MENAMBUR CINTA PERTAMA
sp;
Nama Nurjannah itu bukan sembarang nama.
Nur itu berarti Cahaya, sedang Jannah itu artinya Surga. Nurjannah tiada lain berarti Cahaya Surga atau Cahaya
dari Surga. Demikian bapaknya seorang
Polisi berpangkat Letnan Polisi di Bukittinggi memberi nama kepada putri
pertamanya yang lahir di bulan Agustus
tahun 1945, tidak lama setelah
Kemerdekaan RI. Saat terjadi pergolakan
PRRI di Sumatra Barat pada tahun 1957 letnan Polisi itu tidak ikut mendukung PRRI dan tidak lama
setelah peristiwa PRRI itu , sang bapak sudah dinaikkan pangkatnya menjadi
kapten dan tidak lama kemudiam papa Nurjannah pun di mutasikan ke Jakarta.
Nurjannah pun sejak kelas dua SMP sudah bersekolah di Jakarta dan tinggal di
daerah Bungur bersama papa, mama serta
dua orang adiknya yang dua duanya perempuan..
Setamat SMA
Nurjanah sekolah di Bandung. Dia kuliah pada suatu akademi bank. Kenapa bukan
di Jakarta ?. Nurjannah merasa kalau kuliah di Jakarta , dia akan selalu
dimanjakan orang tuanya sehingga akan merasa seperti anak yang tidak mampu
berdiri sendiri. Nurjannah ingin berdiri sendiri dan ingin cepat bekerja agar
memperoleh penghasilan sendiri. “Belajar hidup” katanya. Itulah alasannya untuk
bersekolah jauh dari orang tuanya agar ada kesempatan mandiri setidaknya tidak selalu harus di awasi dan di
khawatirkan, dan dia meyakinkan ibunya bahwa dia bisa menjaga dirinya.
Sebagai anak
perwira polisi Nurjanah dan adik adiknya tentu saja punya rasa percaya diri
karena tidak semua orang berani macam macam dengan anak perwira polisi yang ketika
itu sudah berpangkat Ajun Komisaris Polisi , setara dengan Mayor dalam
kepangkatan di angkatan bersenjata lainnya.
Nurjannah dibelikan papanya sebuah skuter Vespa sebagai sarana baginya
untuk pergi dan pulang sehabis kuliah. Tidak perlu naik bis atau oplet pergi
kuliah. Dizaman itu tidak banyak mahasiswa
yang punya skuter. Di Akademi bank tempat kuliah Nurjannah itu hanya Nurjannah yang punya dan tentu saja banyak mata
mahasiswa yang melirik gadis cantik yang punya skuter itu.. Masa mahasiswanya
Nujanah itu amat menarik, dia dapat dikatakan menjadi bintang di Akademi itu.
Bapaknya yang berpangkat Mayor Polisi itu ikut mengatur keperluan pendidikan
anaknya. Nurjananahpun di kost kan di tempat kenalan bapaknya sehingga bapaknya
pun merasa anaknya aman tinggal di tempat kenalannya itu.
Di Bandung, sejak dulu ada perkumpulan orang Minang. Suatu saat ada acara halal bihalal dua puluh
hari setelah idul fitri. Keluarga ibu kost Nurjanah mengajak Nurjannah ikut
dalam acara silaturahmi Halal Bihalal itu. Keikut sertaan Nurjanah dalam
halal bihalal itu membawanya berkenalan dengan Ramadan yang ketika itu sudah
duduk di Semester tiga Istitut Tehnologi
Bandung, Di acara silaturahmi Idul Fitri itulah Ramadan terpesona pada
kecantikan Nurjannah dan tentu saja kesempatan tidak di sia sia kan oleh
Ramadan yang memang tampan dan pandai bergaul itu. Dia pun mendekati Nurjanah
dan memperkenalkan dirinya . Laki laki ganteng dan gadis cantik itu cepat
sekali saling tertarik dan mereka akrab
kendati baru saja saling kenal. Tapi di zaman itu tata krama dan sopan santun
sangat terpelihara di keluarga orang Minang tempat Nurjanah dititipkan bapaknya.
Tidak bebas keluar kalau tidak jelas tujuannya. Ramadan tidak mungkin bertamu tanpa dibatasi.
Saling ketertarikan antara Nurjanah dengan Ramadan berlansung terus dan memang
berujung cinta , tapi tetap dibatasi sebagai pergaulan sesama remaja Minang
yang mengikuti adab dan kebiasan orang Minangkabau yang walau berada di rantau
namun tetap ada adab yang harus dipatuhi.
Pada September tahun 1965, terjadi
peristiwa G30S. Yaitu pembunuhan jenderal Jenderal Angkatan Darat oleh Pasukan
Pengawal Presiden “Cakrabirawa” yang berlatar belakang Coup oleh PKI untuk
berkuasa yang akhirnya berhasil
digagalkan . Saat itu terjadi demo besar besaran oleh Mahasiswa yang dipelopori
oleh Mahasiswa UI. Demo itu bukan hanya terjadi di Jakarta melainkan menyebar
sampai ke kampus kampus perguruan tinggi lainnya di daerah termasuk Bandung. Semua
perkuliahan di perguruan terhenti dan mahasiswa turun ke jalan. Mahasiswa dari
Bandung pun ikut turun dan demo di Jakarta bergabung dengan mahasiwa UI dan
seluruh Universitas dan perguruan tinggi di Jakarta.
Ramadan dan Nurjannah pun pulang ke
Jakarta dan ikut demo bersama mahasiswa lainnya. Mahasiswa itu menyampaikan
tuntutan mereka yang terkenal sebagai Tritura (Tiga tuntutan rakyat)
Dalam demo
itu Nurjannah dan Ramadan selalu bersama dan cinta mereka semakin menyatu.
Ramadan selalu melindungi kekasih hatinya itu, memegangi tangannya dalam
kerumunan massa seolah takut kekasihnya itu terseret kerumunan atau hilang.
Nurjannah termasuk orang yang peduli terhadap ketidak adilan atau atas sesuatu
yang dianggapnya tidak benar. Dalam demo tahun 1965 / 1966 itu Nurjannah lah yang lebih keras
mengajak Ramadan berdemo. Ramadan ikut , namun lebih banyak dengan tujuan agar
bisa bersama dengan Nurjannah. Hanya di demo itulah kesempatan bagi Ramadan untuk berpegangan tangan dengan
Nurjannah, bahkan kesempatan memeluknya dari belakang dalam kerumunan, agar dia tidak terseret
kerumunan atau terdorong oleh massa yang sering dorong mendorong. Nurjannah pun
menikmati suasana demo itu karena didampingi Ramadan yang sering mengambil kesempatan
untuk berpegangan tangan dan bahkan memeluknya dalam situasi tertentu.
Nurjannah pun membiarkannya dengan senang hati, karena dia merasa senang
Ramadan berbuat begitu kepadanya,
Setelah
jenazah Tujuh Pahlawan Revolisi yang dibantai Cakrabirawa di lubang Buaya ditemukan, Angkatan Darat
seperti unjuk kekuartan (show of force) dengan tank tank nya berparade di jalan
jalan di ibukota dan bahkan meliwati jalan jalan dimana mahasiswa itu berkumpul. Sebagian mahasiswa itu pun naik ke tank tank
itu berkeliling kota sebagai unjuk kekuatan dan sebagai support terhadap ABRI
yang sudah berhasil menguasai keadaan.
Nurjannah
pun ikut naik ke tank itu dan tentu saja “pengawalnya” , sang kekasih ikut pula
naik bersamanya. Itulah moment moment yang tidak terlupakan bagi kedua insan
yang saling jatuh cinta itu. Berpacaran sambil demo dan naik tank pula
berkeliling kota dengan sambutan masyarakat dari pinggir pinggir jalan yang
menyokong perjuangan mahasiswa melawan PKI yang menjadi otak pembunuhan jenderal
jenderal Angkatan Darat itu. . Suatu pengalaman indah yang jarang didapat oleh
pasangan yang sedang berpacaran memadu kasih di saat saat itu.
Setelah tiga setengah tahun kuliah akhirnya Nurjanah berhasil menyelesaikan studinya di Akademi Bank tersebut lebih dahulu dari Ranmadan yang kemudian
berhasil menjadi Insinyur dua tahun
setelah Nurjannah.
Nurjannah hanya berminat mencari
pekerjaan di bidang perbankan. Hampir
setiap hari dia mmelototi iklan lowongan kerja, terutama lowongan kerja di
bank. Sehingga saat ada lowongan pada
suatu bank diapun buru buru mengajukan lamaran,
Nurjanah pun
dipanggil dan di test pada suatu bank swasta dan ternyata dia diterima bekerja
di bank itu. Pengetahuan perbankannya
dianggap memadai dan dia diterima sebagai klerk di bank itu.
Pertama
masuk Nurjannah ditugaskan di administrasi kredit. Nurjannah ternyata cepat
menguasai pekerjaannya dan dengan
berjalannya waktu bank pun berkembang sehingga membutuhkan tambahan pegawai.
Setelah beberapa pegawai baru diterima, Nurjannahpun di promosikan menjadi
pegawai staff dan bertanggung jawab terhadap pekerjaan lima orang bawahannya.
Sementara itu Ramadan yang juga berhasil
memperoleh gelar insinyurnya kembali ke
Jakarta ke rumah orang tuanya. Dia mengambil jurusan Teknik Sipil. Ramadan
sementara bergabung dengan seorang seniornya
dan bekerja sebagai salah satu tenaga teknik perencanaan . Bersyukur
juga dia bekerja di perusahaan seniornya itu, dia menjadi paham lika liku
perusahaan kontraktor. Setelah lebih kurang dua tahun dia menjadi pegawai,
Ramadan akhirnya mencoba merekrut beberapa orang kenalannya dan membuat
perusahaan kontraktor sendiri. .
Beberapa kali dia mengambil pekerjaan sebagai Sub Kontraktor yang diperolehnya
semata mata karena kepercayaan temannya yang punya posisi di suatu perusahaan
kontraktor besar. Namun bekerja sebagai sub kontraktor tentu saja keuntungannya
lebih kecil karena kalkulasi biayanya tidak sebesar yang diajukan kontraktor
utamanya.
Hubungan Ramadan dengan Nurjannah
tetap terjalin walau mereka sama sama tenggelam dalam kesibukan di tempat kerja
masing masing.
Ramadan , setelah dirasanya dia mampu secara
finansial, barulah dia berunding dengan
Nurjanah tentang kelanjutan hubungan mereka. Sekarang mereka merasa matang dan sudah
waktunya untuk berumah tangga.
Pada suatu hari Minggu, Ramadanpun datang bertamu ke rumah
Nurjannah.. Tapi kali ini Ramadan ingin berbicara dengan bapak dan ibu
Nurjannah. Dia ingin menyampaikan niatnya untuk mempersunting Nurjannah yang
sudah beberapa tahun dikenalnya , bahkan sudah saling mencintai satu sama lain.
Berhadapan
dengan bapak dan ibu Nurjannah, Ramadan tampak sedikit grogy . Apalagi yang
dihadapinya itu adalah seorang Komisaris
Polisi yang jelas tampak berwibawa.
Di dinding ruang tamu itu terpampang foto pak Polisi tersebut dengan
pakaian kebesarannya, dengan dua bintang besar di pundaknya. Zaman itu pangkat
Komisaris Polisi itu menggunakan Bintang, dan sekarang tanda pangkat itu sudah
dirubah menjadi dua bunga melati setara dengan Letnan Kolonel kalau di angkatan lain.
Bapak
Nurjannah cepat menangkap maksud Ramadan. Pada prinsipnya orang tua Nurjannah
setuju untuk menikahkan anaknya dengan Ramadan, namun bapak Nurjannah minta
supaya orang tua Ramadan segera datang melamar Nurjannah secara resmi.
Acara lamaran dan begitu juga
pernikahan antara Jurjannah dengan Ramadan pun terselenggara dengan baik.
Dihadiri banyak tamu dan undangan. Dan setelah menikah Nurjannah dan Ramadan
pun pindah ke rumah sendiri walaupun rumah itu berstatus sebagai rumah
kontrakkan. Mereka patungan membiayai sewa kontrak rumah mereka.
Setelah
tiga tahun menjadi istri Ramadan, Nurjannah
pun melahirkan dua orang putri bagi mereka. Anak mereka yang pertama lahir di
bulan Agustus dan diberi nama Nurma Ramadhani Putri dan sehari hari mereka panggil Nurma. Nurjannah
punya makna sendiri terhadap nama
anaknya Nurma itu. Dia mengartikan Nurma itu sebagai Cahaya jiwa nya alias
Cahaya atau Nur dari Mama dan
disingkatnya sebagai Nurma. Lima belas bulan setelah kelahiran Nurma, Nurjannah
kembali melahirkan anaknya yang kedua. Pada kehamilan anaknya yang kedua ini,
Nurjannah mungkin agak tinggi kesibukannya sehingga nampak kalau dia kurang
istirahat. Itulah barangkali yang menjadi penyebab anaknya yang kedua ini lahir
premature. Anak yang kedua ini lahir saat kandungan Nurjannah belum berusia 7 bulan, Walau si bayi dapat diselamatkan
setelah dirawat melalui incubator cukup lama, namun nampak kalau anak nya ini
agak rentan terhadap penyakit dan karena itu sampai berumur tiga tahun dia
masih di jaga dan dirawat ekstra hati hati. Anaknya yang kedua ini diberinya
nama Lamelda Ramadhani yang sehari
harinya dipanggil Melda. Nurjannah memberikan nama bagi anaknya itu tapi dia
tidak memberi tahu siapapun bahwa Lamelda itu sebenarnya adalah singkatan dari “
Lahir Melalui Derita“. Karena baik Ibu maupun anak sangat
menderita saat kelahiran si bayi, mujur keduanya terselamatkan. Kemungkinan
bayi itu selamat berdasarkan pemgalaman
dokter ahli kandungan hanya berkisar 50
% , jadi situasi saat itu memang kriits baik bagi Nurjannah maupun bayinya. Setelah kelahiran anaknya yang kedua itu
Nurjannah bertekat tidak akan hamil lagi, cukuplah dua anak bagi mereka, dan
itu sudah sesuai dengan anjuran pemerintah (Orde Baru) saat itu bahwa “Dua anak
cukup” sebagai slogan dalam program keluarga berencana Pemerintah.
Sejak Sekolah Dasar sampai SMP, anak anak Nurjannah selalu memperoleh rangking di kelasnya. Walau
punya anak Nurjannah masih bisa membagi waktunya dan tetap bekerja di Bank
Swasta tempatnya memulai karir sebagai
pegawai bank. Rumah tangga mereka tampak damai , bahagia dan sejahtera.
Suatu saat , bank tempat Nurjannah
berkarir itu ternyata semakin baik posisi dan perkembangannya. Ketika itu ada
semacam pembatasan oleh Bank Indonesia dalam pendirian bank baru. Mungkin karena pendirian bank baru
dianggap terlalu lama dan prosedurnya berliku dengan persyaratan yang jelimet ,
beberapa investor mengambil jalan pintas dengan cara membeli bank kecil yang
sudah ada . Ternyata ada investor yang
tertarik dengan perkembangan bank tempat Nurjannah bekerja ini dan setelah
melalui proses panjang, penilaian dan evaluasi atas bank itu akhirnya dilakukan
negosiasi dan pemilik lama bank itu
bersedia menjualnya. Dan itu berarti sebagian besar pegawai dan staff di bank
itu harus diganti dengan tenaga tenaga yang kualifikasinya sesuai dengan standar kualifikasi yang
diinginkan manajemen baru. Semua pegawai diwawancarai satu persatu termasuk
Nurjannah, dan ternyata hasilnya hampir tujuh puluh persen pegawainya dilepas dengan uang pesangon
alias diberhentikan dari bank itu. Bank itupun berganti nama, berganti manajemen
dan menjadi Bank Campuran yang sebagian besar sahamnya dikuasai asing. Nurjannah
pun termasuk dalam tujuh puluh persen
pegawai yang dilepas itu. Nurjannah sebenarnya termasuk pegawai staff yang memenuhi standar
kualifikasi yang ditetapkan. Tapi bank yang dikuasai asing itu menginginkan
semua pegawai Staffnya bisa di mutasikan
ke cabang cabang nya di manapun termasuk di luar Indonesia. Ketika diwawancarai
dan ditanya , apakah Nurjannah bersedia jika suatu waktu dimutasikan ke luar
Indonesia ?. Jawaban yang keluar dari mulut Nurjannah adalah, “ saya tidak
bersedia”. Akhirnya Nurjannah masuk dalam kelompok tujuh puluh persen pegawai
yang dilepas. Nujannahpun pun
menganggur. Masih untung Nurjannah dapat pesangon yang jumlahnya cukup untuk
membeli sebidang tanah seluas 250 meter
persegi di daerah Tebet, Jakarta. Walau
masih mengontrak rumah, namun Nurjannah sudah memiliki sebidang tanah yang
nanti jika ada rezeki lagi Nurjannah berniat akan membangun rumah bagi
keluarganya di tanah yang dibelinya itu.
Sementara itu Ramadan masih
ada pekerjaan. Dia masih punya penghasilan sehingga walau
Nurjannah sudah tidak terima gaji, masih
ada suaminya yang menjadi andalan dalam kehidupan sehari hari. Selama ini saat
bekerja di bank, Nurjannah lah yang lebih banyak membiayai keluarga, termasuk
suaminya jika si suami tidak ada proyek alias menganggur.
Pada saat
Ramadan juga tidak ada proyek , itulah saat saat kritis bagi mereka. Tidak ada
pemasukan. Dalam situasi tersebut Nurjannah harus mencari uang untuk menghidupi
keluarganya. Pernah dia berjualan kue kue basah (di Jakarta disebut jajanan
pasar) yang dibuatnya sendiri dan kemudian dititipkannya ke beberapa
warung kopi. Dengan itulah Nurjannah bertahan hidupNamun hal itu tidak berlangsung
lama. Nurjannah tetap mengikuti dan membaca iklan lowongan pekerjaan untuk
menjadi pegawai bank. Saat Bank Asing mulai banyak masuk, ternyata Nurjannah
berkesempatan dipanggil dan di test di suatu bank asing itu dan dia dinyatakan
lulus dan , mulai saat itu Nurjannah kembali menekuni profesinya sebagai
pegawai staf di salah satu Bank Asing
itu.
Tidak lama
kemudian Nurjannah yang dinilai cakap dan mampu
oleh atasannya , dianggap layak memegang posisi dan jabatan yang lebih
tinggi. Kemampuan Bahasa Inggris
Nurjannah yang diatas rata rata ternyata amat berguna dan dapat dimanfaatkan
Nurjannah untuk menunjukkan potensinya . Sementara itu suaminya Ramadan,
sebagai kontraktor tetap saja senen kemis, kadang ada proyek dan kadang tidak
ada sama sekali, Namun dia cukup tahu
diri, jika menganggur maka tugasnyalah untuk menjaga dan membantu pelajaran
anak anaknya sehingga kedua anak anaknya itu menjadi hebat disekolahnya masing
masing. Nurjannah semakin baik karirnya di Bank Asing itu, sehingga dia merasa
mampu jika ada kesempatan untuk memperoleh posisi yang lebih tinggi lagi. Ada
semacam keinginan untuk selalu mencoba yang baru pada diri Nurjannah. Termasuk dalam bidang pekerjaan.
Suatu ketika Nurjannah yang sudah
mempunyai posisi sebagai assistant Manager di Bank tempatnya bekerja, ditelepon
oleh seseorang. Orang itu mengaku sebagai Manager pada suatu perusahaan
Rekrutmen yang sedang mencari orang yang tepat untuk ditempatkan sebagai
manager pada suatu Bank Asing yang akan buka kantor di Jakarta. Nurjannah terkesiap, sadar kalau
dia mulai dikenal dan dilirik. Terbukti ada “head hunter” (istilah untuk
pembajak tenaga ahli) yang menghubunginya. Nurjannah tidak menyia nyiakan kesempatan itu dan
menyetujui untuk temu wawancara dengan si penelepon. Nurjannah memang punya jiwa “petualang” ,
berani mencoba yang baru dan selalu ingin mendapat pengalaman baru yang
berbeda.
Mereka bertemu
di suatu café di Kuningan. Setelah perkenalan dan basa basi , si Head Hunter
itu mengajukan berbagai pertanyaan kepada Nurjannah yang dicatatnya dalam Note
Book nya. Pertanyaan itu begitu mendetail meliputi keluarga, pendididkan ,
pekerjaan yang dia kerjakan sehari hari di bank saat itu.Begitu juga tentang
gaji dan emolument yang diterimanya dari
bank tempat dia bekerja sekarang, semuanya diungakpan Nurjannah apa adanya. Setelah mendapatkan gambaran bulat tentang
potensi dan kemampuan Nurjanah , si pewawancara yang warganegra Singapura itu
kemudian menjelaskan bahwa bank yang
mebutuhkan tenaganya itu adakah suatu bank Asing dari Perancis yang akan beroperasi di Indonesia dengan
kantor Cabang Utamanya di Jakarta. Dia menjelaskan bahwa mereka sudah mempunyai
standar gaji dan fasilitas bagi pegawainya termasuk emolumen kesehatan,
ketentuan tentang cuti atau liburan , kesempatan pendidikan ,jenjang karir dan program
Housing Loan. Tapi Bank itu baru akan memulai operasinya sekitar 4 bulan dari
saat wawancara itu.
Nurjannah
akan memperoleh gaji sekirtar 40 % lebih tinggi dari gajinya di bank tempat dia
sekarang bekerja. Hati Nurjannah berbunga bunga , dan pewawancara itu meyakinkan
Nurjannah bahwa Nurjannah 90 % sudah diterima. Namun perlu melengkapi berbagai
dokumen yang diperlukan sebelum nanti keputusan akhir tentang penerimaan Nurjannah
resmi ditegaskan per surat kepadanya.
Setelah mendapat penegasan dari bank
asing dari Perancis itu, Nurjannahpun
mengajukan penguduran diri kepada Pimpinan Bank dimana dia sedang bekerja.
Pimpinan bank itu berusaha menahan Nurjannah dengan menawarkan tambahan gaji
baginya, namun Nurjannah sudah bertekad ingin pindah dan mencoba tantangan baru
di tempat baru dengan situasi berbeda namun dengan bekal pengetahuan dan
pengalaman yang semakin kaya.
Sekitar
empat bulan setelah wawancaranya dengan “head hunter” dari Singapura itu,
akhirnya Nurjannah resmi ditetapkan sebagai Manajer di Bank Asing dari Perancis
itu.
Dalam kehidupan insan , tidak semuanya dapat diraih sekaligus sesuai
yang diinginkan. . Nurjannah berkembang
dalam karirnya sebagai manager bank, namun kesibukannya menyebabkan keluarganya
agak terabaikan. Suami dan anak anaknya seperti tidak memperoleh perhatian dan
waktu yang cukup dari Nurjannah. Suami tentu saja tidak puas dengan uang saku
yang diberikan nurjannah kepadanya saat saat dia menganggur. Suaminya Ramaddan
pun terus berusaha untuk medapatkan proyek untuk digarapnya. Akhirnya Ramadan
memperoleh Proyek Pemukiman Transmigrasi di Sitiung Sumatra Barat. Dan itulah “pangkal bala” terjadinya
pengkhianatan suaminya terhadap Nurjannah . Kesalahan Ramadan yang pertama itu
dimaafkan oleh Nurjannah , namun dasar Ramadan itu hidung belang , kelakuannya
berulang kembali. Ramadan menikah lagi dengan Ranisa seorang sekretaris di
kantor PU Bandung yang usianya hanya terpaut 5 tahun dari anak sulungnya Nurma.
Kali ini
tiada ampun dan dia digugat cerai oleh Nurjannah dan gugatan Nurjannah dikabulkan oleh Pengadilan Agama Jakarta
Selatan. Bubarlah rumah tangga Ramadan dengan Nurjannah.

No comments:
Post a Comment