Saturday, April 9, 2016

MENABUR CINTA KE LIMA




                                                 .

MENABUR CINTA  KE LIMA
  

Nurjanah sekitar  tiga tahun  menjadi istri Rizal. Cukup lama dia stress setelah uangnya dibawa lari Rizal, Walaupun polisi sudah berusaha mencari jejaknya namun Rizal tetap tidak ditemukan Perlahan lahan mental Nurjannah pulih juga,  Dia bangkit lagi dengan sisa sisa uang yang ada. Tanahnya yang dijaminkan saat meninjam dari bank sebesar Rp.200 juta itu sudah dijualnya dan laku sekitar Rp.500 juta. Dibayarnya utangnya sebesar Rp. 230.juta termasuk bunganya dan sisa uang sebesar Rp.270 juta dijadikannya modal membuka usaha ekspedisi. 



Perusahaan ekspedisi Nurjannah cukup maju dan selama hampir dua tahun berjalan lancar dan menguntungkan. Sampai pada suatu hari dia menerima telepon dari seorang langganan bahwa barang yang dikirim langganannya itu melalui perusahaan  ekspedisinya  belum sampai ke penerimanya padahal barang itu sudah dikirm sejak seminggu yang lalu. Nurjannah yang menerima telepon itu meminta No pengiriman dan setelah ditelusuri oleh Nurjannah nomor itu ternyata tidak tercatat dalam buku administrasi perusahaan. Usut  punya usut ternyata itu adalah permainan seorang pegawainya yang menerima kiriman barang, melakukan pengiriman seolah olah barang dikirim oleh perusahaan ekspedisi , tapi uangnya masuk kantong pegawai itu , karena pengiriman tidak tercatat di administrasi perusahaan. Pegawai itu akhirnya dipecat, Tapi Nurjannah tidak punya pegawai yang bisa menggantikan pekerjaan  pegawai yang dipecat itu. Akhirnya perusahan Nurjannah pun kehilangan reputasinya dan mati secara perlahan.
           
Kemajuan teknologi telekomunikasi dan computer yang melanda dunia ternyata juga membawa pengaruh pada kehidupan Nurjannah. Nurjannah mulai mengenal internet dan mengarungi dunia maya, Dia membuka akun facebook dan cukup aktif memanfaatkan media itu . Nurjannah banyak teman facebooknya. Fotonya yang berparas cantik sebagai wanita paruh baya banyak menarik orang untuk berteman dengan Nurjannah. Dengan menggunakan internet itu dia bisa menggali segala macam informasi melalui “Google” , suatu mesin pencari yang andal. Sekali sekali dia main game di internet dan kalau tidak ada kesibukan lain , maka main game lah yang mengisi waktunya. Hidupnya berkisar pada pekerjaan ekspedisi , main game di internet, membaca postingan kawan kawannya di facebook dan kerja lainnya hanya kerja rumahan serta makan dan tidur.
Hidup Nurjannah amat monoton, kentara  dari postingannya di Facebook bahwa janda ini kesepian. tiap hari dia munculkan hasil permainan gamenya di facebooknya. Farm field adalah game favoritenya.

Nurjannah sudah punya “Fren” di facebooknya lebih dari seribu orang. Banyak pula diantara temannya itu berasal dari Pakistan dan India. Profil Nurjannah itu sangat cantik dimata orang orang dari kedua suku Bangsa itu. Nurjannah yang berhidung mancung itu banyak dipunji oleh kawan kawan Pakistannya itu dengan berbagai kata kata sanjungan. “You are very very very beautiful “. Ada pula yang langsung mengungkapkan  perasaan hatinya : “I love you Nurjannah, You are the light from heaven”. 

Foto di facebook kadang kadang agak menyesatkan juga. Banyak diantara kawan facebooknya yang memujinya adalah pria pria muda berumur 30 an, agak tertipu karena di facebook itu tidak ada data tentang umur Nurjannah sedang foto yang dipajangnya adalah foto saat dia masih berumur sekitar 35 tahunan.

Sekarang Nurjannah super hati hati. Dia bertekad , kalau ketemu calon suami lagi, siapa tahu di umurnya yang sekitar 58 sekarang ini masih ada yang mau mempersuntingnya. Dia tidak akan lagi mengeluarkan uangnya sepeserpun bagi kepentingan laki laki itu. Memberi nafkah kepada istri itu adalah kewajiban suami. Begitu yang dia dengar dari ceramah seorang ustad di televisi saat sehabis subuh.     Dia tidak akan mempercayakan uangnya kepada siapapun dalam kondisi bagaimanapun. Soal ketatnya Nurjannah dalam soal keuangan sudah tertanam di kepalanya sejak tertipu oleh Rizal yang sehari hari  amat baik, selalu memperlihatkan kasih sayang dan amat patuh kepadanya . Sama sekali tak disangkanya laki laki yang lebih pantas menjadi supirnya itu, yang sudah diangkatnya derajatnya menjadi suaminya adalah “musang berbulu ayam”  yang membawa kabur seluruh uangnya dan meninggalkan Nurjannah  ketika dia masih dalam penyembuhan patah kakinya
.
Suatu hari Nurjannah menerima permintaan pertemanan dari seseorang. Dia memeriksa dulu akun facebook orang itu. Sepintas dia melihat orang yang ingin menjadi temannya itu adalah pensiunan dari Departemen Keuangan. Orang itu masih Nampak gagah kalau dilihat dari foto profilnya. Nurjanahpun mengkonfirmasi permintaan pertemanan itu.

Mula mula Nurjannah acuh saya terhadap teman barunya itu. Tapi rupanya teman barunya yang bernama Khairul itu punya perhatian kepadanya. Khairul mengetahui kalau Nurjannah akan berulang tahun pada 28 Agustus yang akan datang ini, dan dua hari sebelum ulang tahun itu Khairul kirim pesan di facebook Nurjannah. Dia mengucapkan selamat ulang tahun kepada Nurjannah. Dia mengirim pesan ulang tahun mendahului, semata mata karena  dia ingin menjadi orang pertama mengucapkan selamat ulang tahun kepada Nurjannah sebagai pertanda bahwa Nurjannah sudah ada dihatinya. Semoga hatinya kelak ditembus pula oleh cahaya surga dari Nurjannah.
Hati Nurjannah berbunga bunga mendapat Ucapan selamat ulang tahun dari Khairul . Orang Sidempuan Sumatra Utara itu langsung disapanya “abang” .
“Terima kasih bang, Sudah saya catat dalam catatan saya dan dalam hati saya bahwa abang lah yang memberikan ucapan selamat yang pertama  Yang amat berkesan bagi saya”.
      
Laki laki pensiunan dari Departemen Keuangan itu ternyata baru setahun lalu ditinggalkan istrinya yang meninggal dunia karena Stroke. Dia punya dua orang anak laki laki dan kedua anaknya sudah bekerja dan masing masing anak itu sudah memberikan satu orang cucu baginya  
Karena Khairul sudah menjadi teman facebooknya, maka Nurjannah bebas menelusuri kegiatan Khairul melalui Facebooknya. Nurjannah mendapatkan bahwa Khairul ternyata sangat aktif di facebook, hampir setiap hari ada saja yang ditulis Khairul  di FB nya itu.  Nurjannah terkesan dengan profil Khairul . Dari foto dan kegiatannya, Khairul ternyata suka menulis, bahkan sudah ada dua buah buku yang ditulisnya yang sudah beredar dan bisa diperoleh di toko buku. Duda itu juga  suka main golf dan bahkan sering melakukan tur golf bersama klub golfnya baik dalam negeri maupun tur golf ke luar negeri. Kesan Nurjannah terhadap Khairul amat positif. Menurut pikiran Nurjannah, kalau sudah pensiun masih bermain golf itu pertanda laki laki itu banyak duit dan pastilah punya simpanan yang cukup di bank,  Dia tahu , setiap main golf itu biayanya cukup tinggi. Hanya pensiunan yang banyak punya tabungan sajalah yang mampu.  Sebelumnya terlihat foto foto saat istri Khairul masih ada. Khairul dan keluarganya  sering berkumpul dan berlibur  bersama , kebanyakan di Bali karena Khairul ternyata punya rumah di Bali. 

Seminggu setelah ulang tahun Nurjannah  Khairul mengajak Nurjannah kopi darat, Istilah kopi darat itu dimengerti nitizen sebagai ketemuan, bertemu muka dan berkenalan secara fisik.
Khairul tidak langsung mengajak bertemu begitu saja. Dia mengemukakan bahwa dulu dia sering jalan pagi di Senayan , berkeliling Gelora Bung  Karno dan setelah selesai berolah raga, kemudian mampir di warung sembari sarapan pagi . Banyak makanan yang enak dijual di berbagai tenda disana, dan alangkah senangnya jika suatu hari saat sarapan pagi itu bisa dilakukannya  bersama dengan Nurjannah.

Nurjannah terkesan dengan ajakan Khairul, dia pun segera menjawab bahwa dia tinggal di Tanah Abang, tidak jauh dari Gelora Bung Karno itu. Pastilah senang bisa berjumpa dengan abang dan bisa sarapan pagi di salah satu tenda yang abang suka itu, apalagi setelah   olah raga pagi. Perut sedang lapar dan sarapan paginya pastilah menyenangkan.  Tapi bagaimana saya bisa mencari abang di Senayan yang luas itu. Saya terus terang kurang mengetahui atau tidak familiar dengan tempat tempat di Senayan itu.

Khairul memaknai jawaban Nurjannah itu sebagai undangan untuk bertandang ke umahnya.Khairul pun menjawab bahwa dia ingin main kerumah Nujannah kalau diperkenankan, dan kalau dibolehkan  berilah alamatnya dan karena dia kurang pandai melacak lokasi, mohon disertai peta dan petunjuk arah agar dia mudah mencari rumah Nurjannah.

Nurjannah punya kebiasaan senang bertemu dengan orang baru. Dalam pikirannya tidak ada ruginya bertemu dengan seseorangn yang jelas identitasnya . Khairul dianggapnya jelas identitasnya dan sudah jadi temannya di FB, apa salahnya kopi darat dengan Khairul, dan itu dilakukan di rumah Nurjannah. Dia merasa terhormat, karena laki laki yang datang ke rumahnya , bukan ketemu di café atau taman.
Nurjannahpun memberikan alamatnya, dengan pesan alamat nya mudah dilacak melalui Google map dan kalau hendak datang harap beri kabar atau pesan agar Nurjannah bisa mnyediakan waktu bagi Khairul .


Daerah pemukiman di Tanah Abang itu memang sedikit sembrawut, namun tidak terlalu sulit bagi Khairul untuk sampai ke rumah Nurjannah. Nurjannah pun keluar kamar ketika pembantunya memberi tahukan , ada tamu. Mereka bersalaman, Nurjannah tersenyum kepada Khairul dan mepersilahkan Khairul duduk.  Khairul tidak terlalu terkesan kepada Nurjannah , karena Khairul berharap orang yang ditemuinya itu dalam pikirannya lebih muda dan lebih cantik.  Namun dia tidak buru buru keluar dari rumah itu. Dengan setengah hati  dia mengobrol dengan Nurjannah dan semakin lama semakin enak mengobrol dengan dia. Selisih usia mereka hanya  dua tahun.  Khairrul berharap memperoleh teman bakal calon istrinya paling tidak berusia lima  tahun lebih muda dari dia dan berharap setidaknya lebih cantik dari Nurjannah yang ada didepannya saat itu. 
           
Ada sebulan Khairul tidak pernah menghubungi Nurjannah semenjak mereka kopi darat yang lalu. Nurjannah pun mengerti kalau Khairul tidak terlalu tertarik kepadanya. Khairul sebenarnya memang kurang tertarik pada Nurjannah, namun rasa sepinya tinggal sendirian dan hanya ditemani pembantu laki laki berusia 14 tahun, seperti tidak ada pilihan baginya. Dia perlu kawan ngobrol,  akhirnya diteleponnya juga Nurjannah.  Kebetulan saat itu sudah dekat akhir tahun. Setelah mengobrol ngalor ngidul, Khairul bertanya kepada Nurjannah :
“Kemana merayakan tahun baru Nur? “
“Gak kemana mana bang. Nonton tv aja. Biasanya acara TV akhir tahun bagus bagus “
“Banyak hotel yang membuat acara Old and New dengan segala macam acara, Ada gala dinner. ada music dan nyanyi artis artis top. Mungkin sekali sekali enak juga ikut old and New di hotel hotel itu Nur “
“Tapi mahal kan bang”
“Kan Cuma sekali setahun. Kalau kamu minat bisa kita cari tiketnya”
“Jam berapa pulangnya itu bang”
“Ya terserah kita. Boleh setelah acara selesai , sekitar jam satu. Tapi banyak juga yang pesan kamar di hotel itu dan menginap sehingga bisa cepat istirahat dan baru pulang mendekati jam 12.00 siang, saat akhir check out”. Khairul coba memancing Nurjannah, siapa tahu dia mau diajak menginap.
“Kalau nginap gak mungkin lah bang.”
“Jadi Nur setuju ya, kita merayakan old and New di hotel. Nanti saya cari acara yang bagus dan hotel yang gak terlalu jauh dari rumah kamu “
“Boleh deh bang.Gak usah yang mahal mahal bang.“
“Iya lah yang sesuai kantong kitalah”

Khairul mengakhiri pembicaraannya dengan Nurjannah.  Setelah pembicaraan itu, khairul seperti berkhayal. “Perlu dicari old and New yang ada acara dansanya. Wah akan asyik itu”
Setelah nanya per telepon ke beberapa hotel berbintang akhirnya Khairul menemukan Hotel  di Jln Sudirman yang melaksanakan Old and New yang ada acara dansanya dan harganya juga relative layak, sehngga Khairul pun memesan dua tiket di acara itu.
         
Pada akhir tahun,  sekitar jam tujuh malam Khairul sudah nongol dirumah Nurjannah. Sebelumnya diteleponnya Nurjannah bahwa dia akan datang menjemput Nurjannah sekitar jam tujuh itu. Dirumah Nurjannah mereka ngobrol lagi sekitar setengah jam dan baru berangkat ke tempat acara old and New itu. Acara baru akan dimulai pada jam delapan malam, dimulai dengan Gala Dinner dan setelah itu di umumkan oleh penyelenggara, bahwa pengunjung boleh makan kapan saja tanpa dibatasi. Banyak acara digelar sambil menunggu jam 12.00 malam, saat pergantian tahun. Sekitar jam 11.00 malam  acara dansa pun dimulai. Pengunjung dengan berpasangan maju ke depan podium dan mulai berdansa. Semula diiringi dengan music berirama slow. Inilah yang ditunggu oleh Khairul, kesempatan baginya mendekap Nurjannah. Tubuh mereka lama lama seperti lengket. Baik Khairul maupun Nurjannah sama sama menikmati suasana itu, Nurjannah yang sejak ditinggal Rizal belum pernah lagi berdekatan dengan laki laki apalagi berpelukan sambil berdansa.  Sering pipi mereka bersenggolan dan keduanya membiarkan hal itu. 

Saat pergantian tahun, hamper semua yang berdansa itu saling berciuman. Khairul pun tidak menyia nyia kan kesempatan itu . Dia pun mencium bibir Nurjannah dan Nurjannah pun membiarkan duda itu mencium  bibirnya . Setelah itu Nurjannah menyenderkan kepalanya ke dada Khairul. Dia terlihat senang mendapat ciuman dari Khairul. Suasana dansa setelah pergantian tahun berubah   karena irama music nya sudah berganti. Nampak para tamu itu bergoyang ria, melonjak lonjak secara  teratur  mengikuti  irama music rock. Khairul dan Nurjannah yang sama sama sudah berumur itu hanya sebentar saja ikut berdansa Rock itu. Dan kemudian mereka duduk ketempatnya kembali. 

Sekitar jam 01.00 berangsur angsur peserta acara itu mulai meninggalkan tempat itu . Begitupun Nurjannah dan Khairul, merekapun cabut dari tempat itu dan pulang. Dalam perjalanan mereka tidak banyak ngomong lagi. Namun masing masing sudah semakin dekat. Di mobil Khairul memegang tangan Nurjannah dan mereka berpegangan tangan cukup lama. Sesampai di rumah, Nurjannah mengeluarkan kunci rumahnya dan membuka pintu dan masuk. Khairul masuk sebentar. Nurjannah dirangkulnya, diciumnya  dan setelah itu diapun berpamitan.
          
Nurjannah seolah mendapat gairah hidup  setelah acara old and new itu. Itu tidak hanya dirasakan Nurjannah, juga dirasakan oleh Khairul. Sekarang mereka merasa semakin dekat satu sama lainnya dan bahkan sudah timbul rasa saling menyenangi.
Pada beberapa senen malam  mereka sering menonton bioskop berdua. Hari Senen biasanya penonton sepi dan mereka memilih duduk di kursi paling belakang.  Bioskop favorit mereka adalah XXI di Plaza Senayan. Di dalam bioskop, duda dan janda itu juga sering berciuman, layaknya remaja yang berpacaran. Sehabis menonton bioskop mereka pun mencari makanan kesukaan mereka di food court dan kadang masuk ke restoran khusus yang menghidangkan makanan makanan khas negeri lain.
Ada lima bulan dua manula itu berpacaran. Tapi hanya sebatas berciuman saja, Mereka tidak sampai tidur bersama. Nurjannah sadar benar, bahwa hubungan sewaktu waktu bisa putus sehingga dia akan merasa terluka jika sesudah ditiduri kemudian laki laki itu meninggalkannya.

Khairul mulai senang pada Nurjannah. Dia menilai dalam hal penampilan dan berpakaian cukup baik, tampak juga kalau dia pernah menjadi pejabat sehingga terlihat berwibawa. Kalau berjalan bareng dengan Nurjannah, dia merasa Nurjannah cukup menunjang penampilan Khairul, mereka Nampak serasi.

Suatu hari ketika Khairul datang ke rumah Nurjannah, ingin mengajaknya ke mall. Nurjannah menggeleng. Khairul agak heran dengan sikap Nurjannah ini, namun sebelum Khairul bertanya, Nurjannah mendahuluinya.

“ Sampai kapan sih bang. Kita mondar mandir ke mana mana dengan status tidak jelas seperti ini ? “


Khairul terdiam mendengar kata kata Nurjannah itu. Baru sadar bahwa Nurjannah sebagai perempuan tentu saja perlu kejelasan bagaimana hubungan mereka sebenarnya. Khairul yang sudah mulai senang terhadap Nurjannah langsung saja menukas.
“Saya ingin melamar kamu Nur. Menjadi istri saya, Bagaimana jawaban kamu “. Sekarang Nurjannah yang gelagapan. Tidak disangkanya Khairul begitu cepat mengambil keputusan. Namun Nurjannah hanya sebentar tercenung, Kata kata Khairul itu sudah lama ditunggunya. Sambil tersenyum Nurjannah pun menjawab : “ Saya terima lamaran abang. Saya bersedia menjadi istri abang”. Keduanya Nampak sama sama terdiam sejenak. Tapi Khairul langsung mendekat dan mencium calon istrinya yang sudah menerimanya sebagai calon suaminya.
            
Setelah pihak keluarga diberitahukan, tidak lama kemudian merekapun menikah di Rumah Nurjannah. Setelah menikah Nurjannahpun di boyong oleh Khairul untuk tinggal di rumahnya di Jaka Sampurna , Bekasi . Rumah Nurjannah di Tanah Abang itupun kemudian ditempati oleh anak Nurjannah Melda dan keluarganya.  Selama ini Melda hanya mengontrak rumah tidak jauh dari kediaman ibunya,
          
Rumah Khairul di Jaka Sampurna itu tidak besar besar amat. Tanahnya hanya seluas 350 m persegi. Luas rumahnya hanya sekitar 220 m. Garasi mobilnya bisa untuk dua mobil. Dulu dia dan istrinya masing masing punya mobil sendiri sendiri. Khairul setelah pensiun dari departemen  tidak punya penghasilan lain. Mula mula saat baru pensiun Khairul masih mengajar dan ada juga honor yang diterimanya. Namun lama lama dia jengah juga dan berhenti mengajar. Pensiunnya hanya kecil saja. Namun rejekinya saat menjadi pejabat, lumayan cukup dan rejeki itu sebagian besar diserahkannya kepada istrinya. Istrinya walau  bukan lulusan perguruan tinggi punya sifat hemat dan punya pandangan tersediri dalam mempersiapkan hari depan keluarganya  dan kadang dirasakan pelit oleh suaminya. Kalau uang sudah masuk ke istri nya itu, jangan harap bisa diminta lagi bahkan untuk keperluan penting pun. Tapi Khairul tidak kapok menyerahkan sebagian besar rezekinya kepada sang istri, karena dia tau istrinya tidak menggunakan uang itu untuk berfoya foya. Uang itu hampir semuanya dibelikan tanah .  Karena uang itu tidak pernah terkumpul banyak, maka tanah yang dibeli sang istri itu luasnya rata rata hanya antara 120 m sampai 200 m. Setelah tanah itu tersedia, maka kalau dia dikasi uang lagi oleh suaminya, maka uang itu digunakan untuk membangun rumah secara bertahap  di atas tanah itu dan setelah rumah jadi, rumah itupun dikontrak sewakan. Dan uang hasil kontrak rumah itu pun masuk tabungannya untuk nanti kalau sudah terkumpul digunakan untuk membeli tanah atau membangun rumah lagi kalau tanahnya sudah tersedia.. Tanpa diisadari sang istri yang pelit itu ternyata sudah memiliki 6 buah rumah dengan berbagai tipe mulai 70 sampai dengan tipe 180. Semuanya atas nama sang istri. Khairul tidak pernah mencampuri urusan istrinya itu. Kadang kadang rumah itu dijual lagi oleh istrinya  dan dibelikan rumah lain yang menurut si istri lebih strategis dan nilainya akan cepat naik. Dan saat sang istri berpulang karena Stroke, harta itupun menjadi warisan bagi suami dan dua anak laki lakinya.

Berbeda dengan almahrum istrinya itu, Khairul punya hobby fotografi selain bermain golf.  Jadi di rumahnya itu penuh foto foto termasuk foto foto keluarga Khairul, dengan ibu bapaknya, dengan almahrumah istri dan anak anaknya.
Saat Nurjannah masuk , dia kagok juga kok foto  almahrumah istri Khairul  terpampang disetiap dinding, yang membuat Nurtjannah kurang nyaman.
Nurjannah pernah mengemukakan kepada Khairul, apa tidak sebaiknya foto foto lama itu disimpan saja dan diganti dengan hiasan lain seperti lukisan umpamanya. Tapi Khairul malah menjawab. Foto foto itu anak anaknya yang pajang. Nanti kita bicarakan dengan anak anak.
Namun sudah beberapa bulan berlalu sama sekali tidak ada perubahan tentang pajangan di dinding rumah Khairul itu. Tapi Nurjannah tidak lagi menyinggung masalah itu, dia walau kurang nyaman telah menyesuaikan diri dengan keadaan.
            
Khairul dan Nurjannah adalah dua insan yang sudah tergolong pribadi yang matang , usia mereka sudah diatas 60 tahun. Dua duanya sudah punya tata nilai masing masing yang ternyata amat berbeda.
Saat periode kampanye Pilpres mereka ternyata punya pilihan dan pandangan yang berbeda. Si Suami menjagokan calon dari TNI dan Nurjannah menjagokan calon dari Sipil. Mereka sering sengit dalam membela pendapat dan jagonya masing masing. Pernah mereka tidak tegoran seharian gara gara bertengkar soal capres itu.

Selain itu Nurjannah sering berbicara sengit , tidak mau kalah dalam membela pendapatnya. Dan kadang kata katanya sering membuat suaminya itu tersinggung yang membuat penilaian negatif terhadap sifat sifat istrinya itu. Bukan kata kata saja yang membuat Khairul kurang sreg, tapi tabiatnya juga. 
Pernah Khairul dimintai tolong oleh Nurjannah mengantarnya mengawasi pembanguan rumah Nurjannah di daerah Pal Merah. Dalam masa pembangunan rumah itu hampir setiap hari selama lebih kurang satu bulan Khairul menjadi “sopir”, bahkan biaya  toll, BBM dan makan siang semuanya dikeluarkan Khairul dari kantongnya. Dan setelah rumah itu selesai dan bahkan setelah laku di kontrakkan , tak sepatah katapun ucapan terima kasih diterimanya. Nurjannah baru menjawab ketika suatu saat ditanya Khairul . 

“ Nur , rumah kamu di pal merah sudah laku dikontrakkan? “
“Sudah bang. Sudah dari bulan lalu”
“Ooh, syukurlah”
Kadang kadang dalam situasi tertentu seperti itu, Khairul selalu ingat akan almahrumah istrinya. Walau dia jarang menjadi “sopir” istrinya itu dalam urusan rumah yang dibangunnya, namun kalau rumahnya laku di kontrakkan, dia selalu bilang sama suaminya rumahnya sudah laku dikontrakkan. Si “pelit” itu pun mengajak suaminya, dia  mentraktir suaminya makan di restoran kesukaan suaminya, ke Coca Suki, ke Arrirang, ke restoran Manado Ny. Filly di TIM. Kadang Rumah Makan  Medan Baru di Pasar Baru  makan gulai kepala ikan khas masakan aceh dan ke tempat tempat lainnya yang dipilih suaminya.   Sering lanjut  menonton bioskop, atau jalan jalan dan Khairul tidak mengeluarkan uang sepeserpun, semuanya dibayar sang istri yang dapat rejeki itu.

Mungkin karena trauma denga suami mudanya Rizal yang melarikan uangnya, Nurjannah amat ketat dalam segi keuangan. Tiap bulan dia selalu menagih “cek bulanannya”. Dia memang setiap bulan menerima cek dari suaminya , tidak banyak hanya sekitar separuh dari pensiunan bulanan suaminya yang kecil itu. Cek itu semata mata hanya untuk Nurjannah saja. Semua pengeluaran rumah tangga dirumah itu, termasuk semua pengeluaran, listrik, keamanan , belanja harian dan pengeluaran apapun adalah dari Khairul. Sampai ke hal hal kecil pun semua keluar dari kantong Khairul. Bahkan  kalau ada hal kecil umpamanya saat air aqua gallon  habis, maka Nurjannah lah yang pesan. Dan begitu Khairul muncul, Nurjannah pun langsung menagihnya.
“Bang, tadi saya bayar aqua Rp.20.000-“
Khairul pun membuka dompetnya dan mnyerahkan uang kertas dua puluh ribu yang ditagih nurjannah itu kepadanya. Hal seperti itu selalu terjadi, setiap ada pembeilan kecil kecil berapa pun nilainya untuk keperluan rumah selalu ditagih oleh Nurjananh kepada suaminya.  Itulah penerapan  tentang  konsep  bahwa nafkah istri itu adalah kewajiban suami.
Sering pula Khairul lupa memberikan cek bulanan kepada si istri, dan kalau setelah tanggal 5 cek itu belum diterimanya, Nurjannah pun menagih.

“Mana cek bulanan saya ?”. Saat cek itu diserahkan oleh Khairul , beberaoa kali Nurjannah berkomentar. 
“Abang murah lo dapat istri saya ini. Orang lain mana mau diberi hanya segini”

Khairul tidak pernah menanggapi ucapan istrinya itu. Hanya dalam pikirannya tertanam makna ucapan itu. Nurjannah menurut rasa hati Khairul menilai semuanya itu hanya dari uang. Menikah dengan dia bukanlah berlandaskan cinta atau kebutuhan pertemanan agar ada seseorang yang bisa untuk saling berbagi dalam suka dan duka.  Dimata Khairul Cinta Nurjannah itu nonsens, utamanya hanya untuk memenuhi kebutuhan keuangannya sehari hari, semuanya penuh perhitungan ekonomi.  Sering pula Nurjannah berkisah kepada Khairul tentang suami suaminya terdahulu yang ditinggalkannya atau dituntutnya cerai. Dia ingin memberi kesan kepada khairul bahwa kalau suaminya sudah tidak benar, dia tidak segan segan untuk meninggalkannya atau menggugatnya bercerai melalui Pengadilan Agama. 
Pernah suatu saat, sedang mengobrol ngalor ngidul, Khairul  bertanya iseng kepada Nurjannah.
“Saya merasa hidup saya semakin tenang setelah ada kamu. Kalau kamu bagaimana Nur?”
Diluar dugaan Khairul , istrinya itu menbjawab.
“Sama saja dengan sebelumnya”. Khairul tidak melanjutkan bicaranya lagi. Dia termenung. Dan tidak terlalu lama setelah itu diapun bangkit , kemudian berpakaian dan menaikkan stick golf ke mobilnya dan pergi keluar, sambil berucap pada istri nya itu.
“Saya pergi latihan golf ya “.
Tanpa menunggu jawaban si istri, Khairul pun menghilang dengan mobilnya.
Khairul kecewa dengan jawaban istrinya tadi itu. Rupanya bagi si istri , tidak ada bedanya baginya setelah menjadi istrinya dibandingkan dengan saat dia masih seorang janda. Bagi Khairul itu adalah ungkapan jujur si istri bahwa dia tidak puas menjadi istri Khairul  Sehingga sejak saat itu Khairul siap menghadapi hal buruk yang dapat terjadi, karena setiap saat si istri besar kemungkinan akan meninggalkannya.
Hubungan Khairul dengan sitrinya semakin kurang harmonis. Nurjannah bahkan sering menginap di rumah lamanya, alasan nya untuk menjaga anaknya Melda yang sering sakit. Kadang dia baru kembali tiga hari kemudian. Itu sering terjadi, dan sekarang Khairul yang merasakan, punya istri dengan tidak punya istri bedanya semakin tipis.
         
Khairul , uang pensiunya amat kecil  Pensiunnya itu tidak cukup untuk membiayai kehidupannya. Selama ini satu persatu rumah yang dibangun almahrumah istrinya itu , dilipatnya menjadi lembaran, alias dijualnya, tentu dengan persetujuan anak anaknya. Terakhir tetap disisakan dua rumah temasuk yang di tempatinya bersama istrinya Nurjannah, Dua rumah itu akan dijadikannya warisan bagi dua anak laki lakinya itu.
Hidup dari tabungan, tanpa ada penghasilan tambahan selain uang  pensiun yang nilainya semakin kecil karena dimakan inflasi, lama lama tabungan menipis dan pengeluaran tentu saja harus dikurangi. Karena keuangan tidak mendukung lagi  Khairul pun  berhenti main golf.
        
Suatu hari dia bicara terus terang kepada istrinya. Khairul mengemukakan  bahwa tabungannya sudah menipis, dan mungkin dalam beberapa bulan lagi istrinya tidak akan menerima lagi cek bulanan darinya.
Nurjannah tersenyum, dia sudah melihat tanda tanda alam bahwa suaminya semakin pelit, pertanda uangnya sudah semakin cekak. Dan Nujannah sudah siap menghadapi situasi seperti itu. Dia merasa kesalahan perkawinannya dimasa lalu adalah karena dia memanjakan suami suaminya, karena sering sekali dia yang membiayai kehidupan suaminya saat si suami menganggur atau tidak punya uang. Sekarang Stop. Hal itu tidak boleh terjadi lagi. Begitulah tekad dari Nurjannah berdasar kan pengalaman masa lalu nya.


Nurjannah pun menanggapi  penyampaian suaminya.
“Bang. Saya menikah dengan abang kan juga punya ekpektasi. Saya tinggal di rumah abang ini jauh dari lokasi bisnis saya. Jauh dari kos kos an saya. Jauh dari anak dan cucu saya.  Dari sini ke pal merah, ke Cinere , ke sawangan makan waktu berjam jam dengan mobil tua saya tanpa sopir. Saya dulu mengharapka abang mengerti dan mengganti mobil saya dengan yang lebih baik. Dulu abang mampu, karena abang punya mobil dua buah yang abang sewakan, tapi malahan abang berikan untuk modal usaha pada anak abang dan akhirnya habis tak keruan.
Saya merasa tinggal di rumah abang ini saya sudah banyak berkorban. Saya dirumah kerja sendiri tanpa pembantu. Kalau saya tinggal di rumah saya di tanah abang saya dekat ke mana mana. Ada anak saya yang membantu saya. Jadi kita berpikir logis logis sajalah bang.  Kalau untuk cek bulanan saja saya gak lagi dikasi, apa iya saya harus bertahan terus menjadi istri abang”
Khairul sudah menduga , pastilah Nurjannah akan menceraikannya.
“ Saya mengerti Nur, apa boleh buat. Saya memang sudah tidak mampu. Saya siap kalau ditinggalkan “
“ Bang , saya waktu mudanya miskin. Dalam perjalanan hidup saya saya selalu kerja keras. Sekarang saya sudah mulai punya harta berkat kerja keras saya, karena itu saya tidak mau menjadi miskin lagi. Saya tidak mungkin lah membiayai hidup abang karena abang sudah tidak mempunyai penghasilan lagi selain uang pensiun abang yang kecil itu. Jadi jalan terbaik memang kita harus berpisah”
“ Saya mengerti “ berkata Khairul
“Hanya saya ingin kita berpisah baik baik. Kalau melalui pengadilan agama, prosesnya lama dan ada biayanya juga. Biaya itu nanti yang membayar adalah penggugat. Karena kita sudah berumur, maka mungkin kita tidak perlu cerai melalui pengadilan agama itu, makan waktu, berbelit, melelahkan dan juga biayanya mahal. Kita  buat surat cerai dalam bentuk kesepakatan saja yang kita tanda tangai bersama dan ikut ditanda tangani anak anak kita sebagai saksi. Harus ikut tanda tangan seorang anak abang dan dari pihak saya nanti yang ikut tanda tangan adalah anak saya Melda. Dan harus ditegaskan dalam surat cerai itu bahwa kita tidak punya harta gono gini, agar anak anak tidak saling menuntut jika kita sudah tidak ada”
“Apakah itu sah secara hukum ?”
“ Yang penting secara syariah, sah bang. Bahkan kalau suami mengatakan , Saya ceraikan kamu dengan talak tiga, maka perceraian itu sudah dianggap sah” .Tukas Nurjannah.


Khairul setuju bercerai dengan cara yang dikemukakan Nurjannah itu. Maka besoknya setelah memberitahukan anak anaknya tentang rencana perceraian itu,  mereka minta supaya anak anak datang ke Jaka Sampurna. Besoknya ,di  rumah Khairul  masing masing pihak  membicarakan redaksi surat cerai yang sudah disiapkan Nurjannah. Kemudian setelah redaksinya disepakati,  Khairul dan Nurjannah menanda tangani surat cerai itu. Melda ikut menanda tangani sebagai saksi dengan air mata berlinang. Begitu juga anak Khairul yang bernama Darmawan menanda tangani surat cerai bapaknya itu sebagai saksi  dengan wajah muram pertanda dia sedih menyaksikan perceraian itu. Masing masing pihak memegang satu copy yang semuanya dianggap asli karena dibubuhi meterai. Kemudian Nurjannah membereskan barang barangnya dan memuatnya kemobilnya. Nurjannah menyalami Khairul. Khairul  kelihatanya   ingin mencium Nurjannah di pipinya,  namun  nampaknya Nurjannah tidak berkenan sehingga Khairul pun mengurungkan niatnya  dan merekapun berpisah. Khairul menawarkan ikut mengantar Nurjannah ke rumahnya tetapi Nurjannah menolaknya.

Akhirnya perkawinan yang berumur sekitar 4 tahun itupun bubar, dan masing masing pihak kembali lagi menyandang status sebagai janda dan duda.                                     

No comments:

Post a Comment