Nurjannah, apakah Nurjannah tetap dengan gugatannya ?  Nurjannah membenarkan , bahwa tetap meneruskan gugatannya. Lalu hakim ketua itu bertanya kepada tergugat , suami Nurjannah.
“Penggugat tetap pada gugatannya. Bagaimana dengan tergugat. ?”
“Saya masih mencintai istri saya Yang Mulia. Sebenarnya istri saya juga masih mencintai saya. Semalam kami masih berhubungan badan Yang Mulia. Kalau dia tidak mencintai saya lagi mana mungkin dia mau bersebadan dengan saya”’
Muka Nurjannah memerah, dia malu luar biasa.  Juga amat marah, tangannya dikepalnya , ingin dia mendatangai suaminya itu dan  menempelengnya. Giginya gemeretak karena geram, tiada lagi rasa takut pada suaminya itu. Tapi akal sehatnya masih bekerja , dan tanpa di duga diapun menangis, terisak dan berkata :
“Saya takut pak Hakim. Dia mendatangi saya saat saya sendirian dirumah. Dia tarik tangan saya saat saya masih duduk dan dibawanya masuk ke kamar. Saya berpikir dia akan membunuh saya, ternyata dia hanya ingin melampiaskan nasfu binatangnya. Terus terang semenjak dia datang sampai dia pergi setelah mengerjai saya, saya tidak bicara separah katapun kepadanya. Saya takut sekali Yang Mulia. “
Nurjannah tetap  menangis sesengutan.
“Jadi penggugat , terpaksa melakukannya karena takut kepada  tergugat ?”
“Betul yang mulia” menjawab Nurjannah sambil terisak.
‘Bagaimna dengan tergugat, apakah benar penggugat tidak bicara sepatah katapun kepada anda?
"Iya  , yang mulia”
“Kalau begitu jelas bahwa penggugat melakukan hubungan badan dengan tergugat bukan karena cinta ,melainkan karena takut terhadap tergugat.
Itu kesimpulan kami dalam soal hubungan badan antara tergugat dengan penggugat malam kemaren”. Kemudian sidang di skors dan Hakim berunding untuk mengambil keputusan terhadap perkara Gugatan Nurjannah melawan Tergugat Daniel Hatu, sang suami dari Nurjannah.

Setelah sidang dibuka kembali, Hakim Ketua langsung membacakan amar keputusannya , singkatnya Pengadilan Agama Jakarta Selatan, setelah  memeriksa , menyidangkan dan mempertimbangkan keterangan keterangan dari Penggugat, Tergugat dan saksi saksi, maka  dst    dst   dst …….. Memutuskan , mengabulkan gugatan dari penggugat  keseluruhannya “
Artinya, Nurjannah memenangkan gugantannya dan, resmi bercerai dari Daniel terhitung mulai tanggal penetapan Pengadilan Agama hari itu.  
Daniel akhirnya pasrah dan menerima keputusan Pengadilan Agama  Jkt Selatan itu. Dia menyalami hakim dan panitera, Kemudian dengan tetap tersenyum dia mendatangi Nurjannah, menyalami Nurjannah dengan tetap tersenyum, walau  senyum itu nampak kecut. Pengacara Nurjannah ikut disalami oleh Daniel. Nurjannahpun berdiri dan maju ke depan dan menyalami pula para hakim dan panitera.
Dalam perjalanan pulang Nurjannah menelepon anak anaknya memberitahukan keputusan Pengadilan Agama  Jakarta Selatan yang mengabulkan gugatannya. Anak anaknya  bersyukur  atas keputusan itu, dan mereka yakin ibu mereka sudah terbebas dari KDRT mulai sekarang. 

No comments:

Post a Comment