Friday, April 8, 2016

MENABUR CINTA TERAKHIR

MENABUR CINTA  TERAKHIR
.
Nurjannah amat lelah setelah kembali dari rumah keluarga Marlon. Hampir sebulan dia menghilang. Sejak dari mengurus persiapan keberangkatannya bersama Marlon untuk belayar dengan kapal cruise , kemudian menjadi istri siri Marlon dan menemani Marlon sebagai suami istri di rumah Marlon yang sebenarnya adalah rumah milik Butet  dan dua kakaknya, lalu berangkat ke Singapura dan menginap pula di kota singa itu selama dua malam. Kemudian berlayar selama dua minggu dengan cruise itu menuju pantai Barat Pasifik sampai ke Manila. Philipinba. Istirahat pula di Philipina selama dua hari, sebelum balik ke Jakarta. Dan malam nya setelah sampai di Jakarta suaminya anfal dan meninggal dalam perjalanan ke Rumah Sakit.  Setelah pemakaman dia berada di rumah anak tiri suaminya itu selama tiga hari. Dan setelah itu baru dia diantar  ke Pasar minggu oleh kendaraan Butet, dan dari sana dia balik ke tanah abang ke rumahnya yang selama ini ditinggalinya bersama anaknya Melda. Perjalanan itu ditambah dengan waktu menunggu dan sebagainya hampir makan waktu satu bulan.
Sungguh amat melelahkan secara fisik . Tapi Nurjannah tidak hanya lelah secara fisik, dia terluka amat dalam dihatinya. Demi uang dia telah merendahkan martabat dirinya sendiri . Mau nikah siri dengan Marlon tua itu, yang ternyata telah mencuri uang yang diharapkannya menjadi penghasilannya sebagai pendamping Marlon berwisata dengan kapal cruise. Dia menghitung hampir Rp. 300 juta jika dirupiahkan, menjadi tambahan pundi pundi baginya. Tapi dia ditipu oleh suaminya Marlon itu. Uangnya di curi . jumlah itu belum termasuk keuntungannya dalam me mark up biaya perjalanan dan  semuanya  ludes oleh suaminya  di meja judi kapal itu. Alhasil semua perjalanan yang melelahkan itu dibiayai dari uangnya sendiri, karena semua biaya  perjalanan dan hotel serta ongkos pesawat semuanya sudah dibayarnya dimuka, sebelum perjalanan itu dimulai.

Nurjannah jatuh sakit. Semula demam dan panasnya tinggi. Setelah dibawa ke dokter , diberi obat panasnya turun dan tampaknya dia agak baikan. Tapi pengalaman sebulan ini sangat memukulnya. Pandangan Butet dan saudara saudaranya terhadapnya nampak sekali kalau mereka memandang rendah pada Nurjannah.  Sebabnya tiada lain karena dia mau nikah siri dengan Marlon. Dalam pikiran Nurjannah, dia amat menyesal. Bagaimana kok dia selama ini sebagai bekas manager di bank Asing yang berwibawa, kok dia mau nikah siri sekedar untuk mendapatkan uang sebesar 15.000 dollar  itu ? Dia benar benar merasa menyesal dan hilang harga dirinya. Dia merasa telah “melacurkan” dirinya demi uang itu. Perbuatannya itu yang semula diharapnya akan memperoleh uang yang lumayan, ternyata ketika kembali ke rumahnya uang itu hanya tersisa tidak lebih dari 100 dollar saja. Hanya satu lembar
.
Saat dia sampai di rumahnya , dia pun mendapat laporan dari Melda, bahwa penghuni kos kos annya banyak yang pindah dan sebagian besar pindah karena ada kebocoran saat hujan. Ada pompa yang rusak sehingga air tidak mengalir ke kamar kamar mandi kos kos an  itu, sehingga banyak penghuni yang pindah dan bahkan pindah tanpa bayar utangnya yang menunggak. Biasanya keluhan tentang kebororan atap  dan sebagainya selalu bisa ditanggulangi oleh Nurjannah dengan membawa tukang dan memperbaiki hal hal yang rusak atau dikeluhkan oleh penghuni kos kos an itu. Kabar kabar seperti itu ikut membuat Nurjananh semakin pusing dan merasa tertekan.

Penyesalannya tidak habis habis. Kalau dia tidak berlayar tentu penghuni kos kos annya tidak akan lari, dan dia tetap akan dapat penghasilan dari mereka.  Nurjannah stress berat.  Sampai pada suatu pagi, ketika anaknya Melda datang ke kamar ibunya hendak memberikan sarapan pagi, ibunya malah marah :
“Kamu siapa…. berani beraninya kamu masuk kamar saya “
Anaknya Melda kaget. Kok Ibunya tidak kenal lagi pada dia ?.
“ Mama , ini Melda…. Mama kenapa”
“Pergi kamu, saya tidak kenal kamu” Nurjannah malah semakin marah…..

Mengetahui mamanya mulai ada kelainan, dia pun mengontak kakaknya yang di Luar Negeri, mengabarkan tingkah ibunya yang aneh itu…Kakaknya menyarankan agar ibunya dibawa ke psikiater.
Melda juga berkonsultasi dengan adik ibunya Nursiah di Pangkalan jati pertelepon dan berdasaran adpis Nursiah, Nurjannah akhirnya dibawa ke Rumah Sakit Jiwa Dharmawanga di Kebayoran. Pertimbangan kenapa dibawa ke sana, karena seorang kawan Nursiah pernah stress berat dan dirawat disana dan hasilnya baik, kawannya itu sembuh. Juga di Rumah sakit itu keluarga pasien agak lebih bebas berkunjung.  Nurjannah pun dibawa ke Rumah Sakit itu dan ditangani seorang psikiater yang namanya dioperoleh  Nursiah dari temannya yang sembuh itu.
      
Pada suatu hari Jumat, Darmawan anak Khairul shalat Jumat di  Masjid Agung di  Kebayoran. Tak disangka sehabis Jumat, dia bertemu dengan Suyono. Suyono adalah suami Melda.  Darmawan dan Suyono sudah lama tidak ketemu. Mereka sejak pernikahan Khairul dengan Nurjannah , ternyata telah menjadi teman yang cukup akrab.  Mereka seusia sehingga hanya panggil nama saja satu sama lainnya, kadang panggil lu dan gua saja.  Setelah cukup lama mengobrol , akhirnya Darmawan menanyakan  kabar si tante kepada Suyono.
“ Wah lu belum tau ya. Mama (dia panggil mama kepada Nurjannah) sakit kan. Sudah lima belas hari dirawat di Dharmawangsa.”
“Emangnya tante sakit apa ? “
“Stress. Bulan lalu dia menikah dengan orang Batak. Lalu berlayar, naik kapal Cruise ke pasifik barat, sampai ke Manila. Pulang pulang suaminya meninggal. Mungkin itu yang membuat mama stress berat.”
Darmawan kaget juga mendengar berita itu. Dia prihatin mendengar bekas istri papinya itu yang dipanggilnya tante itu sakit karena stress.
“Di kamar berapa si tante dirawat ?
“Di kamar 12 kalau tidak salah. Saya hanya sekali kesana. Waktu itu baru tiga hari mama di rawat, dan nampaknya dia seperti gak kenal dengan kita”.
“Jam bezuknya jam berapa “
“Jam lima sore sampai jam tujuh malam, Tapi kadang kita boleh sampai jam delapan, kalau kebetulan pasien cukup tidur siangnya. Disana terapinya kan tidur. Kalau banyak tidur bisa cepat sembuh,”
“iyalah. Terima kasih informasinya Yono. Ntar gua usahakan tengok deh”.

Pas jam lima sore , jam pulang kantornya, Darmawan langsung pulang. Tapi dia tidak pulang ke rumahnya, melainkan menuju rumah sakit Dharmawangsa di Jl Darmawangsa Kebayoran. Dia pun bertanya tentang nomor kamar yang merawat Nurjannah kepada adminisytasi disana dan memperoleh informasi bahwa Nutjannah dirawat di kamar No.12.
Darmawan pun menuju kamar No. 12  itu. Dari pintu yang seidikit terbuka Darmawan dapat mengintip kalau Nurjannah sedang duduk termenung di tempat tidurnya. Darmawan mengetuk pintu, dan membuka pintu yang sedikit sudah terbuka itu lebih lebar. Nurjannah seperti tercengang melihat seseorang masuk ke kamarnya. Dia perhatikan Darmawan yang sedikit tersenyum kepadanya. Dia hanya melihat saja Darmaan masuk, tapi tidak bereaksi atas kehadiran Darmawan.
“ Selamat sore Tante”. Nurjannah tidak menjawab. Darmawan kagok juga, karena Nurjannah seperti tidak mengenalnya.
“Saya Darmawan Tante”.  Nurjannah melihat  padanya, tapi dia seolah tidak ingat nama Darmawan .
“ Saya anak nya pak Khairul” Nurjannah tetap diam.
“Pak Khairul bekas suami tante. Masa tante tidak ingat ?”.
“Khairul ?. Benar kamu anak bang Khairul ?  “
“Benar tante”.
Nurjannahpun berdiri dan memeluk Darmawan. Pelukan Nurjannah itu dirasakan kurang normal oleh Darmawan karena Nurjannah memeluknya keras sekali. Darmawan baru lega setelah Nujannah melepaskan pelukannya.
“Nama kamu Darwawan ya. Oooh ….. tiba tiba Nurjannah menangis dan berucap : “Maafkan saya Bang Khairul, saya mneyesal bang”, kemudian dia menangis tersedu sedu dan mengulangi ucapan itu sampai tiga kali.
Darmawan prihatin melihat mantan ibu tirinya itu. Dia heran kok ibu tirinya saat menjadi istri bapaknya tampak sangat tegar.  Selalu bicara tegas, bahkan sering berdebat sangat sengit dengan bapaknya ketika berdiskusi tentang calon presiden saat Pilpres yang lalu. Sekarang semua itu sudah tidak ada lagi. Ibu tirinya itu tampak amat lemah dan memprihatinkan.
Saat jam bezuk habis, Darmawan pun pulang. Sesampai di rumahnya, diteleponnya bapaknya. Kebetulan bapaknya sedang dirumah sendirian.
Saat telepon diangkat bapaknya, Darmawan langsung bicara.
“ Pap. Tadi aku ke Rumah Sakit Darmawangsa”
“ Rumah sakit gila itu ?. Ngapain kamu kesana”.
“ Melihat tante. Dia lagi dirawat disana. Sudah sekitar 3 minggu. “
Khairul kaget luar biasa. “ Kenapa dia dirawat disana Wan ?. Ada apa dengan dia kok sampai dirawat disana ?”
“ Menurut cerita anak mantunya, bulan lalu dia menikah dengan orang Batak. Lalu mereka pesiar dengan kapal cruise menyusur pantai barat pasifik dan berhenti di Manila. Dari Manila kembali ke Jakarta naik pesawat dan sesampainya di Jakarta, besoknya suami si tante itu meninggal. Barangkali dia stress karena itu”.
“Oh begitu. Itu soal ajal. Itu kuasa Allah. Gak perlu disesali. Pastilah suaminya itu kaya ya Wan. Kalau tidak kaya mana mungkin mampu pesiar berbulan madu  naik cruise”.
“Tapi dari bicaranya si Tante itu seperti menyesal pap. Dia sering menyebut nyebut nama papi. “
“Kok menyebut nama papi. Apa dia bilang ?”
“Dia  seperti menginggau. Maafkan saya bang Khairul, saya menyesal. Berkali kali dia ngomong seperti itu“.
“Menyesal kenapa ? Apa yang disesalkannya ?. Waktu meninggalkan papi dia kan tampak tegar sekali. Tidak mungkinlah orang setegar dia itu menyesal. “
“ Papi tidak ada rencana nengok si tante ?”.
“ Gak lah. Kalau dia masih seperti itu buat apa di tengok. Itu kan tanda bahwa dia itu belum sadar, belum bisa diajak dialog. Gak ada guna menengoknya”
 “ OK deh pap. Aku mau menyelesaikan kerjaan dulu. wasssalamualaikum”.
“Mualaikum salam”
Darmawan sedikit kecewa juga , kok bapaknya gak mau mnengok si tante?.
          
Setelah pembicaraan itu Khairul menjadi berpikir. Hatinya mendua antara datang menengok Nurjannah atau membiarkan jandanya itu menderita bathin karena kali ini dia  kena batunya. Tentulah dia stress dapat laki kaya tapi tidak lama kemudian si kaya itu mati. Kalau dia dapat warisan tentu dia tidak akan stress. Pasti dia tidak dapat apa apa dari kematian suaminya itu. Biasanya kalau laki laki tua sudah hidup sendiri, hartanya sudah dihibahkan kepada anak anaknya. Sehingga kalau dia menikah lagi, istri baru tidak dapat apa apa , karena tidak ada lagi yang mau diwariskan.
Dua hari setelah Darmawan memberitahukan tentang Nurjannah, Melda menelepon Khairul Melda biasanya memanggil om pada Khairul.
“ Ya Melda”. Menjawab Khairul di HP nya.
“ Om sudah tahu kalau mama masuk rumah sakit ?”
“ Iya, sudah dikasi tahu Darmawan. Kenapa Melda“
“ GinI Om. Mama suka memanggil mangil nama Om. Kayaknya ada penyesalan mama . Sepertinya dia merasa salah kepada Om. Kalau om ada waktu tolong datang menemgok mama dong om. Siapa tahu kesadarannya pulih setelah ketemu om”.
“ Itu anjuran dokter atau perkiraan Melda saja?”.
“Dokter juga menyarankan begitu  om. Kalau Melda sudah lama punya pikiran begitu, Cuma gak berani aja ngomong sama om”
“ Ooh begitu. Okelah Melda. Nanti om tengok deh”.
         
Sore sekitar jam empat, Khairul pun menyetir kendaraannya menuju Kebayoran. Dia mngerti liku liku jalan di daerah kebayoran itu, kira kira satu jam diapun sampai di Rumah sakit Dharmawangsa tersebut. Dia tahu kalau mantan istrinya yang “matre” itu dirawat di kamar No. 12. Khairul langsung menuju kamar itu. Pintu kamar itu tertutup dan dari Jendela  Khairul dapat mengintip kalau Nurjannah sedang tidur tiduran. Jantungnya berdegup juga melihat mantan istrinya itu. Agak lama juga dia memperhatikan Nurjannah. Timbul iba hatinya melihat jandanya itu yang nampak kurus dengan rambut setengah awut awutan.
Khairul pun membuka pintu kamar tempat Nurjannah dirawat. Nurjannah agak kaget ada orang buka pintu kamarnya, Diapun duduk. Dia pangling, rasanya kenal dengan orang yang masuk itu. Tapi dia diam  saja. Semula Khairul juga diam saja, dia menunggu reaksi Nurjannah. Karena Nurjannah seperti tidak bereaksi, Khairul pun bicara.
“ Kamu lupa sama saya ya”
Baru setelah mendengar suara Khairul. Nurjannah terkesiap. Dari mulutnya terucap pelan sekali.
“Bank Khairul”
Diapun berdiri. Khairul pun datang memeluknya dan nurjannahpun memeluk erat Khairul  sambil menangis. Khairul tanpa disadarinya  ternyata airmatanya juga menetes netes. Iba sekali hatinya melihat keadaan jandanya itu.

Rupanya kunjungan Khairul itu sangat dirindukan oleh Nurjannah. Itulah obat yang sangat mujarab baginya.  Setelah itu, tiga hari berturut turut Khairul datang ke rumah sakit itu, pagi dan sore menemani Nurjannah, kadang menyuapinya makan , menyuruh dia meminum  obatnya. Kebanyakan pasien di RSJ suka membuang obatnya kalau tidak dikontrol. Dengan adanya Khairul didekatnya Nurjannah malahan rajin minum obat. Dan perkembangan kemajuan kesehatan jiwa Nurjannah terlihat semakin baik. Dia bahkan dapat dengan detail menceritakan pengalaman nya naik Cruise bersama Marlon yang menipunya itu. Pada hari ke lima sejak kunjungan Khairul, Nurjannah pun  dibolehkan pulang. Dia dinyatakan sembuh.  
        
Dengan izin Melda, Khairul membawa Nurjannah pulang ke rumahnya di Jaka Sempurna. Saat menaiki mobil Fortuner Khairul yang masih baru itu, Nurjannah bertanya tanya dalam hati kok suaminya mampu beli mobil baru ?. Padahal seingatnya sertahun lalu saat dia meninggalkan Khairul, laki laki ini sudah mau bangkrut. Memberi Cek bulanan yang tidak seberapa nilainya itu saja dia bilang sudah tidak mampu. Nurjannah tergelitik juga untuk bertanya.

“Abang sudah kaya lagi ya Bang. Sekarang mobil abang baru , bagus amat”.
“Itulah Nur. Kadang rejeki datangnya tak terduga. Rumah di Kali Malang yang rencananya mau saya wariskan kepada Darmawan ternyata ada yang mau beli, Karena lokasinya bagus, setelah pembeli itu yakin bahwa jalan Becakayu itu akan segera  rampung. Rumah itu  ternyata laku 3,5 M. Dua M saya kasi Darmawan untuk beli rumah dan sisanya  untuk saya. Bisa untuk beli mobil ini dan ada tabungan sedikit untuk terus main golf.
Yang penting Nur, harta saya harus memberi manfaat pada saya, sembari juga membantu anak saya agar dia ada rumah. Kalau tidak dibelikan rumah, kapan dia bisa punya rumah dalam situasi seperti sekarang ini. Harta kita akan bermanfaat kalau kita manfaatkan. Kalau disimpan terus harta itu tidak ada manfaatnya, padahal kita kan sudah tidak lama lagi hidup dan akan meninggalkan dunia yang fana ini.
Cobalah kamu pikir lagi Nur. Tanah kamu banyak. Rumah kamu juga banyak. Ada berapa  ya, kalau tigak salah ada 3 rumah. Dan kos kos an kamu ada 3 bangunan dengan berpuluh pintu.  Semua kamu bisniskan, dikontrak sewakan dsbnya. Bagus saja sih. Tapi yang kamu nikmati apa ?. Untuk diri kamu sendidi saja kamu juga kikir. Makan saja masih cari yang murah, kelas nasi Padang yang sekali makan 15.ooo rupiah. Ya kan ?.

Saya perhatikan kamu jarang sekali masuk restoran enak, karena menurut kamu mahal. Kecuali perginya sama saya. Karena biasanya saya yang bayar. Kamu kerja keras, semua kamu hematin, termasuk untuk keperluan pribadi kamu. Ndak lama lagi kita akan meninggalkan dunia ini dan harta kamu tidak akan kamu bawa kan ? Betul  yang menikmati nanti adalah anak dan cucu kamu. Tapi harta kamu itu bukan hasil jerih payah mereka kan ? Mereka boleh menikmati, tapi kamu sebagai yang pengumpul harta itu, yang bekerja keras, menahan selera dan berhemat setiap saat. Apa yang kamu nikmati ? .  Dan ironisnya uang yang kamu kumpul, yang kamu tabung sedidkit demi sedikit, yang sama sekali tidak kamu nikmati akhirnya dicuri orang.
          
Mendengar ucapan Khairul yang terakhir ini Nurjannah, bangkit kembali kenangannya saat uangnya di larikan Rizal suami mudanya itu. Juga uangnya yang dicuri Marlon di kapal Criuise itu. Apa yang dikemukakan khairul adalah kenyataan yang menyakitkan baginya.  
          
Jadi Nur, saya hanya ingin menasihati saja. Mulai sekarang manjakanlah diri kamu dengan uang dan harta kamu. Jangan lagi terlalu berhitung. Masa dari muda sampai tua kamu kerja keras  mengumpul uang dan harta terus terusan tapi tidak pernah menikmatinya dalam arti yang sesungguhnya. Bagaimana kamu bisa menikmati harta dan uang kamu itu , kalau pada diri sendiri saja kamu juga pelit luar biasa ?.  
 Satu hal lagi Nur. Kalau kita menjadi suami istri lagi, memang nafkah istri  itu adalah kewajiban suami, tapi jangan terlalu kaku lah. Insya Allah Saya tidak akan minta uang kamu. Pengeluaran pengeluaran kecil kecil untuk kepentingan bersama , kalau kamu menagihnya tetap akan direfund namun jumlah itu tidak akan membuat kamu menjadi lebih kaya, begitu juga kalau kamu tidak menagih,  tidak akan membuat kamu semakin miskin . Atau kalau mau menagih juga , tagihlah sekali sebulan agar tidak repot.
          
Nurjannah diam saja mendengar celoteh Khairul.  Sekarang dia sadar , apa yang dikatakan khairul itu dirasakannya sebagai pencerahan. Iya dulu dia mempelakukan suaminya seolah olah semuanya  kewajiban suami, sampai kepada yang kecil kecil, walaupun uang yang direfund nya itu kadang jumlahnya tidak materil. Dan dengan itu dia telah memperlihatkan watak materialistisnya kepada suaminya. Dan ironisnya dia menganggap hal itu biasa saja, padahal  suaminya merasa teerganggu dann direpotkan oleh hal hal sepele itu. Nurjannah   akhirnya juga bertanya pada dirinya. Hartanya yang cukup banyak itu, hasil jerih payahnya , kapan akan dia nikmati ?. Mobil nya tetap saja mobil Suzuki tua yang sudah dipakainya selama 12 tahun, yang tiap sebentar masuk bengkel dan kadang mobil itu mogok dijalan dan perlu memanggil derek untuk membawanya ke bengkel. “Kenapa ya kok saya tidak beli saja mobil baru  ? . Padahal saya mampu, dan  uang saya ada. Kenapa ya saya tidak mampu berpikir seperti Bang Khairul, yang bisa memanfaatkan hartanya untuk kenikmatan hidupnya ?. Andai nanti harta itu saya wariskan kepada anak  keturunan saya, mereka pasti tidak akan pelit seperti saya. Yang pertama mereka beli barang kali adalah mobil baru “. Begitulah kesadaran Nurjana menghinggapi pikirannya.

Sesampai di rumah Khairul , Nurjannah tercengang. Rumah itu sudah di renov. Sudah lebih bagus, lebih rapi. Dan foto foto yang dulu bertebaran di setiap dinding di rumah itu, terutama foto foto almahrumah istri pertama Khairul, sekarang sudah tidak nampak lagi. Nurjannah benar benar merasa memasuki rumah baru . Tapi kesadarannya cepat datang kepadanya.  Bahwa sekarang statusnya masih bercerai dengan Khairul. Belum dipulihkan kembali sebagai suami istri. Karena itu setelah memasuki rumah Khairul dia tidak berani masuk ke kamar Khairul, yang dulu merupakan kamat mereka berdua. Nurjannah hanya duduk saja di kursi ruang tamu rumah itu. Dia menunggu Khairul duduk pula di ruang tamu itu.

Tidak lama kemudian Khairul datang sambil membawa dua buah gelas dan sebotol besar jus buah.
Setelah duduk, kedua gelas itupun diisi Khairul dengan jus buah itu. Dan mereka meminumnya seteguk demi seteguk.

Mereka nampak saling pandang melepaskan rindu , setelah lebih dari setahun bercerai. Perceraian yang dilakukan hanya karena sebab sepele. 

“Kita masih dalam status bercerai lho Nur”, berkata Khairul membuka pembicaraan.
“Iya bang. Menurut abang bagaimana caranya memulihkan status kita kembali sebagai suami istri bang  ?”
“ Ya gak ada jalan lain selain kita menikah kembali. Tepatnya dinikahkan oleh penghulu”.
“Tapi dulu itu perceraian kita kan, kan hanya kesepakatann, apa gak bisa kesepakatannya dibatalkan dan kita kembali menjadi suami istri”.
“Saya kira tidak bisa seperti itu Nur. Gak apa apalah kita buat selamatan kecil kecilan. Kita undang semua kerabat dekat, kita adakan selamatan, karena kamu sembuh dari sakit. Sekaligus kita panggil penghulu menikahkan kita kembali, agar status kita sebagai suami istri itu sesuai syariah “.
“ Iya bang, begitu sajalah bang. Jadi saya tidur dimana malam ini. “
“Iya tidur dikamar kamulah, maksud saya di kamar kita. Kamu gak usah khawatir, saya sabar menunggu sampai kita nikah lagi. Lagi pula kamu kan masih lemah, saya gak mungkin lah mengganggu kamu dalam kondisi kamu lemah seperti ini”
Setelah makan malam , dan beristirahat sebentar, merekapun masuk kamar. Naik keranjang mereka, tidak berbuat macam macam , kecuali berciuman melepaskan rindu sebagai tanda saling mengasihi”.
       
Dua hari setelah itu , Khairul menggelar selamatan sembuhnya istrinya Nurjannah  dari sakitnya. Acara didahului dengan ijab Kabul lagi antara Nurjannah dengan Khairul , yang sebelumnya masing masing berstatus sebagai Janda dan Duda “.
       
Sebulan setelah itu Nurjannah menjual sebidang tanah  miliknya di daerah Sawangan seluas 350 m persegi. Tanah itu laku Rp.700 juta. Tidak lama setelah transaksi itu, diapun mampir ke show room Honda , dia tidak lama melihat lihat disana dan langsung memesan Honda HRV 1500 cc warna putih dan membayar lunas harga mobil itu Rp. 280 juta dengan selembar cek. Seminggu kemudian mobil itu diantar ke rumahnya di Jaka Sampurna. Suaminya surprise juga ketika ada seseorang mengantarkan mobil baru kerumahnya, dan ternyata mobil itu atas nama Nurjannah istrinya. Khairul tersenyum lebar menyaksikan mobil itu diparkir disamping mobil Fortuner miliknya. Dalam hati, dia bergumam. Syukurlah istriku Nurjannah sudah berubah.

Setelah pernikahan mereka kembali , pasangan itu nampak semakin akrab ,  bahagia , dan keduanya menikmati hidup mereka selayaknya, sebagai pasangan senior yang mapan.


                              -------  selesai------------

No comments:

Post a Comment