Saturday, April 9, 2016

MENINGGAL DALAM SENGSARA


MENINGGAL DALAM SENGSARA

Nurjannah  dapat telepon dari anaknya    bahwa bapak anaknya itu sudah berpulang.  Nurma anak Nurjannah terdengar terisak ketika menyampaikan berita itu. Bapak Nurma adalah mantan suami Nurjanah. Dia sudah sebulan dirawat di rumah sakit karena menderita kanker usus. Nurjannah sama sekali tidak berduka mendengar kematian mantan suaminya itu. Terlalu berat bagi Nurjanah untuk memaafkan perlakuan mantan suaminya itu terhadapnya.  Dia tidak habis pikir lelaki yang dicintainya sepenuh hati itu  sampai hati mengkhianati cintanya. Nurjannah merasa sudah memberikan segalanya kepada kekasih hatinya itu, cinta , kasih sayang yang menghasilkan dua orang putri mereka yang cantik. Bahkan saat suaminya kesulitan keuangan dalam menyelesaikan proyek proyeknya Nurjanah ikut menyuntikkan modal baginya. Pernah pula uangnya tidak kembali karena peroyek itu rugi.  Bahkan  ketika Ramadan tidak ada proyek alias menganggur, maka Ramadan pun menjadi tanggungan Nurjannah karena Nurjanah lah yang memberinya nafkah dan membiayai hidupnya.

Setelah hening sejenak , Nurjannah akhirnya bicara kepada anaknya Nurma yang masih menunggu reaksi ibunya .
“Jadi jenazahnya dimana ?. Masih dirumah sakit ?”
“Iya Ma. Masih dirumah sakit. Sekarang sedang diurus surat kematian dan administrasi lainnya.“
“Oke lah , nanti mama datang”.

Dalam hatinya Nurjannah merasa tidak perlu melayat mantan suaminya itu. Namun karena ingin menenggang perasaan anaknya yang  mengharapkan kedatangannya, diapun melawan hati kerasnya ,  dan hanya demi anaknya sajalah dia mau melayat laki laki mantan suaminya itu.
Dalam perjalanan,  di mobilnya yang dikendarainya sendiri dia berusaha mengingat ingat kenangan manis tentang kebaikan lelaki yang menjadi pacarnya sejak gadisnya itu yang kemudian berlanjut ke pelaminan. Namun semua kenangan indah itu cepat tertutup awan gelap  karena yang terbayang  lebih banyak luka hati karena perbuatan suaminya yang sangat menyakitkan baginya.

Saat Nurjannah  sampai di rumah sakit , anaknya datang memeluknya sambil terisak berkata kepadanya : “maafkan papa ya Ma”. Nurjannahpun memeluk anaknya itu dan mengusap usap punggung anaknya, menyabarkan anaknya atas duka nya.
Kemudian Nurjannah hanya bicara sepatah kata saja, “Iya.”. sehabis itu dia tidak bicara lagi. 
Nurjanah sama sekali tidak merasa sedih melihat wajah mantan suaminya yang sudah terbujur kaku di kamar mayat di Rumah Sakit Pelni di Petamburan yang tidak terlalu jauh dari rumah Nurjanah
Adik Nurma , Melda ternyata juga sudah sampai di disana dan ikut memeluk ibunya sambil juga terisak. Namun Melda tidak berkata apa apa. Dia amat maklum kalau bapaknya banyak kesalahan terhadap ibunya yang amat setia kepada papanya, namun tidak diimbangi si papa dengan berbuat hal yang sama.
Tidak lama setelah Nurjannah melihat si mayit, Ranisa  istri muda suaminya pun datang menyalaminya. Ranisa itu masih sangat muda, hanya berbeda usia sekitar         5   tahun lebih tua dari Nurma anak pertama Nurjannah yang berusia sekitar 18 tahun.  Nurjannah menerima salam Ranisa itu sekedarnya saja. Ranisa Nampak sedih, namun ada perasaan lega di hatinya. Dia lega karena Ir. Ramadan suaminya yang meninggal itu sudah cukup lama menderita sakit. Ramadan adalah seorang pengusaha, seorang kontraktor istilah umum dia itu pemborong. Sebagai pemborong kadang ada proyek dan kadang tidak ada. Ramadan sejak berpisah dengan Nurjannah kebanyakan menganggur dan dalam waktu yang cukup lama menganggur itu, tentu saja keuangannya morat marit, sehingga  Ranisa yang bekerja di Departemen PU sebagai pegawai negeri itulah yang membiayai hidup mereka. Kehidupan mereka semakin hari semakin sulit, terlebih setelah diketahui bahwa Ramadan yang mulai sakit sakitan itu ternyata mengidap kanker usus.
Selama dua tahun dia berobat jalan, dan sebulan terakhir dirawat di Rumah Sakit karena semakin parah. Dia sudah tidak bisa  buang air besar melalui anusnya. Untuk membantu mengeluarkan kotoran (feses) maka perutnya di sebelah kanan dibolongi sebagai pengganti anus dan dipasang sebuah kantong yang disambung langsung ke ususnya untuk menampung kotorannya. Itulah usaha dokter untuk mengatasi kesulitan Ramadan yang tidak bisa buang air besar melalui anusnya. Apabila kotoran  tidak dikeluarkan,  maka  kotoran itu dapat  meresap kembali ketubuhnya dan menjadi racun pula baginya. Terlihat kalau penyakit itu sangat menyengsarakan Ramadan. Ranisa amat kasihan atas penderitaan suaminya yang dicintainya itu.      
Dengan berakhirnya penderitaan Ramadan, maka sekarang beban Ranisa terasa diangkat darinya. Namun dia tidak menyesal mengawini laki laki yang berbeda usia dua puluh dua tahun lebih tua dari dia.  Dia cukup bahagia hidup sebagai suami istri bersama Ramadan. Ramadan orangnya ganteng, pandai bicara dan memang hebat dalan  soal menggaet perempuan. Ranisa  baru mengetahui  enam bulan sebelum suaminya  mulai sakit, ternyata ada lagi perempuan lain selain Nurjannah yang diketahuinya sebagai istri Ramadan. Perempuan lain itu berasal dari  Padang. Tapi Ranisa tidak komplain kepada suaminya, dia hanya bertanya apakah betul  suaminya itu punya istri pula di Padang. Ramadan dengan enteng menjawab, betul tapi sudah diceraikannya. Ramadan pun menjelaskan ,  kejadiannya sudah lama , saat itu dia sangat kesepian dan khilaf dan merasa menyesal menikahi perempuan  itu. Ramadan pun memberikan berbagai alasan. Dikemukakannya bahwa  ternyata  itrinya itu hanya suka padanya saat saat uangnya masih banyak saja. Dia tidak sesuai menjadi istri pengusaha kontraktor yang kadang banyak uang kadang ada masa sulit dan susah dalam hal keuangan. Ranisa dapat memahami penjelasan Ramadan sehingga hidup mereka tampak tetap bahagia, tidak terpengaruh terhadap info bahwa  Ramadan punya istri di Padang itu.
                                 ----------------
Sehabis melayat di Rumah Sakit, Nurjanah langsung pulang.  Dia tidak ikut mengantar jenazah mantan suaminya itu ke rumah Ranisa. Dan Jenazah Ramadan diberangkatkan ke makam di Karet bivak setelah di syalatkan di rumah Ranisa . Ranisa , Nurma dan Melda ikut dalam ambulance yang membawa jenazah Ramadan  itu ke rumah Ranisa. Anak Ramadan Nurma dan Melda   ikut menyaksikan pemakaman papa yang mereka sayangi itu sampai selesai.   
                                        ---------------
Ramadan pernah mendapat proyek pembangunan pemukimann transmigrasi di Sitiung Sumatra Barat dan selama pengerjaan proyek itu dia sering mengunjungi kantor Wilayah Transmigrasi di Padang. Disitu  dia sering bertemu dengan seorang sekrertaris di kantor itu. Sang sekretris yang cantik dan masih singg’.--]]]le itu ternyata gampang pula tertarik pada Ramadan yang ganteng dan juga baik hati . Syawalida, nama sekretaris itu sering diajak makan siang oleh Ramadani. Mula mula makan siangnya bersama beberapa  kawan sekantor Syawalida namun makin lama makin dibatasi dan akhirnya sering hanya berdua dan dihari Minggu beberapa kali mereka jalan jalan berdua ke tempat tempat wisata. Ramadan pun akhirnya dikenal oleh keluarga Syawalida sebagai calon suami anak mereka. Ramadan yang pandai bergaul itu tidak sulit masuk dan mendekatkan diri pada keluarga Syawalida.
Hanya enam bulan mereka memadu kasih dan Ramadan dengan Syawalida pun mengikatkan diri sebagai suami istri. Ramadan pun tinggal dirumah Syawalida.

Adalah Mukhtar Ramli Kepala Kanwil  Transmigrasi di Padang itu  yang ikut menyokong perkawinan mereka. Muchtar senang kepada Ramadan, karena pekerjaan proyek yang dipercayakan kepadanya terlaksana dengan bajk. Ramadan juga dipandangnya cukup pandai membawa diri dan pandai mengambil hari Muchtar, karena dia tidak pelit dalam membagi keuntungan atas proyek yang dkerjakannya.

Keluarga Syawalida amat bersyukur karena anak mereka  memperoleh seorang suami  yang Insinyur, pengusaha, yang uangnya pastilah banyak, karena Ramadan sehari harinya dalam hal uang rampak royal kepada keluarga Syawalida. Apalagi nama mereka amat serasi sebagai nama bulan yang berurutan dalam tarikh Islam, setelah Ramadan maka Syawal adalah bulan berikutnya. Ramadan dan Syawal itu tidak bisa dipisahkan bahkan selalu harus seiring sejalan. Keluarga Syawalida menganggap hal itu merupakan takdir bagi keluarga mereka dan merupakan pertanda baik. Syawalida memperoleh calon suami yang dari segi nama saja sudah sangat serasi. Begitulah harapan dari kedua orang tua Syawalida kepada Ramadan.

Setelah menikah Ramadan yang biasa kost di suatu tempat di Padang, merasa amat beruntung. Dari segi biaya pengeluarannya tidak akan berbeda banyak.. Sekarang tidak perlu bayar kost, tinggal di rumah istri yang cantik dan jadi orang terpandang dan menantu yang disegani pula oleh keluarga istrinya. Tidak perlu repot lagi untuk makan ke warung atau membuat sarapan pagi sendiri. Sekarang semua ada yang melayani, bukan hanya soal makan , minum dan mencuci pakainya , bahkan kebutuhan batiniah pun diperolehnya secara 

Nurjannah ,  istri Ramadan di Jakarta adakah wanita karir. Dia bekerja di suatu bank asing di Jakarta. Kepergian Ramadan ke Sumatra Barat dalam rangka mengerjakan proyek transmigrasi di Sumatra Barat itu adalah atas persetujuannya. Nurjannah sama sekali tidak pernah berfikir yang bukan bukan terhadap suaminya. Mereka sudah dikaruniai dua orang anak perempuan yang cantik. Suaminya pastilah tidak akan macam macam disana. Punya istri yang cantik, berkedudukan sebagai Manager di suatu Bank Asing bukanlah posisi sembarangan. Punya anak anak perempuan yang cantik dan berprestasi di sekolah mereka sebagai juara di kelas mereka masing masing  dan pula kedua putrinya itu  sangat disayang oleh Ramadan, tentulah akan mengikat suaminya sehingga kecil kemungkinannya Ramadan akan macam macam terhadap keluarganya. Begitulah jalan pikiran Nurjannah yang lurus itu.

                               ------------------------
Berbeda dengan Ranisa, Nurjannah  merasa tertipu mentah mentah , dia percaya kepada suaminya yang saat itu sedang mengerjakan proyeknya di Sumatra Barat  tak tahunya dia malah kawin lagi disana. Lebih sakit lagi hatinya . suaminya meminta uang padanya dengan alasan untuk memperlicin pengeluaran termijn . Uang pun dikirim oleh Nurjannah , tetapi akhirnya Nurjannah yakin kalau  uang itu adalah untuk keperluan  pernikahannya dengan seorang perempuan di Padang. Nurjannah membandingkan tanngal pengiriman uang kepada suaminya itu berkisar dua minggu dari tanggal saat si suami menikahi itri barunya itu. Setelah itu sering pula suaminya meminta uang    menjelang pembayaran termijn proyek.   Ramadan meminta uang untuk keperluan hidupnya dan tentu saja Nurjannah  tidak ingin suaminya kesulitan di sana dan dengan segera  memenuhi permintaan suami tercinta itu. Terakhir dia tahu bahwa uang itu juga dipakai untuk menafkahi  istrinya disana.

Mulanya Ramadan merasa aman aman saja dan tidak khawatir dengan perbuatannya itu.   Ketika istrinyan ingin mengambil cuti dan akan berkunjung ke tempat suaminya , dengan pandainya dia menghalangi niat istrinya itu dengan berbagai dalih. Bahwa dia tinggal di Sitiung. Sitiung itu masih hutan, tidak ada hotel disana. Dia mengaku selalu ada di proyeknya dan tinggal di barak barak bersama pekerja proyek itu. Proyrk itu harus tetap diawasi , kalau tidak macam macam bisa terjadi dan akhirnya bukan untung melainkan buntung, kata Ramadan. . Karena itu dia tinggal di barak bersama pegawainya disana. Sebab kalau tinggal di Padang terlalu jauh butuh waktu 11 sampai 12 jam pakai mobil antara Padang ke Sitiung. Mendengan kesulitan demikian Nurjannah membatalkan niatnya dan bahkan dia merasa iba pada suaminyan itu yang bekerja sangat keras dalam mengerjakan proyek tersebut.

Sepandai pandai tupai melompat sesekali jatuh juga. Begitulah akhirnya kelakuan Ramadan itu diketahui oleh seorang Tante Nurjannah yang tinggal di Padang. Dia beberapa kali memergoki Ramadan berjalan mesra bersama seorang Perempuan. Si Tante merasa penasaran dan berusaha mencari informasi tentang perempuan itu yang akhirnya diketahuinya bahwa perempuan yang berjalan mesra bersama Ramadan itu adalah pegawai pada Kanwil Transmigrasi di Padang dan adalah istri Ramadan. Dia pun dengan pandainya menggali informasi tentang perempuan itu . meminta alamat dan keterngan keterangan lain tentang  perempuan itu dari Kanwil Transmigrasi  itu. Tanpa rasa curiga  semua informasi penting tentang istri Ramadan itupun disampaikan dengan komplit oleh seorang pegawai Tata Usaha di Kanwil Transmigrasi itu kepada seorang perempuan yang mengaku tante dari Ramadan yang  bertanya melalui telepon.  Setelah memperoleh kepatian bahwa Ramadan memang sudah menikah lagi di Padang,  si tante ini bingung, bagaimana cara menyampaikannya kepada Nurjannah. Tapi karena rasa kasihan kepada keponakannya itu aklhirnya diungkapkannya semua hal yang diketahuinya itu kepada Nurjannah. Nurjannah semula kurang yakin, namun semua informasi itu dicatat oleh Nurjannah. Nurjannah mulai percaya atas informasi tantenya itu karena kalau   dikaitkan dengan perilaku Ramadan yang tidak ingin Nurjannah mengunjunginya di Padang dengan berbagai alasan , maka informasi dari tantenya itu layak dipercaya.
Tantenya itu, yang dipanggilnya “etek”   menasihatkan  Nurjannah agar datang ke Sumatra Barat , tepatnya ke Padang untuk melihat bagaimana sebenarnya keadaan suaminya itu.  Nurjannah tidak mengikuti saran si tante, dia berpikir kalau hal itu benar, bagamana jadinya dirinya ? Tentu dia akan balik kembali ke Jakarta dengan hati hancur dan mental breakdown. Biarlah kalau memang  dia sudah kawin lagi, itu  sudah terjadi dan nasi sudah menjadi bubur, apa yang harus diperbuat ?. Tunggu sajalah bagaimana nanti, kalau dia datang baru masalah ini diselesaikan. Begitu jalan pikiran Nurjannah yang pasrah saja atas kejadian itu dan dia hanya berdoa kepada Allah agar diberi kekuatan menghadapi cobaan tersebut. Dia putuskan untuk menelepon suaminya dan bertanya tentang informasi yang diperolehnya mengenai kelakuan suaminya itu,  bahwa dia sudah menikah lagi. Karena terdesak dan Nurjannah bertanya itu dengan memberikan data tentang nama, alamat, tanggal menikah serta tempat kerja istrinya maka Ramadan tidak bisa mengelak lagi, dia  mangaku khilaf dan minta maaf pada Nurjannah. Nurjannnah diam dan tidak menjawab permintaan maaf dari suaminya tersebut. . Sejak itu dia tidak lagi pernah menghubungi suaminya, tapi Nurjannah juga tidak mengambil langkah apapun mengenai hubungan suami istri antara dia dengan suaminya.
                                                                             
Setelah selesai proyek di Sumatra Barat itu , Ramadan pun balik kembali ke Jakarta. Balik kemana ? Tentu saja ke rumah istrinya Nurjannah. Nurjannah tidak mengacuhkannya. Tidak memperdulikannya dan tidak memperkenankannya masuk ke kamarnya. Dia boleh menginap karena di rumah itu ada anak anaknya. Semua kamar dirumah itu sudah ada yang menempati, termasuk pembantu mereka,  sehingga Ramadan terpaksa tidur di Sofa . Anak anaknya semula nampak ikut membencinya, namun akhirnya anak anak itu kasihan juga pada bapaknya yang seperti orang luntang lantung di rumah itu . Ada  lima harI situasi demikian berlangsung. Nurjannah setelah bangun tidur, mandi , berpakaian, kemudian sarapan kadang sendiri dan kadang bersama anak anaknya tanpa menggubris keberadaan Ramadan di rumah itu. Sebelum berangkat, kamarnya di koncinya dan diapun berangkat ke kantornya tanpa melihat kepada suaminya yang kadang pagi pagi sudah duduk di  sofa ruang tamunya. Dia sama sekali tidak menyapa suaminya itu. Ramadan tidak punya tempat lain untuk pergi. Dia tidak punya uang dan tidak ada jalan lain baginya selain menahan derita atas perlakuan terhadapnya dirumah itu. Syukurlah pada suatu hari terjadi perubahan.   Pada hari ke enam sejak  Ramadan di rumah itu, Nurjannah  dengan emosi dan isak tangis yang tidak dibuat buat  melampiaskan kemarahannya kepada suaminya itu. Suaminya tidak membantah dan tidak punya jalan lain kecuali minta maaf dan mengaku khilaf dan tentu saja berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya. Adapun istrinya di Padang diakui oleh Ramadan sudah diceraikannya. Dia ber sumpah pada Nurjannah di depan anak anaknya tidak akan lagi mengulangi perbuatannya. Akhirnya hati Nurjannah luluh juga dan si suami yang mengaku khilaf itu dimaafkannya dan rumah tangga mereka damai lagi dan Ramadan boleh masuk ke kamar Nurjannah lagi.
         
Setahun setelah kejadian itu, Ramadan mendapat proyek di Bandung. Proyek pemerintah dimana yang menjadi pemilik proyeknya adalah Departemen Pekerjaan Umum di Bandung. Kembali si Don Yuan ini dalam urusan proyek ini sering bertemu dengan seorang sekretaris di Departemen itu. Awalnya tentu saja dalam urusan proyek . Bertemu sekretaris itu hanya untuk minta waktu agar bisa menemui Kepala Kantor PU sebagai pemilik proyek itu. Namun sang sekretaris yang  masih sangat muda itu dan amat cantik serta lembut pula tutur bahasanya membuat  Ramadan pun lupa akan sunpahnya kepada istrinya Naluri Don Yuan nya  langsung bereaksi dan si tampan yang pandai bergaul inipun dengan mudah berhasil memikat sang sekretaris itu. Ranisa demikian dia dipanggil, akhirnya dinikahi oleh Ramadan .

Setelah proyek di Bandung selesai, maka Ranisa pun diajak pindah ke Jakarta oleh Ramadan. Hubungan Ramadan  yang baik dengan pejabat PU di Bandung itu akhirnya persetujuan atas permohonan Ranisa untuk pindak ke kantor PU di Jakarta  dan Ranisa pun dibelikan Rumah di daerah Kebayoran lama oleh Ramadan. Sejak itu Ramadan memelihara dua istri, tetapi hanya satu istri yaitu Ranisa yang diberinya uang belanja secara rutin karena dia tahu gaji Ranisa sebagai pegawai negeri tidak seberapa dibadningkan dengan penghasilan istrinya yang menjadi Manager di Bank Asing itu.
            
Nurjannah pun akhirnya mengetahui bahwa kelakuan suaminya itu belum berubah. Cukup lama juga baru Nurjannah sadar bahwa suaminya itu sudah kawin lagi. Selama ini kalau Ramadan  akan menginap di rumah Ranisa dia selalu berdalih pergi ke Bandung mengurus tender untuk mendapatkan proyek. Tapi lama lama intuisi Nurjannah ternyata jalan juga.
Suatu saat Nurjanah  meminta bantuan seorang tenaga security dari kantornya yang dipercayainya  untuk mengikuti perjalanan Ramadan, apakah benar dia pergi ke Bndung. Pada suatu hari ketika suaminya akan ke Bandung, security itu pun di kontak Nurjannah dan disuruhnya stand bye di suatu warung dekat rumahnya dan mengikuti perjalanan Ramadan. Ternyata Ramadan tidak pergi ke Bandung , melainkan ke Kebayoran Lama dan masuk ke sebuah  rumah dan sampai malam tidak keluar keluar lagi dan nampaknya Ramadan  menginap disana. Security itupun segera menelepon Nurjanah melaporkan hal hal yang disaksikannya dalam mengikuti Ramadan dari siang sampai malam. Setelah mendapat laporan itu Nurjannah pagi pagi berangkat menuju rumah dimaksud  bersama petugas security bank itu. Sesampai di rumah itu Nurjannah melihst mobil suaminya diparkir disamping rumah itu. Jantung Nurjannah berdebar melihat mobil suaminya ada disana. Nujannah geram namun dia menenangkan dirinya agar tidak emosi ketika berbicara kepada suaminya itu. Kemudisn  tanpa kulonuwun langsung masuk ke rumah Ranisa yang kebetulan pintunya sedang terbuka, dan  memergoki Ramadan yang sedang bercengkrama sambil ngopi pagi bersama Istrinya Ranisa.  Nurjannah  langsung duduk di kursi kosong dihadapan keduanya tanpa basa basi.  Nurjannah memperlihatkan kedewasaannya. Nurjannah sama sekali tidak nampak emosi dan langsung berbicara kepada Ramadan dengan lantang :
 “Ooh ini istri kamu”.
Sambil melihat kepada Ranisa, Nurjannah lanjut bertanya : “ Siapa nama kamu  dik “
Nurjannah menatap tajam pada Ranisa , membuat Ranisa salah tingkah dan dengan gelagapan menjawab “Ranisa mbak”
Lalu Nurjannah , memandang kepada Ramadan yang Nampak pucat dan salah tingkah.
“Apa penjelasan kamu  ?” , bertanya Nurjannah dengan suara keras kepada Ramadan. Ramadan juga nampak  gelagapan. Nurjannah kembali bertanya : “Apa penjelasan kamu ?“. Lama baru dia menjawab dengan terbata bata. .
“ Iya…… saya minta maaf. Kami…kami sudah menikah”.
“Saya memang hanya ingin mendengar pengakuan langsung dari mulut kamu. Sudah ya. Kamu jangan bersandiwara lagi. Jangan balik lagi kerumah saya ya, Cukuplah sampai disini hubungan kita. “
Kemudian Nurjannah pun melihat kepada Ranisa.  “Ranisa , jagalah suamuimu ini baik baik. Jangan sampai kamu nanti kecewa kalau dia menikah lagi dengan perempuan lain yang mungkin lebih cantik dari kamu. “

Tanpa menunggu jawaban dari kedua insan yang masih terpana atas kedatangan Nurjannah,  yang sama sekali tidak mereka sangka  , Nurjannah pun keluar dari rumah itu dan naik  kemobilnya.  Di dalam mobil , dia hanya terisak sebentar. Kemudian menghapus air matanya. Dia perintahkan Security  yang menemaninya itu untuk menjalankan mobilnya , pulang kerumahnya. Di perjalanan Nurjannah berpesan kepada security bank dari kantornya itu, supaya menjaga rahasia ini. “Jangan sampai kamu ngomong masalah pribadi saya kepada siapapun di kantor Ya.” “ Iya Bu” Jawab si petugas security  yang bernama Safii itu. Diapun memperoleh amplop berisi uang Rp.300.000,-dari Nurjannah, senilai setengah bulan  gaji security i

Sesampai di rumahnya, Nurjannah dengan  tenang  menjelaskan kepada anak anaknya bahwa bapak mereka ternyata sudah menikah lagi. Dengan tersenyum pahit Nurjannah mengemukakan kepada anak anaknya bahwa mereka sekarang sudah punya  ibu baru yang cantik dan masih muda.
Anak anaknya tidak habis pikir atas kelakuan bapaknya itu. Apa sih yang kurang dari si mama, apa mama mereka masih  kurang cantik ?.  

Besoknya Nurjannah berkunjung ke  rumah orang tuanya, dan kepada ibu dan bapaknya diungkapkannya kelakuan suaminya yang kawin lagi itu dan dikemukakan pula  oleh Nurjannah bahwa dia akan segera menggugugat cerai suaminya. Bapak Nurjannah nampak geram dan dengan suara agak emosi langsung menyetujui niat anaknya itu dan berpesan. “Kalau ada kesulitan nanti kamu hubungi papa”. Si Papa yang kolonel Polisi Purnawirawan  yang baru pensiun itu  masih punya banyak relasi yang bisa di minta bantuannya dalam berbagai masalah.
Ternyata si papa tidak perlu turun tangan. Hanya berselang 2,5 bulan sejak gugatan diajukan, dan dengan 3 kali sidang yang juga dihadiri oleh Ramadan, gugatan cerai Nurjannah terhadap Ramadan pun dikabulkan oleh Pengadilan Agama Jakarta Selatan.  Keluraga Nurjannah cukup puas atas keputusan Pengadilan agama itu. 
Dalam persidangan Ramadan mengemukakan bahwa dia tidak ingin bercerai dengan Nurjannah. Dia mengaku sanggup untuk meceraikan istri mudanya itu dan akan kembali kepada Nurjannah. Dia ingin ikut membesarkan anak anak nya yang sangat disayanginya itu  bersama Nurjannah.  Namun Nurjannah bergeming dari permintaannya dan Hakim akhirnya menyetujui gugatan cerai Nurjannah. Ramadan tidak berkutik lagi dan terpaksa menerima keputusan pengadilan agama yang mngabulkan gugatan  cerai Nurjannah terhadap Ramadan sang suami yang dulu amat dicintainya itu.

No comments:

Post a Comment