MENINGGAL DALAM SENGSARA
Nurjannah dapat telepon dari anaknya bahwa bapak anaknya itu sudah berpulang. Nurma anak Nurjannah terdengar terisak ketika
menyampaikan berita itu. Bapak Nurma adalah mantan suami Nurjanah. Dia sudah
sebulan dirawat di rumah sakit karena menderita kanker usus. Nurjannah sama
sekali tidak berduka mendengar kematian mantan suaminya itu. Terlalu berat bagi
Nurjanah untuk memaafkan perlakuan mantan suaminya itu terhadapnya. Dia tidak habis pikir lelaki yang dicintainya
sepenuh hati itu sampai hati
mengkhianati cintanya. Nurjannah merasa sudah memberikan segalanya kepada
kekasih hatinya itu, cinta , kasih sayang yang menghasilkan dua orang putri
mereka yang cantik. Bahkan saat suaminya kesulitan keuangan dalam menyelesaikan
proyek proyeknya Nurjanah ikut menyuntikkan modal baginya. Pernah pula uangnya
tidak kembali karena peroyek itu rugi. Bahkan ketika Ramadan tidak ada proyek alias
menganggur, maka Ramadan pun menjadi tanggungan Nurjannah karena Nurjanah lah
yang memberinya nafkah dan membiayai hidupnya.
Setelah hening sejenak , Nurjannah akhirnya
bicara kepada anaknya Nurma yang masih menunggu reaksi ibunya .
“Jadi
jenazahnya dimana ?. Masih dirumah sakit ?”
“Iya Ma.
Masih dirumah sakit. Sekarang sedang diurus surat kematian dan administrasi
lainnya.“
“Oke lah ,
nanti mama datang”.
Dalam hatinya Nurjannah merasa tidak perlu
melayat mantan suaminya itu. Namun karena ingin menenggang perasaan anaknya
yang mengharapkan kedatangannya, diapun
melawan hati kerasnya , dan hanya demi
anaknya sajalah dia mau melayat laki laki mantan suaminya itu.
Dalam
perjalanan, di mobilnya yang
dikendarainya sendiri dia berusaha mengingat ingat kenangan manis tentang
kebaikan lelaki yang menjadi pacarnya sejak gadisnya itu yang kemudian
berlanjut ke pelaminan. Namun semua kenangan indah itu cepat tertutup awan gelap
karena yang terbayang lebih banyak luka hati karena perbuatan suaminya
yang sangat menyakitkan baginya.
Saat Nurjannah sampai di rumah sakit , anaknya datang
memeluknya sambil terisak berkata kepadanya : “maafkan papa ya Ma”. Nurjannahpun
memeluk anaknya itu dan mengusap usap punggung anaknya, menyabarkan anaknya
atas duka nya.
Kemudian
Nurjannah hanya bicara sepatah kata saja, “Iya.”. sehabis itu dia tidak bicara
lagi.
Nurjanah
sama sekali tidak merasa sedih melihat wajah mantan suaminya yang sudah terbujur
kaku di kamar mayat di Rumah Sakit Pelni di Petamburan yang tidak terlalu jauh
dari rumah Nurjanah
Adik Nurma ,
Melda ternyata juga sudah sampai di disana dan ikut memeluk ibunya sambil juga
terisak. Namun Melda tidak berkata apa apa. Dia amat maklum kalau bapaknya
banyak kesalahan terhadap ibunya yang amat setia kepada papanya, namun tidak
diimbangi si papa dengan berbuat hal yang sama.
Tidak
lama setelah Nurjannah melihat si mayit, Ranisa
istri muda suaminya pun datang menyalaminya. Ranisa itu masih sangat
muda, hanya berbeda usia sekitar 5
tahun lebih tua dari Nurma anak pertama Nurjannah yang berusia sekitar
18 tahun. Nurjannah menerima salam
Ranisa itu sekedarnya saja. Ranisa Nampak sedih, namun ada perasaan lega di
hatinya. Dia lega karena Ir. Ramadan suaminya yang meninggal itu sudah cukup
lama menderita sakit. Ramadan adalah seorang pengusaha, seorang kontraktor
istilah umum dia itu pemborong. Sebagai pemborong kadang ada proyek dan kadang
tidak ada. Ramadan sejak berpisah dengan Nurjannah kebanyakan menganggur dan
dalam waktu yang cukup lama menganggur itu, tentu saja keuangannya morat marit,
sehingga Ranisa yang bekerja di
Departemen PU sebagai pegawai negeri itulah yang membiayai hidup mereka.
Kehidupan mereka semakin hari semakin sulit, terlebih setelah diketahui bahwa
Ramadan yang mulai sakit sakitan itu ternyata mengidap kanker usus.
Selama dua
tahun dia berobat jalan, dan sebulan terakhir dirawat di Rumah Sakit karena
semakin parah. Dia sudah tidak bisa
buang air besar melalui anusnya. Untuk membantu mengeluarkan kotoran (feses)
maka perutnya di sebelah kanan dibolongi sebagai pengganti anus dan dipasang
sebuah kantong yang disambung langsung ke ususnya untuk menampung kotorannya. Itulah
usaha dokter untuk mengatasi kesulitan Ramadan yang tidak bisa buang air besar
melalui anusnya. Apabila kotoran tidak
dikeluarkan, maka kotoran itu dapat meresap kembali ketubuhnya dan menjadi racun
pula baginya. Terlihat kalau penyakit itu sangat menyengsarakan Ramadan. Ranisa
amat kasihan atas penderitaan suaminya yang dicintainya itu.
Dengan berakhirnya penderitaan Ramadan,
maka sekarang beban Ranisa terasa diangkat darinya. Namun dia tidak menyesal
mengawini laki laki yang berbeda usia dua puluh dua tahun lebih tua dari
dia. Dia cukup bahagia hidup sebagai
suami istri bersama Ramadan. Ramadan orangnya ganteng, pandai bicara dan memang
hebat dalan soal menggaet perempuan.
Ranisa baru mengetahui enam bulan sebelum suaminya mulai sakit, ternyata ada lagi perempuan lain
selain Nurjannah yang diketahuinya sebagai istri Ramadan. Perempuan lain itu
berasal dari Padang. Tapi Ranisa tidak komplain
kepada suaminya, dia hanya bertanya apakah betul suaminya itu punya istri pula di Padang.
Ramadan dengan enteng menjawab, betul tapi sudah diceraikannya. Ramadan pun
menjelaskan , kejadiannya sudah lama ,
saat itu dia sangat kesepian dan khilaf dan merasa menyesal menikahi perempuan itu. Ramadan pun memberikan berbagai alasan.
Dikemukakannya bahwa ternyata itrinya itu hanya suka padanya saat saat
uangnya masih banyak saja. Dia tidak sesuai menjadi istri pengusaha kontraktor
yang kadang banyak uang kadang ada masa sulit dan susah dalam hal keuangan.
Ranisa dapat memahami penjelasan Ramadan sehingga hidup mereka tampak tetap
bahagia, tidak terpengaruh terhadap info bahwa
Ramadan punya istri di Padang itu.
----------------
Sehabis
melayat di Rumah Sakit, Nurjanah langsung pulang. Dia tidak ikut mengantar jenazah mantan
suaminya itu ke rumah Ranisa. Dan Jenazah Ramadan diberangkatkan ke makam di
Karet bivak setelah di syalatkan di rumah Ranisa . Ranisa , Nurma dan Melda
ikut dalam ambulance yang membawa jenazah Ramadan itu ke rumah Ranisa. Anak Ramadan Nurma dan
Melda ikut menyaksikan pemakaman papa
yang mereka sayangi itu sampai selesai.
---------------
Ramadan pernah mendapat proyek pembangunan
pemukimann transmigrasi di Sitiung Sumatra Barat dan selama pengerjaan proyek
itu dia sering mengunjungi kantor Wilayah Transmigrasi di Padang. Disitu dia sering bertemu dengan seorang sekrertaris
di kantor itu. Sang sekretris yang cantik dan masih singg’.--]]]le itu ternyata
gampang pula tertarik pada Ramadan yang ganteng dan juga baik hati . Syawalida,
nama sekretaris itu sering diajak makan siang oleh Ramadani. Mula mula makan
siangnya bersama beberapa kawan sekantor
Syawalida namun makin lama makin dibatasi dan akhirnya sering hanya berdua dan
dihari Minggu beberapa kali mereka jalan jalan berdua ke tempat tempat wisata.
Ramadan pun akhirnya dikenal oleh keluarga Syawalida sebagai calon suami anak
mereka. Ramadan yang pandai bergaul itu tidak sulit masuk dan mendekatkan diri
pada keluarga Syawalida.
Hanya enam
bulan mereka memadu kasih dan Ramadan dengan Syawalida pun mengikatkan diri
sebagai suami istri. Ramadan pun tinggal dirumah Syawalida.
Adalah
Mukhtar Ramli Kepala Kanwil Transmigrasi
di Padang itu yang ikut menyokong
perkawinan mereka. Muchtar senang kepada Ramadan, karena pekerjaan proyek yang
dipercayakan kepadanya terlaksana dengan bajk. Ramadan juga dipandangnya cukup
pandai membawa diri dan pandai mengambil hari Muchtar, karena dia tidak pelit
dalam membagi keuntungan atas proyek yang dkerjakannya.
Keluarga Syawalida amat bersyukur karena anak
mereka memperoleh seorang suami yang Insinyur, pengusaha, yang uangnya
pastilah banyak, karena Ramadan sehari harinya dalam hal uang rampak royal
kepada keluarga Syawalida. Apalagi nama mereka amat serasi sebagai nama bulan
yang berurutan dalam tarikh Islam, setelah Ramadan maka Syawal adalah bulan
berikutnya. Ramadan dan Syawal itu tidak bisa dipisahkan bahkan selalu harus
seiring sejalan. Keluarga Syawalida menganggap hal itu merupakan takdir bagi
keluarga mereka dan merupakan pertanda baik. Syawalida memperoleh calon suami
yang dari segi nama saja sudah sangat serasi. Begitulah harapan dari kedua
orang tua Syawalida kepada Ramadan.
Setelah
menikah Ramadan yang biasa kost di suatu tempat di Padang, merasa amat
beruntung. Dari segi biaya pengeluarannya tidak akan berbeda banyak.. Sekarang
tidak perlu bayar kost, tinggal di rumah istri yang cantik dan jadi orang
terpandang dan menantu yang disegani pula oleh keluarga istrinya. Tidak perlu
repot lagi untuk makan ke warung atau membuat sarapan pagi sendiri. Sekarang
semua ada yang melayani, bukan hanya soal makan , minum dan mencuci pakainya ,
bahkan kebutuhan batiniah pun diperolehnya secara
Nurjannah
, istri Ramadan di Jakarta adakah wanita
karir. Dia bekerja di suatu bank asing di Jakarta. Kepergian Ramadan ke Sumatra
Barat dalam rangka mengerjakan proyek transmigrasi di Sumatra Barat itu adalah
atas persetujuannya. Nurjannah sama sekali tidak pernah berfikir yang bukan
bukan terhadap suaminya. Mereka sudah dikaruniai dua orang anak perempuan yang
cantik. Suaminya pastilah tidak akan macam macam disana. Punya istri yang
cantik, berkedudukan sebagai Manager di suatu Bank Asing bukanlah posisi sembarangan.
Punya anak anak perempuan yang cantik dan berprestasi di sekolah mereka sebagai
juara di kelas mereka masing masing dan
pula kedua putrinya itu sangat disayang
oleh Ramadan, tentulah akan mengikat suaminya sehingga kecil kemungkinannya
Ramadan akan macam macam terhadap keluarganya. Begitulah jalan pikiran
Nurjannah yang lurus itu.
------------------------
Berbeda dengan Ranisa, Nurjannah merasa tertipu mentah mentah , dia percaya
kepada suaminya yang saat itu sedang mengerjakan proyeknya di Sumatra
Barat tak tahunya dia malah kawin lagi
disana. Lebih sakit lagi hatinya . suaminya meminta uang padanya dengan alasan
untuk memperlicin pengeluaran termijn . Uang pun dikirim oleh Nurjannah ,
tetapi akhirnya Nurjannah yakin kalau uang itu adalah untuk keperluan pernikahannya dengan seorang perempuan di
Padang. Nurjannah membandingkan tanngal pengiriman uang kepada suaminya itu berkisar
dua minggu dari tanggal saat si suami menikahi itri barunya itu. Setelah itu
sering pula suaminya meminta uang menjelang pembayaran termijn proyek. Ramadan meminta uang untuk keperluan
hidupnya dan tentu saja Nurjannah tidak
ingin suaminya kesulitan di sana dan dengan segera memenuhi permintaan suami tercinta itu.
Terakhir dia tahu bahwa uang itu juga dipakai untuk menafkahi istrinya disana.
Mulanya Ramadan merasa aman aman saja dan tidak khawatir dengan
perbuatannya itu. Ketika istrinyan
ingin mengambil cuti dan akan berkunjung ke tempat suaminya , dengan pandainya
dia menghalangi niat istrinya itu dengan berbagai dalih. Bahwa dia tinggal di
Sitiung. Sitiung itu masih hutan, tidak ada hotel disana. Dia mengaku selalu
ada di proyeknya dan tinggal di barak barak bersama pekerja proyek itu. Proyrk
itu harus tetap diawasi , kalau tidak macam macam bisa terjadi dan akhirnya
bukan untung melainkan buntung, kata Ramadan. . Karena itu dia tinggal di barak
bersama pegawainya disana. Sebab kalau tinggal di Padang terlalu jauh butuh
waktu 11 sampai 12 jam pakai mobil antara Padang ke Sitiung. Mendengan
kesulitan demikian Nurjannah membatalkan niatnya dan bahkan dia merasa iba pada
suaminyan itu yang bekerja sangat keras dalam mengerjakan proyek tersebut.
Sepandai pandai tupai melompat sesekali jatuh juga. Begitulah
akhirnya kelakuan Ramadan itu diketahui oleh seorang Tante Nurjannah yang
tinggal di Padang. Dia beberapa kali memergoki Ramadan berjalan mesra bersama
seorang Perempuan. Si Tante merasa penasaran dan berusaha mencari informasi
tentang perempuan itu yang akhirnya diketahuinya bahwa perempuan yang berjalan
mesra bersama Ramadan itu adalah pegawai pada Kanwil Transmigrasi di Padang dan
adalah istri Ramadan. Dia pun dengan pandainya menggali informasi tentang
perempuan itu . meminta alamat dan keterngan keterangan lain tentang perempuan itu dari Kanwil Transmigrasi itu. Tanpa rasa curiga semua informasi penting tentang istri Ramadan
itupun disampaikan dengan komplit oleh seorang pegawai Tata Usaha di Kanwil
Transmigrasi itu kepada seorang perempuan yang mengaku tante dari Ramadan
yang bertanya melalui telepon. Setelah memperoleh kepatian bahwa Ramadan memang
sudah menikah lagi di Padang, si tante
ini bingung, bagaimana cara menyampaikannya kepada Nurjannah. Tapi karena rasa
kasihan kepada keponakannya itu aklhirnya diungkapkannya semua hal yang
diketahuinya itu kepada Nurjannah. Nurjannah semula kurang yakin, namun semua
informasi itu dicatat oleh Nurjannah. Nurjannah mulai percaya atas informasi
tantenya itu karena kalau dikaitkan dengan perilaku Ramadan yang tidak
ingin Nurjannah mengunjunginya di Padang dengan berbagai alasan , maka
informasi dari tantenya itu layak dipercaya.
Tantenya itu,
yang dipanggilnya “etek” menasihatkan Nurjannah agar datang ke Sumatra Barat ,
tepatnya ke Padang untuk melihat bagaimana sebenarnya keadaan suaminya itu. Nurjannah tidak mengikuti saran si tante, dia berpikir
kalau hal itu benar, bagamana jadinya dirinya ? Tentu dia akan balik kembali ke
Jakarta dengan hati hancur dan mental breakdown. Biarlah kalau memang dia sudah kawin lagi, itu sudah terjadi dan nasi sudah menjadi bubur,
apa yang harus diperbuat ?. Tunggu sajalah bagaimana nanti, kalau dia datang
baru masalah ini diselesaikan. Begitu jalan pikiran Nurjannah yang pasrah saja
atas kejadian itu dan dia hanya berdoa kepada Allah agar diberi kekuatan
menghadapi cobaan tersebut. Dia putuskan untuk menelepon suaminya dan bertanya
tentang informasi yang diperolehnya mengenai kelakuan suaminya itu, bahwa dia sudah menikah lagi. Karena terdesak
dan Nurjannah bertanya itu dengan memberikan data tentang nama, alamat, tanggal
menikah serta tempat kerja istrinya maka Ramadan tidak bisa mengelak lagi,
dia mangaku khilaf dan minta maaf pada
Nurjannah. Nurjannnah diam dan tidak menjawab permintaan maaf dari suaminya
tersebut. . Sejak itu dia tidak lagi pernah menghubungi suaminya, tapi
Nurjannah juga tidak mengambil langkah apapun mengenai hubungan suami istri
antara dia dengan suaminya.
Setelah selesai proyek di Sumatra Barat itu , Ramadan pun balik kembali
ke Jakarta. Balik kemana ? Tentu saja ke rumah istrinya Nurjannah. Nurjannah tidak
mengacuhkannya. Tidak memperdulikannya dan tidak memperkenankannya masuk ke
kamarnya. Dia boleh menginap karena di rumah itu ada anak anaknya. Semua kamar
dirumah itu sudah ada yang menempati, termasuk pembantu mereka, sehingga Ramadan terpaksa tidur di Sofa . Anak
anaknya semula nampak ikut membencinya, namun akhirnya anak anak itu kasihan
juga pada bapaknya yang seperti orang luntang lantung di rumah itu . Ada lima harI situasi demikian berlangsung.
Nurjannah setelah bangun tidur, mandi , berpakaian, kemudian sarapan kadang
sendiri dan kadang bersama anak anaknya tanpa menggubris keberadaan Ramadan di
rumah itu. Sebelum berangkat, kamarnya di koncinya dan diapun berangkat ke
kantornya tanpa melihat kepada suaminya yang kadang pagi pagi sudah duduk
di sofa ruang tamunya. Dia sama sekali
tidak menyapa suaminya itu. Ramadan tidak punya tempat lain untuk pergi. Dia
tidak punya uang dan tidak ada jalan lain baginya selain menahan derita atas
perlakuan terhadapnya dirumah itu. Syukurlah pada suatu hari terjadi perubahan.
Pada hari ke enam sejak Ramadan di rumah itu, Nurjannah dengan emosi dan isak tangis yang tidak dibuat
buat melampiaskan kemarahannya kepada
suaminya itu. Suaminya tidak membantah dan tidak punya jalan lain kecuali minta
maaf dan mengaku khilaf dan tentu saja berjanji tidak akan mengulangi
perbuatannya. Adapun istrinya di Padang diakui oleh Ramadan sudah diceraikannya.
Dia ber sumpah pada Nurjannah di depan anak anaknya tidak akan lagi mengulangi
perbuatannya. Akhirnya hati Nurjannah luluh juga dan si suami yang mengaku
khilaf itu dimaafkannya dan rumah tangga mereka damai lagi dan Ramadan boleh
masuk ke kamar Nurjannah lagi.
Setahun setelah kejadian itu, Ramadan
mendapat proyek di Bandung. Proyek pemerintah dimana yang menjadi pemilik
proyeknya adalah Departemen Pekerjaan Umum di Bandung. Kembali si Don Yuan ini dalam
urusan proyek ini sering bertemu dengan seorang sekretaris di Departemen itu.
Awalnya tentu saja dalam urusan proyek . Bertemu sekretaris itu hanya untuk minta
waktu agar bisa menemui Kepala Kantor PU sebagai pemilik proyek itu. Namun sang
sekretaris yang masih sangat muda itu
dan amat cantik serta lembut pula tutur bahasanya membuat Ramadan pun lupa akan sunpahnya kepada
istrinya Naluri Don Yuan nya langsung
bereaksi dan si tampan yang pandai bergaul inipun dengan mudah berhasil memikat
sang sekretaris itu. Ranisa demikian dia dipanggil, akhirnya dinikahi oleh
Ramadan .
Setelah proyek di Bandung selesai, maka Ranisa
pun diajak pindah ke Jakarta oleh Ramadan. Hubungan Ramadan yang baik dengan pejabat PU di Bandung itu
akhirnya persetujuan atas permohonan Ranisa untuk pindak ke kantor PU di
Jakarta dan Ranisa pun dibelikan Rumah
di daerah Kebayoran lama oleh Ramadan. Sejak itu Ramadan memelihara dua istri,
tetapi hanya satu istri yaitu Ranisa yang diberinya uang belanja secara rutin karena
dia tahu gaji Ranisa sebagai pegawai negeri tidak seberapa dibadningkan dengan
penghasilan istrinya yang menjadi Manager di Bank Asing itu.
Nurjannah pun akhirnya mengetahui
bahwa kelakuan suaminya itu belum berubah. Cukup lama juga baru Nurjannah sadar
bahwa suaminya itu sudah kawin lagi. Selama ini kalau Ramadan akan menginap di rumah Ranisa dia selalu
berdalih pergi ke Bandung mengurus tender untuk mendapatkan proyek. Tapi lama
lama intuisi Nurjannah ternyata jalan juga.
Suatu saat
Nurjanah meminta bantuan seorang tenaga
security dari kantornya yang dipercayainya untuk mengikuti perjalanan Ramadan, apakah
benar dia pergi ke Bndung. Pada suatu hari ketika suaminya akan ke Bandung,
security itu pun di kontak Nurjannah dan disuruhnya stand bye di suatu warung
dekat rumahnya dan mengikuti perjalanan Ramadan. Ternyata Ramadan tidak pergi
ke Bandung , melainkan ke Kebayoran Lama dan masuk ke sebuah rumah dan sampai malam tidak keluar keluar
lagi dan nampaknya Ramadan menginap
disana. Security itupun segera menelepon Nurjanah melaporkan hal hal yang
disaksikannya dalam mengikuti Ramadan dari siang sampai malam. Setelah mendapat
laporan itu Nurjannah pagi pagi berangkat menuju rumah dimaksud bersama petugas security bank itu. Sesampai di
rumah itu Nurjannah melihst mobil suaminya diparkir disamping rumah itu.
Jantung Nurjannah berdebar melihat mobil suaminya ada disana. Nujannah geram
namun dia menenangkan dirinya agar tidak emosi ketika berbicara kepada suaminya
itu. Kemudisn tanpa kulonuwun langsung
masuk ke rumah Ranisa yang kebetulan pintunya sedang terbuka, dan memergoki Ramadan yang sedang bercengkrama
sambil ngopi pagi bersama Istrinya Ranisa. Nurjannah langsung duduk di kursi kosong dihadapan
keduanya tanpa basa basi. Nurjannah
memperlihatkan kedewasaannya. Nurjannah sama sekali tidak nampak emosi dan
langsung berbicara kepada Ramadan dengan lantang :
“Ooh ini istri kamu”.
Sambil melihat
kepada Ranisa, Nurjannah lanjut bertanya : “ Siapa nama kamu dik “
Nurjannah
menatap tajam pada Ranisa , membuat Ranisa salah tingkah dan dengan gelagapan
menjawab “Ranisa mbak”
Lalu Nurjannah
, memandang kepada Ramadan yang Nampak pucat dan salah tingkah.
“Apa
penjelasan kamu ?” , bertanya Nurjannah
dengan suara keras kepada Ramadan. Ramadan juga nampak gelagapan. Nurjannah kembali bertanya : “Apa
penjelasan kamu ?“. Lama baru dia menjawab dengan terbata bata. .
“ Iya…… saya
minta maaf. Kami…kami sudah menikah”.
“Saya memang
hanya ingin mendengar pengakuan langsung dari mulut kamu. Sudah ya. Kamu jangan
bersandiwara lagi. Jangan balik lagi kerumah saya ya, Cukuplah sampai disini
hubungan kita. “
Kemudian
Nurjannah pun melihat kepada Ranisa. “Ranisa
, jagalah suamuimu ini baik baik. Jangan sampai kamu nanti kecewa kalau dia
menikah lagi dengan perempuan lain yang mungkin lebih cantik dari kamu. “
Tanpa menunggu
jawaban dari kedua insan yang masih terpana atas kedatangan Nurjannah, yang sama sekali tidak mereka sangka , Nurjannah pun keluar dari rumah itu dan naik kemobilnya.
Di dalam mobil , dia hanya terisak sebentar. Kemudian menghapus air
matanya. Dia perintahkan Security yang
menemaninya itu untuk menjalankan mobilnya , pulang kerumahnya. Di perjalanan
Nurjannah berpesan kepada security bank dari kantornya itu, supaya menjaga
rahasia ini. “Jangan sampai kamu ngomong masalah pribadi saya kepada siapapun
di kantor Ya.” “ Iya Bu” Jawab si petugas security yang bernama Safii itu. Diapun memperoleh
amplop berisi uang Rp.300.000,-dari Nurjannah, senilai setengah bulan gaji security i
Sesampai di rumahnya, Nurjannah dengan tenang menjelaskan kepada anak anaknya bahwa bapak
mereka ternyata sudah menikah lagi. Dengan tersenyum pahit Nurjannah
mengemukakan kepada anak anaknya bahwa mereka sekarang sudah punya ibu baru yang cantik dan masih muda.
Anak anaknya
tidak habis pikir atas kelakuan bapaknya itu. Apa sih yang kurang dari si mama,
apa mama mereka masih kurang cantik ?.
Besoknya Nurjannah berkunjung ke rumah orang tuanya, dan kepada ibu dan
bapaknya diungkapkannya kelakuan suaminya yang kawin lagi itu dan dikemukakan
pula oleh Nurjannah bahwa dia akan segera
menggugugat cerai suaminya. Bapak Nurjannah nampak geram dan dengan suara agak
emosi langsung menyetujui niat anaknya itu dan berpesan. “Kalau ada kesulitan
nanti kamu hubungi papa”. Si Papa yang kolonel Polisi Purnawirawan yang baru pensiun itu masih punya banyak relasi yang bisa di minta bantuannya
dalam berbagai masalah.
Ternyata si
papa tidak perlu turun tangan. Hanya berselang 2,5 bulan sejak gugatan
diajukan, dan dengan 3 kali sidang yang juga dihadiri oleh Ramadan, gugatan
cerai Nurjannah terhadap Ramadan pun dikabulkan oleh Pengadilan Agama Jakarta
Selatan. Keluraga Nurjannah cukup puas
atas keputusan Pengadilan agama itu.
Dalam
persidangan Ramadan mengemukakan bahwa dia tidak ingin bercerai dengan
Nurjannah. Dia mengaku sanggup untuk meceraikan istri mudanya itu dan akan
kembali kepada Nurjannah. Dia ingin ikut membesarkan anak anak nya yang sangat
disayanginya itu bersama Nurjannah. Namun Nurjannah bergeming dari permintaannya
dan Hakim akhirnya menyetujui gugatan cerai Nurjannah. Ramadan tidak berkutik
lagi dan terpaksa menerima keputusan pengadilan agama yang mngabulkan gugatan cerai Nurjannah terhadap Ramadan sang suami
yang dulu amat dicintainya itu.
.
No comments:
Post a Comment