Saturday, April 9, 2016

MENAMBUR CINTA PERTAMA





MENAMBUR CINTA PERTAMA


sp;     
 Nama Nurjannah itu bukan sembarang nama. Nur itu berarti Cahaya, sedang Jannah itu artinya Surga. Nurjannah  tiada lain berarti Cahaya Surga atau Cahaya dari Surga. Demikian bapaknya seorang  Polisi berpangkat Letnan Polisi di Bukittinggi memberi nama kepada putri pertamanya yang lahir di bulan Agustus  tahun 1945,  tidak lama setelah Kemerdekaan RI. Saat terjadi pergolakan  PRRI di Sumatra Barat pada tahun 1957  letnan Polisi itu  tidak ikut mendukung PRRI dan tidak lama setelah peristiwa PRRI itu , sang bapak sudah dinaikkan pangkatnya menjadi kapten dan tidak lama kemudiam papa Nurjannah pun di mutasikan ke Jakarta. Nurjannah pun sejak kelas dua  SMP  sudah bersekolah di Jakarta dan tinggal di daerah Bungur  bersama papa, mama serta dua orang  adiknya yang dua duanya  perempuan..

Setamat SMA Nurjanah sekolah di Bandung. Dia kuliah pada suatu akademi bank. Kenapa bukan di Jakarta ?. Nurjannah merasa kalau kuliah di Jakarta , dia akan selalu dimanjakan orang tuanya sehingga akan merasa seperti anak yang tidak mampu berdiri sendiri. Nurjannah ingin berdiri sendiri dan ingin cepat bekerja agar memperoleh penghasilan sendiri. “Belajar hidup” katanya. Itulah alasannya untuk bersekolah jauh dari orang tuanya agar ada kesempatan mandiri setidaknya  tidak selalu harus di awasi dan di khawatirkan, dan dia meyakinkan ibunya bahwa dia bisa menjaga dirinya.
Sebagai anak perwira polisi Nurjanah dan adik adiknya tentu saja punya rasa percaya diri karena tidak semua orang berani macam macam dengan anak perwira polisi yang ketika itu sudah berpangkat Ajun Komisaris Polisi , setara dengan Mayor dalam kepangkatan di angkatan bersenjata lainnya. 
Nurjannah dibelikan papanya  sebuah skuter Vespa sebagai sarana baginya untuk pergi dan pulang sehabis kuliah. Tidak perlu naik bis atau oplet pergi kuliah.  Dizaman itu tidak banyak mahasiswa yang punya skuter. Di Akademi bank tempat kuliah Nurjannah itu  hanya Nurjannah  yang punya dan tentu saja banyak mata mahasiswa yang melirik gadis cantik yang punya skuter itu.. Masa mahasiswanya Nujanah itu amat menarik, dia dapat dikatakan menjadi bintang di Akademi itu. Bapaknya yang berpangkat Mayor Polisi itu ikut mengatur keperluan pendidikan anaknya. Nurjananahpun di kost kan di tempat kenalan bapaknya sehingga bapaknya pun merasa anaknya aman tinggal di tempat kenalannya itu.

Di Bandung,  sejak dulu ada perkumpulan orang Minang.  Suatu saat ada acara halal bihalal dua puluh hari setelah idul fitri. Keluarga ibu kost Nurjanah mengajak Nurjannah  ikut  dalam acara silaturahmi Halal Bihalal itu. Keikut sertaan Nurjanah dalam halal bihalal itu membawanya berkenalan dengan Ramadan yang ketika itu sudah duduk di Semester tiga  Istitut Tehnologi Bandung, Di acara silaturahmi Idul Fitri itulah Ramadan terpesona pada kecantikan Nurjannah dan tentu saja kesempatan tidak di sia sia kan oleh Ramadan yang memang tampan dan pandai bergaul itu. Dia pun mendekati Nurjanah dan memperkenalkan dirinya . Laki laki ganteng dan gadis cantik itu cepat sekali saling tertarik dan  mereka akrab kendati baru saja saling kenal. Tapi di zaman itu tata krama dan sopan santun sangat terpelihara di keluarga orang Minang tempat Nurjanah dititipkan bapaknya. Tidak bebas keluar kalau tidak jelas tujuannya.  Ramadan tidak mungkin bertamu tanpa dibatasi. Saling ketertarikan antara Nurjanah dengan Ramadan berlansung terus dan memang berujung cinta , tapi tetap dibatasi sebagai pergaulan sesama remaja Minang yang mengikuti adab dan kebiasan orang Minangkabau yang walau berada di rantau namun tetap ada adab yang harus dipatuhi.

Pada September tahun 1965, terjadi peristiwa G30S. Yaitu pembunuhan jenderal Jenderal Angkatan Darat oleh Pasukan Pengawal Presiden “Cakrabirawa” yang berlatar belakang Coup oleh PKI untuk berkuasa  yang akhirnya berhasil digagalkan . Saat itu terjadi demo besar besaran oleh Mahasiswa yang dipelopori oleh Mahasiswa UI. Demo itu bukan hanya terjadi di Jakarta melainkan menyebar sampai ke kampus kampus perguruan tinggi lainnya di daerah termasuk Bandung. Semua perkuliahan di perguruan terhenti dan mahasiswa turun ke jalan. Mahasiswa dari Bandung pun ikut turun dan demo di Jakarta bergabung dengan mahasiwa UI dan seluruh Universitas dan perguruan tinggi di Jakarta.

Ramadan dan Nurjannah pun pulang ke Jakarta dan ikut demo bersama mahasiswa lainnya. Mahasiswa itu menyampaikan tuntutan mereka yang terkenal sebagai Tritura (Tiga tuntutan rakyat)
Dalam demo itu Nurjannah dan Ramadan selalu bersama dan cinta mereka semakin menyatu. Ramadan selalu melindungi kekasih hatinya itu, memegangi tangannya dalam kerumunan massa seolah takut kekasihnya itu terseret kerumunan atau hilang. Nurjannah termasuk orang yang peduli terhadap ketidak adilan atau atas sesuatu yang dianggapnya tidak benar. Dalam demo tahun 1965  / 1966 itu Nurjannah lah yang lebih keras mengajak Ramadan berdemo. Ramadan ikut , namun lebih banyak dengan tujuan agar bisa bersama dengan Nurjannah. Hanya di demo itulah kesempatan bagi  Ramadan untuk berpegangan tangan dengan Nurjannah, bahkan kesempatan memeluknya dari belakang  dalam kerumunan, agar dia tidak terseret kerumunan atau terdorong oleh massa yang sering dorong mendorong. Nurjannah pun menikmati suasana demo itu karena didampingi Ramadan yang sering mengambil kesempatan untuk berpegangan tangan dan bahkan memeluknya dalam situasi tertentu. Nurjannah pun membiarkannya dengan senang hati, karena dia merasa senang Ramadan berbuat begitu kepadanya,
Setelah  jenazah Tujuh Pahlawan Revolisi yang dibantai Cakrabirawa  di lubang Buaya ditemukan, Angkatan Darat seperti unjuk kekuartan (show of force) dengan tank tank nya berparade di jalan jalan di ibukota dan bahkan meliwati jalan jalan dimana  mahasiswa itu berkumpul.  Sebagian mahasiswa itu pun naik ke tank tank itu berkeliling kota sebagai unjuk kekuatan dan sebagai support terhadap ABRI yang sudah berhasil menguasai keadaan.
Nurjannah pun ikut naik ke tank itu dan tentu saja “pengawalnya” , sang kekasih ikut pula naik bersamanya. Itulah moment moment yang tidak terlupakan bagi kedua insan yang saling jatuh cinta itu. Berpacaran sambil demo dan naik tank pula berkeliling kota dengan sambutan masyarakat dari pinggir pinggir jalan yang menyokong perjuangan mahasiswa melawan PKI yang menjadi otak pembunuhan jenderal jenderal Angkatan Darat itu. . Suatu pengalaman indah yang jarang didapat oleh pasangan yang sedang berpacaran memadu kasih di saat saat itu. 

Setelah tiga setengah tahun kuliah  akhirnya Nurjanah berhasil menyelesaikan  studinya  di Akademi Bank  tersebut  lebih dahulu dari Ranmadan yang kemudian berhasil  menjadi Insinyur dua tahun setelah Nurjannah.
Nurjannah hanya berminat mencari pekerjaan di bidang perbankan.   Hampir setiap hari dia mmelototi iklan lowongan kerja, terutama lowongan kerja di bank.  Sehingga saat ada lowongan pada suatu bank diapun buru buru mengajukan lamaran,
Nurjanah pun dipanggil dan di test pada suatu bank swasta dan ternyata dia diterima bekerja di bank  itu. Pengetahuan perbankannya dianggap memadai dan dia diterima sebagai klerk di bank itu.
Pertama masuk Nurjannah ditugaskan di administrasi kredit. Nurjannah ternyata cepat menguasai pekerjaannya  dan dengan berjalannya waktu bank pun berkembang sehingga membutuhkan tambahan pegawai. Setelah beberapa pegawai baru diterima, Nurjannahpun di promosikan menjadi pegawai staff dan bertanggung jawab terhadap pekerjaan lima orang bawahannya.

Sementara itu Ramadan yang juga berhasil memperoleh gelar insinyurnya  kembali ke Jakarta ke rumah orang tuanya. Dia mengambil jurusan Teknik Sipil. Ramadan sementara bergabung dengan seorang seniornya  dan bekerja sebagai salah satu tenaga teknik perencanaan . Bersyukur juga dia bekerja di perusahaan seniornya itu, dia menjadi paham lika liku perusahaan kontraktor. Setelah lebih kurang dua tahun dia menjadi pegawai, Ramadan akhirnya mencoba merekrut beberapa orang kenalannya dan membuat perusahaan kontraktor sendiri.   . Beberapa kali dia mengambil pekerjaan sebagai Sub Kontraktor yang diperolehnya semata mata karena kepercayaan temannya yang punya posisi di suatu perusahaan kontraktor besar. Namun bekerja sebagai sub kontraktor tentu saja keuntungannya lebih kecil karena kalkulasi biayanya tidak sebesar yang diajukan kontraktor utamanya.

Hubungan Ramadan dengan Nurjannah tetap terjalin walau mereka sama sama tenggelam dalam kesibukan di tempat kerja masing masing.
Ramadan , setelah dirasanya dia mampu secara finansial, barulah dia  berunding dengan Nurjanah tentang kelanjutan hubungan mereka.  Sekarang mereka merasa matang dan sudah waktunya untuk berumah tangga.
         
Pada suatu hari  Minggu, Ramadanpun datang bertamu ke rumah Nurjannah.. Tapi kali ini Ramadan ingin berbicara dengan bapak dan ibu Nurjannah. Dia ingin menyampaikan niatnya untuk mempersunting Nurjannah yang sudah beberapa tahun dikenalnya , bahkan sudah saling mencintai satu sama lain.
Berhadapan dengan bapak dan ibu Nurjannah, Ramadan tampak sedikit grogy . Apalagi yang dihadapinya itu adalah seorang Komisaris  Polisi yang jelas tampak berwibawa.  Di dinding ruang tamu itu terpampang foto pak Polisi tersebut dengan pakaian kebesarannya, dengan dua bintang besar di pundaknya. Zaman itu pangkat Komisaris Polisi itu menggunakan Bintang, dan sekarang tanda pangkat itu sudah dirubah menjadi dua bunga melati setara dengan Letnan Kolonel kalau di angkatan lain.
Bapak Nurjannah cepat menangkap maksud Ramadan. Pada prinsipnya orang tua Nurjannah setuju untuk menikahkan anaknya dengan Ramadan, namun bapak Nurjannah minta supaya orang tua Ramadan segera datang  melamar Nurjannah secara resmi.

Acara lamaran dan begitu juga pernikahan antara Jurjannah dengan Ramadan pun terselenggara dengan baik. Dihadiri banyak tamu dan undangan. Dan setelah menikah Nurjannah dan Ramadan pun pindah ke rumah sendiri walaupun rumah itu berstatus sebagai rumah kontrakkan. Mereka patungan membiayai sewa kontrak rumah mereka.
Setelah tiga  tahun menjadi istri Ramadan, Nurjannah pun melahirkan dua orang putri bagi mereka. Anak mereka yang pertama lahir di bulan Agustus dan diberi nama Nurma Ramadhani Putri   dan sehari hari mereka panggil Nurma. Nurjannah punya  makna sendiri terhadap nama anaknya Nurma itu. Dia mengartikan Nurma itu sebagai Cahaya jiwa nya alias Cahaya atau Nur dari  Mama dan disingkatnya sebagai Nurma. Lima belas bulan setelah kelahiran Nurma, Nurjannah kembali melahirkan anaknya yang kedua. Pada kehamilan anaknya yang kedua ini, Nurjannah mungkin agak tinggi kesibukannya sehingga nampak kalau dia kurang istirahat. Itulah barangkali yang menjadi penyebab anaknya yang kedua ini lahir premature. Anak yang kedua ini lahir saat kandungan Nurjannah belum  berusia  7 bulan, Walau si bayi dapat diselamatkan setelah dirawat melalui incubator cukup lama, namun nampak kalau anak nya ini agak rentan terhadap penyakit dan karena itu sampai berumur tiga tahun dia masih di jaga dan dirawat ekstra hati hati. Anaknya yang kedua ini diberinya nama Lamelda Ramadhani  yang sehari harinya dipanggil Melda. Nurjannah   memberikan nama bagi anaknya itu tapi dia tidak memberi tahu siapapun bahwa Lamelda itu sebenarnya adalah singkatan dari “ Lahir Melalui Derita“. Karena baik Ibu maupun anak sangat menderita saat kelahiran si bayi, mujur keduanya terselamatkan. Kemungkinan bayi itu selamat  berdasarkan pemgalaman dokter  ahli kandungan hanya berkisar 50 % , jadi situasi saat itu memang kriits baik bagi Nurjannah maupun bayinya.  Setelah kelahiran anaknya yang kedua itu Nurjannah bertekat tidak akan hamil lagi, cukuplah dua anak bagi mereka, dan itu sudah sesuai dengan anjuran pemerintah (Orde Baru) saat itu bahwa “Dua anak cukup” sebagai slogan dalam program keluarga berencana Pemerintah.
Sejak Sekolah Dasar sampai SMP, anak anak Nurjannah  selalu memperoleh rangking di kelasnya. Walau punya anak Nurjannah masih bisa membagi waktunya dan tetap bekerja di Bank Swasta  tempatnya memulai karir sebagai pegawai bank. Rumah tangga mereka tampak damai , bahagia dan sejahtera.

Suatu saat , bank tempat Nurjannah berkarir itu ternyata semakin baik posisi dan perkembangannya. Ketika itu ada semacam pembatasan oleh Bank Indonesia dalam pendirian  bank baru. Mungkin karena pendirian bank baru dianggap terlalu lama dan prosedurnya berliku dengan persyaratan yang jelimet , beberapa investor mengambil jalan pintas dengan cara membeli bank kecil yang sudah ada . Ternyata ada investor  yang tertarik dengan perkembangan bank tempat Nurjannah bekerja ini dan setelah melalui proses panjang, penilaian dan evaluasi atas bank itu akhirnya dilakukan negosiasi dan  pemilik lama bank itu bersedia menjualnya. Dan itu berarti sebagian besar pegawai dan staff di bank itu harus diganti dengan tenaga tenaga yang kualifikasinya  sesuai dengan standar kualifikasi yang diinginkan manajemen baru. Semua pegawai diwawancarai satu persatu termasuk Nurjannah, dan ternyata hasilnya hampir tujuh puluh  persen pegawainya dilepas dengan uang pesangon alias diberhentikan dari bank itu. Bank itupun berganti nama, berganti manajemen dan menjadi Bank Campuran yang sebagian besar sahamnya dikuasai asing. Nurjannah pun termasuk dalam tujuh puluh  persen pegawai yang dilepas itu. Nurjannah sebenarnya  termasuk pegawai staff yang memenuhi standar kualifikasi yang ditetapkan. Tapi bank yang dikuasai asing itu menginginkan semua pegawai Staffnya  bisa di mutasikan ke cabang cabang nya di manapun termasuk di luar Indonesia. Ketika diwawancarai dan ditanya , apakah Nurjannah bersedia jika suatu waktu dimutasikan ke luar Indonesia ?. Jawaban yang keluar dari mulut Nurjannah adalah, “ saya tidak bersedia”. Akhirnya Nurjannah masuk dalam kelompok tujuh puluh persen pegawai yang dilepas.  Nujannahpun pun menganggur. Masih untung Nurjannah dapat pesangon yang jumlahnya cukup untuk membeli sebidang tanah  seluas 250 meter persegi di daerah Tebet, Jakarta.  Walau masih mengontrak rumah, namun Nurjannah sudah memiliki sebidang tanah yang nanti jika ada rezeki lagi Nurjannah berniat akan membangun rumah bagi keluarganya di tanah yang dibelinya itu.

Sementara itu Ramadan masih ada  pekerjaan.  Dia masih punya penghasilan sehingga walau Nurjannah  sudah tidak terima gaji, masih ada suaminya yang menjadi andalan dalam kehidupan sehari hari. Selama ini saat bekerja di bank, Nurjannah lah yang lebih banyak membiayai keluarga, termasuk suaminya jika si suami tidak ada proyek alias menganggur.
Pada saat Ramadan juga tidak ada proyek , itulah saat saat kritis bagi mereka. Tidak ada pemasukan. Dalam situasi tersebut Nurjannah harus mencari uang untuk menghidupi keluarganya. Pernah dia berjualan kue kue basah (di Jakarta disebut jajanan pasar) yang dibuatnya sendiri dan kemudian dititipkannya  ke beberapa  warung kopi. Dengan itulah Nurjannah bertahan hidupNamun hal itu tidak berlangsung lama. Nurjannah tetap mengikuti dan membaca iklan lowongan pekerjaan untuk menjadi pegawai bank. Saat Bank Asing mulai banyak masuk, ternyata Nurjannah berkesempatan dipanggil dan di test di suatu bank asing itu dan  dia dinyatakan  lulus dan , mulai saat itu Nurjannah kembali menekuni profesinya sebagai pegawai  staf di salah satu Bank Asing itu.
Tidak lama kemudian Nurjannah yang dinilai cakap dan mampu  oleh atasannya , dianggap layak memegang posisi dan jabatan yang lebih tinggi.  Kemampuan Bahasa Inggris Nurjannah yang diatas rata rata ternyata amat berguna dan dapat dimanfaatkan Nurjannah untuk menunjukkan potensinya . Sementara itu suaminya Ramadan, sebagai kontraktor tetap saja senen kemis, kadang ada proyek dan kadang tidak ada sama sekali, Namun  dia cukup tahu diri, jika menganggur maka tugasnyalah untuk menjaga dan membantu pelajaran anak anaknya sehingga kedua anak anaknya itu menjadi hebat disekolahnya masing masing. Nurjannah semakin baik karirnya di Bank Asing itu, sehingga dia merasa mampu jika ada kesempatan untuk memperoleh posisi yang lebih tinggi lagi. Ada semacam keinginan untuk selalu mencoba yang baru pada diri Nurjannah.  Termasuk dalam bidang pekerjaan.
Suatu ketika Nurjannah yang sudah mempunyai posisi sebagai assistant Manager di Bank tempatnya bekerja, ditelepon oleh seseorang. Orang itu mengaku sebagai Manager pada suatu perusahaan Rekrutmen yang sedang mencari orang yang tepat untuk ditempatkan sebagai manager pada suatu Bank Asing yang akan buka kantor  di Jakarta. Nurjannah terkesiap, sadar kalau dia mulai dikenal dan dilirik. Terbukti ada “head hunter” (istilah untuk pembajak tenaga ahli) yang menghubunginya. Nurjannah  tidak menyia nyiakan kesempatan itu dan menyetujui untuk temu wawancara dengan si penelepon.  Nurjannah memang punya jiwa “petualang” , berani mencoba yang baru dan selalu ingin mendapat pengalaman baru yang berbeda.


Mereka bertemu di suatu café di Kuningan. Setelah perkenalan dan basa basi , si Head Hunter itu mengajukan berbagai pertanyaan kepada Nurjannah yang dicatatnya dalam Note Book nya. Pertanyaan itu begitu mendetail meliputi keluarga, pendididkan , pekerjaan yang dia kerjakan sehari hari di bank saat itu.Begitu juga tentang gaji  dan emolument yang diterimanya dari bank tempat dia bekerja sekarang, semuanya diungakpan Nurjannah apa adanya.  Setelah mendapatkan gambaran bulat tentang potensi dan kemampuan Nurjanah , si pewawancara yang warganegra Singapura itu kemudian menjelaskan bahwa  bank yang mebutuhkan tenaganya itu adakah suatu bank Asing dari Perancis  yang akan beroperasi di Indonesia dengan kantor Cabang Utamanya di Jakarta. Dia menjelaskan bahwa mereka sudah mempunyai standar gaji dan fasilitas bagi pegawainya termasuk emolumen kesehatan, ketentuan tentang cuti atau liburan , kesempatan pendidikan ,jenjang karir dan program Housing Loan. Tapi Bank itu baru akan memulai operasinya sekitar 4 bulan dari saat wawancara itu.
Nurjannah akan memperoleh gaji sekirtar 40 % lebih tinggi dari gajinya di bank tempat dia sekarang bekerja. Hati Nurjannah berbunga bunga , dan pewawancara itu meyakinkan Nurjannah bahwa Nurjannah 90 % sudah diterima. Namun perlu melengkapi berbagai dokumen yang diperlukan sebelum nanti keputusan akhir tentang penerimaan Nurjannah resmi ditegaskan per surat kepadanya.
       
Setelah mendapat penegasan dari bank asing dari Perancis  itu, Nurjannahpun mengajukan penguduran diri kepada Pimpinan Bank dimana dia sedang bekerja. Pimpinan bank itu berusaha menahan Nurjannah dengan menawarkan tambahan gaji baginya, namun Nurjannah sudah bertekad ingin pindah dan mencoba tantangan baru di tempat baru dengan situasi berbeda namun dengan bekal pengetahuan dan pengalaman yang semakin kaya.  
Sekitar empat bulan setelah wawancaranya dengan “head hunter” dari Singapura itu, akhirnya Nurjannah resmi ditetapkan sebagai Manajer di Bank Asing dari Perancis  itu.
         
Dalam kehidupan insan ,  tidak semuanya dapat diraih sekaligus sesuai yang diinginkan.  . Nurjannah berkembang dalam karirnya sebagai manager bank, namun kesibukannya menyebabkan keluarganya agak terabaikan. Suami dan anak anaknya seperti tidak memperoleh perhatian dan waktu yang cukup dari Nurjannah. Suami tentu saja tidak puas dengan uang saku yang diberikan nurjannah kepadanya saat saat dia menganggur. Suaminya Ramaddan pun terus berusaha untuk medapatkan proyek untuk digarapnya. Akhirnya Ramadan memperoleh Proyek Pemukiman Transmigrasi di Sitiung Sumatra Barat.  Dan itulah “pangkal bala” terjadinya pengkhianatan suaminya terhadap Nurjannah . Kesalahan Ramadan yang pertama itu dimaafkan oleh Nurjannah , namun dasar Ramadan itu hidung belang , kelakuannya berulang kembali. Ramadan menikah lagi dengan Ranisa seorang sekretaris di kantor PU Bandung yang usianya hanya terpaut 5 tahun dari anak sulungnya Nurma.

Kali ini tiada ampun dan dia digugat cerai oleh Nurjannah dan gugatan Nurjannah  dikabulkan oleh Pengadilan Agama Jakarta Selatan. Bubarlah rumah tangga Ramadan dengan Nurjannah.                                 

No comments:

Post a Comment