.
MENABUR
CINTA KE LIMA
Nurjanah sekitar tiga tahun
menjadi istri Rizal. Cukup lama dia stress setelah uangnya dibawa lari
Rizal, Walaupun polisi sudah berusaha mencari jejaknya namun Rizal tetap tidak
ditemukan Perlahan lahan mental Nurjannah pulih juga, Dia bangkit lagi dengan sisa sisa uang yang
ada. Tanahnya yang dijaminkan saat meninjam dari bank sebesar Rp.200 juta itu
sudah dijualnya dan laku sekitar Rp.500 juta. Dibayarnya utangnya sebesar Rp.
230.juta termasuk bunganya dan sisa uang sebesar Rp.270 juta dijadikannya modal
membuka usaha ekspedisi.
Perusahaan ekspedisi Nurjannah cukup maju dan selama hampir dua tahun berjalan
lancar dan menguntungkan. Sampai pada suatu hari dia menerima telepon dari
seorang langganan bahwa barang yang dikirim langganannya itu melalui perusahaan ekspedisinya belum sampai ke penerimanya
padahal barang itu sudah dikirm sejak seminggu yang lalu. Nurjannah yang
menerima telepon itu meminta No pengiriman dan setelah ditelusuri oleh
Nurjannah nomor itu ternyata tidak tercatat dalam buku administrasi perusahaan.
Usut punya usut ternyata itu adalah
permainan seorang pegawainya yang menerima kiriman barang, melakukan pengiriman
seolah olah barang dikirim oleh perusahaan ekspedisi , tapi uangnya masuk
kantong pegawai itu , karena pengiriman tidak tercatat di administrasi
perusahaan. Pegawai itu akhirnya dipecat, Tapi Nurjannah tidak punya pegawai
yang bisa menggantikan pekerjaan pegawai
yang dipecat itu. Akhirnya perusahan Nurjannah pun kehilangan reputasinya dan
mati secara perlahan.
Kemajuan teknologi telekomunikasi dan
computer yang melanda dunia ternyata juga membawa pengaruh pada kehidupan
Nurjannah. Nurjannah mulai mengenal internet dan mengarungi dunia maya, Dia
membuka akun facebook dan cukup aktif memanfaatkan media itu . Nurjannah banyak
teman facebooknya. Fotonya yang berparas cantik sebagai wanita paruh baya
banyak menarik orang untuk berteman dengan Nurjannah. Dengan menggunakan
internet itu dia bisa menggali segala macam informasi melalui “Google” , suatu
mesin pencari yang andal. Sekali sekali dia main game di internet dan kalau
tidak ada kesibukan lain , maka main game lah yang mengisi waktunya. Hidupnya
berkisar pada pekerjaan ekspedisi , main game di internet, membaca postingan
kawan kawannya di facebook dan kerja lainnya hanya kerja rumahan serta makan
dan tidur.
Hidup Nurjannah
amat monoton, kentara dari postingannya
di Facebook bahwa janda ini kesepian. tiap hari dia munculkan hasil permainan gamenya
di facebooknya. Farm field adalah game favoritenya.
Nurjannah
sudah punya “Fren” di facebooknya lebih dari seribu orang. Banyak pula diantara
temannya itu berasal dari Pakistan dan India. Profil Nurjannah itu sangat
cantik dimata orang orang dari kedua suku Bangsa itu. Nurjannah yang berhidung
mancung itu banyak dipunji oleh kawan kawan Pakistannya itu dengan berbagai
kata kata sanjungan. “You are very very very beautiful “. Ada pula yang
langsung mengungkapkan perasaan hatinya
: “I love you Nurjannah, You are the light from heaven”.
Foto di facebook kadang kadang agak
menyesatkan juga. Banyak diantara kawan facebooknya yang memujinya adalah pria
pria muda berumur 30 an, agak tertipu karena di facebook itu tidak ada data
tentang umur Nurjannah sedang foto yang dipajangnya adalah foto saat dia masih
berumur sekitar 35 tahunan.
Sekarang Nurjannah super hati hati. Dia
bertekad , kalau ketemu calon suami lagi, siapa tahu di umurnya yang sekitar 58
sekarang ini masih ada yang mau mempersuntingnya. Dia tidak akan lagi
mengeluarkan uangnya sepeserpun bagi kepentingan laki laki itu. Memberi nafkah
kepada istri itu adalah kewajiban suami. Begitu yang dia dengar dari ceramah
seorang ustad di televisi saat sehabis subuh. Dia tidak akan mempercayakan
uangnya kepada siapapun dalam kondisi bagaimanapun. Soal ketatnya Nurjannah
dalam soal keuangan sudah tertanam di kepalanya sejak tertipu oleh Rizal yang
sehari hari amat baik, selalu
memperlihatkan kasih sayang dan amat patuh kepadanya . Sama sekali tak
disangkanya laki laki yang lebih pantas menjadi supirnya itu, yang sudah
diangkatnya derajatnya menjadi suaminya adalah “musang berbulu ayam” yang membawa kabur seluruh uangnya dan
meninggalkan Nurjannah ketika dia masih
dalam penyembuhan patah kakinya
.
Suatu hari Nurjannah menerima
permintaan pertemanan dari seseorang. Dia memeriksa dulu akun facebook orang
itu. Sepintas dia melihat orang yang ingin menjadi temannya itu adalah pensiunan
dari Departemen Keuangan. Orang itu masih Nampak gagah kalau dilihat dari foto
profilnya. Nurjanahpun mengkonfirmasi permintaan pertemanan itu.
Mula mula
Nurjannah acuh saya terhadap teman barunya itu. Tapi rupanya teman barunya yang
bernama Khairul itu punya perhatian kepadanya. Khairul mengetahui kalau
Nurjannah akan berulang tahun pada 28 Agustus yang akan datang ini, dan dua
hari sebelum ulang tahun itu Khairul kirim pesan di facebook Nurjannah. Dia
mengucapkan selamat ulang tahun kepada Nurjannah. Dia mengirim pesan ulang
tahun mendahului, semata mata karena dia
ingin menjadi orang pertama mengucapkan selamat ulang tahun kepada Nurjannah
sebagai pertanda bahwa Nurjannah sudah ada dihatinya. Semoga hatinya kelak
ditembus pula oleh cahaya surga dari Nurjannah.
Hati
Nurjannah berbunga bunga mendapat Ucapan selamat ulang tahun dari Khairul . Orang
Sidempuan Sumatra Utara itu langsung disapanya “abang” .
“Terima
kasih bang, Sudah saya catat dalam catatan saya dan dalam hati saya bahwa abang
lah yang memberikan ucapan selamat yang pertama
Yang amat berkesan bagi saya”.
Laki laki pensiunan dari Departemen Keuangan
itu ternyata baru setahun lalu ditinggalkan istrinya yang meninggal dunia karena
Stroke. Dia punya dua orang anak laki laki dan kedua anaknya sudah bekerja dan
masing masing anak itu sudah memberikan satu orang cucu baginya
Karena
Khairul sudah menjadi teman facebooknya, maka Nurjannah bebas menelusuri
kegiatan Khairul melalui Facebooknya. Nurjannah mendapatkan bahwa Khairul
ternyata sangat aktif di facebook, hampir setiap hari ada saja yang ditulis
Khairul di FB nya itu. Nurjannah terkesan dengan profil Khairul .
Dari foto dan kegiatannya, Khairul ternyata suka menulis, bahkan sudah ada dua
buah buku yang ditulisnya yang sudah beredar dan bisa diperoleh di toko buku.
Duda itu juga suka main golf dan bahkan sering
melakukan tur golf bersama klub golfnya baik dalam negeri maupun tur golf ke
luar negeri. Kesan Nurjannah terhadap Khairul amat positif. Menurut pikiran
Nurjannah, kalau sudah pensiun masih bermain golf itu pertanda laki laki itu
banyak duit dan pastilah punya simpanan yang cukup di bank, Dia tahu , setiap main golf itu biayanya
cukup tinggi. Hanya pensiunan yang banyak punya tabungan sajalah yang mampu. Sebelumnya terlihat foto foto saat istri Khairul masih ada. Khairul dan
keluarganya sering berkumpul dan
berlibur bersama , kebanyakan di Bali
karena Khairul ternyata punya rumah di Bali.
Seminggu setelah ulang tahun Nurjannah
Khairul mengajak Nurjannah kopi darat,
Istilah kopi darat itu dimengerti nitizen sebagai ketemuan, bertemu muka dan
berkenalan secara fisik.
Khairul
tidak langsung mengajak bertemu begitu saja. Dia mengemukakan bahwa dulu dia
sering jalan pagi di Senayan , berkeliling Gelora Bung Karno dan setelah selesai berolah raga,
kemudian mampir di warung sembari sarapan pagi . Banyak makanan yang enak
dijual di berbagai tenda disana, dan alangkah senangnya jika suatu hari saat
sarapan pagi itu bisa dilakukannya
bersama dengan Nurjannah.
Nurjannah terkesan dengan ajakan Khairul, dia pun segera menjawab bahwa
dia tinggal di Tanah Abang, tidak jauh dari Gelora Bung Karno itu. Pastilah
senang bisa berjumpa dengan abang dan bisa sarapan pagi di salah satu tenda
yang abang suka itu, apalagi setelah olah raga pagi. Perut sedang lapar dan sarapan
paginya pastilah menyenangkan. Tapi
bagaimana saya bisa mencari abang di Senayan yang luas itu. Saya terus terang
kurang mengetahui atau tidak familiar dengan tempat tempat di Senayan itu.
Khairul memaknai
jawaban Nurjannah itu sebagai undangan untuk bertandang ke umahnya.Khairul pun
menjawab bahwa dia ingin main kerumah Nujannah kalau diperkenankan, dan kalau
dibolehkan berilah alamatnya dan karena dia
kurang pandai melacak lokasi, mohon disertai peta dan petunjuk arah agar dia
mudah mencari rumah Nurjannah.
Nurjannah
punya kebiasaan senang bertemu dengan orang baru. Dalam pikirannya tidak ada
ruginya bertemu dengan seseorangn yang jelas identitasnya . Khairul dianggapnya
jelas identitasnya dan sudah jadi temannya di FB, apa salahnya kopi darat
dengan Khairul, dan itu dilakukan di rumah Nurjannah. Dia merasa terhormat,
karena laki laki yang datang ke rumahnya , bukan ketemu di café atau taman.
Nurjannahpun
memberikan alamatnya, dengan pesan alamat nya mudah dilacak melalui Google map
dan kalau hendak datang harap beri kabar atau pesan agar Nurjannah bisa mnyediakan
waktu bagi Khairul .
Daerah pemukiman di Tanah Abang itu
memang sedikit sembrawut, namun tidak terlalu sulit bagi Khairul untuk sampai
ke rumah Nurjannah. Nurjannah pun keluar kamar ketika pembantunya memberi
tahukan , ada tamu. Mereka bersalaman, Nurjannah tersenyum kepada Khairul dan
mepersilahkan Khairul duduk. Khairul
tidak terlalu terkesan kepada Nurjannah , karena Khairul berharap orang yang
ditemuinya itu dalam pikirannya lebih muda dan lebih cantik. Namun dia tidak buru buru keluar dari rumah
itu. Dengan setengah hati dia mengobrol
dengan Nurjannah dan semakin lama semakin enak mengobrol dengan dia. Selisih
usia mereka hanya dua tahun. Khairrul berharap memperoleh teman bakal
calon istrinya paling tidak berusia lima tahun lebih muda dari dia dan berharap
setidaknya lebih cantik dari Nurjannah yang ada didepannya saat itu.
Ada sebulan Khairul tidak pernah
menghubungi Nurjannah semenjak mereka kopi darat yang lalu. Nurjannah pun
mengerti kalau Khairul tidak terlalu tertarik kepadanya. Khairul sebenarnya
memang kurang tertarik pada Nurjannah, namun rasa sepinya tinggal sendirian dan
hanya ditemani pembantu laki laki berusia 14 tahun, seperti tidak ada pilihan
baginya. Dia perlu kawan ngobrol,
akhirnya diteleponnya juga Nurjannah.
Kebetulan saat itu sudah dekat akhir tahun. Setelah mengobrol ngalor
ngidul, Khairul bertanya kepada Nurjannah :
“Kemana
merayakan tahun baru Nur? “
“Gak kemana
mana bang. Nonton tv aja. Biasanya acara TV akhir tahun bagus bagus “
“Banyak hotel
yang membuat acara Old and New dengan segala macam acara, Ada gala dinner. ada
music dan nyanyi artis artis top. Mungkin sekali sekali enak juga ikut old and
New di hotel hotel itu Nur “
“Tapi mahal
kan bang”
“Kan Cuma
sekali setahun. Kalau kamu minat bisa kita cari tiketnya”
“Jam berapa
pulangnya itu bang”
“Ya
terserah kita. Boleh setelah acara selesai , sekitar jam satu. Tapi banyak juga
yang pesan kamar di hotel itu dan menginap sehingga bisa cepat istirahat dan
baru pulang mendekati jam 12.00 siang, saat akhir check out”. Khairul coba
memancing Nurjannah, siapa tahu dia mau diajak menginap.
“Kalau
nginap gak mungkin lah bang.”
“Jadi Nur
setuju ya, kita merayakan old and New di hotel. Nanti saya cari acara yang
bagus dan hotel yang gak terlalu jauh dari rumah kamu “
“Boleh deh
bang.Gak usah yang mahal mahal bang.“
“Iya lah
yang sesuai kantong kitalah”
Khairul
mengakhiri pembicaraannya dengan Nurjannah.
Setelah pembicaraan itu, khairul seperti berkhayal. “Perlu dicari old
and New yang ada acara dansanya. Wah akan asyik itu”
Setelah
nanya per telepon ke beberapa hotel berbintang akhirnya Khairul menemukan
Hotel di Jln Sudirman yang melaksanakan
Old and New yang ada acara dansanya dan harganya juga relative layak, sehngga
Khairul pun memesan dua tiket di acara itu.
Pada akhir tahun, sekitar jam tujuh malam Khairul sudah nongol
dirumah Nurjannah. Sebelumnya diteleponnya Nurjannah bahwa dia akan datang
menjemput Nurjannah sekitar jam tujuh itu. Dirumah Nurjannah mereka ngobrol
lagi sekitar setengah jam dan baru berangkat ke tempat acara old and New itu.
Acara baru akan dimulai pada jam delapan malam, dimulai dengan Gala Dinner dan
setelah itu di umumkan oleh penyelenggara, bahwa pengunjung boleh makan kapan
saja tanpa dibatasi. Banyak acara digelar sambil menunggu jam 12.00 malam, saat
pergantian tahun. Sekitar jam 11.00 malam acara dansa pun dimulai. Pengunjung dengan
berpasangan maju ke depan podium dan mulai berdansa. Semula diiringi dengan
music berirama slow. Inilah yang ditunggu oleh Khairul, kesempatan baginya
mendekap Nurjannah. Tubuh mereka lama lama seperti lengket. Baik Khairul maupun
Nurjannah sama sama menikmati suasana itu, Nurjannah yang sejak ditinggal Rizal
belum pernah lagi berdekatan dengan laki laki apalagi berpelukan sambil
berdansa. Sering pipi mereka
bersenggolan dan keduanya membiarkan hal itu.
Saat pergantian tahun, hamper
semua yang berdansa itu saling berciuman. Khairul pun tidak menyia nyia kan
kesempatan itu . Dia pun mencium bibir Nurjannah dan Nurjannah pun membiarkan duda
itu mencium bibirnya . Setelah itu
Nurjannah menyenderkan kepalanya ke dada Khairul. Dia terlihat senang mendapat
ciuman dari Khairul. Suasana dansa setelah
pergantian tahun berubah karena irama
music nya sudah berganti. Nampak para tamu itu bergoyang ria, melonjak lonjak
secara teratur mengikuti irama music rock. Khairul dan Nurjannah yang
sama sama sudah berumur itu hanya sebentar saja ikut berdansa Rock itu. Dan
kemudian mereka duduk ketempatnya kembali.
Sekitar jam 01.00 berangsur angsur
peserta acara itu mulai meninggalkan tempat itu . Begitupun Nurjannah dan Khairul, merekapun
cabut dari tempat itu dan pulang. Dalam perjalanan mereka tidak banyak ngomong
lagi. Namun masing masing sudah semakin dekat. Di mobil Khairul memegang tangan
Nurjannah dan mereka berpegangan tangan cukup lama. Sesampai di rumah, Nurjannah mengeluarkan kunci rumahnya dan membuka pintu dan masuk. Khairul
masuk sebentar. Nurjannah dirangkulnya, diciumnya dan setelah itu diapun berpamitan.
Nurjannah seolah mendapat gairah
hidup setelah acara old and new itu. Itu
tidak hanya dirasakan Nurjannah, juga dirasakan oleh Khairul. Sekarang mereka
merasa semakin dekat satu sama lainnya dan bahkan sudah timbul rasa saling
menyenangi.
Pada beberapa
senen malam mereka sering menonton
bioskop berdua. Hari Senen biasanya penonton sepi dan mereka memilih duduk di
kursi paling belakang. Bioskop favorit
mereka adalah XXI di Plaza Senayan. Di dalam bioskop, duda dan janda itu juga
sering berciuman, layaknya remaja yang berpacaran. Sehabis menonton bioskop
mereka pun mencari makanan kesukaan mereka di food court dan kadang masuk ke
restoran khusus yang menghidangkan makanan makanan khas negeri lain.
Ada lima
bulan dua manula itu berpacaran. Tapi hanya sebatas berciuman saja, Mereka
tidak sampai tidur bersama. Nurjannah sadar benar, bahwa hubungan sewaktu
waktu bisa putus sehingga dia akan merasa terluka jika sesudah ditiduri
kemudian laki laki itu meninggalkannya.
Khairul mulai senang pada Nurjannah. Dia
menilai dalam hal penampilan dan berpakaian cukup baik, tampak juga kalau dia
pernah menjadi pejabat sehingga terlihat berwibawa. Kalau berjalan bareng
dengan Nurjannah, dia merasa Nurjannah cukup menunjang penampilan Khairul,
mereka Nampak serasi.
Suatu
hari ketika Khairul datang ke rumah Nurjannah, ingin mengajaknya ke mall.
Nurjannah menggeleng. Khairul agak heran dengan sikap Nurjannah ini, namun
sebelum Khairul bertanya, Nurjannah mendahuluinya.
“ Sampai
kapan sih bang. Kita mondar mandir ke mana mana dengan status tidak jelas
seperti ini ? “
Khairul
terdiam mendengar kata kata Nurjannah itu. Baru sadar bahwa Nurjannah sebagai
perempuan tentu saja perlu kejelasan bagaimana hubungan mereka sebenarnya.
Khairul yang sudah mulai senang terhadap Nurjannah langsung saja menukas.
“Saya ingin
melamar kamu Nur. Menjadi istri saya, Bagaimana jawaban kamu “. Sekarang
Nurjannah yang gelagapan. Tidak disangkanya Khairul begitu cepat mengambil
keputusan. Namun Nurjannah hanya sebentar tercenung, Kata kata Khairul itu
sudah lama ditunggunya. Sambil tersenyum Nurjannah pun menjawab : “ Saya terima
lamaran abang. Saya bersedia menjadi istri abang”. Keduanya Nampak sama sama
terdiam sejenak. Tapi Khairul langsung mendekat dan mencium calon istrinya yang
sudah menerimanya sebagai calon suaminya.
Setelah pihak keluarga
diberitahukan, tidak lama kemudian merekapun menikah di Rumah Nurjannah. Setelah
menikah Nurjannahpun di boyong oleh Khairul untuk tinggal di rumahnya di Jaka
Sampurna , Bekasi . Rumah Nurjannah di Tanah Abang itupun kemudian ditempati
oleh anak Nurjannah Melda dan keluarganya.
Selama ini Melda hanya mengontrak rumah tidak jauh dari kediaman ibunya,
Rumah Khairul di Jaka Sampurna itu
tidak besar besar amat. Tanahnya hanya seluas 350 m persegi. Luas rumahnya
hanya sekitar 220 m. Garasi mobilnya bisa untuk dua mobil. Dulu dia dan
istrinya masing masing punya mobil sendiri sendiri. Khairul setelah pensiun
dari departemen tidak punya penghasilan
lain. Mula mula saat baru pensiun Khairul masih mengajar dan ada juga honor
yang diterimanya. Namun lama lama dia jengah juga dan berhenti mengajar.
Pensiunnya hanya kecil saja. Namun rejekinya saat menjadi pejabat, lumayan
cukup dan rejeki itu sebagian besar diserahkannya kepada istrinya. Istrinya
walau bukan lulusan perguruan tinggi
punya sifat hemat dan punya pandangan tersediri dalam mempersiapkan hari depan
keluarganya dan kadang dirasakan pelit
oleh suaminya. Kalau uang sudah masuk ke istri nya itu, jangan harap bisa diminta
lagi bahkan untuk keperluan penting pun. Tapi Khairul tidak kapok menyerahkan
sebagian besar rezekinya kepada sang istri, karena dia tau istrinya tidak
menggunakan uang itu untuk berfoya foya. Uang itu hampir semuanya dibelikan
tanah . Karena uang itu tidak pernah
terkumpul banyak, maka tanah yang dibeli sang istri itu luasnya rata rata hanya
antara 120 m sampai 200 m. Setelah tanah itu tersedia, maka kalau dia dikasi
uang lagi oleh suaminya, maka uang itu digunakan untuk membangun rumah secara
bertahap di atas tanah itu dan setelah
rumah jadi, rumah itupun dikontrak sewakan. Dan uang hasil kontrak rumah itu
pun masuk tabungannya untuk nanti kalau sudah terkumpul digunakan untuk membeli
tanah atau membangun rumah lagi kalau tanahnya sudah tersedia.. Tanpa diisadari
sang istri yang pelit itu ternyata sudah memiliki 6 buah rumah dengan berbagai
tipe mulai 70 sampai dengan tipe 180. Semuanya atas nama sang istri. Khairul
tidak pernah mencampuri urusan istrinya itu. Kadang kadang rumah itu dijual
lagi oleh istrinya dan dibelikan rumah
lain yang menurut si istri lebih strategis dan nilainya akan cepat naik. Dan
saat sang istri berpulang karena Stroke, harta itupun menjadi warisan bagi
suami dan dua anak laki lakinya.
Berbeda dengan almahrum istrinya
itu, Khairul punya hobby fotografi selain bermain golf. Jadi di rumahnya itu penuh foto foto termasuk
foto foto keluarga Khairul, dengan ibu bapaknya, dengan almahrumah istri dan
anak anaknya.
Saat
Nurjannah masuk , dia kagok juga kok foto
almahrumah istri Khairul terpampang
disetiap dinding, yang membuat Nurtjannah kurang nyaman.
Nurjannah
pernah mengemukakan kepada Khairul, apa tidak sebaiknya foto foto lama itu
disimpan saja dan diganti dengan hiasan lain seperti lukisan umpamanya. Tapi
Khairul malah menjawab. Foto foto itu anak anaknya yang pajang. Nanti kita
bicarakan dengan anak anak.
Namun sudah
beberapa bulan berlalu sama sekali tidak ada perubahan tentang pajangan di
dinding rumah Khairul itu. Tapi Nurjannah tidak lagi menyinggung masalah itu,
dia walau kurang nyaman telah menyesuaikan diri dengan keadaan.
Khairul dan Nurjannah adalah dua insan
yang sudah tergolong pribadi yang matang , usia mereka sudah diatas 60 tahun.
Dua duanya sudah punya tata nilai masing masing yang ternyata amat berbeda.
Saat periode
kampanye Pilpres mereka ternyata punya pilihan dan pandangan yang berbeda. Si
Suami menjagokan calon dari TNI dan Nurjannah menjagokan calon dari Sipil.
Mereka sering sengit dalam membela pendapat dan jagonya masing masing. Pernah
mereka tidak tegoran seharian gara gara bertengkar soal capres itu.
Selain itu
Nurjannah sering berbicara sengit , tidak mau kalah dalam membela pendapatnya.
Dan kadang kata katanya sering membuat suaminya itu tersinggung yang membuat
penilaian negatif terhadap sifat sifat istrinya itu. Bukan kata kata saja yang
membuat Khairul kurang sreg, tapi tabiatnya juga.
Pernah Khairul dimintai
tolong oleh Nurjannah mengantarnya mengawasi pembanguan rumah Nurjannah di
daerah Pal Merah. Dalam masa pembangunan rumah itu hampir setiap hari selama
lebih kurang satu bulan Khairul menjadi “sopir”, bahkan biaya toll, BBM dan makan siang semuanya
dikeluarkan Khairul dari kantongnya. Dan setelah rumah itu selesai dan bahkan
setelah laku di kontrakkan , tak sepatah katapun ucapan terima kasih
diterimanya. Nurjannah baru menjawab ketika suatu saat ditanya Khairul .
“ Nur , rumah kamu di pal merah sudah laku dikontrakkan? “
“Sudah bang.
Sudah dari bulan lalu”
“Ooh,
syukurlah”
Kadang
kadang dalam situasi tertentu seperti itu, Khairul selalu ingat akan almahrumah
istrinya. Walau dia jarang menjadi “sopir” istrinya itu dalam urusan rumah yang
dibangunnya, namun kalau rumahnya laku di kontrakkan, dia selalu bilang sama
suaminya rumahnya sudah laku dikontrakkan. Si “pelit” itu pun mengajak suaminya, dia mentraktir suaminya makan di
restoran kesukaan suaminya, ke Coca Suki, ke Arrirang, ke restoran Manado Ny.
Filly di TIM. Kadang Rumah Makan Medan
Baru di Pasar Baru makan gulai kepala
ikan khas masakan aceh dan ke tempat tempat lainnya yang dipilih suaminya. Sering lanjut menonton bioskop, atau jalan jalan dan Khairul
tidak mengeluarkan uang sepeserpun, semuanya dibayar sang istri yang dapat
rejeki itu.
Mungkin karena trauma denga suami
mudanya Rizal yang melarikan uangnya, Nurjannah amat ketat dalam segi keuangan.
Tiap bulan dia selalu menagih “cek bulanannya”. Dia memang setiap bulan menerima
cek dari suaminya , tidak banyak hanya sekitar separuh dari pensiunan bulanan suaminya
yang kecil itu. Cek itu semata mata hanya untuk Nurjannah saja. Semua
pengeluaran rumah tangga dirumah itu, termasuk semua pengeluaran, listrik,
keamanan , belanja harian dan pengeluaran apapun adalah dari Khairul. Sampai ke
hal hal kecil pun semua keluar dari kantong Khairul. Bahkan kalau ada hal kecil umpamanya saat air aqua
gallon habis, maka Nurjannah lah yang
pesan. Dan begitu Khairul muncul, Nurjannah pun langsung menagihnya.
“Bang, tadi
saya bayar aqua Rp.20.000-“
Khairul pun
membuka dompetnya dan mnyerahkan uang kertas dua puluh ribu yang ditagih
nurjannah itu kepadanya. Hal seperti itu selalu terjadi, setiap ada pembeilan
kecil kecil berapa pun nilainya untuk keperluan rumah selalu ditagih oleh Nurjananh
kepada suaminya. Itulah penerapan tentang
konsep bahwa nafkah istri itu adalah
kewajiban suami.
Sering pula
Khairul lupa memberikan cek bulanan kepada si istri, dan kalau setelah tanggal
5 cek itu belum diterimanya, Nurjannah pun menagih.
“Mana cek
bulanan saya ?”. Saat cek itu diserahkan oleh Khairul , beberaoa kali Nurjannah
berkomentar.
“Abang murah lo dapat istri saya ini. Orang lain mana mau diberi hanya segini”Khairul tidak pernah menanggapi ucapan istrinya itu. Hanya dalam pikirannya tertanam makna ucapan itu. Nurjannah menurut rasa hati Khairul menilai semuanya itu hanya dari uang. Menikah dengan dia bukanlah berlandaskan cinta atau kebutuhan pertemanan agar ada seseorang yang bisa untuk saling berbagi dalam suka dan duka. Dimata Khairul Cinta Nurjannah itu nonsens, utamanya hanya untuk memenuhi kebutuhan keuangannya sehari hari, semuanya penuh perhitungan ekonomi. Sering pula Nurjannah berkisah kepada Khairul tentang suami suaminya terdahulu yang ditinggalkannya atau dituntutnya cerai. Dia ingin memberi kesan kepada khairul bahwa kalau suaminya sudah tidak benar, dia tidak segan segan untuk meninggalkannya atau menggugatnya bercerai melalui Pengadilan Agama.
Pernah suatu
saat, sedang mengobrol ngalor ngidul, Khairul bertanya iseng kepada Nurjannah.
“Saya merasa
hidup saya semakin tenang setelah ada kamu. Kalau kamu bagaimana Nur?”
Diluar
dugaan Khairul , istrinya itu menbjawab.
“Sama saja
dengan sebelumnya”. Khairul tidak melanjutkan bicaranya lagi. Dia termenung.
Dan tidak terlalu lama setelah itu diapun bangkit , kemudian berpakaian dan
menaikkan stick golf ke mobilnya dan pergi keluar, sambil berucap pada istri
nya itu.
“Saya pergi
latihan golf ya “.
Tanpa
menunggu jawaban si istri, Khairul pun menghilang dengan mobilnya.
Khairul
kecewa dengan jawaban istrinya tadi itu. Rupanya bagi si istri , tidak ada bedanya
baginya setelah menjadi istrinya dibandingkan dengan saat dia masih seorang
janda. Bagi Khairul itu adalah ungkapan jujur si istri bahwa dia tidak puas
menjadi istri Khairul Sehingga sejak
saat itu Khairul siap menghadapi hal buruk yang dapat terjadi, karena setiap
saat si istri besar kemungkinan akan meninggalkannya.
Hubungan
Khairul dengan sitrinya semakin kurang harmonis. Nurjannah bahkan sering
menginap di rumah lamanya, alasan nya untuk menjaga anaknya Melda yang sering
sakit. Kadang dia baru kembali tiga hari kemudian. Itu sering terjadi, dan
sekarang Khairul yang merasakan, punya istri dengan tidak punya istri bedanya
semakin tipis.
Khairul , uang pensiunya amat
kecil Pensiunnya itu tidak cukup untuk
membiayai kehidupannya. Selama ini satu persatu rumah yang dibangun almahrumah
istrinya itu , dilipatnya menjadi lembaran, alias dijualnya, tentu dengan
persetujuan anak anaknya. Terakhir tetap disisakan dua rumah temasuk yang di
tempatinya bersama istrinya Nurjannah, Dua rumah itu akan dijadikannya warisan
bagi dua anak laki lakinya itu.
Hidup dari
tabungan, tanpa ada penghasilan tambahan selain uang pensiun yang nilainya semakin kecil karena
dimakan inflasi, lama lama tabungan menipis dan pengeluaran tentu saja harus
dikurangi. Karena keuangan tidak mendukung lagi
Khairul pun berhenti main golf.
Suatu hari dia bicara terus terang
kepada istrinya. Khairul mengemukakan bahwa
tabungannya sudah menipis, dan mungkin dalam beberapa bulan lagi istrinya
tidak akan menerima lagi cek bulanan darinya.
Nurjannah
tersenyum, dia sudah melihat tanda tanda alam bahwa suaminya semakin pelit,
pertanda uangnya sudah semakin cekak. Dan Nujannah sudah siap menghadapi situasi
seperti itu. Dia merasa kesalahan perkawinannya dimasa lalu adalah karena dia
memanjakan suami suaminya, karena sering sekali dia yang membiayai kehidupan
suaminya saat si suami menganggur atau tidak punya uang. Sekarang Stop. Hal itu
tidak boleh terjadi lagi. Begitulah tekad dari Nurjannah berdasar kan
pengalaman masa lalu nya.
Nurjannah
pun menanggapi penyampaian suaminya.
“Bang. Saya
menikah dengan abang kan juga punya ekpektasi. Saya tinggal di rumah abang ini
jauh dari lokasi bisnis saya. Jauh dari kos kos an saya. Jauh dari anak dan
cucu saya. Dari sini ke pal merah, ke
Cinere , ke sawangan makan waktu berjam jam dengan mobil tua saya tanpa sopir.
Saya dulu mengharapka abang mengerti dan mengganti mobil saya dengan yang lebih
baik. Dulu abang mampu, karena abang punya mobil dua buah yang abang sewakan,
tapi malahan abang berikan untuk modal usaha pada anak abang dan akhirnya habis
tak keruan.
Saya merasa
tinggal di rumah abang ini saya sudah banyak berkorban. Saya dirumah kerja
sendiri tanpa pembantu. Kalau saya tinggal di rumah saya di tanah abang saya
dekat ke mana mana. Ada anak saya yang membantu saya. Jadi kita berpikir logis
logis sajalah bang. Kalau untuk cek
bulanan saja saya gak lagi dikasi, apa iya saya harus bertahan terus menjadi
istri abang”
Khairul
sudah menduga , pastilah Nurjannah akan menceraikannya.
“ Saya
mengerti Nur, apa boleh buat. Saya memang sudah tidak mampu. Saya siap kalau
ditinggalkan “
“ Bang ,
saya waktu mudanya miskin. Dalam perjalanan hidup saya saya selalu kerja keras.
Sekarang saya sudah mulai punya harta berkat kerja keras saya, karena itu saya
tidak mau menjadi miskin lagi. Saya tidak mungkin lah membiayai hidup abang
karena abang sudah tidak mempunyai penghasilan lagi selain uang pensiun abang
yang kecil itu. Jadi jalan terbaik memang kita harus berpisah”
“ Saya mengerti
“ berkata Khairul
“Hanya saya
ingin kita berpisah baik baik. Kalau melalui pengadilan agama, prosesnya lama
dan ada biayanya juga. Biaya itu nanti yang membayar adalah penggugat. Karena
kita sudah berumur, maka mungkin kita tidak perlu cerai melalui pengadilan
agama itu, makan waktu, berbelit, melelahkan dan juga biayanya mahal. Kita buat surat cerai dalam bentuk kesepakatan saja
yang kita tanda tangai bersama dan ikut ditanda tangani anak anak kita sebagai
saksi. Harus ikut tanda tangan seorang anak abang dan dari pihak saya nanti
yang ikut tanda tangan adalah anak saya Melda. Dan harus ditegaskan dalam surat
cerai itu bahwa kita tidak punya harta gono gini, agar anak anak tidak saling
menuntut jika kita sudah tidak ada”
“Apakah itu
sah secara hukum ?”
“ Yang penting
secara syariah, sah bang. Bahkan kalau suami mengatakan , Saya ceraikan kamu
dengan talak tiga, maka perceraian itu sudah dianggap sah” .Tukas Nurjannah.
Khairul setuju
bercerai dengan cara yang dikemukakan Nurjannah itu. Maka besoknya setelah
memberitahukan anak anaknya tentang rencana perceraian itu, mereka minta supaya anak anak datang ke Jaka
Sampurna. Besoknya ,di rumah Khairul masing masing pihak membicarakan redaksi surat cerai yang sudah
disiapkan Nurjannah. Kemudian setelah redaksinya disepakati, Khairul dan Nurjannah menanda tangani surat cerai itu. Melda ikut menanda tangani
sebagai saksi dengan air mata berlinang. Begitu juga anak Khairul yang bernama
Darmawan menanda tangani surat cerai bapaknya itu sebagai saksi dengan wajah muram pertanda dia sedih
menyaksikan perceraian itu. Masing masing pihak memegang satu copy yang
semuanya dianggap asli karena dibubuhi meterai. Kemudian Nurjannah membereskan
barang barangnya dan memuatnya kemobilnya. Nurjannah menyalami Khairul.
Khairul kelihatanya ingin mencium Nurjannah di pipinya, namun nampaknya Nurjannah tidak berkenan sehingga
Khairul pun mengurungkan niatnya dan
merekapun berpisah. Khairul menawarkan ikut mengantar Nurjannah ke rumahnya
tetapi Nurjannah menolaknya.
Akhirnya
perkawinan yang berumur sekitar 4 tahun itupun bubar, dan masing masing pihak
kembali lagi menyandang status sebagai janda dan duda.
No comments:
Post a Comment