Saturday, April 9, 2016

MENABUR CINTA KE EMPAT


MENABUR CINTA KE EMPAT

Suatu saat terjadi kritikan yang terus menerusn terhadap kebijakan  Bank Indonesia tentang keberadaan Bank Asing di Indonesia. Banyak pihak menengarai bahwa keberadaan bank bank Asing di Indonesia tidak menguntungkan bagi Indonesia, terutama bagi perbankann Nasional.. Bank Asing itu beroperasi sebagai Full Pledge Branch Bank yang beroperasi sebagaimana layaknya bank domestik. Mereka mngumpulkan dana pihak ketiga dari masyarakat dalam berbagai bentuk kemudian menyalurkannya ke sector yang dianggapnya aman dan menguntungkan. Teknologi dan sitem yang diterapkannya  yang umumnya kebih modern tentu lebih unggul dibandingkan perbankan nasional pada umumnya. Agar banker banker lokal dapat mengambil manfaat dalam transfer of technology, maka perlu dicari jalan  agar keberadaan bank asing itu memberikan manfaat bagi kemajuan teknologi perbankan dalam negeri. Bank Indonesia menerjemahkannya  dengan kebijakan bahwa seluruh bank asing yang beroperasi di Indonesia harus mengikut sertakan  mitra local sebagai pemilik modal dalam bank itu, tegasnya bank asing harus dirubah menjadi Bank Campuran.

Bank tempat Nurjannahn bekerja adalah Bank Asing Milik Pemerintaj Asing, Mereka punya kebijakan sendiri dan tidak bisa dipaksakan agar membentuk Bank Campuran dengan pemilik modal lokal. Karena kebijakan bank itu harus konsisten, maka permintaan bank asing tempat Nurjannah bekerja itu untuk tetap sebagai bank asing yang murni, tanpa harus bekerja sama dalam kepemilikan pemodal lokal, ditolak oleh Bank Indonesia. Akibatnya bank tempat Nurjannah bekerja itu harus mengakhiri keberadaannya dari Indonesia.

Sebagian besar  pegawai harus di PHK , Pegawai yang masih muda muda dapat melamar ke bank bank lain, sebagian lainnya tetap dapat bekerja di bank itu namun tempatnya bukan di Indonesia melainkan dipindah ke berbagai kota di Asia.
Dalam usianya yang sudah mencapai lebih dari setengah abad, Nurjannah sudah sulit mendapakan pekerjaan lagi di tempat baru. Diapun menganngur.
Namun dia punya modal yang lumayan cukup untuk berusaha. Tapi dia tidak ingin membuka perusahaan secara formal.

Bank asing ex Nurjannah bekerja itu dilikuidasi. Karena itu aset asetnya terutama furniture, computer dan peralatan lain serta lukisan lukisan dijual melalui suatu badan lelang. Nurjannah tahu benar kalau barang barang itu barang barang berkualitas, sehingga dia ingin turut serta dalam pelelangan untuk mendapatkan  barang barang ex bank tempatnya bekerja itu.Terutama kursi, meja kerja dan sofa , lukisan yang selama ini menjadi pelengkap kamar kerjanya yang dirasakannya amat menyenangkan. Ternyata di tempat pelelangan itu tidak hanya barang barang bekas bank asing tempat Nurjannah bekerja saja yang dilelang. Banyak barang barang dari instansi lain juga dilelang disana.
Nurjannah sangat berminat  mengikuti lelang itu. Namun dia tidak tahu patokan harga pasar barang barang yang dilelang itu.

Saat mematut matut harga barang barang itu , dia di sapa oleh seorang pria kurus yang nampaknya juga berminat terhadap barang yang sedang ditaksir oleh Nurjannah.
“Ibu minat barang ini “ berkata pria kurus itu dengan ramah. Nurjannah tersenyum. “Minat kalau harganya cocok”  menjawab Nurjannah.
“Ibu mau pakai sendiri atau mau dijual lagi”.
“Emang kalau dijual lagi, kemana jualnya ?”. bertanya Nurjannah.
“Gampang Bu, selalu ada yang nampung sepanjang harganya murah. Bisa untung sampai 4o persen lho bu jika barangnya bagus dan bekualitas.”
Alhirnya sikurus itu memperkenalkan dirinya. Dia bernama Rizal. Dia Sarjana Muda jebolan  IKIP Jakarta, namun malas bekerja  dalam bidang pendidikan, katanya karena gajinya kecil. Dia memilih kerja berdagang secara serabutan. Dagang apa saja yang dipandangnya menguntungkan.
Sambil menunggu proses lelang itu yang masih lama pelaksanaannya, akhirnya Nurjanah mencari tempat duduk di sebuah kafetaria di gedung pelelangan itu. Ngobrol dengan Rizal pun berlanjut di kafetaria itu. Rizal berusia sekitae 35 tahun, lebih muda 18 tahun dibandingkan Nurjannah yang sekitar 53 tahun.
Walau Rizal jauh  lebih muda dari Nurjannah namun nampaknya Rizal punya pengalaman berdagang segala macam karena dia seolah tahu kemana menjual barang barang yang akan dibelinya dengan harga miring itu.  Dia mengaku kepada Nurjannah, “ kita bisa untung banyak bu jika punya modal cukup. Andai ibu punya modal , saya bisa bantu ibu menjualkan barang barang yang dibeli disini yang kualitasnya baik. Untung sekitar 3o sampai 40 % itu tidak sulit itu Bu.”


Nurjannah tertarik dengan tawaran Rizal itu, tapi bagaimana meyakinkan bahwa modalnya bisa kembali beserta untungnya.
Rizal sepertinya dapat membaca jalan pikiran Nurjannah. Dia menukas. “Kalau ibu minat, saya bisa membantu ibu. Kita pergi menjualnya bersama sama”.
“Caranya bagaimana ?” bertanya Nurjannah.
“Mari kita ke atas lagi. Kita taksir harga lelang barang barang yang kita minati . Barang yang kualitasnya bagus dan punya pasar. Ayo bu, kita coba taksir barang barang mana yang bisa mnguntungkan”.
Nurjannah pun mengikuti Rizal naik kembali ke lantai tempat barang barang yang akan dilelang itu di display. Setelah berkliling sejanak, Rizal menunjuk pada setumpok Kursi kantor dan kemudian bicara pada Nurjannah.
“Kursi yang ditumpuk ini bu, gampang lakunya. Ini kursi import, Ada yang menampung, Kalau kita bisa memperoleh harga kira kira Rp.350 s/d 400 ribu per kursi, kita bisa untung kira kira Rp. 150.000 per kursi.  Di lot ini ada 200 kursi. Untungnya sekitar 200 x 150.000 kira kira Rp.30 juta. Modalnya Rp. 70 sampai 80 juta”’

Diberi contoh demikian , Nurjannah langsung tertarik.
“Kalau 70 juta sampai 80 juta , saya ada modal lah. Jualnya kemana” , bertanya lagi Nurjannah.
Rizal belum menjawab pertanyaan Nurjanah. Dia malahan menelepon seseorang  melalui HP nya. Dia menginformsikan bahwa dia punya Kursi Import, disebutkannya merknya. Kondsinya “second best” eks dari salah satu bank yang pailit. Rizalpun menanyakan berapa harga pasaran kursi itu. Lawan bicaranya menyuruh Rizal menunggu sebentar. Namun  tidak lama kemudian dia  bicara lagi dengan Rizal. Rizal pun tersenyum mendapat informasi itu.
Kepada Nurjannah , dia berujar sambil sedikit berbisik. “ Pasarannya di luar tinggi Bu . Sekitar Rp.600 ribu per kursi. Ini kursi import bu.  Jadi bisa laku Rp. 120 juta, Dipotong pajak, biaya lelang, ongkos paking , bungkus plastic , ongkos angkut total  6 sampai Rp 7 juta.Jadi bisa dapat bersih Rp. 113 juta. Untungnya tergantung harga penawaran lelang dari ibu. Kalau ibu tawarannya tertinggi, berarti ibu yang dapat “. Bagaimana Bu, minat  ?”.
“ Membagi untungnya bagaimana?”
Terserah ibu saja lah. Ibu kan yang punya modal. Tanpa modal gak bisa beli barang .lalu  apa yang mau dijual. Tapi saya punya pasarnya, kalau ibu cari pasar sendiri belum tentu ada. Mungkin harus simpan baranya bertahun tahun , baru terjual. Kalau ibu gak keberatan bagaimana kalau 70 : 30. Untungnya setelah dipotong ongkos 70 % untuk ibu dan 30 % untuk saya.”
“80 : 20 aja ya.  Kalau kamu mau begitu , isilah formulir lelang”.
Rizal pun setuju. Dia pergi ke panitia lelang , meminta formulir dan menyerahkan cek sebagai jaminan lelang sebesar Rp. 10 juta, Cek itu  diberikan Nurjannah kepadanya untuk memenuhi peryaratan jaminan lelang..


Akhirnya Nurjannah ikut menawar secara lelang yang sistemnya tertutup. Penawaran dilakukan melalui amplop tertutup atas Lot yang berisi  kusri yang 200 buah itu, Berdasarkan adpis Rizal, tawaran Nurjannah adalah Rp.461.565 ,- per kursi. Dan Nurjannah menang lalang atas lot itu. Tawaran terdekat lainnya adalah  Rp. 451,000. Per kursi, Nurjannah untung sekitar Rp. 27 juta, Rizal kebagian Rp. 5,4 juta dan dibulatkan menjadi Rp.6 juta oleh Nurjannah.

Hubungan bisnis antara Rizal dangan Nurjannah  terus berlanjut. Tidak lama kemudian Rizal ada objek lagi. Kali ini dia dapat informasi bahwa Bulog akan ganti stock. Artinya beras  lama sebagian akan di jual dan diganti dengan beras baru yang akan dibeli ke daerah daerah yang baru selesai panen.  Beras lama itu harus cepat dijual agar Gudang bisa dikosongkan untuk menampung beras baru yang akan masuk.  Jumlah yang akan dilepas sekitar 100 ton. Harga jual Bulog sekitar Rp. 2000 per kilo dan harga pasarnya sekitar 2.600 per kilo. Ongkos angkut berkisar Rp. 100 per kilo. Jadi kita bisa dapat Rp.500 per kilo atau sekitar Rp.50 juta, Untuk 100 ton,
“ Bagaimana Bu, berminat ? “
“Berminat dong “. Tapi pembagiannya gak seperti dulu Bu. Menjual beras ini agak lama. Satu hari mungkin hanya terjual 20 ton dan paling banter 25 ton. Jadi pembagiannya 60 : 40 ya Bu.
Dari kerja sama yang kedua ini Nurjannah untung Rp. 30 juta setelah Rizal berhasil menjual habis beras itu dalam 27 hari.
         
Dalam mengurus bisnisnya bersama Rizal, Nurjannah sudah biasa jalan bersama Rizal. Rizal yang menyetir mobil  dan Nurjannah duduk disampiung Rizal yang mengemudikan mobil Nurjannah. Kemana mana mereka sering pergi berdua. Pernah juga mereka jalan ke Jawa tengah mencari sapi menjelang Idul Adha dan dibawa ke Jakarta. Di Jakarta sapi sapi sebanyak satu truk itu dijual kepada pengecer sapi kurban.  Untungnya lumayan juga, walaupun tipis tapi bagi Rizal cukuplah untuk belanja dapur keluarganya.  Nurjannah dan Rizal juga terbiasa menginap di hotel, dengan kamar sendiri sendiri. Rizal amat hormat kepada Nurjannah boss nya yang selalu memodali bisnis yang digagas oleh Rizal. Hubungan Rizal dengan Nurjannah pun semakin akrab.        
         
Suatu hari Rizal datang kepada Nurjannah dengan gagasan menyewa tanah di Sukabumi untuk bertanam cabe. Sudah berkisar dua minggu ini harga cabe yang biasanya hanya berkisar Rp. 5000 s/d Rp. 6.000 per kilo sekarang sudah mencapai Rp 17.000 per kilo. Cabe itu tanaman jangka pensdek. 4 bulan sudah berbuah dan bisa dipanen. Panen cabe itu bisa sampai tiga kali. Baru kemudian ditanam bibit baru lagi. Rizalpun memberikan perhitungan harga pokok produksi nya dengan asumsi tanahnya disewa . Cukup 2 hektar dan untungnya bisa seraratusan juta untuk semusim. tanam.
Gagasan Rizal disambut baik oleh Nurjannah.  Dan merekapun berangkat ke Sukabumi, untuk menjajaki dan mencari tanah yang sesuai untuk menanam cabe. Mencari tanah untuk disewa disana tentu saja melalui petani petani di daerah pertaniah di Sukabumi itu. Berkeliling dari satu tempat ke tempat lain melihat tanah tanah yang bisa disewa ternyata memakan waktu lama juga. Bertanya kiri kanan dan beberapa kali mereka mendapat petunjuk tapi setelah diperiksa ternyata tanah nya tanah kritis dan tidak cocok untuk bertanam cabe. Memeriksa tanah tanah  itu dilakukan dengan berjalan kaki.  Nurjannah yang sudah kepala lima itu tentu saja tidak sekuat Rizal yang baru berusia tiga puluhan. Mereka baru selesai dengan pencarian tahap pertama  sekitar jam 6 sore dan rencananya akan dilanjutkan besok hari. Sebelum ke hotel mereka memutuskan, akan mampir dulu di restoran untuk makan malam , baru kemudian mencari Hotel untuk menginap.

Sekitar jam 19.20 mereka mampir di sebuah hotel di jalan raya Sukabumi. Mereka ingin memesan dua kamar. Tapi ternyata kamar yang tersedia hanya satu. Mula mula Rizal menawarkan,  “Kamarnya buat ibu sajalah. Saya tidur di mobil aja bu. “
“Wah, Kasihan juga kamu kalau tidur di mobil”. Lalu Nurjannah bertanya kepada resepsionis hotel itu.
“Kamar supir ada ndak”
“Tidak ada bu”
“Lalu kamar yang sisa satu itu single bed atau doble bed”   
“Dobel bed Bu.”
“Kalau double bed gak apa apalah”.
“Sudahlah Zal, kamu tidur di kamar ajalah. Tempat tidurnya double kok. Kasihan kamu kalau tidur di mobil. Bawain barang barang ke atas.”
Nurjannah pun membayar harga kamar dan menmberikan KTP nya untuk di catat oleh resepsionis itu. Resepsionis itu mengerti kalau mereka bukan muhrim. Namun  Resepsionis itu membolehkan mereka sekamar, dengan pertimbangan Ibu  yang bernama Nurjannah itu sudah berumur sedang pegawainya Rizal itu masih amat muda, Kecil kemungkinan mereka saling tertarik dan berbuat yang bukan bukan. Apalagi si pegawai itu amat hormat kepada boss nya.
             
Karena amat lelah pada siang harinya, Nurjannah cepat tertidur.
Kebiasaannya, Nurjannah kalau sudah tidur lelap, dia ngorok.  Rizal punya kebiasaan yang berbeda. Dia sulit tidur  kalau terlalu capek. Biasanya dia hanya tertidur sebentar kemudian terbangun dan kalau dia terbangun dia sulit tidur lagi. Nurjannah selalu kalau tidur membuka celana dalamnya, karea karet celana dalam itu sering membuat sekeliling pinggangnya  gatal gatal dan bahkan bentol bentol. Dan Nurjannah tidak tahan panas. Kalau suhu kamar sudah panas maka dia seperti gelisah . Kalau Nurjannah tidur lampu biasanya dia matikan. Tapi di hotel ini, walau lampu di kamar dimatikan namun cahaya lampu dari koridor tetap masuk dan menerangi sebagian kamar itu,

Sekitar jam 2 tengah malam. AC kamar itu mati dan Nurjannahpun kepanasan. Selimutnya di lepasnya namun dia tetap ngorok. Rizal sudah terbangun sejak jam satu dan tidak bisa tidur lagi. Dalam berbaring baring karena sudah tidak bisa tidur dia mengarahkan pandangannya kepada Nurjannah yang nampak  lelap. Dalam hatinya Rizak bergumam. Cantik ibu ini. Walau sudah berumur tapi masih tampak singset dan berisi. Nurjannah yang kepanasan setelah AC kamar itu mati, tiap sebentar merubah posisi tidurnya dan bahkan mengibaskan kainnya karena kepanasan. Pahanya yang mulus tersingkap sampai ke pangkal pahanya. Bahkan saat Nurjannah membuka lututnya, Rizal seolah melihat surga dihadapannya. Darah laki laki Rizalpun menggeliat. Dia tidak tahan lagi. Celananya pun dilorotkannya dan dia melangkah pelan dan perlahan dibukanya paha Nurjannah lebih lebar dan dengan perlahan ditindihnya bossnya itu sambil mulutnya menempel ke leher janda yang lelap itu.
Nurjannah antara sadar dengan tidak merasakan sesuatu memasuki rumahnya. Semula Rizal akan ditolaknya, namun dia seperti tidak bertenaga dan mulai merasakan kenikmatan, Dan akhirnya kedua tangannya mulai memeluk tubuh krempeng laki laki itu dan semakin lama pelukannya semakinn erat Cukup lama posisi itu bertahan dan  tidak lama kemudian kedua insan itu mengeluarkan suara  mendengus  yang tertahan secara bergantian  dan  setelah itu terkulai kecapek-an dan keduanya tidur kembali. Rizal tidur enak sekali setelah itu ditempatnya

Setelah sarapan , Nurjannah dan Rizal langsung balik ke Jakarta. Mereka sudah mebahaS rencana semula yang ternyata tidak gampang merealisasikannya  , Bahkan terdengar pula berita miring  bahwa ada  kebun cabe yang lagi berbuah tiba tiba dicabut kemudian diboyong ke atas truk yang sudah menunggu di pinggir jalan dan setelah truk itu penuh dengan cabutan pohon cabe yang berbuah itu, truk itu pun ngacir dan menghilang, Kesimpulan mereka bisnis berkebun cabe itu risikonya tinggi.

Dua minggu setelah itu, pagi pagi Rizal sudah nongol  di rumah Nurjanah. Rizal memberi informasi bahwa Bulog akan mengadakan bazaar berkenaan dengan ulang tahun Bulog.
“Ini kesempatan bu Nur. Orang orang Bulog itu rata rata selera berpakaiannya tinggi, Kalau di bazaar itu yang paling laku adalah pakaian pakaian merk luar  yang harganya  mahal. “
Baru beberapa menit Rizal bicara, Ayu, pembantu Nurjannah datang menemui Nurjannah. Ayu akan belanja kebutuhan hari itu ke pasar. Dan Nurjannah pun berpesan agar Ayu tidak lupa membeli bahan bahan untuk memasak gulai ikan toco kesukaan Nurjannah. Setelah menerima uang dari Nurjannah, Ayupun berangkat ke pasar tradisional di Pejompongan dimana Nurjannah biasa membeli bahan bahan untuk gulai toco itu, Ayu pun naik oplet ke pasar itu yang dari rumah Nurjannah cukup jauh.
         Setelah Ayu pergi, Nurjannah kembali duduk dihadapan Rizal sambil bertopang kaki, Sengaja ditariknya sedikit roknya sehingga paha mulusnya nampak jelas oleh Rizal. Mata Rizal dalam berbicara dengan Nurjannah sekali sakali melirik juga ke bawah. Nurjannah kadang kadang membuka sedikit pahanya sehingga celana dalamnya kadang kadang jelas terlihat oleh laki laki kerempeng itu. Nurjannah sejak menginap dalam satu kamar hotel bersama Rizal minggu lalu itu mulai menunjukkan kelakuannya yang agak nakal. Rizal Nampak gelisah berhadapan dengann situasi itu dan Nurjannah pura pura tidak tahu dan tetap mengobrol ngalor ngidul walau dia tahu Rizal tidak mendengarkan ocehannya. Akhirnya Rizal memberanikan dirinya.          “Di kamar bu Nur ada kamar mandi gak ?”
“ Ada. Kenapa ? Kamu mau pipis”
“Iya bu “
Nurjannahpun masuk diikuti Rizal.
Rizal bukannya menuju kamar mandi, tapi malahan mendekap Nurjannah dan menciumi Janda itu dengan bernafsu. Nurjannah pura pura menjauhinya. Tapi karena dia juga sudah tidak tahan, pintu segera ditutupnya dan merekapun bergumul di ranjang nurjannah.

Besoknya Rizal datang lagi, Tapi kali ini untuk memenuhi janjinya kepada Nurjannah yang akan ikut Bazar di Bulog. Dia ingin berbelanja pakaian pakaian bermerk di Factory Outlet yang banyak bertebaran di Bandung. Sekitar jam 12,00 merekapun berangkat melalui Toll Cikampek yang bersambung dengan Toll Palimanan. Kepada pembantunya dia berpesan, mungkin dia menginap di Bandung. Dan benar saja, setelah berbelanja kebutuhan untuk Bazaar , nurjannah menginap di Bandung. Dia memilih hotel Bintang empat di Daerah Dago. Dan kali ini mereka memesan kamar dengan tempat tidur besar (Singgle bed). Disitulah Nurjannah dan Rizal melapaskan hasrat mereka hampir sepanjang malam di Hotel cukup mewah berbintang empat di  Bandung  yang sejuk udaranya itu.

Dalam perjalanan dari Bandung ke Jakarta , Nurjannah timbul kesadarannya. Sadar kalau perbuatannya sudah tidak benar. Dia hanya memperturutkan hawa nafsunya belaka. Dia khawatir Rizal akan menganggapnya sebagai perempuan simpanannya  yang haus sex., yang bisa didatanginya setiap saat.
         
Dalam mobil menuju Jakarta, Nurjannah bicara kepada Rizal dan bertanya tentang keluarganya, tentang istri dan anak anaknya, tentang aktifitas istrinya dan lain lain. Rizal menginformasikan bahwa kehidupannya sangat pas pasan .Untunglah akhir akhir ini dia ketemu Nurjannah sehingga ada perbaikan dalam ekonomi dan kehidupan keluarganya.
“ Rizal “, tiba tiba Nurjannah  berkata kepada Rizal setelah lama membisu dan hanya mendengar kan cerita Rizal tentang keluarganya.
“Apa pandangan kamu terhadap saya “
“Maksud bu Nur ? “
“Iya tentang bagaimana kamu menilai saya, Saya ini tergolong perempuan apa ?. Perempuan haus sex , atau perempuan gampangan kali . menurut penilaian jujur dari pikiran kamu ? “.
“Ya tidak seperti itulah Bu. Jauh dari itu. Bu Nur perempuan yang saya kagumi. Pintar , rendah hati dan semua sifat sifat baik ada pada bu Nur”
“Bullshit. Kamu meng ada ada. Kalau saya seperti yang kamu katakana itu tidak akan mungkin saya mau tidur sama kamu. Bicara jujurlah “
“ Soal tidur , itu masalah lain. Itu terjadi kan karena kita sama sama butuh bu. Kalau ibu gak butuh mana mau ibu seperti itu. Diluar itu ibu adalah perempuan agung yang diinginkan banyak laki laki”.
“Rizal… saya tidak mau lagi seperti itu. Saya bukan perempuan pemuas sex. Yang lalu itu adalah kesalahan dan itu tidak boleh terulang lagi. Saya berpikir untuk mengakiri hubungan kita yang tidak sehat ini. Untuk mempermudah nya , saya kira kita tidak boleh lagi bertemu. Agar satu sama lain mudah melupakan.”
Rizal tampak muram mendengar kata kata Nurjannah terakhir tersebut.
“Kok sampai begitu bu. Hubungan bisnis kan bisa jalan terus. Kita sama sama menjaga jarak ajalah bu. Gak perlu sampai putus segala. Saya kira dalam urusan bisnis kita kan saling membutuhkan”
“ Gak bisa Rizal, nanti godaan  akan selalu ada dan nanti kita menjadi orang tersesat selamanya. Dosa dosa kita menjadi dosa tak terampunkan. Saya tidak mau seperti itu Rizal”
“ Bagaimana kalau kita nikah saja Bu Nur.”
 “Gak logislah  kamu nikah dengan saya. Saya delapan belas   tahun lebih tua dari kamu.. Lalu kamu kemanakan istri dan anak kamu ?. “
“ Bu Nur… istri dan anak saya itu tetap akan saya biayai…. Sampai dia nanti nemu suami baru. Saya akan ceraikan dia Bu Nur. Mungkin bu Nur kira saya bohong, tapi bu nur harus percaya, walau bu Nur lebih tua saya merasa mantab bersama bu Nur. Saya terus terang jatuh cinta pada bu Nur”
“Tindakan kamu menceraikan istri kamu demi menikah dengan saya , itu bukan perbuatan terpuji”.
“Bu Nur.  Ibu adalah hidup saya. Tanpa Bu Nur saya jadi gelandangan. Susah mencari sesuap nasi. Kehidupan keluarga saya akan semakin melarat bu.
Keluarga saya pasti akan mengerti. Saya ceraikan demi kehidupan mereka. Setidaknya mereka tidak akan kelaparan. Bisnis saya bersama Bu Nur jadi jaminannya. Kita kan lumayan berhasil selama ini.
Menikahlah dengan saya bu. Walau saya berstatus sebagai suami, tapi saya akan mengabdikan diri sebagai bawahan ibu. Itulah posisi saya. Itu juga demi menjaga nama baik ibu dan bagi saya juga demi kehidupan keluarga saya “.
‘ Oke lah Rizal. Akan saya bicarakan dengan keluarga saya. Dengan anak anak saya. Buatlah surat cerai dan tunjukkan ke saya. Saya tidak mau suami saya punya istri  atau ada perempuan lain selain saya… “
“Baik Bu Nur”

Pada hari Minggu, Melda anak Nurjannah sering datang kerumahnya. Kali ini Nurjannah ingin memastikan kedatangan Melda karena itu diteleponnya  anaknya itu dan diingatkannya  supaya datang.  Melda berpikir , si mama  baru pulang dari Bandung. Pasti ada oleh oleh buat dia dan anaknya.
Biasanya Nurjannah agak  pelit kepada anaknya, apalagi memberi sesuatu yang diniatkannya sebagai barang yang akan didagangkannya. Namun kali ini  anak nya Melda di hadiahkannya pakaian  bermerk kualitas eksport yang dibelinya di factory outlet di Bandung. Melda tentu saja senang menerima oleh oleh itu, bahkan cucu cucu Nurjannahpun kebagian oleh oleh dari oma.

Setelah makan siang, mamanya memanggil Melda duduk didekatnya. Nurjannahpun mulai mebuka pembicaraan.
“Kamu kenal Rizal kan “
“Mas Rizal ? Teman dagang mama itu ?. Ya tahulah. Emang kenapa dia ma”
“Dia melamar mama. Cuma mama masih pikir pikir, Dia terlalu muda untuk mama. Tapi dia serius sekali. Dia bilang dia cinta sama mama dan tidak akan menjadi suami yang macam macam. Dia berjanji akan patuh sama mama. Mama sih berpikir , lebih baik menikah saja dari pada nanti mama silap atau dia silap dan terjadi sesuatu yang tidak baik. Juga untuk menghindari gossip  atau tuduhan yang bukan bukan. Bagaimana menurut pendapat kamu ?”, Melda terdiam, dalam hatinya terasa ada kejanggalan. Pastilah mamanya akan jadi omongan orang. Melihat tongkrongannya laki laki itu lebih pantas menjadi sopir ibunya daripada menjadi suaminya. Dari segi usia dia rasanya lebih seuai menjadi anak mantunya. Tapi Melda tidak mau mengecewakan mamanya. Dengan suara sedikit tertahan karena kurang sreg dengan rencana mamanya itu diapun berucap.
“Gak apa apa ma, kalau mama juga cinta sama dia”
Melda pernah jumpa beberapa kali di rumah mamanya  dengan Rizal yang juga bersikap hormat kepadanya. Laki laki kurus yang sering menjadi sopir mamanya itu dipanggilnya “:mas” oleh Melda. Setelah bicara itu Melda berpikir dia akan panggil apa ya kepada suami muda mamanya itu. Masak harus panggil “papa ?”.
Nurjannah menganggap ucapan Melda itu sebagai persetujuan dari anaknya.

Sore sekitar jam tiga setelah Melda kembali kerumahnya, Nurjannah pun menelepon anaknya Nurma yang bermukim di luar negeri.
Setelah bicara ngalor ngidul, akhirnya Nurjannah mulai bicara soal rencana pernikahannya dengan Rizal.
“Nurma…. Ada yang lamar mama.  Bagaimana menurut kamu “
Nurma berpikir , hebat mamanya ini. Gampang sekali mendapatkan suami. Nurma merasa jauh ketinggalan  dari mamanya. Karena ini  adalah suami ke tiga dari mamanya. Nurma sejak berpisah dari suaminya expat itu sampai sekarang masih belum menemukan calon untuk menjadi step father bagi anak anaknya.
“Syukurlah ma. Jadi mama ada yang menemani. Kapan rencananya mama akan menikah
Dari nada bicara anaknya Nurma, Nurjannah tahu kalau anaknya Nurma senang dengan berita ini.?
“Waktunya belum ditentukan. Kan harus mengurus surat surat dulu”
Nurma belum kenal dengan Rizal, calon suami mamanya itu.
“ Siapa nama calon papa aku itu ma”.
Mendengar pertanyaan anaknya Nurma , Nurjannah seperti tersentak. Anaknya pasti akan canggung memanggil “papa” kepada suaminya yang hanya beda umur sedikit saja dengan mereka. Melda saja memanggil “mas” kepada calon suaminya itu.
“Rizal, namanya Rizal , dia orang Sunda. Tapi kamu jangan kaget ya, dia itu masih amat muda. Dia berusia 35 tahun, delapan belas  tahun lebih muda dari mama”
Nurma terperangah mendengar ucapan mamanya yang terakhir itu. Dia sungguh amat kaget. Kok mamanya ……. dia mencari istilah yang tepat Kok mama doyan “daun muda ?”. Mimik wajah Nurma nampak agak kusut setelah tahu usia  calon ‘papa’ nya itu , tidak jauh beda dengan dia.
Tapi, sama dengan Melda dia cepat sadar, yang penting baginya mama nya bahagia dengan laki laki itu.
“ Syukurlah ma, yang penting mama senang sama dia dan dia sungguh sungguh mencintai mama. Lalu kapan rencananya mama akan menikah itu?”
“Kira kira dalam waktu sebulan dua bulan lagi lah, Tergantung kesibukan , mama dengan dia itu partner usaha. Selama ini parnership kami saling menguntungkan.”
“ Selamat ya ma. Tapi aku tidak bisa datang lho ma. Sampai tiga bulan ke depan, skedul ku penuh  gak apa apa ya ma”
“Iya gak apa apa sayang. Yang penting bagi mama , kamu  sudah mama informasikan dan kamu setuju dan merestui. Nurjannah nampak tersenyum setelah berbicara dengan anaknya Nurma. Anak anaknya sudah oke dan sudah memberi lampu jijau , tinggal sekarang bagaimana memberitahukan rencana ini kepada adik adiknya yang dua orang itu  ?.
         
Nurjannah melihat jam tangannya. “Ah baru jam tiga lebih dua puluh menit. Masih sempat ke rumah Nursiah”.
Nursiah adalah anak nomor dua di keluarga orang tua Nurjannah, adik nya yang nomor tiga adalah Nurhayati. Pokoknya anak polisi asal Bukittinggi itu ketiga tiganya namanya diawali dengan “NUR” yang berarti cahaya.  Begitulah bapaknya beranggapan, cahaya itu adalah sesuatu yang dibutuhkan oleh lehidupan. Tiada kehidupan tanpa cahaya. Dan semua nama anak anaknya itu punya makna yang khas.
Nurjannah , sebagai Cahaya dari Surga,
Nursiah, Cahaya pembela yang bisa diartikan sebagai cahaya patriot. . Nama ini merujuk kepada kata “Syiah”  yang merupakan pembela dari Saidina Ali.   Si bungsu diberi nama Nurhayati yang dimaknainya sebagai  Cahaya tubuh yang indah.
Begitulah nalar seorang letnan polisi yang memberi nama bagi anak anak perempuannya itu saat kelahiran mereka. Nursiah bersuamikan seorang Letnan Kolonel Angkatan Laut yang tinggal di Perumahan AL di daerah Pangkalan Jati, Cinere.  Sebelum berangkat ke rumah Nursiah, Nurjannah menelepon adiknya itu lebih dulu . Dia khawatir adiknya yang aktif di Yalasenastri, organisasi istri Angkatan Laut itu tidak berada di rumah. Ternyata Nusriah ada dirumah dan Nurjannahpun segera meluncur ke rumah adik nya itu
          
 Makan waktu satu setengah jam dari rumah Nurjannah di daerah Tanah Abang ke rumah Nursiah di pangkalan jati itu. Kali ini agak lambat karena dia melalui jalan didepan Rumah Sakit Fatmawai yang memang sering mengalami kemacetan.
Nursiah menyambut kedatangan kakak nya itu dengan gembira. Mereka agak jarang bertemu karena kesibukan masing masing.
Setelah kangen kangenan nya selesai, Nurjannah mulai ngomong tentang rencana pernikahannya.

“Nursiah, kamu kan tahu kalau Uni  sudah dua kali menikah tapi dua duanya gagal . Dari suami pertama memperoleh dua anak tapi Uni menderita karena papanya anak anak  itu dua kali menipu uni. Dia berselingkuh dan menikah dengan selingkuhannya itu . Dia punya 3 istri termasuk Uni. Suami uni yang ke dua , si Ambon itu lain lagi penyakitnya, sering KDRT, sehingga dua kali uni menikah, tidak satupun yang memberi kebahagiaan kepada uni. Karena itu ketika ada yang melamar uni lagi , uni ingin , uni berharap suami yang ketiga ini akan memberi harapan dan kebahagiaan bagi uni.”
Nursiah , yang biasa dipanggil Nurjannah dengan “Iyah” nampak gembira.
“Wah syukurlah uni, Semoga kali ini uni dapat suami yang bisa membahagiakan uni. Jadi kapan rencananya uni akan ijab Kabul ?”
“Ya , mungkin sekitar bulan depan lah,  atau paling lat bulan depannya lagi. Tapi Iyah , jangan kaget ya. Calon suami uni itu adalah partner dagang uni, dia masih muda sekali, dia baru berusia tiga puluh lima tahun, jadi beda usia delapan belas  tahun dengan uni” .
Walau sudah diingatkan supaya jangan kaget, ternyata Nursiah masih kaget juga.
“Haaah… muda banget. Apa uni gak takut nanti kalau  uni tambah tua , uni akan ditinggalkan ?. Banyak kejadian Uni , suami lebih muda itu motifasinya  menikahi  perempuan yang lebih tua, sering tidak sehat”.
“Oohh kalau soal itu uni gak takut. Jangan jangan malah uni yang akan meninggalkan dia , jika dia macam macam”. Si uni pun tergelak diikuti pula dengan gelak adiknya Nursiah .
“Iyalah uni , kalau uni dengan dia sudah saling jatuh cinta. Segerakan sajalah”.
Memang kata kata adiknya yang terakhir itu sajalah yang diharapkan Nurjannah, yang member semangat padanya untuk menikah lagi. Jadi keluarga dekatnya sudah tiga orang yang  menyetujui. Tinggal adiknya Nurhayati , si bungsu di keluarganya yang masih perlu diberitahukan. Nurhayati, tinggalnya di Bogor bersama suaminya yang menjadi dosen di IPB. Karena terlalu jauh, Nurjannah berniat untuk memberitahukan adiknya itu pertelepon saja.

Nurhayati ketika ditelepon oleh Nurjannah menyambut baik rencana kakaknya  yang akan menikah lagi itu. Dia mengucapkan selamat kepada kakaknya itu dan berjanji, Insya Allah pada waktunya akan menghadiri acara ijab Kabul Nurjannah.
        
 Plong sudah rasa hati Nurjannah. Semua keluarga dekatnya sudah menyetujui rencana pernikahanya. Namun nurjannah masih menunggu kabar , sampai dimana Rizal mengurus perceraiannya dengan istrinya itu. Nurjannah harus diyakinkan bahwa Rizal memang sudah bercerai dari istrinya dan  harus ada hitam diatas putih.
           
Seminggu setelah mereka kembali dari Bandung, Nurjannah menelepon Rizal, menanyakan perkembangan pengurusan perceraiannya dengan istrinya. Rizal menjawab bahwa, dia sedang mengurus surat surat berkenaan dengan perceraianna dengan istrinya itu. Diharapkan dalam seminggu kedepan surat surat itu akan rampung.
Benar, seminggu setelah telepon Nurjannah kepadanya, Rizal pun datang ke rumah Nurjannah. Dia membawa map dan dalam map itu terdapat surat yang diinginkan oleh Nujannah bahwa Rizal sudah bercerai dengan istrinya. Surat itu ternyata berjudul “ Sepakat untuk bercerai”
Isinya , suami istri bernama Rizal Ridha (suami) dan Istrinya bernama Siti Awiyah , Beralamat di Desa Cihideung Jawa Barat menyatakan :
Sepakat bercerai, terhitung mulai tanggal  ….,
Istri dapat menikah lagi kapanun dia suka.
Suami wajib memberi nafkah anaknya serta Siti Awiyah sampai  Siti Awiyah bersuami lagi  Surat itu ditanda tangani oleh Rizal Ridha dan Siti Awiyah. Diketahui oleh RT setempat dan Kepala Desa. Lengkap dengan cap RT dan Kepala Desa.

Nurjannah senang sekali menerima surat “Kesepakatan Cerai” itu. Sesuai dengan apa yang dikemukakan Rizal saat semobil dengan Nurjannah ketika pulang dari Bandung.
Namun Nurjannah bertanya juga
“Jadi kamu bercerai tidak melalui Pengadilan Agama ?”.
“Ya tidak lah Bu. Di desa saya semua percerain hanya diketahui RT dan Kepala Desa. Kalau melalui Penngadiln Agama bisa berbulan bulan Bu. Pengadilan kan hanya ada di ibukota Kabupaten". Nurjannah berpikir, logis juga alasaan Rizal itu.
    
Sebulan setelah Nujannah menerima ‘surat cerai’ Rizal dengan istrinya, Merekapun menikah  secara sederhana di Rumah Nurjannah. Dari keluarga Rizal hanya hadir dua orang pria yang mengaku sebagai mamang dari Rizal. Dari pihak Nurjannah, hadir anaknya Lamelda, anak anak Lamelda serta dua orang adiknya dengan suaminya masing masnig.
Nurjannah nampak puas, mendapat suami jauh lebih muda , dibandingkan suami suaminya terdahulu , Rizal bagi Nurjannah adalah suami terbaik. Sangat hormat kepadanya, cukup romantis, sudah teruji diranjang  dan tidak akan berani macam macam kepadanya. Secara ekonomi Rizal sangat tergantung kepada Nurjannah.

                                  ============
Partnership biisnis Nurjannah bersama Rizal tetap berjalan baik. Namun yang rutin adalah membeli beras dari Bulog dan dijual lagi kepada Pengecer. Dalam sebulan mereka bisa memperoleh keuntungan antara dua puluh sampai tiga puluh juta dari bisnis ini. Dan jumlah itu tentu saja dirasakan kurang bagi Nurjannah, karena suaminya sudah memperoleh bagian 40  % dari keuntungan bersih.dan bagi Nurjannah jumlah itu kurang mamadai 
.
Suatu hari Rizal bertemu dengan  seorang kawannya semasa SMA dan kawannya itu  sekarang bekerja pada suatu perusahaan kontraktor swasta yang sedang membangun gedung bertingkat empat belas lantai di  Jalan Rasuna Said,  Jakarta.
Ir Makmur Sadikun , kawannya itu menjadi Kepala Poyek disana . Merekapun ngobrol panjang lebar, bernostalgia dan si Makmur itu akhirnya berkeluh kesah  kepada Rizal.
“Bos gua sekarang lagi pusing nih. Kreditnya belum turun turun juga. Kalau dalam bulan ini kreditnya gak turun juga dari bank, terpaksa proyek di stop dulu. Dan kalau itu terjadi, nama kita jelek dan berpengaruh untuk mendapat proyek berikutnya. “
“Emang perlu berapa untuk menyelesaikan proyek kamu  itu. “
“Untuk meneruskan sampai selesai perlu sekitar 12 M lagi. Tapi pemilik proyek bersedia menolong , membayar perlantai yang telah diselesaikan. “
Pikiran bisnis Rizal langsung bekerja. Dia lanjut bertanya
“Untuk menyelesaikan satu lantai makan biaya berapa tuh “:
“Sekitar sembilan ratus juta  lah. Kenapa lu tanya, lu punya duit . Kalau lu punya duit, lu boleh join satu lantai. Lu dikasi untung sepuluh persen deh”
“Jangka waktu penyelesaiannya berapa lama “
“Gak lama, berkisar 30 s/d 35 hari “
“ Sepuluh persen mah kekecilan”
“Ya gak lah. Pasarannya memang segitu. Pokoknya begitu selesai, dibuat berita acara dan langsung ditagih kepada owner proyek. Biasanya mereka periksa dulu baru administrasinya diproses. Ndak lama, paling seminggu  duitnya sudah keluar”.
“ Lalu kalau gua minat, prosenya bagaimana”
“Ya dibikin perjanjianlah. Kamu sebagai sub kontraktor, seolah olah seperti itu,, tapi yang mengerjakan nya kan tetap gua. Dan setelah satu lantai selesai, dibayar 900 juta tambah 10 % atau 990  juta. Cukup itu . Jauh lebih tinggi dari bunga deposito yang hanya 15 % setahun “.
“Ya jangan disamain dong. Kalau deposito kan  aman. Kalu ditanam di proyek kamu kan ada risikonya juga.”
“Risiko apaan, masa lu gak percaya sama gua. Kan semuanya gua yang kerja. Gua yang bikin berita acara , nanti pembayaran kan juga melalui gua”.
“Nantilah, gua bicaraakan dulu sama bini gua”
“Oke deh, mudah mudah an bini lu setuju”
         
Setelah mendengar cerita Rizak, Nurjannah amat tertarik untuk ikut “memborong” satu lantai proyek gedung bertingkat di Rasuna Said itu. Tapi uang Nurjannah tidak cukup. Dia hanya punya Rp.700 juta. Enam ratus juta dalam deposito dan kira kira seratus juta lebih sedikit ada di rekening tabungannya.
“Nanti kekurangan 200 juta, gampanglah , dipinjam dari bank untuk jangka waktu satu bulan. Bunganya haya 18 % setahun atau 1,5 persen sebulan. Hanya  3 juta rupiah sebulan. Masih menguntungkanlah”. Nurjannah berguman dalam hati.

“Saya ingin  tahu persisnya. Kamu hubungi lagilah teman kamu itu, kapan saya bisa ketemu dia” berkata Nurjannah kepada suaminya.
“Akhirnya setelah bertemu dengan Ir Makmur Sadikun, Kepala Proyek gedung bertingkat di Rasuna Said itu, Nurjannah dapat diyakinkan bahwa pengembalian uangnya nya terjamin. Pinjaman dari Nutrjannah untuk pembuatan lantai enam dengan biaya  900 juta itu bisa diserahkan Nurjannah  dalam 3 tahap. Pertama 500 juta. Sepuluh hari kemudian 200 juta dan 10 Hri berikutnya lagi 200 juta. Lima ratus juta yang pertama itu adalah guna pembelian bahan, semen , besi beton dsbnya. Nurjannah akhirnya setuju, dan kontrak dibuat antara Nurjannah dan Ir Makmur Sadikun secara dibawah tangan, atinya kontrak itu tidak dibuat dihadapan Notaris. Nurrjannah percaya karena dia melihat sendiri bangunan itu sedang dikerjakan dan baru selesai 5 lantai, masih 9 lantai lagi. Dan apabila nanti satu lantai sudah selesai dan Nurjannah sudah menerima pembayaran, dia boleh ikut lagi “memborong” satu lantai berikutnya.
“Lumayan ini kalau dapat 90 juta setiap empat puluh hari, Nurjannah membayangakan duitnya akan cepat bertambah” Nurjannah tersenyum sendiri membayangak keuntungan yang akan diperolehnya itu.

Setelah penanda tanganan kontrak , Nurjannahpun mentransfer 500 juta ke rekening Makmur Sadikin.
Sekitar 24 hari kemudian, Nujannah ingin melihat perkembangan proyek itu . Diapun  datang bersama suaminya Rizal, menemui Makmur.
Makmur menjelaskan bahwa “lantai” milik nurjannah itu sudah hampir rampung, paling lama tiga hari lagi pengerjaan lantai itu rampung. Setelah itu baru dibuat berita acara dan ditagih kepada owner nya.
Nurjannahpun diajak naik lift pekerja sampai ke lantai lima. Lift pekerja itu belum sampai ke lantai enam. Jadi dari lantai lima  ke lantai enam harus melalui tangga . Kebetulan tangga yang biasa dipakai pekerja itu nelum rapi.
Saat menaiki tangga itu, tanpa sengaja nurjannah menginjak batu kecil di anak tangga ke empat, dan dia tergelincir dan keseimbangannya goyah dan …dia berteriak kaget dan  jatuh. Kejadiannya begirtu cepat sehingga  dua laki laki disampingya yaitu suaminya dan Makmur tidak bisa berbuat apa apa..  Kaki kanannya membentur ujung anak tangga itu. Rizal tampak cemas , begitu juga Makmur. Nurjannah kesakitan dan tidak bisa bangun. Kakinya dirasakannya sakit sekali Nurjannahpun segera dievakuasi dan dilarikan ke Rumah sakit MMC (Metropolitan Medical Centre) Satu satunya Rumah Sakit yang berlokasi di Rasuna Said  dan  rumah sakit yang  paling dekat dari proyek itu.

Setelah di foto (rongent) ternyata kaki kanan Nurjannah patah di bagian dekat tumitnya. Kaki itupun di gips dan Nurjannah pun harus menginap di Rumah Sakit itu. Pada hari ketiga Nurjannah dibolehkan pulang dan dianjurkan tidak boleh banyak bergerak. Harus istirahat di tempat tidur. Mujur dia punya suami Rizal yang senantiasa melayani kebutuhannya. Apa saja yang diminta Nurjannah dengan sigap dilayani oleh Rizal. Rizal nampak sedih melihat kondisi istri tercintanya itu.

Dua minggu setelah kejadian itu, Nurjannah ditelepon oleh Makmur bahwa Cek untuk pembayaran lantai yang diborongnya itu sudah bisa diambil. Ceknya sudah disiapkan dan dapat diambil setiap saat. Nurjannah minta kepada Makmur, supaya uangnya ditransfer saja ke rekeningnya. Tapi Makmur mengemukakan:
“Ceknya sudah ditanda tangani, jadi lebih praktis diambil saja. Maaf bu , saya sibuk, sulit meninggalkan proyek.   Jadi bagusnya ambil ceknya saja . Tapi kalau ibu gak bisa datang, tolong buat surat kuasa kalau yang mengambilnya bukan ibu sendiri.”
Nurjannah mana bisa pergi sendiri mengambil cek itu, berjalan ke kamat mandi saja dia masih ter tatih tatih dan harus dibantu oleh suaminya

Dengan agak kesal Nujannah akhitnya membuat suart kuasa kepada suaminya Rizal , untuk mengambil cek itu dari Makmur. Setelah Nutjannah membubuhi tanda tangannyan sebagai pemberi kuasa, Rizalpun diusruhnya tanda tangan sebagai penerima kuasa.  Rizal pun disuruhnya agar setelah terima cek itu segera ke Bank  Mandiri di Tanah Abang dimana Nutjannah punya rekening Tabungan. Nurjannah meminta   Rizal  untuk menyetorkan cek itu ke rekening Tabungannya dan buku tabungannya pun diserahkannya kepada Rizal. Rizalpun meng iya kan perintah sang iatri.Kemudian  diapun berangkat dengan menggunakan mobil Nutjannah.
          
Cek senilai Rp.990 juta itupun diserahkan Makmur kepada kawan lamanya Rizal , setelah dia menerima surat kuasa Nurjannah yang memberi kuasa kepada Rizal untuk mengambil cek itu.
Makmur pun menulis di belakang surat kuasa itu : “Cek sudah diambil “ dan dibubuhi tanggal hari itu. Rizalpun diminta Makmur membubuhi tanda tangannya dibawah tulisan itu.

Setelah menerima cek itu Rizal pun berlalu. Dan sebelum ke bank diapun mampir dulu ke Carefour Menteng , dan disana dia membeli sebuah tas punggung
Baru kemudian dia berangkat ke Bank BNI Cabang Cikini  , cabang yang tertera di cek itu. Cek itu ternyata adalah cek tunai dan Rizalpun menyodorkan  cek itu kepada teller  beserta KTP nya. Sudah menjadi kebiasaan bank untuk mengecek kepada pemilik rekening apabila aada pencairan  cek dengan nilai besar. Makmurpun di telepon  oleh Bank BNI tentang kebenaran pengeluaran cek itu. Makmur pun meng konfirmasi bahwa cek itu memang dia yang terbitkan.
Setelah mendapat konfirmasi itu, Rizal dibayar oleh Teller bank itu sesuai jumlah yang tertera di cek tersebut  Rizal hanya menghitung secara global saja dan kemudian memasukkan uang itu ke Tas Punggung yang baru dibelinya.
Dari Cikini , Rizal meneruskan perjalanannya ke Carefour di Cawang. Tas berisi uang itu ditinggalnya di bawah jok mobil. Mobil di parkirnya  di basement, tempatnya sedikit gelap sehingga tas itu tidak kelihatan dari luar. Kemudian dia naik ke atas dan  membeli sebuah HP  Samsung Galaxi mode terakhir Lalu membeli roti dan snack dan dua botol air menral.  beberapa T Shirt, kemeja dan kaos oblong. Celana dalam dan beberapa celana panjang. Pakaian pakaian itu sudah di cobanya di kamar pas dan ukurannaya sesuai baginya.  Setelah dibayarnya, dia kembali ke mobilnya dan barang belanjaannya itupun disalinnya ke Tas punggung yang sudah berisi uang yang banyak itu. Tas itupun tampak penuh  dan cukup menampung semua belanjaannya itu.  Setelah itu mobil dikuncinya dan dia naik kembali ke atas dengan membawa tas nya, dan tas itu sudah dipakainya dipunggungnya. Dia ternyata menuju Bagian penitipan dan menitipkan buku tabungan Nurjannah dan kunci   mobil di sana, dan ketika petugas memberikan Kartu nomor tanda penitiupan, Rizal mengemukakan, Gak usah pakai nomor, nanti orangnya datang untuk mengambil, karena saya tidak sempat ketemu dia. Tolong catat saja, nama pemilik nya Nurjannah.
Petugas agak ragu juga, tapi Rizal menegaskan tidak usah kawatir. Tinggal lihat aja ktp nya kalau sesuai dengan  STNK nya, kunci itu bisa diberikan kepadnya. Saya parkir mobilnya di Basemen. Akhirnya dengan sedikit ragu titipan itu diterimanya juga.     
        
Rizal pun keluar dari super market itu dan mencari taxi. Setelah mendapat taxi, diapun memerintahkan taxi itu mrenuju ke Stasiun Bus Lebak Bulus
Dalam perjalanan ke stasiun lebak bulus, dia kirim sms kepada Nurjannah.
“ Bu…. Uang sudah saya setor ke rekening tabungan.  Mohon maaf bu. Orang tua saya telah meninggal. Saya harus pulang kampung segera. Jadi Buku tabungan, dan kunci mobil saya titip di Carefour Cawang. Di tempat penitipan . mobilnya saya parkir di basement. Maaf ya bu. Saya harus pulang segera”
Rizal. “

Setelah itu HP jadulnya itupun dia matikan sehinga tidak bisa dihubungi lagi. DI Taksi dia asyik meng utak atik mainan barunya Samsung Galaxxi model baru dengan Sim card baru pula. Diapun menyalin nomor nomor penting ke hp barunya itu.
Dari Lebak Bulus diapun naik bus  pulang ke kampunghya, kemana lagi kalau bukan ke rumah istrinya. Dua hari setelah itu, Rizal dengan keluarganya, seorang istri dan seorang anak , pun pindah dari kampung itu ke suatu kota kecil  masih di daerah Jawa Barat dan membangun rumah di sana dan hidup dengan tenang damai dan sejahtera
                            ------------------------------
Nurjannah kaget setengah mati menerima sms dari suami  mudanya itu. Wasangkanya pun datang. “Waduh,  pasti uang saya dibawa kabur  nih”. Dia segera menelepon Bank Mandiri  Tanah Abang menanyakan apakah uangnya untuk rekenig tabungan Mandirinya, disebutkannya nomornya, sudah masuk.  Customer service bank itu mengecek dulu identitas Nurjannah dengan menanyakan hal hal yang bersifat pribadi antara lain , nama ibu kandung, nomor telepon rumah , alamat rumah dan setelah yakin yang menelepon adalah pemilik rekening,  baru diperikasanya mutasi rekening itu Petugaspun dengan tegas mengatakan tidak ada setoran atau pun transfer yang masuk.
Nurjannah serasa semaput mendengar jawaban itu. Dia meraung sejadinya sehinga mengagetkan pembantunya. Kemudian Nurtjannah berusaha menelepon Rizal, tapi teleponnya tu la lit pertanda bahwa telepon itu dimatikan.  Nurjanah kemudian menelepon Makmur dan Makmur menjelaskan bahwa cek  sudah diserahkan ke Rizal  beberapa jam sebelumnya.
Nurjannah kemudian memberi tahukan anaknya Melda, bahwa suaminya telah kabur membawa lari uangnya hampir satu milyar. Mobil ditinggal di carefour. Mobil itu akhirnya dibantu mengambilnya oleh mantu Nurjannah , suami Melda dengan membawa KTP dari Nurjannah.

Nurjannah mengadukan hal itu kepada Polisi. Polisi ikut mngusut kasus ini, sampai ke Bank  BNI Cikini, dan dari data foto copy KTP Rizal disana jelas bahwa KTP Yang digunakan Rizal itu adalah KTP Palsu. Mendengar informasi itu, Nurjannah pun menyerahkan surat “Kesepakatan perceraian”  yang diserahkan Rizal saat belum menikahinya dulu , kepada polisi. Belakangan setelah diselidiki  polisi ternyata surat “Kesepakatan Perceraian “ Rizal dengan istrinya itu juga palsu, semua cap yang ada di surat itu tidak sama dengan cap asli dari RT dan Kepala Desa yang tercantum disana. Rizal juga tidak dikenal di RT dan desa itu. Foto foto Rizal juga tidak ada dan kebetulan dalam acara nikah siri yang dilakukan Nurjannah dengan suaminya itu tidak ada yang mengabadikan acara itu.

Nurjannah sakit hati luar biasa. Dia ingat dulu saat dia kerumah Nursiah,  adiknya itu sudah mengingatkan dia bahwa  motivasi laki laki menikahi perempuan yang lebih tua sering tidak sehat. Dia tidak menggubris nasihat adiknya itu, malahan dengan yakin mengemukakan : “Mungkin uni yang akan meninggalkan dia, kalau dia macam macam”. Ternyata, si Uni ditinggalkan suami muda itu saat dia sedang memulihkan patah kakinya sembari menggondol uang si uni hampir satu milyar rupiah.Sekarang patah kakinya hampir sembuh tapi patah hati  terasa lebih sakit dari patah kaki yang menyengsarakan itu.
      

No comments:

Post a Comment