MENABUR
CINTA TERAKHIR
.
Nurjannah amat lelah setelah kembali
dari rumah keluarga Marlon. Hampir sebulan dia menghilang. Sejak dari mengurus
persiapan keberangkatannya bersama Marlon untuk belayar dengan kapal cruise ,
kemudian menjadi istri siri Marlon dan menemani Marlon sebagai suami istri di
rumah Marlon yang sebenarnya adalah rumah milik Butet dan dua kakaknya, lalu berangkat ke Singapura
dan menginap pula di kota singa itu selama dua malam. Kemudian berlayar selama
dua minggu dengan cruise itu menuju pantai Barat Pasifik sampai ke Manila.
Philipinba. Istirahat pula di Philipina selama dua hari, sebelum balik ke
Jakarta. Dan malam nya setelah sampai di Jakarta suaminya anfal dan meninggal
dalam perjalanan ke Rumah Sakit. Setelah
pemakaman dia berada di rumah anak tiri suaminya itu selama tiga hari. Dan
setelah itu baru dia diantar ke Pasar
minggu oleh kendaraan Butet, dan dari sana dia balik ke tanah abang ke rumahnya
yang selama ini ditinggalinya bersama anaknya Melda. Perjalanan itu ditambah
dengan waktu menunggu dan sebagainya hampir makan waktu satu bulan.
Sungguh amat
melelahkan secara fisik . Tapi Nurjannah tidak hanya lelah secara fisik, dia
terluka amat dalam dihatinya. Demi uang dia telah merendahkan martabat dirinya
sendiri . Mau nikah siri dengan Marlon tua itu, yang ternyata telah mencuri
uang yang diharapkannya menjadi penghasilannya sebagai pendamping Marlon
berwisata dengan kapal cruise. Dia menghitung hampir Rp. 300 juta jika dirupiahkan,
menjadi tambahan pundi pundi baginya. Tapi dia ditipu oleh suaminya Marlon itu.
Uangnya di curi . jumlah itu belum termasuk keuntungannya dalam me mark up
biaya perjalanan dan semuanya ludes oleh suaminya di meja judi kapal itu. Alhasil semua
perjalanan yang melelahkan itu dibiayai dari uangnya sendiri, karena semua
biaya perjalanan dan hotel serta ongkos
pesawat semuanya sudah dibayarnya dimuka, sebelum perjalanan itu dimulai.
Nurjannah jatuh sakit. Semula demam dan
panasnya tinggi. Setelah dibawa ke dokter , diberi obat panasnya turun dan
tampaknya dia agak baikan. Tapi pengalaman sebulan ini sangat memukulnya.
Pandangan Butet dan saudara saudaranya terhadapnya nampak sekali kalau mereka memandang
rendah pada Nurjannah. Sebabnya tiada
lain karena dia mau nikah siri dengan Marlon. Dalam pikiran Nurjannah, dia amat
menyesal. Bagaimana kok dia selama ini sebagai bekas manager di bank Asing yang
berwibawa, kok dia mau nikah siri sekedar untuk mendapatkan uang sebesar 15.000
dollar itu ? Dia benar benar merasa
menyesal dan hilang harga dirinya. Dia merasa telah “melacurkan” dirinya demi
uang itu. Perbuatannya itu yang semula diharapnya akan memperoleh uang yang
lumayan, ternyata ketika kembali ke rumahnya uang itu hanya tersisa tidak lebih
dari 100 dollar saja. Hanya satu lembar
.
Saat dia sampai di rumahnya , dia pun
mendapat laporan dari Melda, bahwa penghuni kos kos annya banyak yang pindah
dan sebagian besar pindah karena ada kebocoran saat hujan. Ada pompa yang rusak
sehingga air tidak mengalir ke kamar kamar mandi kos kos an itu, sehingga banyak penghuni
yang pindah dan bahkan pindah tanpa bayar utangnya yang menunggak. Biasanya
keluhan tentang kebororan atap dan
sebagainya selalu bisa ditanggulangi oleh Nurjannah dengan membawa tukang dan
memperbaiki hal hal yang rusak atau dikeluhkan oleh penghuni kos kos an itu.
Kabar kabar seperti itu ikut membuat Nurjananh semakin pusing dan merasa
tertekan.
Penyesalannya tidak habis habis. Kalau
dia tidak berlayar tentu penghuni kos kos annya tidak akan lari, dan dia tetap
akan dapat penghasilan dari mereka. Nurjannah
stress berat. Sampai pada suatu pagi,
ketika anaknya Melda datang ke kamar ibunya hendak memberikan sarapan pagi,
ibunya malah marah :
“Kamu
siapa…. berani beraninya kamu masuk kamar saya “
Anaknya
Melda kaget. Kok Ibunya tidak kenal lagi pada dia ?.
“ Mama , ini
Melda…. Mama kenapa”
“Pergi kamu,
saya tidak kenal kamu” Nurjannah malah semakin marah…..
Mengetahui mamanya mulai ada kelainan, dia pun
mengontak kakaknya yang di Luar Negeri, mengabarkan tingkah ibunya yang aneh
itu…Kakaknya menyarankan agar ibunya dibawa ke psikiater.
Melda juga
berkonsultasi dengan adik ibunya Nursiah di Pangkalan jati pertelepon dan
berdasaran adpis Nursiah, Nurjannah akhirnya dibawa ke Rumah Sakit Jiwa
Dharmawanga di Kebayoran. Pertimbangan kenapa dibawa ke sana, karena seorang
kawan Nursiah pernah stress berat dan dirawat disana dan hasilnya baik,
kawannya itu sembuh. Juga di Rumah sakit itu keluarga pasien agak lebih bebas
berkunjung. Nurjannah pun dibawa ke
Rumah Sakit itu dan ditangani seorang psikiater yang namanya dioperoleh Nursiah dari temannya yang sembuh itu.
Pada suatu hari Jumat, Darmawan anak
Khairul shalat Jumat di Masjid Agung
di Kebayoran. Tak disangka sehabis
Jumat, dia bertemu dengan Suyono. Suyono adalah suami Melda. Darmawan dan Suyono sudah lama tidak ketemu.
Mereka sejak pernikahan Khairul dengan Nurjannah , ternyata telah menjadi teman
yang cukup akrab. Mereka seusia sehingga
hanya panggil nama saja satu sama lainnya, kadang panggil lu dan gua saja. Setelah cukup lama mengobrol , akhirnya
Darmawan menanyakan kabar si tante
kepada Suyono.
“ Wah lu
belum tau ya. Mama (dia panggil mama kepada Nurjannah) sakit kan. Sudah lima
belas hari dirawat di Dharmawangsa.”
“Emangnya
tante sakit apa ? “
“Stress. Bulan
lalu dia menikah dengan orang Batak. Lalu berlayar, naik kapal Cruise ke
pasifik barat, sampai ke Manila. Pulang pulang suaminya meninggal. Mungkin itu
yang membuat mama stress berat.”
Darmawan
kaget juga mendengar berita itu. Dia prihatin mendengar bekas istri papinya itu
yang dipanggilnya tante itu sakit karena stress.
“Di kamar
berapa si tante dirawat ?
“Di kamar
12 kalau tidak salah. Saya hanya sekali kesana. Waktu itu baru tiga hari mama
di rawat, dan nampaknya dia seperti gak kenal dengan kita”.
“Jam bezuknya
jam berapa “
“Jam lima
sore sampai jam tujuh malam, Tapi kadang kita boleh sampai jam delapan, kalau
kebetulan pasien cukup tidur siangnya. Disana terapinya kan tidur. Kalau banyak
tidur bisa cepat sembuh,”
“iyalah.
Terima kasih informasinya Yono. Ntar gua usahakan tengok deh”.
Pas jam lima
sore , jam pulang kantornya, Darmawan langsung pulang. Tapi dia tidak pulang ke
rumahnya, melainkan menuju rumah sakit Dharmawangsa di Jl Darmawangsa
Kebayoran. Dia pun bertanya tentang nomor kamar yang merawat Nurjannah kepada
adminisytasi disana dan memperoleh informasi bahwa Nutjannah dirawat di kamar
No.12.
Darmawan pun
menuju kamar No. 12 itu. Dari pintu yang
seidikit terbuka Darmawan dapat mengintip kalau Nurjannah sedang duduk
termenung di tempat tidurnya. Darmawan mengetuk pintu, dan membuka pintu yang
sedikit sudah terbuka itu lebih lebar. Nurjannah seperti tercengang melihat
seseorang masuk ke kamarnya. Dia perhatikan Darmawan yang sedikit tersenyum
kepadanya. Dia hanya melihat saja Darmaan masuk, tapi tidak bereaksi atas
kehadiran Darmawan.
“ Selamat
sore Tante”. Nurjannah tidak menjawab. Darmawan kagok juga, karena Nurjannah
seperti tidak mengenalnya.
“Saya
Darmawan Tante”. Nurjannah melihat padanya, tapi dia seolah tidak ingat nama
Darmawan .
“ Saya anak
nya pak Khairul” Nurjannah tetap diam.
“Pak Khairul
bekas suami tante. Masa tante tidak ingat ?”.
“Khairul ?.
Benar kamu anak bang Khairul ? “
“Benar
tante”.
Nurjannahpun
berdiri dan memeluk Darmawan. Pelukan Nurjannah itu dirasakan kurang normal oleh
Darmawan karena Nurjannah memeluknya keras sekali. Darmawan baru lega setelah
Nujannah melepaskan pelukannya.
“Nama kamu
Darwawan ya. Oooh ….. tiba tiba Nurjannah menangis dan berucap : “Maafkan saya
Bang Khairul, saya mneyesal bang”, kemudian dia menangis tersedu sedu dan
mengulangi ucapan itu sampai tiga kali.
Darmawan
prihatin melihat mantan ibu tirinya itu. Dia heran kok ibu tirinya saat menjadi
istri bapaknya tampak sangat tegar.
Selalu bicara tegas, bahkan sering berdebat sangat sengit dengan
bapaknya ketika berdiskusi tentang calon presiden saat Pilpres yang lalu.
Sekarang semua itu sudah tidak ada lagi. Ibu tirinya itu tampak amat lemah dan
memprihatinkan.
Saat jam
bezuk habis, Darmawan pun pulang. Sesampai di rumahnya, diteleponnya bapaknya.
Kebetulan bapaknya sedang dirumah sendirian.
Saat telepon
diangkat bapaknya, Darmawan langsung bicara.
“ Pap. Tadi
aku ke Rumah Sakit Darmawangsa”
“ Rumah
sakit gila itu ?. Ngapain kamu kesana”.
“ Melihat
tante. Dia lagi dirawat disana. Sudah sekitar 3 minggu. “
Khairul
kaget luar biasa. “ Kenapa dia dirawat disana Wan ?. Ada apa dengan dia kok
sampai dirawat disana ?”
“ Menurut
cerita anak mantunya, bulan lalu dia menikah dengan orang Batak. Lalu mereka
pesiar dengan kapal cruise menyusur pantai barat pasifik dan berhenti di Manila.
Dari Manila kembali ke Jakarta naik pesawat dan sesampainya di Jakarta, besoknya
suami si tante itu meninggal. Barangkali dia stress karena itu”.
“Oh begitu.
Itu soal ajal. Itu kuasa Allah. Gak perlu disesali. Pastilah suaminya itu kaya
ya Wan. Kalau tidak kaya mana mungkin mampu pesiar berbulan madu naik cruise”.
“Tapi dari
bicaranya si Tante itu seperti menyesal pap. Dia sering menyebut nyebut nama
papi. “
“Kok
menyebut nama papi. Apa dia bilang ?”
“Dia seperti menginggau. Maafkan saya bang
Khairul, saya menyesal. Berkali kali dia ngomong seperti itu“.
“Menyesal
kenapa ? Apa yang disesalkannya ?. Waktu meninggalkan papi dia kan tampak tegar
sekali. Tidak mungkinlah orang setegar dia itu menyesal. “
“ Papi tidak
ada rencana nengok si tante ?”.
“ Gak lah.
Kalau dia masih seperti itu buat apa di tengok. Itu kan tanda bahwa dia itu
belum sadar, belum bisa diajak dialog. Gak ada guna menengoknya”
“ OK deh pap. Aku mau menyelesaikan
kerjaan dulu. wasssalamualaikum”.
“Mualaikum
salam”
Darmawan
sedikit kecewa juga , kok bapaknya gak mau mnengok si tante?.
Setelah pembicaraan itu Khairul
menjadi berpikir. Hatinya mendua antara datang menengok Nurjannah atau
membiarkan jandanya itu menderita bathin karena kali ini dia kena batunya. Tentulah dia stress dapat laki
kaya tapi tidak lama kemudian si kaya itu mati. Kalau dia dapat warisan tentu
dia tidak akan stress. Pasti dia tidak dapat apa apa dari kematian suaminya
itu. Biasanya kalau laki laki tua sudah hidup sendiri, hartanya sudah
dihibahkan kepada anak anaknya. Sehingga kalau dia menikah lagi, istri baru
tidak dapat apa apa , karena tidak ada lagi yang mau diwariskan.
Dua hari
setelah Darmawan memberitahukan tentang Nurjannah, Melda menelepon Khairul
Melda biasanya memanggil om pada Khairul.
“ Ya Melda”.
Menjawab Khairul di HP nya.
“ Om sudah
tahu kalau mama masuk rumah sakit ?”
“ Iya, sudah
dikasi tahu Darmawan. Kenapa Melda“
“ GinI Om.
Mama suka memanggil mangil nama Om. Kayaknya ada penyesalan mama . Sepertinya
dia merasa salah kepada Om. Kalau om ada waktu tolong datang menemgok mama dong
om. Siapa tahu kesadarannya pulih setelah ketemu om”.
“ Itu anjuran
dokter atau perkiraan Melda saja?”.
“Dokter juga
menyarankan begitu om. Kalau Melda sudah
lama punya pikiran begitu, Cuma gak berani aja ngomong sama om”
“ Ooh
begitu. Okelah Melda. Nanti om tengok deh”.
Sore sekitar jam empat, Khairul pun
menyetir kendaraannya menuju Kebayoran. Dia mngerti liku liku jalan di daerah
kebayoran itu, kira kira satu jam diapun sampai di Rumah sakit Dharmawangsa
tersebut. Dia tahu kalau mantan istrinya yang “matre” itu dirawat di kamar No.
12. Khairul langsung menuju kamar itu. Pintu kamar itu tertutup dan dari
Jendela Khairul dapat mengintip kalau
Nurjannah sedang tidur tiduran. Jantungnya berdegup juga melihat mantan
istrinya itu. Agak lama juga dia memperhatikan Nurjannah. Timbul iba hatinya
melihat jandanya itu yang nampak kurus dengan rambut setengah awut awutan.
Khairul pun
membuka pintu kamar tempat Nurjannah dirawat. Nurjannah agak kaget ada orang
buka pintu kamarnya, Diapun duduk. Dia pangling, rasanya kenal dengan orang
yang masuk itu. Tapi dia diam saja.
Semula Khairul juga diam saja, dia menunggu reaksi Nurjannah. Karena Nurjannah
seperti tidak bereaksi, Khairul pun bicara.
“ Kamu lupa
sama saya ya”
Baru setelah
mendengar suara Khairul. Nurjannah terkesiap. Dari mulutnya terucap pelan
sekali.
“Bank
Khairul”
Diapun
berdiri. Khairul pun datang memeluknya dan nurjannahpun memeluk erat Khairul sambil menangis. Khairul tanpa disadarinya ternyata airmatanya juga menetes netes. Iba
sekali hatinya melihat keadaan jandanya itu.
Rupanya
kunjungan Khairul itu sangat dirindukan oleh Nurjannah. Itulah obat yang sangat
mujarab baginya. Setelah itu, tiga hari
berturut turut Khairul datang ke rumah sakit itu, pagi dan sore menemani Nurjannah,
kadang menyuapinya makan , menyuruh dia meminum
obatnya. Kebanyakan pasien di RSJ suka membuang obatnya kalau tidak
dikontrol. Dengan adanya Khairul didekatnya Nurjannah malahan rajin minum obat.
Dan perkembangan kemajuan kesehatan jiwa Nurjannah terlihat semakin baik. Dia
bahkan dapat dengan detail menceritakan pengalaman nya naik Cruise bersama
Marlon yang menipunya itu. Pada hari ke lima sejak kunjungan Khairul, Nurjannah
pun dibolehkan pulang. Dia dinyatakan
sembuh.
Dengan izin Melda, Khairul membawa
Nurjannah pulang ke rumahnya di Jaka Sempurna. Saat menaiki mobil Fortuner
Khairul yang masih baru itu, Nurjannah bertanya tanya dalam hati kok suaminya
mampu beli mobil baru ?. Padahal seingatnya sertahun lalu saat dia meninggalkan
Khairul, laki laki ini sudah mau bangkrut. Memberi Cek bulanan yang tidak
seberapa nilainya itu saja dia bilang sudah tidak mampu. Nurjannah tergelitik
juga untuk bertanya.
“Abang sudah
kaya lagi ya Bang. Sekarang mobil abang baru , bagus amat”.
“Itulah Nur.
Kadang rejeki datangnya tak terduga. Rumah di Kali Malang yang rencananya mau
saya wariskan kepada Darmawan ternyata ada yang mau beli, Karena lokasinya
bagus, setelah pembeli itu yakin bahwa jalan Becakayu itu akan segera rampung. Rumah itu ternyata laku 3,5 M. Dua M saya kasi Darmawan
untuk beli rumah dan sisanya untuk saya.
Bisa untuk beli mobil ini dan ada tabungan sedikit untuk terus main golf.
Yang penting
Nur, harta saya harus memberi manfaat pada saya, sembari juga membantu anak
saya agar dia ada rumah. Kalau tidak dibelikan rumah, kapan dia bisa punya
rumah dalam situasi seperti sekarang ini. Harta kita akan bermanfaat kalau kita
manfaatkan. Kalau disimpan terus harta itu tidak ada manfaatnya, padahal kita
kan sudah tidak lama lagi hidup dan akan meninggalkan dunia yang fana ini.
Cobalah kamu
pikir lagi Nur. Tanah kamu banyak. Rumah kamu juga banyak. Ada berapa ya, kalau tigak salah ada 3 rumah. Dan kos
kos an kamu ada 3 bangunan dengan berpuluh pintu. Semua kamu bisniskan, dikontrak sewakan
dsbnya. Bagus saja sih. Tapi yang kamu nikmati apa ?. Untuk diri kamu sendidi
saja kamu juga kikir. Makan saja masih cari yang murah, kelas nasi Padang yang
sekali makan 15.ooo rupiah. Ya kan ?.
Saya
perhatikan kamu jarang sekali masuk restoran enak, karena menurut kamu mahal.
Kecuali perginya sama saya. Karena biasanya saya yang bayar. Kamu kerja keras,
semua kamu hematin, termasuk untuk keperluan pribadi kamu. Ndak lama lagi kita
akan meninggalkan dunia ini dan harta kamu tidak akan kamu bawa kan ?
Betul yang menikmati nanti adalah anak
dan cucu kamu. Tapi harta kamu itu bukan hasil jerih payah mereka kan ? Mereka
boleh menikmati, tapi kamu sebagai yang pengumpul harta itu, yang bekerja keras,
menahan selera dan berhemat setiap saat. Apa yang kamu nikmati ? . Dan ironisnya uang yang kamu kumpul, yang
kamu tabung sedidkit demi sedikit, yang sama sekali tidak kamu nikmati akhirnya
dicuri orang.
Mendengar ucapan Khairul yang
terakhir ini Nurjannah, bangkit kembali kenangannya saat uangnya di larikan
Rizal suami mudanya itu. Juga uangnya yang dicuri Marlon di kapal Criuise itu.
Apa yang dikemukakan khairul adalah kenyataan yang menyakitkan baginya.
Jadi Nur, saya hanya ingin menasihati
saja. Mulai sekarang manjakanlah diri kamu dengan uang dan harta kamu. Jangan
lagi terlalu berhitung. Masa dari muda sampai tua kamu kerja keras mengumpul uang dan harta terus terusan tapi
tidak pernah menikmatinya dalam arti yang sesungguhnya. Bagaimana kamu bisa
menikmati harta dan uang kamu itu , kalau pada diri sendiri saja kamu juga
pelit luar biasa ?.
Satu hal lagi Nur. Kalau kita menjadi suami
istri lagi, memang nafkah istri itu
adalah kewajiban suami, tapi jangan terlalu kaku lah. Insya Allah Saya tidak
akan minta uang kamu. Pengeluaran pengeluaran kecil kecil untuk kepentingan
bersama , kalau kamu menagihnya tetap akan direfund namun jumlah itu tidak akan
membuat kamu menjadi lebih kaya, begitu juga kalau kamu tidak menagih, tidak akan membuat kamu semakin miskin . Atau
kalau mau menagih juga , tagihlah sekali sebulan agar tidak repot.
Nurjannah diam saja mendengar celoteh
Khairul. Sekarang dia sadar , apa yang
dikatakan khairul itu dirasakannya sebagai pencerahan. Iya dulu dia
mempelakukan suaminya seolah olah semuanya
kewajiban suami, sampai kepada yang kecil kecil, walaupun uang yang
direfund nya itu kadang jumlahnya tidak materil. Dan dengan itu dia telah
memperlihatkan watak materialistisnya kepada suaminya. Dan ironisnya dia
menganggap hal itu biasa saja, padahal suaminya merasa teerganggu dann direpotkan
oleh hal hal sepele itu. Nurjannah akhirnya juga bertanya pada dirinya. Hartanya
yang cukup banyak itu, hasil jerih payahnya , kapan akan dia nikmati ?. Mobil nya
tetap saja mobil Suzuki tua yang sudah dipakainya selama 12 tahun, yang tiap
sebentar masuk bengkel dan kadang mobil itu mogok dijalan dan perlu memanggil
derek untuk membawanya ke bengkel. “Kenapa ya kok saya tidak beli saja mobil
baru ? . Padahal saya mampu, dan uang saya ada. Kenapa ya saya tidak mampu
berpikir seperti Bang Khairul, yang bisa memanfaatkan hartanya untuk kenikmatan
hidupnya ?. Andai nanti harta itu saya wariskan kepada anak keturunan saya, mereka pasti tidak akan pelit
seperti saya. Yang pertama mereka beli barang kali adalah mobil baru “. Begitulah
kesadaran Nurjana menghinggapi pikirannya.
Sesampai di rumah Khairul , Nurjannah
tercengang. Rumah itu sudah di renov. Sudah lebih bagus, lebih rapi. Dan foto
foto yang dulu bertebaran di setiap dinding di rumah itu, terutama foto foto
almahrumah istri pertama Khairul, sekarang sudah tidak nampak lagi. Nurjannah
benar benar merasa memasuki rumah baru . Tapi kesadarannya cepat datang
kepadanya. Bahwa sekarang statusnya
masih bercerai dengan Khairul. Belum dipulihkan kembali sebagai suami istri.
Karena itu setelah memasuki rumah Khairul dia tidak berani masuk ke kamar
Khairul, yang dulu merupakan kamat mereka berdua. Nurjannah hanya duduk saja di
kursi ruang tamu rumah itu. Dia menunggu Khairul duduk pula di ruang tamu itu.
Tidak lama
kemudian Khairul datang sambil membawa dua buah gelas dan sebotol besar jus
buah.
Setelah
duduk, kedua gelas itupun diisi Khairul dengan jus buah itu. Dan mereka
meminumnya seteguk demi seteguk.
Mereka nampak saling pandang melepaskan rindu
, setelah lebih dari setahun bercerai. Perceraian yang dilakukan hanya karena
sebab sepele.
“Kita masih dalam status bercerai lho
Nur”, berkata Khairul membuka pembicaraan.
“Iya bang.
Menurut abang bagaimana caranya memulihkan status kita kembali sebagai suami
istri bang ?”
“ Ya gak ada
jalan lain selain kita menikah kembali. Tepatnya dinikahkan oleh penghulu”.
“Tapi dulu
itu perceraian kita kan, kan hanya kesepakatann, apa gak bisa kesepakatannya
dibatalkan dan kita kembali menjadi suami istri”.
“Saya kira
tidak bisa seperti itu Nur. Gak apa apalah kita buat selamatan kecil kecilan.
Kita undang semua kerabat dekat, kita adakan selamatan, karena kamu sembuh dari
sakit. Sekaligus kita panggil penghulu menikahkan kita kembali, agar status
kita sebagai suami istri itu sesuai syariah “.
“ Iya bang,
begitu sajalah bang. Jadi saya tidur dimana malam ini. “
“Iya tidur
dikamar kamulah, maksud saya di kamar kita. Kamu gak usah khawatir, saya sabar
menunggu sampai kita nikah lagi. Lagi pula kamu kan masih lemah, saya gak
mungkin lah mengganggu kamu dalam kondisi kamu lemah seperti ini”
Setelah makan malam , dan beristirahat
sebentar, merekapun masuk kamar. Naik keranjang mereka, tidak berbuat macam
macam , kecuali berciuman melepaskan rindu sebagai tanda saling mengasihi”.
Dua hari setelah itu , Khairul menggelar
selamatan sembuhnya istrinya Nurjannah
dari sakitnya. Acara didahului dengan ijab Kabul lagi antara Nurjannah
dengan Khairul , yang sebelumnya masing masing berstatus sebagai Janda dan Duda
“.
Sebulan setelah itu Nurjannah menjual
sebidang tanah miliknya di daerah
Sawangan seluas 350 m persegi. Tanah itu laku Rp.700 juta. Tidak lama setelah
transaksi itu, diapun mampir ke show room Honda , dia tidak lama melihat lihat
disana dan langsung memesan Honda HRV 1500 cc warna putih dan membayar lunas harga
mobil itu Rp. 280 juta dengan selembar cek. Seminggu kemudian mobil itu diantar
ke rumahnya di Jaka Sampurna. Suaminya surprise juga ketika ada seseorang
mengantarkan mobil baru kerumahnya, dan ternyata mobil itu atas nama Nurjannah
istrinya. Khairul tersenyum lebar menyaksikan mobil itu diparkir disamping
mobil Fortuner miliknya. Dalam hati, dia bergumam. Syukurlah istriku Nurjannah
sudah berubah.
Setelah pernikahan mereka kembali , pasangan itu
nampak semakin akrab , bahagia , dan
keduanya menikmati hidup mereka selayaknya, sebagai pasangan senior yang mapan.
------- selesai------------
No comments:
Post a Comment