MENABUR CINTA KE EMPAT
Suatu saat
terjadi kritikan yang terus menerusn terhadap kebijakan Bank Indonesia tentang keberadaan Bank Asing
di Indonesia. Banyak pihak menengarai bahwa keberadaan bank bank Asing di Indonesia
tidak menguntungkan bagi Indonesia, terutama bagi perbankann Nasional.. Bank
Asing itu beroperasi sebagai Full Pledge Branch Bank yang beroperasi sebagaimana
layaknya bank domestik. Mereka mngumpulkan dana pihak ketiga dari masyarakat
dalam berbagai bentuk kemudian menyalurkannya ke sector yang dianggapnya aman
dan menguntungkan. Teknologi dan sitem yang diterapkannya yang umumnya kebih modern tentu lebih unggul
dibandingkan perbankan nasional pada umumnya. Agar banker banker lokal dapat
mengambil manfaat dalam transfer of technology, maka perlu dicari jalan agar keberadaan bank asing itu memberikan
manfaat bagi kemajuan teknologi perbankan dalam negeri. Bank Indonesia
menerjemahkannya dengan kebijakan bahwa
seluruh bank asing yang beroperasi di Indonesia harus mengikut sertakan mitra local sebagai pemilik modal dalam bank
itu, tegasnya bank asing harus dirubah menjadi Bank Campuran.
Bank tempat Nurjannahn bekerja
adalah Bank Asing Milik Pemerintaj Asing, Mereka punya kebijakan sendiri dan
tidak bisa dipaksakan agar membentuk Bank Campuran dengan pemilik modal lokal.
Karena kebijakan bank itu harus konsisten, maka permintaan bank asing tempat
Nurjannah bekerja itu untuk tetap sebagai bank asing yang murni, tanpa harus
bekerja sama dalam kepemilikan pemodal lokal, ditolak oleh Bank Indonesia. Akibatnya
bank tempat Nurjannah bekerja itu harus mengakhiri keberadaannya dari Indonesia.
Sebagian besar pegawai harus di PHK , Pegawai yang masih muda
muda dapat melamar ke bank bank lain, sebagian lainnya tetap dapat bekerja di
bank itu namun tempatnya bukan di Indonesia melainkan dipindah ke berbagai kota
di Asia.
Dalam
usianya yang sudah mencapai lebih dari setengah abad, Nurjannah sudah sulit
mendapakan pekerjaan lagi di tempat baru. Diapun menganngur.
Namun dia
punya modal yang lumayan cukup untuk berusaha. Tapi dia tidak ingin membuka
perusahaan secara formal.
Bank asing ex Nurjannah bekerja itu
dilikuidasi. Karena itu aset asetnya terutama furniture, computer dan peralatan
lain serta lukisan lukisan dijual melalui suatu badan lelang. Nurjannah tahu
benar kalau barang barang itu barang barang berkualitas, sehingga dia ingin
turut serta dalam pelelangan untuk mendapatkan barang barang ex bank tempatnya bekerja itu.Terutama
kursi, meja kerja dan sofa , lukisan yang selama ini menjadi pelengkap kamar kerjanya yang dirasakannya amat menyenangkan. Ternyata di tempat pelelangan itu
tidak hanya barang barang bekas bank asing tempat Nurjannah bekerja saja yang
dilelang. Banyak barang barang dari instansi lain juga dilelang disana.
Nurjannah sangat berminat mengikuti lelang itu. Namun dia tidak tahu patokan
harga pasar barang barang yang dilelang itu.
Saat mematut
matut harga barang barang itu , dia di sapa oleh seorang pria kurus yang
nampaknya juga berminat terhadap barang yang sedang ditaksir oleh Nurjannah.
“Ibu minat
barang ini “ berkata pria kurus itu dengan ramah. Nurjannah tersenyum. “Minat
kalau harganya cocok” menjawab
Nurjannah.
“Ibu mau
pakai sendiri atau mau dijual lagi”.
“Emang kalau
dijual lagi, kemana jualnya ?”. bertanya Nurjannah.
“Gampang Bu,
selalu ada yang nampung sepanjang harganya murah. Bisa untung sampai 4o persen
lho bu jika barangnya bagus dan bekualitas.”
Alhirnya
sikurus itu memperkenalkan dirinya. Dia bernama Rizal. Dia Sarjana Muda jebolan
IKIP Jakarta, namun malas bekerja dalam bidang pendidikan, katanya karena
gajinya kecil. Dia memilih kerja berdagang secara serabutan. Dagang apa saja
yang dipandangnya menguntungkan.
Sambil
menunggu proses lelang itu yang masih lama pelaksanaannya, akhirnya Nurjanah mencari
tempat duduk di sebuah kafetaria di gedung pelelangan itu. Ngobrol dengan Rizal
pun berlanjut di kafetaria itu. Rizal berusia sekitae 35 tahun, lebih muda 18
tahun dibandingkan Nurjannah yang sekitar 53 tahun.
Walau Rizal
jauh lebih muda dari Nurjannah namun nampaknya
Rizal punya pengalaman berdagang segala macam karena dia seolah tahu kemana
menjual barang barang yang akan dibelinya dengan harga miring itu. Dia mengaku kepada Nurjannah, “ kita bisa
untung banyak bu jika punya modal cukup. Andai ibu punya modal , saya bisa
bantu ibu menjualkan barang barang yang dibeli disini yang kualitasnya baik. Untung
sekitar 3o sampai 40 % itu tidak sulit itu Bu.”
Nurjannah
tertarik dengan tawaran Rizal itu, tapi bagaimana meyakinkan bahwa modalnya bisa
kembali beserta untungnya.
Rizal
sepertinya dapat membaca jalan pikiran Nurjannah. Dia menukas. “Kalau ibu
minat, saya bisa membantu ibu. Kita pergi menjualnya bersama sama”.
“Caranya
bagaimana ?” bertanya Nurjannah.
“Mari kita
ke atas lagi. Kita taksir harga lelang barang barang yang kita minati . Barang
yang kualitasnya bagus dan punya pasar. Ayo bu, kita coba taksir barang barang
mana yang bisa mnguntungkan”.
Nurjannah
pun mengikuti Rizal naik kembali ke lantai tempat barang barang yang akan
dilelang itu di display. Setelah berkliling sejanak, Rizal menunjuk pada
setumpok Kursi kantor dan kemudian bicara pada Nurjannah.
“Kursi yang
ditumpuk ini bu, gampang lakunya. Ini kursi import, Ada yang menampung, Kalau
kita bisa memperoleh harga kira kira Rp.350 s/d 400 ribu per kursi, kita bisa
untung kira kira Rp. 150.000 per kursi.
Di lot ini ada 200 kursi. Untungnya sekitar 200 x 150.000 kira kira Rp.30
juta. Modalnya Rp. 70 sampai 80 juta”’
Diberi
contoh demikian , Nurjannah langsung tertarik.
“Kalau 70 juta
sampai 80 juta , saya ada modal lah. Jualnya kemana” , bertanya lagi Nurjannah.
Rizal belum menjawab pertanyaan Nurjanah. Dia malahan menelepon seseorang melalui HP nya. Dia menginformsikan bahwa dia
punya Kursi Import, disebutkannya merknya. Kondsinya “second best” eks dari
salah satu bank yang pailit. Rizalpun menanyakan berapa harga pasaran kursi
itu. Lawan bicaranya menyuruh Rizal menunggu sebentar. Namun tidak lama kemudian dia bicara lagi dengan Rizal. Rizal pun tersenyum
mendapat informasi itu.
Kepada
Nurjannah , dia berujar sambil sedikit berbisik. “ Pasarannya di luar tinggi Bu
. Sekitar Rp.600 ribu per kursi. Ini kursi import bu. Jadi bisa laku Rp. 120 juta, Dipotong pajak,
biaya lelang, ongkos paking , bungkus plastic , ongkos angkut total 6 sampai Rp 7 juta.Jadi bisa dapat bersih Rp.
113 juta. Untungnya tergantung harga penawaran lelang dari ibu. Kalau ibu
tawarannya tertinggi, berarti ibu yang dapat “. Bagaimana Bu, minat ?”.
“ Membagi
untungnya bagaimana?”
Terserah ibu
saja lah. Ibu kan yang punya modal. Tanpa modal gak bisa beli barang .lalu apa yang mau dijual. Tapi saya punya
pasarnya, kalau ibu cari pasar sendiri belum tentu ada. Mungkin harus simpan
baranya bertahun tahun , baru terjual. Kalau ibu gak keberatan bagaimana kalau
70 : 30. Untungnya setelah dipotong ongkos 70 % untuk ibu dan 30 % untuk saya.”
“80 : 20 aja
ya. Kalau kamu mau begitu , isilah
formulir lelang”.
Rizal pun
setuju. Dia pergi ke panitia lelang , meminta formulir dan menyerahkan cek
sebagai jaminan lelang sebesar Rp. 10 juta, Cek itu diberikan Nurjannah kepadanya untuk memenuhi
peryaratan jaminan lelang..
Akhirnya
Nurjannah ikut menawar secara lelang yang sistemnya tertutup. Penawaran
dilakukan melalui amplop tertutup atas Lot yang berisi kusri yang 200 buah itu, Berdasarkan adpis
Rizal, tawaran Nurjannah adalah Rp.461.565 ,- per kursi. Dan Nurjannah menang
lalang atas lot itu. Tawaran terdekat lainnya adalah Rp. 451,000. Per kursi, Nurjannah untung
sekitar Rp. 27 juta, Rizal kebagian Rp. 5,4 juta dan dibulatkan menjadi Rp.6
juta oleh Nurjannah.
Hubungan bisnis antara Rizal dangan
Nurjannah terus berlanjut. Tidak lama
kemudian Rizal ada objek lagi. Kali ini dia dapat informasi bahwa Bulog akan
ganti stock. Artinya beras lama sebagian
akan di jual dan diganti dengan beras baru yang akan dibeli ke daerah daerah
yang baru selesai panen. Beras lama itu
harus cepat dijual agar Gudang bisa dikosongkan untuk menampung beras baru yang
akan masuk. Jumlah yang akan dilepas
sekitar 100 ton. Harga jual Bulog sekitar Rp. 2000 per kilo dan harga pasarnya
sekitar 2.600 per kilo. Ongkos angkut berkisar Rp. 100 per kilo. Jadi kita bisa
dapat Rp.500 per kilo atau sekitar Rp.50 juta, Untuk 100 ton,
“ Bagaimana
Bu, berminat ? “
“Berminat
dong “. Tapi pembagiannya gak seperti dulu Bu. Menjual beras ini agak lama. Satu
hari mungkin hanya terjual 20 ton dan paling banter 25 ton. Jadi pembagiannya
60 : 40 ya Bu.
Dari kerja
sama yang kedua ini Nurjannah untung Rp. 30 juta setelah Rizal berhasil menjual
habis beras itu dalam 27 hari.
Dalam mengurus bisnisnya bersama
Rizal, Nurjannah sudah biasa jalan bersama Rizal. Rizal yang menyetir mobil dan Nurjannah duduk disampiung Rizal yang
mengemudikan mobil Nurjannah. Kemana mana mereka sering pergi berdua. Pernah
juga mereka jalan ke Jawa tengah mencari sapi menjelang Idul Adha dan dibawa ke
Jakarta. Di Jakarta sapi sapi sebanyak satu truk itu dijual kepada pengecer
sapi kurban. Untungnya lumayan juga,
walaupun tipis tapi bagi Rizal cukuplah untuk belanja dapur keluarganya. Nurjannah dan Rizal juga terbiasa menginap di
hotel, dengan kamar sendiri sendiri. Rizal amat hormat kepada Nurjannah boss
nya yang selalu memodali bisnis yang digagas oleh Rizal. Hubungan Rizal dengan
Nurjannah pun semakin akrab.
Suatu
hari Rizal datang kepada Nurjannah dengan gagasan menyewa tanah di Sukabumi
untuk bertanam cabe. Sudah berkisar dua minggu ini harga cabe yang biasanya
hanya berkisar Rp. 5000 s/d Rp. 6.000 per kilo sekarang sudah mencapai Rp
17.000 per kilo. Cabe itu tanaman jangka pensdek. 4 bulan sudah berbuah dan
bisa dipanen. Panen cabe itu bisa sampai tiga kali. Baru kemudian ditanam bibit
baru lagi. Rizalpun memberikan perhitungan harga pokok produksi nya dengan
asumsi tanahnya disewa . Cukup 2 hektar dan untungnya bisa seraratusan juta
untuk semusim. tanam.
Gagasan
Rizal disambut baik oleh Nurjannah. Dan
merekapun berangkat ke Sukabumi, untuk menjajaki dan mencari tanah yang sesuai
untuk menanam cabe. Mencari tanah untuk disewa disana tentu saja melalui petani
petani di daerah pertaniah di Sukabumi itu. Berkeliling dari satu tempat ke
tempat lain melihat tanah tanah yang bisa disewa ternyata memakan waktu lama
juga. Bertanya kiri kanan dan beberapa kali mereka mendapat petunjuk tapi
setelah diperiksa ternyata tanah nya tanah kritis dan tidak cocok untuk
bertanam cabe. Memeriksa tanah tanah itu
dilakukan dengan berjalan kaki.
Nurjannah yang sudah kepala lima itu tentu saja tidak sekuat Rizal yang
baru berusia tiga puluhan. Mereka baru selesai dengan pencarian tahap
pertama sekitar jam 6 sore dan
rencananya akan dilanjutkan besok hari. Sebelum ke hotel mereka memutuskan,
akan mampir dulu di restoran untuk makan malam , baru kemudian mencari Hotel
untuk menginap.
Sekitar jam 19.20 mereka mampir
di sebuah hotel di jalan raya Sukabumi. Mereka ingin memesan dua kamar. Tapi
ternyata kamar yang tersedia hanya satu. Mula mula Rizal menawarkan, “Kamarnya buat ibu sajalah. Saya tidur di
mobil aja bu. “
“Wah, Kasihan
juga kamu kalau tidur di mobil”. Lalu Nurjannah bertanya kepada resepsionis hotel
itu.
“Kamar supir
ada ndak”
“Tidak ada
bu”
“Lalu kamar
yang sisa satu itu single bed atau doble bed”
“Dobel bed
Bu.”
“Kalau
double bed gak apa apalah”.
“Sudahlah
Zal, kamu tidur di kamar ajalah. Tempat tidurnya double kok. Kasihan kamu kalau
tidur di mobil. Bawain barang barang ke atas.”
Nurjannah
pun membayar harga kamar dan menmberikan KTP nya untuk di catat oleh
resepsionis itu. Resepsionis itu mengerti kalau mereka bukan muhrim. Namun Resepsionis itu membolehkan mereka sekamar,
dengan pertimbangan Ibu yang bernama
Nurjannah itu sudah berumur sedang pegawainya Rizal itu masih amat muda, Kecil
kemungkinan mereka saling tertarik dan berbuat yang bukan bukan. Apalagi si pegawai
itu amat hormat kepada boss nya.
Karena amat lelah pada siang harinya, Nurjannah cepat tertidur.
Kebiasaannya,
Nurjannah kalau sudah tidur lelap, dia ngorok. Rizal punya kebiasaan yang berbeda. Dia sulit
tidur kalau terlalu capek. Biasanya dia
hanya tertidur sebentar kemudian terbangun dan kalau dia terbangun dia sulit
tidur lagi. Nurjannah selalu kalau tidur membuka celana dalamnya, karea karet
celana dalam itu sering membuat sekeliling pinggangnya gatal gatal dan bahkan bentol bentol. Dan
Nurjannah tidak tahan panas. Kalau suhu kamar sudah panas maka dia seperti
gelisah . Kalau Nurjannah tidur lampu biasanya dia matikan. Tapi di hotel ini,
walau lampu di kamar dimatikan namun cahaya lampu dari koridor tetap masuk dan
menerangi sebagian kamar itu,
Sekitar jam 2 tengah malam. AC kamar itu
mati dan Nurjannahpun kepanasan. Selimutnya di lepasnya namun dia tetap ngorok.
Rizal sudah terbangun sejak jam satu dan tidak bisa tidur lagi. Dalam berbaring
baring karena sudah tidak bisa tidur dia mengarahkan pandangannya kepada Nurjannah
yang nampak lelap. Dalam hatinya Rizak
bergumam. Cantik ibu ini. Walau sudah berumur tapi masih tampak singset dan
berisi. Nurjannah yang kepanasan setelah AC kamar itu mati, tiap sebentar
merubah posisi tidurnya dan bahkan mengibaskan kainnya karena kepanasan.
Pahanya yang mulus tersingkap sampai ke pangkal pahanya. Bahkan saat Nurjannah
membuka lututnya, Rizal seolah melihat surga dihadapannya. Darah laki laki
Rizalpun menggeliat. Dia tidak tahan lagi. Celananya pun dilorotkannya dan dia
melangkah pelan dan perlahan dibukanya paha Nurjannah lebih lebar dan dengan
perlahan ditindihnya bossnya itu sambil mulutnya menempel ke leher janda yang
lelap itu.
Nurjannah
antara sadar dengan tidak merasakan sesuatu memasuki rumahnya. Semula Rizal
akan ditolaknya, namun dia seperti tidak bertenaga dan mulai merasakan
kenikmatan, Dan akhirnya kedua tangannya mulai memeluk tubuh krempeng laki laki
itu dan semakin lama pelukannya semakinn erat Cukup lama posisi itu bertahan
dan tidak lama kemudian kedua insan itu mengeluarkan
suara mendengus yang tertahan secara bergantian dan setelah
itu terkulai kecapek-an dan keduanya tidur kembali. Rizal tidur enak sekali setelah
itu ditempatnya
Setelah sarapan , Nurjannah dan Rizal
langsung balik ke Jakarta. Mereka sudah mebahaS rencana semula yang ternyata
tidak gampang merealisasikannya , Bahkan
terdengar pula berita miring bahwa
ada kebun cabe yang lagi berbuah tiba
tiba dicabut kemudian diboyong ke atas truk yang sudah menunggu di pinggir
jalan dan setelah truk itu penuh dengan cabutan pohon cabe yang berbuah itu,
truk itu pun ngacir dan menghilang, Kesimpulan mereka bisnis berkebun cabe itu
risikonya tinggi.
Dua minggu setelah itu, pagi pagi
Rizal sudah nongol di rumah Nurjanah.
Rizal memberi informasi bahwa Bulog akan mengadakan bazaar berkenaan dengan
ulang tahun Bulog.
“Ini
kesempatan bu Nur. Orang orang Bulog itu rata rata selera berpakaiannya tinggi,
Kalau di bazaar itu yang paling laku adalah pakaian pakaian merk luar yang harganya
mahal. “
Baru
beberapa menit Rizal bicara, Ayu, pembantu Nurjannah datang menemui Nurjannah.
Ayu akan belanja kebutuhan hari itu ke pasar. Dan Nurjannah pun berpesan agar
Ayu tidak lupa membeli bahan bahan untuk memasak gulai ikan toco kesukaan
Nurjannah. Setelah menerima uang dari Nurjannah, Ayupun berangkat ke pasar tradisional
di Pejompongan dimana Nurjannah biasa membeli bahan bahan untuk gulai toco itu,
Ayu pun naik oplet ke pasar itu yang dari rumah Nurjannah cukup jauh.
Setelah Ayu
pergi, Nurjannah kembali duduk dihadapan Rizal sambil bertopang kaki, Sengaja
ditariknya sedikit roknya sehingga paha mulusnya nampak jelas oleh Rizal. Mata
Rizal dalam berbicara dengan Nurjannah sekali sakali melirik juga ke bawah.
Nurjannah kadang kadang membuka sedikit pahanya sehingga celana dalamnya kadang
kadang jelas terlihat oleh laki laki kerempeng itu. Nurjannah sejak menginap
dalam satu kamar hotel bersama Rizal minggu lalu itu mulai menunjukkan
kelakuannya yang agak nakal. Rizal Nampak gelisah berhadapan dengann situasi
itu dan Nurjannah pura pura tidak tahu dan tetap mengobrol ngalor ngidul walau
dia tahu Rizal tidak mendengarkan ocehannya. Akhirnya Rizal memberanikan
dirinya. “Di kamar bu Nur ada kamar mandi gak ?”
“ Ada. Kenapa ? Kamu mau pipis”
“Iya bu “
Nurjannahpun masuk diikuti Rizal.
Rizal bukannya menuju kamar mandi, tapi malahan mendekap
Nurjannah dan menciumi Janda itu dengan bernafsu. Nurjannah pura pura
menjauhinya. Tapi karena dia juga sudah tidak tahan, pintu segera ditutupnya
dan merekapun bergumul di ranjang nurjannah.
Besoknya
Rizal datang lagi, Tapi kali ini untuk memenuhi janjinya kepada Nurjannah yang
akan ikut Bazar di Bulog. Dia ingin berbelanja pakaian pakaian bermerk di
Factory Outlet yang banyak bertebaran di Bandung. Sekitar jam 12,00 merekapun
berangkat melalui Toll Cikampek yang bersambung dengan Toll Palimanan. Kepada
pembantunya dia berpesan, mungkin dia menginap di Bandung. Dan benar saja,
setelah berbelanja kebutuhan untuk Bazaar , nurjannah menginap di Bandung. Dia
memilih hotel Bintang empat di Daerah Dago. Dan kali ini mereka memesan kamar
dengan tempat tidur besar (Singgle bed). Disitulah Nurjannah dan Rizal
melapaskan hasrat mereka hampir sepanjang malam di Hotel cukup mewah berbintang
empat di Bandung yang sejuk udaranya itu.
Dalam
perjalanan dari Bandung ke Jakarta , Nurjannah timbul kesadarannya. Sadar kalau
perbuatannya sudah tidak benar. Dia hanya memperturutkan hawa nafsunya belaka.
Dia khawatir Rizal akan menganggapnya sebagai perempuan simpanannya yang haus sex., yang bisa didatanginya setiap
saat.
Dalam mobil
menuju Jakarta, Nurjannah bicara kepada Rizal dan bertanya tentang keluarganya,
tentang istri dan anak anaknya, tentang aktifitas istrinya dan lain lain. Rizal
menginformasikan bahwa kehidupannya sangat pas pasan .Untunglah akhir akhir ini
dia ketemu Nurjannah sehingga ada perbaikan dalam ekonomi dan kehidupan
keluarganya.
“ Rizal “, tiba tiba Nurjannah berkata kepada Rizal setelah lama membisu dan
hanya mendengar kan cerita Rizal tentang keluarganya.
“Apa pandangan kamu terhadap saya “
“Maksud bu Nur ? “
“Iya tentang bagaimana kamu menilai saya, Saya ini tergolong
perempuan apa ?. Perempuan haus sex , atau perempuan gampangan kali . menurut
penilaian jujur dari pikiran kamu ? “.
“Ya tidak seperti itulah Bu. Jauh dari itu. Bu Nur perempuan
yang saya kagumi. Pintar , rendah hati dan semua sifat sifat baik ada pada bu
Nur”
“Bullshit. Kamu meng ada ada. Kalau saya seperti yang kamu
katakana itu tidak akan mungkin saya mau tidur sama kamu. Bicara jujurlah “
“ Soal tidur , itu masalah lain. Itu terjadi kan karena kita
sama sama butuh bu. Kalau ibu gak butuh mana mau ibu seperti itu. Diluar itu
ibu adalah perempuan agung yang diinginkan banyak laki laki”.
“Rizal… saya tidak mau lagi seperti itu. Saya bukan perempuan
pemuas sex. Yang lalu itu adalah kesalahan dan itu tidak boleh terulang lagi.
Saya berpikir untuk mengakiri hubungan kita yang tidak sehat ini. Untuk
mempermudah nya , saya kira kita tidak boleh lagi bertemu. Agar satu sama lain
mudah melupakan.”
Rizal tampak muram mendengar kata kata Nurjannah terakhir
tersebut.
“Kok sampai begitu bu. Hubungan bisnis kan bisa jalan terus.
Kita sama sama menjaga jarak ajalah bu. Gak perlu sampai putus segala. Saya
kira dalam urusan bisnis kita kan saling membutuhkan”
“ Gak bisa Rizal, nanti godaan akan selalu ada dan nanti kita menjadi orang
tersesat selamanya. Dosa dosa kita menjadi dosa tak terampunkan. Saya tidak mau
seperti itu Rizal”
“ Bagaimana kalau kita nikah saja Bu Nur.”
“Gak logislah kamu nikah dengan saya. Saya delapan
belas tahun lebih tua dari kamu.. Lalu kamu
kemanakan istri dan anak kamu ?. “
“ Bu Nur… istri dan anak saya itu tetap akan saya biayai….
Sampai dia nanti nemu suami baru. Saya akan ceraikan dia Bu Nur. Mungkin bu Nur
kira saya bohong, tapi bu nur harus percaya, walau bu Nur lebih tua saya merasa
mantab bersama bu Nur. Saya terus terang jatuh cinta pada bu Nur”
“Tindakan kamu menceraikan istri kamu demi menikah dengan
saya , itu bukan perbuatan terpuji”.
“Bu Nur. Ibu adalah
hidup saya. Tanpa Bu Nur saya jadi gelandangan. Susah mencari sesuap nasi.
Kehidupan keluarga saya akan semakin melarat bu.
Keluarga saya pasti akan mengerti. Saya ceraikan demi
kehidupan mereka. Setidaknya mereka tidak akan kelaparan. Bisnis saya bersama
Bu Nur jadi jaminannya. Kita kan lumayan berhasil selama ini.
Menikahlah dengan saya bu. Walau saya berstatus sebagai
suami, tapi saya akan mengabdikan diri sebagai bawahan ibu. Itulah posisi saya.
Itu juga demi menjaga nama baik ibu dan bagi saya juga demi kehidupan keluarga
saya “.
‘ Oke lah Rizal. Akan saya bicarakan dengan keluarga saya.
Dengan anak anak saya. Buatlah surat cerai dan tunjukkan ke saya. Saya tidak
mau suami saya punya istri atau ada
perempuan lain selain saya… “
“Baik Bu Nur”
Pada hari Minggu, Melda anak Nurjannah
sering datang kerumahnya. Kali ini Nurjannah ingin memastikan kedatangan Melda
karena itu diteleponnya anaknya itu dan
diingatkannya supaya datang. Melda berpikir , si mama baru pulang dari Bandung. Pasti ada oleh oleh
buat dia dan anaknya.
Biasanya Nurjannah agak pelit kepada anaknya, apalagi memberi sesuatu
yang diniatkannya sebagai barang yang akan didagangkannya. Namun kali ini anak nya Melda di hadiahkannya pakaian bermerk kualitas eksport yang dibelinya di
factory outlet di Bandung. Melda tentu saja senang menerima oleh oleh itu,
bahkan cucu cucu Nurjannahpun kebagian oleh oleh dari oma.
Setelah
makan siang, mamanya memanggil Melda duduk didekatnya. Nurjannahpun mulai mebuka
pembicaraan.
“Kamu kenal Rizal kan “
“Mas Rizal ? Teman dagang mama itu ?. Ya tahulah. Emang
kenapa dia ma”
“Dia melamar mama. Cuma mama masih pikir pikir, Dia terlalu
muda untuk mama. Tapi dia serius sekali. Dia bilang dia cinta sama mama dan
tidak akan menjadi suami yang macam macam. Dia berjanji akan patuh sama mama.
Mama sih berpikir , lebih baik menikah saja dari pada nanti mama silap atau dia
silap dan terjadi sesuatu yang tidak baik. Juga untuk menghindari gossip atau tuduhan yang bukan bukan. Bagaimana
menurut pendapat kamu ?”, Melda terdiam, dalam hatinya terasa ada kejanggalan.
Pastilah mamanya akan jadi omongan orang. Melihat tongkrongannya laki laki itu
lebih pantas menjadi sopir ibunya daripada menjadi suaminya. Dari segi usia dia
rasanya lebih seuai menjadi anak mantunya. Tapi Melda tidak mau mengecewakan
mamanya. Dengan suara sedikit tertahan karena kurang sreg dengan rencana
mamanya itu diapun berucap.
“Gak apa apa ma, kalau mama juga cinta sama dia”
Melda pernah jumpa beberapa kali di rumah mamanya dengan Rizal yang juga bersikap hormat
kepadanya. Laki laki kurus yang sering menjadi sopir mamanya itu dipanggilnya
“:mas” oleh Melda. Setelah bicara itu Melda berpikir dia akan panggil apa ya
kepada suami muda mamanya itu. Masak harus panggil “papa ?”.
Nurjannah
menganggap ucapan Melda itu sebagai persetujuan dari anaknya.
Sore sekitar jam tiga setelah Melda kembali kerumahnya,
Nurjannah pun menelepon anaknya Nurma yang bermukim di luar negeri.
Setelah bicara ngalor ngidul, akhirnya Nurjannah mulai bicara
soal rencana pernikahannya dengan Rizal.
“Nurma…. Ada yang lamar mama.
Bagaimana menurut kamu “
Nurma berpikir , hebat mamanya ini. Gampang sekali mendapatkan
suami. Nurma merasa jauh ketinggalan dari mamanya. Karena ini adalah suami ke tiga dari mamanya. Nurma sejak
berpisah dari suaminya expat itu sampai sekarang masih belum menemukan calon
untuk menjadi step father bagi anak anaknya.
“Syukurlah ma. Jadi mama ada yang menemani. Kapan rencananya
mama akan menikah
Dari nada bicara anaknya Nurma, Nurjannah tahu kalau anaknya
Nurma senang dengan berita ini.?
“Waktunya belum ditentukan. Kan harus mengurus surat surat
dulu”
Nurma belum kenal dengan Rizal, calon suami mamanya itu.
“ Siapa nama calon papa aku itu ma”.
Mendengar pertanyaan anaknya Nurma , Nurjannah seperti
tersentak. Anaknya pasti akan canggung memanggil “papa” kepada suaminya yang
hanya beda umur sedikit saja dengan mereka. Melda saja memanggil “mas” kepada
calon suaminya itu.
“Rizal, namanya Rizal , dia orang Sunda. Tapi kamu jangan
kaget ya, dia itu masih amat muda. Dia berusia 35 tahun, delapan belas tahun lebih muda dari mama”
Nurma terperangah mendengar ucapan mamanya yang terakhir itu.
Dia sungguh amat kaget. Kok mamanya ……. dia mencari istilah yang tepat Kok mama
doyan “daun muda ?”. Mimik wajah Nurma nampak agak kusut setelah tahu usia calon ‘papa’ nya itu , tidak jauh beda dengan
dia.
Tapi, sama dengan Melda dia cepat sadar, yang penting baginya
mama nya bahagia dengan laki laki itu.
“ Syukurlah ma, yang penting mama senang sama dia dan dia
sungguh sungguh mencintai mama. Lalu kapan rencananya mama akan menikah itu?”
“Kira kira dalam waktu sebulan dua bulan lagi lah, Tergantung
kesibukan , mama dengan dia itu partner usaha. Selama ini parnership kami
saling menguntungkan.”
“ Selamat ya ma. Tapi aku tidak bisa datang lho ma. Sampai
tiga bulan ke depan, skedul ku penuh gak
apa apa ya ma”
“Iya gak apa apa sayang. Yang penting bagi mama , kamu sudah mama informasikan dan kamu setuju dan
merestui. Nurjannah nampak
tersenyum setelah berbicara dengan anaknya Nurma. Anak anaknya sudah oke dan
sudah memberi lampu jijau , tinggal sekarang bagaimana memberitahukan rencana
ini kepada adik adiknya yang dua orang itu
?.
Nurjannah
melihat jam tangannya. “Ah baru jam tiga lebih dua puluh menit. Masih sempat ke
rumah Nursiah”.
Nursiah adalah anak
nomor dua di keluarga orang tua Nurjannah, adik nya yang nomor tiga adalah
Nurhayati. Pokoknya anak polisi asal Bukittinggi itu ketiga tiganya namanya
diawali dengan “NUR” yang berarti cahaya.
Begitulah bapaknya beranggapan, cahaya itu adalah sesuatu yang
dibutuhkan oleh lehidupan. Tiada kehidupan tanpa cahaya. Dan semua nama anak
anaknya itu punya makna yang khas.
Nurjannah , sebagai Cahaya dari Surga,
Nursiah, Cahaya pembela yang bisa diartikan sebagai cahaya
patriot. . Nama ini merujuk kepada kata “Syiah”
yang merupakan pembela dari Saidina Ali. Si bungsu diberi nama Nurhayati yang
dimaknainya sebagai Cahaya tubuh yang
indah.
Begitulah nalar seorang letnan polisi yang memberi nama bagi
anak anak perempuannya itu saat kelahiran mereka. Nursiah
bersuamikan seorang Letnan Kolonel Angkatan Laut yang tinggal di Perumahan AL
di daerah Pangkalan Jati, Cinere. Sebelum berangkat ke rumah Nursiah, Nurjannah menelepon
adiknya itu lebih dulu . Dia khawatir adiknya yang aktif di Yalasenastri,
organisasi istri Angkatan Laut itu tidak berada di rumah. Ternyata Nusriah ada
dirumah dan Nurjannahpun segera meluncur ke rumah adik nya itu
Makan waktu
satu setengah jam dari rumah Nurjannah di daerah Tanah Abang ke rumah Nursiah
di pangkalan jati itu. Kali ini agak lambat karena dia melalui jalan didepan
Rumah Sakit Fatmawai yang memang sering mengalami kemacetan.
Nursiah menyambut kedatangan kakak nya itu dengan gembira.
Mereka agak jarang bertemu karena kesibukan masing masing.
Setelah kangen kangenan nya selesai, Nurjannah mulai ngomong
tentang rencana pernikahannya.
“Nursiah, kamu kan tahu kalau Uni sudah dua kali menikah tapi dua duanya gagal .
Dari suami pertama memperoleh dua anak tapi Uni menderita karena papanya anak
anak itu dua kali menipu uni. Dia
berselingkuh dan menikah dengan selingkuhannya itu . Dia punya 3 istri termasuk
Uni. Suami uni yang ke dua , si Ambon itu lain lagi penyakitnya, sering KDRT,
sehingga dua kali uni menikah, tidak satupun yang memberi kebahagiaan kepada
uni. Karena itu ketika ada yang melamar uni lagi , uni ingin , uni berharap
suami yang ketiga ini akan memberi harapan dan kebahagiaan bagi uni.”
Nursiah , yang biasa dipanggil Nurjannah dengan “Iyah” nampak
gembira.
“Wah syukurlah uni, Semoga kali ini uni dapat suami yang bisa
membahagiakan uni. Jadi kapan rencananya uni akan ijab Kabul ?”
“Ya , mungkin sekitar bulan depan lah, atau paling lat bulan depannya lagi. Tapi
Iyah , jangan kaget ya. Calon suami uni itu adalah partner dagang uni, dia masih
muda sekali, dia baru berusia tiga puluh lima tahun, jadi beda usia delapan
belas tahun dengan uni” .
Walau sudah diingatkan supaya jangan kaget, ternyata Nursiah
masih kaget juga.
“Haaah… muda banget. Apa uni gak takut nanti kalau uni tambah tua , uni akan ditinggalkan ?.
Banyak kejadian Uni , suami lebih muda itu motifasinya menikahi perempuan yang lebih tua, sering tidak sehat”.
“Oohh kalau soal itu uni gak takut. Jangan jangan malah uni
yang akan meninggalkan dia , jika dia macam macam”. Si uni pun tergelak diikuti
pula dengan gelak adiknya Nursiah .
“Iyalah uni , kalau uni dengan dia sudah saling jatuh cinta.
Segerakan sajalah”.
Memang kata kata adiknya yang terakhir itu sajalah yang
diharapkan Nurjannah, yang member semangat padanya untuk menikah lagi. Jadi
keluarga dekatnya sudah tiga orang yang
menyetujui. Tinggal adiknya Nurhayati , si bungsu di keluarganya yang
masih perlu diberitahukan. Nurhayati, tinggalnya di Bogor bersama suaminya yang
menjadi dosen di IPB. Karena terlalu jauh, Nurjannah berniat untuk
memberitahukan adiknya itu pertelepon saja.
Nurhayati
ketika ditelepon oleh Nurjannah menyambut baik rencana kakaknya yang akan menikah lagi itu. Dia mengucapkan
selamat kepada kakaknya itu dan berjanji, Insya Allah pada waktunya akan
menghadiri acara ijab Kabul Nurjannah.
Plong sudah rasa
hati Nurjannah. Semua keluarga dekatnya sudah menyetujui rencana pernikahanya.
Namun nurjannah masih menunggu kabar , sampai dimana Rizal mengurus
perceraiannya dengan istrinya itu. Nurjannah harus diyakinkan bahwa Rizal
memang sudah bercerai dari istrinya dan
harus ada hitam diatas putih.
Seminggu
setelah mereka kembali dari Bandung, Nurjannah menelepon Rizal, menanyakan perkembangan
pengurusan perceraiannya dengan istrinya. Rizal menjawab bahwa, dia sedang
mengurus surat surat berkenaan dengan perceraianna dengan istrinya itu.
Diharapkan dalam seminggu kedepan surat surat itu akan rampung.
Benar, seminggu setelah telepon Nurjannah kepadanya, Rizal
pun datang ke rumah Nurjannah. Dia membawa map dan dalam map itu terdapat surat
yang diinginkan oleh Nujannah bahwa Rizal sudah bercerai dengan istrinya. Surat
itu ternyata berjudul “ Sepakat untuk bercerai”
Isinya , suami istri bernama Rizal Ridha (suami) dan Istrinya
bernama Siti Awiyah , Beralamat di Desa Cihideung Jawa Barat menyatakan :
Sepakat bercerai, terhitung mulai
tanggal ….,
Istri dapat menikah lagi kapanun dia
suka.
Suami wajib memberi nafkah anaknya
serta Siti Awiyah sampai Siti Awiyah
bersuami lagi Surat itu ditanda tangani oleh Rizal
Ridha dan Siti Awiyah. Diketahui oleh RT setempat dan Kepala Desa. Lengkap
dengan cap RT dan Kepala Desa.
Nurjannah senang sekali
menerima surat “Kesepakatan Cerai” itu. Sesuai dengan apa yang dikemukakan
Rizal saat semobil dengan Nurjannah ketika pulang dari Bandung.
Namun Nurjannah bertanya juga
“Jadi kamu bercerai tidak melalui Pengadilan Agama ?”.
“Ya tidak lah Bu. Di desa saya semua percerain hanya diketahui RT dan Kepala
Desa. Kalau melalui Penngadiln Agama bisa berbulan bulan Bu. Pengadilan kan
hanya ada di ibukota Kabupaten". Nurjannah berpikir, logis juga alasaan Rizal
itu.
Sebulan setelah Nujannah menerima ‘surat cerai’ Rizal dengan istrinya,
Merekapun menikah secara sederhana di
Rumah Nurjannah. Dari keluarga Rizal hanya hadir dua orang pria yang mengaku
sebagai mamang dari Rizal. Dari pihak Nurjannah, hadir anaknya Lamelda, anak
anak Lamelda serta dua orang adiknya dengan suaminya masing masnig.
Nurjannah nampak puas, mendapat suami jauh lebih muda , dibandingkan
suami suaminya terdahulu , Rizal bagi Nurjannah adalah suami terbaik. Sangat
hormat kepadanya, cukup romantis, sudah teruji diranjang dan tidak akan berani macam macam kepadanya.
Secara ekonomi Rizal sangat tergantung kepada Nurjannah.
============
Partnership biisnis Nurjannah bersama Rizal tetap berjalan baik. Namun
yang rutin adalah membeli beras dari Bulog dan dijual lagi kepada Pengecer.
Dalam sebulan mereka bisa memperoleh keuntungan antara dua puluh sampai tiga
puluh juta dari bisnis ini. Dan jumlah itu tentu saja dirasakan kurang bagi
Nurjannah, karena suaminya sudah memperoleh bagian 40 % dari keuntungan bersih.dan bagi Nurjannah jumlah
itu kurang mamadai
.
Suatu hari Rizal bertemu dengan seorang kawannya
semasa SMA dan kawannya itu sekarang
bekerja pada suatu perusahaan kontraktor swasta yang sedang membangun gedung
bertingkat empat belas lantai di Jalan
Rasuna Said, Jakarta.
Ir Makmur Sadikun , kawannya itu menjadi Kepala Poyek disana
. Merekapun ngobrol panjang lebar, bernostalgia dan si Makmur itu akhirnya
berkeluh kesah kepada Rizal.
“Bos gua sekarang lagi pusing nih. Kreditnya belum turun
turun juga. Kalau dalam bulan ini kreditnya gak turun juga dari bank, terpaksa
proyek di stop dulu. Dan kalau itu terjadi, nama kita jelek dan berpengaruh
untuk mendapat proyek berikutnya. “
“Emang perlu berapa untuk menyelesaikan proyek kamu itu. “
“Untuk meneruskan sampai selesai perlu sekitar 12 M lagi.
Tapi pemilik proyek bersedia menolong , membayar perlantai yang telah
diselesaikan. “
Pikiran bisnis Rizal langsung bekerja. Dia lanjut bertanya
“Untuk menyelesaikan satu lantai makan biaya berapa tuh “:
“Sekitar sembilan ratus juta lah. Kenapa lu tanya, lu punya duit . Kalau lu
punya duit, lu boleh join satu lantai. Lu dikasi untung sepuluh persen deh”
“Jangka waktu penyelesaiannya berapa lama “
“Gak lama, berkisar 30 s/d 35 hari “
“ Sepuluh persen mah kekecilan”
“Ya gak lah. Pasarannya memang segitu. Pokoknya begitu
selesai, dibuat berita acara dan langsung ditagih kepada owner proyek. Biasanya
mereka periksa dulu baru administrasinya diproses. Ndak lama, paling
seminggu duitnya sudah keluar”.
“ Lalu kalau gua minat, prosenya bagaimana”
“Ya dibikin perjanjianlah. Kamu sebagai sub kontraktor,
seolah olah seperti itu,, tapi yang mengerjakan nya kan tetap gua. Dan setelah
satu lantai selesai, dibayar 900 juta tambah 10 % atau 990 juta. Cukup itu . Jauh lebih tinggi dari
bunga deposito yang hanya 15 % setahun “.
“Ya jangan disamain dong. Kalau deposito kan aman. Kalu ditanam di proyek kamu kan ada
risikonya juga.”
“Risiko apaan, masa lu gak percaya sama gua. Kan semuanya gua
yang kerja. Gua yang bikin berita acara , nanti pembayaran kan juga melalui gua”.
“Nantilah, gua bicaraakan dulu sama bini gua”
“Oke deh, mudah mudah an bini lu setuju”
Setelah
mendengar cerita Rizak, Nurjannah amat tertarik untuk ikut “memborong” satu
lantai proyek gedung bertingkat di Rasuna Said itu. Tapi uang Nurjannah tidak
cukup. Dia hanya punya Rp.700 juta. Enam ratus juta dalam deposito dan kira
kira seratus juta lebih sedikit ada di rekening tabungannya.
“Nanti kekurangan 200 juta, gampanglah , dipinjam dari bank
untuk jangka waktu satu bulan. Bunganya haya 18 % setahun atau 1,5 persen
sebulan. Hanya 3 juta rupiah sebulan.
Masih menguntungkanlah”. Nurjannah berguman dalam hati.
“Saya
ingin tahu persisnya. Kamu hubungi
lagilah teman kamu itu, kapan saya bisa ketemu dia” berkata Nurjannah kepada
suaminya.
“Akhirnya setelah bertemu dengan Ir Makmur Sadikun, Kepala
Proyek gedung bertingkat di Rasuna Said itu, Nurjannah dapat diyakinkan bahwa
pengembalian uangnya nya terjamin. Pinjaman dari Nutrjannah untuk pembuatan
lantai enam dengan biaya 900 juta itu
bisa diserahkan Nurjannah dalam 3 tahap.
Pertama 500 juta. Sepuluh hari kemudian 200 juta dan 10 Hri berikutnya lagi 200
juta. Lima ratus juta yang pertama itu adalah guna pembelian bahan, semen ,
besi beton dsbnya. Nurjannah akhirnya setuju, dan kontrak dibuat antara
Nurjannah dan Ir Makmur Sadikun secara dibawah tangan, atinya kontrak itu tidak
dibuat dihadapan Notaris. Nurrjannah percaya karena dia melihat sendiri
bangunan itu sedang dikerjakan dan baru selesai 5 lantai, masih 9 lantai lagi.
Dan apabila nanti satu lantai sudah selesai dan Nurjannah sudah menerima
pembayaran, dia boleh ikut lagi “memborong” satu lantai berikutnya.
“Lumayan ini kalau dapat 90 juta setiap empat puluh hari,
Nurjannah membayangakan duitnya akan cepat bertambah” Nurjannah tersenyum
sendiri membayangak keuntungan yang akan diperolehnya itu.
Setelah penanda tanganan kontrak , Nurjannahpun mentransfer
500 juta ke rekening Makmur Sadikin.
Sekitar 24 hari kemudian, Nujannah ingin melihat perkembangan
proyek itu . Diapun datang bersama
suaminya Rizal, menemui Makmur.
Makmur menjelaskan bahwa “lantai” milik nurjannah itu sudah
hampir rampung, paling lama tiga hari lagi pengerjaan lantai itu rampung. Setelah
itu baru dibuat berita acara dan ditagih kepada owner nya.
Nurjannahpun diajak naik lift pekerja sampai ke lantai lima.
Lift pekerja itu belum sampai ke lantai enam. Jadi dari lantai lima ke lantai enam harus melalui tangga .
Kebetulan tangga yang biasa dipakai pekerja itu nelum rapi.
Saat menaiki tangga itu, tanpa sengaja nurjannah menginjak
batu kecil di anak tangga ke empat, dan dia tergelincir dan keseimbangannya
goyah dan …dia berteriak kaget dan jatuh. Kejadiannya begirtu cepat sehingga dua laki laki disampingya yaitu suaminya dan
Makmur tidak bisa berbuat apa apa.. Kaki
kanannya membentur ujung anak tangga itu. Rizal tampak cemas , begitu juga
Makmur. Nurjannah kesakitan dan tidak bisa bangun. Kakinya dirasakannya sakit
sekali Nurjannahpun segera dievakuasi dan dilarikan ke Rumah sakit MMC
(Metropolitan Medical Centre) Satu satunya Rumah Sakit yang berlokasi di Rasuna
Said dan rumah sakit yang paling dekat dari proyek itu.
Setelah di foto (rongent) ternyata kaki kanan Nurjannah patah
di bagian dekat tumitnya. Kaki itupun di gips dan Nurjannah pun harus menginap
di Rumah Sakit itu. Pada hari ketiga Nurjannah dibolehkan pulang dan dianjurkan
tidak boleh banyak bergerak. Harus istirahat di tempat tidur. Mujur dia punya
suami Rizal yang senantiasa melayani kebutuhannya. Apa saja yang diminta
Nurjannah dengan sigap dilayani oleh Rizal. Rizal nampak sedih melihat kondisi
istri tercintanya itu.
Dua minggu setelah
kejadian itu, Nurjannah ditelepon oleh Makmur bahwa Cek untuk pembayaran lantai
yang diborongnya itu sudah bisa diambil. Ceknya sudah disiapkan dan dapat
diambil setiap saat. Nurjannah minta kepada Makmur, supaya uangnya ditransfer
saja ke rekeningnya. Tapi Makmur mengemukakan:
“Ceknya sudah ditanda tangani, jadi lebih praktis diambil
saja. Maaf bu , saya sibuk, sulit meninggalkan proyek. Jadi bagusnya ambil ceknya saja . Tapi kalau
ibu gak bisa datang, tolong buat surat kuasa kalau yang mengambilnya bukan ibu
sendiri.”
Nurjannah mana bisa pergi sendiri mengambil cek itu, berjalan
ke kamat mandi saja dia masih ter tatih tatih dan harus dibantu oleh suaminya
Dengan agak kesal Nujannah akhitnya membuat suart kuasa
kepada suaminya Rizal , untuk mengambil cek itu dari Makmur. Setelah Nutjannah
membubuhi tanda tangannyan sebagai pemberi kuasa, Rizalpun diusruhnya tanda
tangan sebagai penerima kuasa. Rizal pun
disuruhnya agar setelah terima cek itu segera ke Bank Mandiri di Tanah Abang dimana Nutjannah punya
rekening Tabungan. Nurjannah meminta
Rizal untuk menyetorkan cek itu
ke rekening Tabungannya dan buku tabungannya pun diserahkannya kepada Rizal. Rizalpun
meng iya kan perintah sang iatri.Kemudian
diapun berangkat dengan menggunakan mobil Nutjannah.
Cek senilai
Rp.990 juta itupun diserahkan Makmur kepada kawan lamanya Rizal , setelah dia
menerima surat kuasa Nurjannah yang memberi kuasa kepada Rizal untuk mengambil
cek itu.
Makmur pun menulis di belakang surat kuasa itu : “Cek sudah
diambil “ dan dibubuhi tanggal hari itu. Rizalpun diminta Makmur membubuhi
tanda tangannya dibawah tulisan itu.
Setelah menerima cek itu
Rizal pun berlalu. Dan sebelum ke bank diapun mampir dulu ke Carefour Menteng ,
dan disana dia membeli sebuah tas punggung
Baru kemudian dia
berangkat ke Bank BNI Cabang Cikini ,
cabang yang tertera di cek itu. Cek itu ternyata adalah cek tunai dan Rizalpun
menyodorkan cek itu kepada teller beserta KTP nya. Sudah menjadi kebiasaan bank
untuk mengecek kepada pemilik rekening apabila aada pencairan cek dengan nilai besar. Makmurpun di telepon oleh Bank BNI tentang kebenaran pengeluaran
cek itu. Makmur pun meng konfirmasi bahwa cek itu memang dia yang terbitkan.
Setelah mendapat konfirmasi itu, Rizal dibayar oleh Teller
bank itu sesuai jumlah yang tertera di cek tersebut Rizal hanya menghitung secara global saja dan
kemudian memasukkan uang itu ke Tas Punggung yang baru dibelinya.
Dari Cikini , Rizal meneruskan perjalanannya ke Carefour di
Cawang. Tas berisi uang itu ditinggalnya di bawah jok mobil. Mobil di parkirnya
di basement, tempatnya sedikit gelap
sehingga tas itu tidak kelihatan dari luar. Kemudian dia naik ke atas dan membeli sebuah HP Samsung Galaxi mode terakhir Lalu membeli roti
dan snack dan dua botol air menral.
beberapa T Shirt, kemeja dan kaos oblong. Celana dalam dan beberapa
celana panjang. Pakaian pakaian itu sudah di cobanya di kamar pas dan ukurannaya
sesuai baginya. Setelah dibayarnya, dia
kembali ke mobilnya dan barang belanjaannya itupun disalinnya ke Tas punggung
yang sudah berisi uang yang banyak itu. Tas itupun tampak penuh dan cukup menampung semua belanjaannya itu. Setelah itu mobil dikuncinya dan dia naik
kembali ke atas dengan membawa tas nya, dan tas itu sudah dipakainya
dipunggungnya. Dia ternyata menuju Bagian penitipan dan menitipkan buku tabungan
Nurjannah dan kunci mobil di sana, dan ketika petugas memberikan
Kartu nomor tanda penitiupan, Rizal mengemukakan, Gak usah pakai nomor, nanti
orangnya datang untuk mengambil, karena saya tidak sempat ketemu dia. Tolong
catat saja, nama pemilik nya Nurjannah.
Petugas agak ragu juga, tapi Rizal menegaskan tidak usah
kawatir. Tinggal lihat aja ktp nya kalau sesuai dengan STNK nya, kunci itu bisa diberikan kepadnya.
Saya parkir mobilnya di Basemen. Akhirnya dengan sedikit ragu titipan itu
diterimanya juga.
Rizal pun
keluar dari super market itu dan mencari taxi. Setelah mendapat taxi, diapun
memerintahkan taxi itu mrenuju ke Stasiun Bus Lebak Bulus
Dalam perjalanan ke stasiun lebak bulus, dia kirim sms kepada
Nurjannah.
“ Bu…. Uang sudah saya setor ke rekening tabungan. Mohon maaf bu. Orang tua saya telah meninggal.
Saya harus pulang kampung segera. Jadi Buku tabungan, dan kunci mobil saya
titip di Carefour Cawang. Di tempat penitipan . mobilnya saya parkir di
basement. Maaf ya bu. Saya harus pulang segera”
Rizal. “
Setelah itu HP jadulnya itupun dia matikan sehinga tidak bisa
dihubungi lagi. DI Taksi dia asyik meng utak atik mainan barunya Samsung Galaxxi
model baru dengan Sim card baru pula. Diapun menyalin nomor nomor penting ke hp
barunya itu.
Dari Lebak Bulus diapun naik bus pulang ke kampunghya, kemana lagi kalau bukan
ke rumah istrinya. Dua hari setelah itu, Rizal dengan keluarganya, seorang
istri dan seorang anak , pun pindah dari kampung itu ke suatu kota kecil masih di daerah Jawa Barat dan membangun rumah
di sana dan hidup dengan tenang damai dan sejahtera
------------------------------
Nurjannah
kaget setengah mati menerima sms dari suami
mudanya itu. Wasangkanya pun datang. “Waduh, pasti uang saya dibawa kabur nih”. Dia segera menelepon Bank Mandiri Tanah Abang menanyakan apakah uangnya untuk
rekenig tabungan Mandirinya, disebutkannya nomornya, sudah masuk. Customer service bank itu mengecek dulu
identitas Nurjannah dengan menanyakan hal hal yang bersifat pribadi antara lain
, nama ibu kandung, nomor telepon rumah , alamat rumah dan setelah yakin yang
menelepon adalah pemilik rekening, baru diperikasanya
mutasi rekening itu Petugaspun dengan
tegas mengatakan tidak ada setoran atau pun transfer yang masuk.
Nurjannah serasa semaput mendengar jawaban itu. Dia meraung
sejadinya sehinga mengagetkan pembantunya. Kemudian Nurtjannah berusaha
menelepon Rizal, tapi teleponnya tu la lit pertanda bahwa telepon itu
dimatikan. Nurjanah kemudian menelepon
Makmur dan Makmur menjelaskan bahwa cek sudah diserahkan ke Rizal beberapa jam sebelumnya.
Nurjannah kemudian memberi tahukan anaknya Melda, bahwa
suaminya telah kabur membawa lari uangnya hampir satu milyar. Mobil ditinggal
di carefour. Mobil itu akhirnya dibantu mengambilnya oleh mantu Nurjannah ,
suami Melda dengan membawa KTP dari Nurjannah.
Nurjannah mengadukan hal itu kepada Polisi. Polisi ikut
mngusut kasus ini, sampai ke Bank BNI
Cikini, dan dari data foto copy KTP Rizal disana jelas bahwa KTP Yang digunakan
Rizal itu adalah KTP Palsu. Mendengar informasi itu, Nurjannah pun menyerahkan
surat “Kesepakatan perceraian” yang
diserahkan Rizal saat belum menikahinya dulu , kepada polisi. Belakangan
setelah diselidiki polisi ternyata surat
“Kesepakatan Perceraian “ Rizal dengan istrinya itu juga palsu, semua cap yang
ada di surat itu tidak sama dengan cap asli dari RT dan Kepala Desa yang
tercantum disana. Rizal juga tidak dikenal di RT dan desa itu. Foto foto Rizal
juga tidak ada dan kebetulan dalam acara nikah siri yang dilakukan Nurjannah
dengan suaminya itu tidak ada yang mengabadikan acara itu.
Nurjannah sakit hati luar biasa. Dia ingat dulu saat dia
kerumah Nursiah, adiknya itu sudah
mengingatkan dia bahwa motivasi laki
laki menikahi perempuan yang lebih tua sering tidak sehat. Dia tidak menggubris
nasihat adiknya itu, malahan dengan yakin mengemukakan : “Mungkin uni yang
akan meninggalkan dia, kalau dia macam macam”. Ternyata, si Uni ditinggalkan
suami muda itu saat dia sedang memulihkan patah kakinya sembari menggondol uang
si uni hampir satu milyar rupiah.Sekarang patah kakinya hampir sembuh tapi
patah hati terasa lebih sakit dari patah
kaki yang menyengsarakan itu.
No comments:
Post a Comment